The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 97. Memastikan Kamu Selalu Aman Mulai Sekarang



Di kediaman Aragaki, Reda dan Ryuunosuke menunggu kepulangan Nagi dan Ginko sambal terus melakukan pekerjaan.


Saat ini, mereka sedang mencuci dan menjemur pakaian bersama.


“Ryuunosuke tidak sabar makan cemilannya~”


“Iya, tunggu sebentar ya Ryuunosuke. Bukannya tadi habis makan siang? Memangnya belum kenyang?” tanya Reda dengan senyum lembutnya


“Perut Ryuunosuke selalu punya ruang khusus untuk cemilan. Mereka memiliki tempat paling istimewa di perut Ryuunosuke. Ehehehe~”


“Begitu.” Reda memberikan sedikit elusan pada rubah kecilnya. Ekor lucu tebal miliknya dan telinga yang bergoyang itu bergoyang cepat karena terlalu senang.


Dari kejauhan, Aragaki memperhatikan mereka.


“Aku tidak yakin kenapa ada yang mengincarnya, tapi aku merasa kalau aku harus melindunginya.”


“Sejak kejadian hadiah itu, aku ingin memberikan perhatian lebih padanya. Terlebih lagi…”


Aragaki mengingat apa yang dikatakan oleh gadis itu saat malam ketika dirinya mengantar Ryuunosuke kembali ke kamarnya.


[Aku mencintai Nushi-sama]


Sebuah kalimat yang sampai saat ini masih terus terngiang di telinganya.


Aragaki mengepalkan tangannya dan kedua matanya menjadi tajam.


“Aku akan melindunginya.”


**


Ketika keduanya selesai menjemur pakaian dan berjalan ke dapur, mereka mulai duduk di engawa untuk istirahat sambil menikmati secangkir teh.


-Sluuuurp…aah~


Keduanya menikmati waktu minum teh di tempat teduh.


“Segarnya. Menyenangkan sekali meminum teh gandum siang-siang begini setelah bekerja. Benarkan, Reda-sama?”


“Iya. Tapi, aku harap Nagi-sama dan Ginko-sama akan segera pulang. Aku ingin melihat mangkuk barunya. Jadi tidak sabar ya, Ryuunosuke.” kata gadis itu dengan senang


“Ryuunosuke lebih senang menunggu kudapan dan jajanan milik Ryuunosuke. Ehehe~”


Mengingat tentang kudapan, Reda jadi terpikirkan untuk membuatkan sesuatu untuk Aragaki.


“Ryuunosuke…”


“Ya?”


“Aku ingin membuat sesuatu untuk Nushi-sama setelah ini. Mau membantuku?”


“Tentu! Ryuunosuke akan membantu Reda-sama!”


“Syukurlah, terima kasih banyak ya rubah kecilku.”


Reda dan Ryuunosuke menikmati waktu luangnya sebentar sampai akhirnya teh di dalam cangkir habis.


Selesai menikmati waktu istirahatnya, Reda mencoba membuatkan sesuatu untuk sang penguasa. Ada beberapa tempat bumbu dan bahan masakan yang disimpan oleh Reda.


“Aku sempat membeli ini saat kita ke pasar beberapa waktu lalu. Lihat ini, Ryuunosuke.”


“Huwaa, ini bubuk apa Reda-sama?”


“Ini namanya bubuk agar, sedangkan yang ini pasta kacang merah manis. Aku ingin membuat cemilan manis untuk Nushi-sama.”


“Cemilan manis! Ryuunosuke boleh makan juga tidak?”


“Tentu. Kita buat bersama ya.”


Reda menyiapkan beberapa bahan untuk membuat cemilan yang ada dalam benaknya.


“Aku harap Nushi-sama kembali ceria dan tidak lagi mencemaskan apapun.”


Reda membuat sesuatu yang tidak asing untuk rubah kecilnya yang manis.


“Ini…yokan (manisan agar kacang merah). Huwaa~”


Reda memotongnya menjadi bagian kecil untuk dua piring pertama. Yang satu untuk sang penguasa dan yang satu lagi untuk rubah kecilnya yang manis.


“Ini, Ryuunosuke. Cicipilah dulu. Kalau rasanya tidak cocok, tolong katakan apa yang kurang ya.”


“Tidak mungkin kurang! Masakan Reda-sama yang paling enak! Aragaki-sama juga mengakuinya. Ryuunosuke mau makan, Ryuunosuke mau makan. Selamat makan, hamph~”


Mata rubah kecil manis itu melebar dan terlihat binar-binar tanda dia sangat menyukainya. Telinganya berdiri tegak dan ekornya bergoyang ke kiri dan kanan seperti sedang menari.


“Hamph~Ryuunosuke menyukainya. Kyaaa~rasanya manis seperti Ryuunosuke~”


“Ahahaha, syukurlah. Kalau Ryuunosuke menyukainya, Nushi-sama mungkin akan suka.”


“Pasti suka! Ryuunosuke jamin pasti Aragaki-sama akan suka!”


Reda tersipu dan memerah memikirkan senyuman sang penguasa yang begitu dicintainya.


“Semoga Nushi-sama akan tersenyum memakannya. Aku harap Nushi-sama tidak mengalami masalah apapun.” katanya sambil tersenyum


Dari luar dapur, Aragaki berjalan tanpa suara. Dia berjalan pelan dan membayangkan senyuman serta kata-kata penuh doa untuknya.


Langkah kakinya terhenti dan melihat ke sisi langit.


“Aku akan memastikan dia aman mulai sekarang.”


Di atas atap, Hakuren dan Kuroto yang masih berjaga mendengar itu.


“Kita harus melakukan semua hal dengan baik. Aku rasa kita harus mencari sumber yang dimaksud oleh Aragaki-sama, Kuroto.”


“Kau benar, Hakuren. Tidak mungkin ada siluman yang bisa lolos dari Aragaki-sama terlalu lama. Aku yakin ada sesuatu di sini. Sebaiknya kita coba telusuri sekitar gubuk tua yang pernah ditinggali gadis itu.”


“Baiklah. Setelah itu, kita coba melihat hutan ya.”


“Mengerti.”


Kedua tengu itu terbang menuju hutan. Memang benar, mereka berdua bisa melewati penghalang itu dengan mudah.


“Reimei no Kekkai hanya bisa dihancurkan oleh Reda-sama. Apapun yang terjadi, kami harus segera menemukan sumber dari sosok yang mengincarnya.”


“Tidak boleh ada kegagalan seperti yang lalu. Aragaki-sama telah mulai berubah dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti calon istri sesungguhnya dari Aragaki-sama.”


“Ryoko-san, teman-teman di langit. Tolong, apapun caranya tidak masalah. Lindungilah Reda-sama.”


Semua itu adalah harapan dan doa dari Hakuren dan tampaknya cukup tersampaikan ke langit. Saat Reda berjalan bersama rubah kecilnya membawa cemilan manis dan teh, angin lembut bertiup dan menerbangkan banyak kelopak bunga sakura.


“Sakuranya tertiup angin kembali, Ryuunosuke. Indah sekali.” puji gadis cantik itu


Kelopak sakura yang terbawa angin sempat menempel di beberapa bagian dari pakaian serta atas kepala Reda, bahkan ada di atas cemilan yokan di mangkuk kecil.


“Jadi terlihat cantik sekali. Lihat ini, Ryuunosuke. Bunga sakuranya ada di tiap potong yokan. Nushi-sama pasti akan semakin senang.”


“Cantiknya. Ayo ayo, kita berikan ini pada Nushi-sama.”


Mereka segera berjalan ke ruangan sang penguasa.


Saat keduanya sampai di depan ruangannya, terlihat Aragaki yang berdiri dengan menatap ke arah pohon sakura.


“Aragaki-sama!”


Rubah kecil itu memanggil. Sang penguasa akhirnya menengok dan pandangan pertamanya tetap jatuh pada gadis cantik di depannya.


“Nushi-sama…selamat siang.”


“Selamat siang.” Setelah menjawab salam gadis itu, dia melihat rubah kecilnya yang senang seperti mendapatkan hadiah, “Senang sekali melihatmu ceria seperti itu, Ryuunosuke.”


Rubah kecil itu berlari dan menarik tangan sang penguasa.


“Aragaki-sama, Aragaki-sama, ayo masuk!


Aragaki ditarik oleh rubah kecilnya masuk, sedangkan Reda membawa nampan berisi makanan manisnya.


Di dalam ruangan Aragaki, Reda menyuguhkan makanan manis buatannya. Rubah kecil itu yang terlihat bahagia sambil memujinya terus menerus.


“Aragaki-sama, ini yokan buatan Reda-sama. Rasanya manis dan enak~sekali. Ada bunga sakuranya lagi. Tehnya juga enak. Aragaki-sama pasti suka! Ayo cicipi, cicipi ya.”


Aragaki melihat gadis itu dan bertanya, “Ini buatanmu sendiri?”


“Iya. Semoga…semoga Nushi-sama menyukainya.”


Reda malu namun menatap sang penguasa dengan penuh cinta. Senyum manisnya terlihat lebih manis dari kudapan itu, mungkin.


“Boleh aku memakannya?”


“Tentu saja. Semoga Nushi-sama menyukai rasanya.”


Aragaki mencicipnya dan sesuai dugaan sang penguasa, makanan buatan gadis itu memang yang terbaik di lidahnya.


“Manis dan begitu lembut seperti tangan yang membuatnya. Ini enak.”


-Bluuush


Kali ini, Reda dan Ryuunosuke memerah. Kalimat Aragaki itu dikatakan dengan jelas, dihiasi senyuman.


Ini benar-benar sebuah kemajuan dari sang penguasa berhati dingin menjadi sang penguasa yang pandai memuji.


“Ini lezat. Terima kasih banyak.”


Reda terlihat bahagia sekali.


Sekarang, Aragaki setuju pada hatinya. Senyuman gadis cantik di hadapannya itu lebih manis dari apapun. Dan alasan itulah yang membuatnya yakin akan sesuatu.


Dengan perasaan yakin itulah yang membuat Aragaki mulai bicara pada gadis desa, “Aku ingin mengatakan sesuatu.”


“Mengatakan sesuatu?”


“Aku ingin kamu tidak berpikiran buruk terhadap apa yang aku katakan padamu saat di ruang makan.”


“Aku hanya ingin memastikan kamu selalu aman mulai sekarang.”


Sebuah kalimat manis yang tanpa disadari mengandung unsur cinta yang dalam dari Aragaki.


Rubah kecil yang menjadi saksi semua itu masih terdiam sambil memeluk ekor tebalnya sendiri demi menutupi wajah merahnya karena malu mendengar kalimat sang majikan.


****