
Reda sudah selesai memakan nasi kepal itu dan kembali bekerja. Meskipun untuk saat ini dia belum berani meminum air dari semua sumber air di tempat Aragaki, namun dia akan mencoba mencari sumber air di hutan saat waktu makan siang.
Berkat nasi kepal itu pula, Reda bisa melanjutkan tugas berat yang harus dikerjakan olehnya seperti membersihkan taman setelah menyirami kebun, menyapu halaman depan dan mengepel bagian dalam kediaman Aragaki.
Di sela-sela kegiatan itu pula, dia sempat mencuci piring kotor dan memetik sayur.
Waktu makan siang hampir tiba dan Ryuunosuke memasak untuk semuanya. Kali ini, dia sengaja memberikan porsi yang banyak untuk tuan dan pelayan setianya yang lain.
“Semoga ada sisa makanan lain untuk Reda-sama. Ryuunosuke juga akan membuatkan tamagoyaki untuk tambahan makan siang Reda-sama dan teh untuknya.”
Ryuunosuke mengantarkan makanan itu bersama Reda kembali.
Ketika dia memberikan piring pertamanya pada sang majikannya, Aragaki terkejut dengan porsi yang didapatkannya. Bahkan, tidak biasanya Ryuunosuke membuat karaage untuk makan siang.
“Kenapa porsinya sebanyak ini?” tanya sang majikan pada rubah kecilnya
“Ini…ini Ryuunosuke buat karena Aragaki-sama tidak menghabiskan sarapanmu. Jadi, Ryuunosuke sengaja memberikan banyak sekali porsinya agar Aragaki-sama kenyang.”
Sungguh alasan yang pintar dari si rubah kecil.
Bukan hanya porsi Aragaki yang dibuat banyak, porsi Nagi dan lainnya juga dibuat sangat banyak, terutama pada bagian nasi dan karaage.
“Ryuunosuke, kami tidak akan mengangkut barang berat jadi makanan ini mustahil bisa habis. Sayang sekali jika harus membuangnya nanti.” ucap Kuroto dengan nada protes
“Kuroto-sama cukup memakannya. Jangan protes pada Ryuunosuke atau Kuroto-sama yang memasak makan malam nanti!” rubah itu berbalik protes
Kuroto tidak mau bertengkar dengan rubah itu dan hanya memandangi makanan itu dengan penuh keseriusan.
Berbeda dengan tengu hitam itu, Nagi dan Ginko saling melihat satu sama lain. Tampaknya mereka memikirkan sesuatu kali ini.
Saat Ryuunosuke keluar dari ruang makan, Aragaki dan yang lainnya mulai makan. Ryuunosuke yang berjalan bersama Reda menuju dapur mulai melakukan hal lainnya.
Di dapur, Reda yang telah selesai merendam sayuran yang dipetik olehnya sebelum ini meninggalkan Ryuunosuke yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu.
“Ryuunosuke, aku akan keluar sebentar untuk mencari makanan ya. Ryuunosuke makanlah dulu. Nanti aku yang akan mencuci piring dan mengangkat jemurannya.”
“Hati-hati Reda-sama.”
Reda memberikan senyuman dan mengelus kepala rubah kecil itu sampai ekornya bergoyang karena senang.
Begitu Reda pergi dari dapur, Ryuunosuke mulai menyusun makanan yang akan diberikan untuk Reda diam-diam.
**
Di ruang makan, Aragakai mulai bertanya pada keempat pelayannya.
“Apa kalian tidak merasa aneh dengan sikap rubah kecil itu?”
“Aneh?”
“Benar. Tidak biasanya dia membuatkan porsi yang banyak seperti ini.”
Hakuren menjawab pertanyaan tuannya.
“Mungkin memang itu adalah bentuk perhatiannya. Ryuunosuke sangat menyayangi Aragaki-sama jadi wajar bila dia memberikan banyak perhatian termasuk dalam hal makanan.”
Aragaki tidak mengatakan apapun lagi dan mulai memakan makanannya.
Namun, ada hal yang sedikit berbeda dengan Nagi dan Ginko. Mereka hanya mengambil setengah dari mangkuk nasinya dan menyisahkan setengah dari lauk makan mereka.
Entah apa yang dipikirkan oleh kedua youko itu, mereka berdua kompak melakukannya. Begitu selesai dengan makanannya, Hakuren melihat banyak sisa makanan di piring keduanya dan bertanya.
“Kenapa tidak dihabiskan? Tidak seperti biasanya, kalian tidak menghabiskan semua itu?”
“Ah, ini? Kami sempat pergi ke desa untuk membeli dango sebelum makan. Kami sudah kenyang jadi kami tidak bisa menghabiskannya.” Nagi menjawab dengan memberikan ekspresi mual dan kekenyangan
Ginko juga seakan membela Nagi dan membuat gerak tubuh seakan dia kekenyangan.
“Aku merasa tidak enak pada Ryuunosuke. Nanti kami berdua akan minta maaf pada rubah kecil itu.”
“Salah kalian kenapa membeli cemilan sebelum makan siang. Dasar rakus!”
“Kuroto, jangan bicara begitu! Memang salah makan dango sebelum makan nasi!” Nagi mulai terlihat marah-marah
Kedua youko dan tengu itu mulai adu mulut dan itu cukup membuat tuannya pusing.
“Kalian, kalau sudah selesai sebaiknya keluar dari sini. Aku mulai merasa makananku tidak akan tercerna dengan baik kalau kalian terus bertengkar setelah makan.”
“Ba–baik. Kami permisi, Aragaki-sama.”
Aragaki keluar dari ruang makan terlebih dahulu, diikuti oleh kedua tengunya. Mereka kali ini mencoba berkeliling rumah untuk melihat hasil kerja gadis desa itu. Sedangkan dua siluman rubah itu bergegas pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, mereka memanggil Ryuunosuke.
“Oi, rubah kecil! Kami sudah selesai makan. Makanannya banyak sekali yang tersisa. Kau membuatnya terlalu banyak sampai aku tidak bisa menghabiskannya.”
Ryuunosuke yang mendengar ucapan Nagi tampak senang. Hal itu tidak ditunjukkan dari wajahnya melainkan dari ekornya yang bergoyang-goyang dan telinganya yang bergerak.
“Makanan sisanya…ada banyak? Itu boleh Ryuunosuke buang?”
“Memang mau kau simpan makanan itu?”
“Ryuunosuke, tolong bersihkan sisanya ya.”
Ryuunosuke bergegas lari menuju ruang makan untuk mengambil piring-piringnya.
**
Di hutan, Reda berjalan menuju gubuk terlebih dahulu untuk minum air dari sumur. Tidak lagi memikirkan air itu mentah atau masak, dia hanya ingin mengisi sedikit perutnya untuk berjaga-jaga jika tidak dapat apapun lagi di hutan.
“Syukurlah masih ada air sumur. Setidaknya dengan ini, aku bisa sedikit bertahan sampai malam nanti.”
Reda tersenyum dan melihat ke dalam gubuknya. Dia melihat tidak ada apapun di dalamnya kecuali pakaian lamanya yang sudah sobek namun tampak tidak begitu kotor karena sudah dicucinya kemarin.
“Aku rasa malam ini aku akan tidur dengan pakaian lamaku agar pakaian yang biasa kupakai tidur bisa kucuci. Aku harus tampil bersih agar Nushi-sama tidak merasa jijik padaku.”
Reda memutuskan mencuci pakaian yang biasa dia kenakan untuk tidur sebentar kemudian menjemurnya. Setelah itu dia ke hutan untuk mencari makanan.
Di dalam hutan, dia benar-benar tidak menemukan apapun. Hanya ranting-ranting kecil di sekitarnya.
Berjalan sedikit lagi ke dalam hutan, dia menemukan hal yang tidak disangka-sangka olehnya.
“Itu…tanaman fuki?!”
Reda langsung berlari dan melihatnya baik-baik. Betapa senangnya dia menemukan sansaitori (sayuran liar di dalam hutan) di kedalaman hutan tersebut.
“Syukurlah, Dewa. Terima kasih banyak. Setidaknya dengan ini, aku bisa memasaknya nanti malam.”
Reda bagaikan menemukan harta karun, dia memetik tanaman itu dan mulai membawanya ke gubuk. Karena tidak memiliki keranjang, dia terpaksa mengambil ember yang terikat di timba sumur untuk dijadikan keranjang.
Gadis itu kembali berlari ke hutan untuk mencari tanaman lainnya. Memang dia harus masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jarak yang semakin jauh membuatnya harus rela berlari untuk kembali ke gubuk nantinya. Tapi itu tidak masalah untuknya.
Setelah matahari siang mulai meninggi, tanpa sadar Reda memetik banyak sekali sayuran liar dan berlari pulang untuk mencucinya.
“Ya Dewa, lihat ini. Ada tara no me, kogomi, nobiru, fuki, suberiyu, warabi, tochi no ki (semua nama sayuran liar di hutan Jepang). Ini seperti mimpi. Rasanya perjuanganku siang ini seperti terbayarkan. Senangnya~”
Senyum manis itu ditunjukkan oleh gadis cantik itu di bibirnya. Wajahnya penuh keringat dan memerah namun hatinya benar-benar senang. Dia mencuci bersih semuanya sampai melupakan bahwa dirinya belum makan siang.
Dari atas pohon yang tinggi, dia tidak sadar bahwa ada dua tengu yang mengawasinya.
“Dia rela-rela masuk ke dalam hutan dan berhasil menemukan sayuran liar ya. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan usahanya tersebut.” gumam Kuroto dari atas
Hakuren melihat gadis itu masuk ke gubuk tuanya dengan penuh senyum. Tanpa disadari olehnya sekalipun, dia tersenyum.
“Aku tidak mengerti. Berbeda dengan calon ‘pengantin’ lainnya, kurang dari dua hari dia di sini dan aku merasa dia mungkin benar-benar berbeda seperti yang rubah kecil itu katakan. Entah kenapa, aku mungkin jadi benar-benar berharap dia menikah dengan Aragaki-sama.”
Sadar dengan pikirannya yang nyaris mustahil untuk sekarang, Hakuren pergi untuk melihat keadaan hutan lainnya meninggalkan Kuroto.
Reda menyimpan semua sayuran itu dan bergegas kembali ke tempat Aragaki. Perasaannya sedang bahagia saat ini sampai dia lupa bahwa dia tidak makan siang lagi hari ini.
“Aku akan mencarinya lagi besok. Semoga ada banyak yang bisa kutemukan.” pikirnya sambil berlari
Ketika dia kembali dan menuju sumur untuk menimba air, Ryuunosuke memanggil gadis itu.
“Reda-sama, Reda-sama!!”
“Ryuunosuke. Ada apa terburu-buru begitu?”
Rubah kecil itu memberikan tiga bungkus daun bambu berisi tiga buah nasi kepal di tiap bungkusnya. Rubah kecil itu bahkan mengikatkan sebuah botol di pinggangnya. Reda benar-benar terkejut melihatnya.
“Apa…ini?”
“Ini nasi kepal dari makanan sisa hari ini. Makanan sisanya ada banyak sekali! Ryuunosuke sudah memilihnya dan membuat ini. Ryuunosuke juga membawa air, ayo makan dulu.”
Reda menahan air matanya. Dia seperti mendapat banyak keberuntungan hari ini. Bukan hanya berhasil menemukan sayuran liar di hutan tapi juga mendapat makanan sisa untuk makan siangnya.
Gadis itu menerima makanan itu dan memakannya dengan lahap. Kali ini, dia berusaha sangat keras untuk menahan air matanya dan menggantinya dengan senyuman yang terus ditunjukkan olehnya.
“Enak tidak?”
“Enak. Ada ayam dan telurnya. Ini sangat mewah untukku.”
“Reda-sama harus makan agar bisa berjuang. Ryuunosuke akan mendukung Reda-sama.”
Betapa manisnya rubah kecil itu. Reda tidak tahan dengan sifat manisnya itu hingga memeluknya kembali.
“Terima kasih banyak, Ryuunosuke. Aku benar-benar senang sekali.”
Ryuunosuke memeluknya dan menunggu gadis itu selesai makan. Ketika nasi dan minuman yang dibawakan oleh rubah kecil itu habis, rubah kecil mulai berlari ke dapur lagi.
Begitu Reda melihat rubah kecil itu tidak ada lagi di tempat itu, dia menangis sendirian.
“Terima kasih, sudah mau peduli padaku yang kotor ini. Terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan untuk tidak menyerah. Aku akan berjuang sedikit lagi. Aku akan berjuang lagi agar bisa menepati janjiku. Hiks…hiks…”
Di tempat yang tidak diketahui oleh Reda, ada dua youko yang melihatnya menangis. Mereka tidak mengatakan apapun, namun ekspresi wajah mereka menunjukkan bahwa, mereka ikut senang dengan hal yang dirasakan oleh gadis desa itu.
Sebuah perubahan kecil hanya dalam semalam telah terjadi. Namun, tidak ada yang tau sampai dimana perubahan ini akan berpihak pada si gadis cantik yang malang.
****