The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 63. Senyuman yang Membuatku Jatuh Cinta



Reda yang ada di dalam gubuk menyadari dirinya tengah menangis. Dia langsung menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.


“Apa yang kamu lakukan, Reda? Menangis seperti ini…Ryuunosuke akan curiga nanti jika dia melihatnya.”


Reda berusaha tersenyum kembali agar tidak terlihat seperti orang yang habis selesai menangis. Dia tidak berpikir untuk mencuci wajahnya untuk menutupinya karena pikirannya terlalu polos.


“Sepertinya sudah terlihat baik-baik saja. Aku sudah bisa tersenyum seperti biasa. Semoga rubah kecil itu tidak menyadarinya.”


Reda mengira rubah kecilnya masih ada di belakang untuk menjemur pakaian, jadi dia dengan tenang duduk di atas tatami.


Tidak lama setelah itu, rubah kecilnya datang seperti orang yang habis berlarian jauh.


“Reda-sama!!”


“Ryu–Ryuunosuke?! Ada apa?!” Reda panik melihat rubah kecilnya terengah-engah penuh keringat. Dia langsung berdiri mendekati rubah kecilnya dan berlutut untuk melihatnya lebih dekat.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah Ryuunosuke tadi masih menjemur pakaian?”


Rubah kecilnya mencoba mengatur napasnya dan memeluk gadis kesayangannya itu tanpa memberitau apapun.


“Ryuunosuke?”


Reda yang mendapat pelukan itu hanya bisa mengusap-usap lembut punggung kecil sang rubah dan bertanya tanpa mendapatkan jawabannya.


Setelah itu, rubah kecilnya menatik tangan sang gadis desa dengan perasaan tidak sabar.


“Ayo kita pergi ke tempat Aragaki-sama, Reda-sama!”


“I–iya, tapi ada apa? Kenapa Ryuunosuke terburu-buru sekali?”


“Ryuunosuke ingin Reda-sama menemui Aragaki-sama!” tampaknya rubah kecil sangat bersikeras dengan niatnya


“Eh? Bertemu…Nushi-sama?”


Reda menjadi semakin bingung dengan rubah kecilnya. Dia hanya mengikuti keinginan rubah kecilnya dengan wajah penuh kebingungan. Tapi, entah kenapa jantungnya sendiri berdetak cepat saat mendengar akan bertemu pria yang sangat dikaguminya.


“Bertemu Nushi-sama? Apakah Nushi-sama ingin bertemu denganku? Tapi, aku hanya gadis yang dibenci oleh Nushi-sama.”


“Mungkinkah Nushi-sama akan marah karena aku sakit kemarin? Tapi…tapi Nushi-sama mau memegang tanganku pagi ini dan kami makan di ruangan yang sama.”


“Bagaimana ini? Reda tidak bisa menebaknya. Dewa, aku mohon tolong tenangkan hatiku. Semoga Nushi-sama tidak marah padaku.”


Saat sampai di taman, Reda mencoba bertanya lagi pada rubah kecilnya itu.


“Ryuunosuke, ada apa? Kenapa terburu-buru?”


“Reda-sama harus bertemu Aragaki-sama. Ini penting!”


“Penting?”


Reda jadi semakin khawatir namun juga berdebar.


Saat hampir sampai ke ruangan Aragaki, Reda dan Ryuunosuke melihat sang penguasa berdiri di engawa luar melihat bunga sakura di sisi lain ruangannya.


“Nushi…-sama.”


Aragaki menengok ke arah dua orang yang baru saja datang. Melihat sang penguasa melihatnya, Reda langsung memerah dan menundukkan kepalanya karena malu.


Ryuunosuke menarik tangan Reda dan mendekati Aragaki.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke sudah membawa Reda-sama. Aragaki-sama harus mengatakannya sekarang! Ryuunosuke mau mendengarnya sekarang, Ryuunosuke mau mendengar Aragaki-sama mengatakannya sekarang!”


Rubah kecil itu sangat bersikeras dengan keinginannya. Dia benar-benar menagih janji sang penguasa sebelumnya.


Meskipun Aragaki baru mengatakan akan memikirkannya pada rubah kecilnya, tapi tampaknya rubah kecilnya tidak mau menunggu.


Aragaki melihat gadis desa yang tertunduk malu di hadapannya. Secara kebetulan, dia memang bermaksud ingin mengizinkan gadis itu tinggal di sana, namun waktunya terlalu cepat.


“Rubah kecilku ini sepertinya begitu tidak sabaran.”


Aragaki berjalan mendekati keduanya. Melihat sang penguasa mendekat, Reda langsung bersujud untuk memberi hormat.


“Nu–Nushi-sama. Aku…aku minta maaf karena mengganggu waktumu. Ryuunosuke mengatakan bahwa aku harus bertemu dengan Nushi-sama.”


“Aku…aku benar-benar tidak bermaksud mengganggu Nushi-sama. Maafkan aku.”


Kalimat itu membuat Aragaki sedikit merasa aneh sekarang.


“Sebelumnya aku tidak peduli pada kalimat yang dia katakan padaku. Tapi sekarang, aku merasa bahwa aku tidak ingin dengar kalimat itu keluar lagi dari mulutnya.”


“Bukan kalimat seperti itu yang ingin kudengar dan bukan ekspresi takut itu yang ingin aku lihat.”


Aragaki yang sudah berdiri di dekat keduanya melihat rubah kecilnya yang masih terlihat


bersemangat.


“Aragaki-sama harus mengatakannya! Ryuunosuke ingin dengar sekarang! Pokoknya sekarang!”


Rubah kecil itu sudah membuat Aragaki tidak bisa menolaknya.


“Aku mengerti.” Aragaki memberikan senyumannya pada rubah kecil itu, membuat si rubah kecil terlihat senang dan memerah karena bahagia.


“Angkat kepala itu, aku sudah menerimanya dengan baik.”


“…” Reda terdiam. Dia merasa bahwa ini bukanlah hal yang akan terjadi di dunia nyata.


“Nushi-sama…berada sangat dekat denganku.”


Hal lain yang membuat Reda terkejut hingga wajahnya merah merona dan tersipu adalah senyuman Aragaki yang diberikan untuk dirinya.


“Dengarkan aku, rubah kecilku mengatakan bahwa kamu akan kesepian jika tinggal di tempat yang gelap dan sepi sendirian.”


“Sejak kamu juga baru sembuh karena luka itu, akan lebih baik jika ada yang mengawasimu untuk membantumu bekerja.”


“Eh?” Reda terkejut


“Rubah kecilku begitu khawatir dengan lukamu, jadi aku rasa akan lebih baik jika mulai hari ini kamu tinggal di sini.”


Bagaikan seperti mimpi, Reda benar-benar tidak percaya pada apa yang didengarnya sekarang.


“Tinggal…di sini?”


“Benar. Ada banyak ruangan yang bisa dipakai dan jika kamu tinggal di sini, rubah kecilku tidak akan khawatir. Selain itu, aku juga berpikir untuk menghancurkan gubuk tua itu sejak tempat itu tidak bisa lagi dipakai.”


“Aku akan meminta Hakuren dan Kuroto untuk memindahkan barang-barangmu yang mungkin masih bisa dibawa ke tempat ini dan–”


Mata Aragaki terkejut. Bukan hanya Aragaki, Ryuunosuke juga terlihat kaget. Tetesan air mata keluar membasahi pipi Reda dan dengan wajah memerah, dia seperti ingin meyakini setiap kalimat sang penguasa.


“Aku boleh…berada di sini? Apa ini mimpi?”


Aragaki tersenyum padanya, “Tentu saja tidak. Kamu akan tinggal di sini mulai hari ini."


"Ryuunosuke akan membantu membereskan kamar yang akan kamu pakai.”


Reda melihat ke arah rubah kecilnya, “Ryuuno…suke…”


“Reda-sama akan tinggal dengan Ryuunosuke. Bukankah ini menyenangkan, Reda-sama.”


“…”


Seperti sebuah harapan yang menjadi kenyataan, Reda menangis. Dia menangis karena bahagia.


“Terima kasih, Nushi-sama. Hiks…terima kasih untuk kebaikanmu. Terima kasih banyak, terima kasih banyak. Hiks, hiks…”


Reda tidak bisa menghentikan air matanya, “Dewa, ini adalah berkah. Terima kasih sudah mau mendengarkan doaku selama ini. Reda bisa…bersama Nushi-sama.”


Melihat wajah terharu itu, hati sang penguasa tergelitik kembali.


“Air mata yang jatuh di wajah yang memerah karena senang itu terlihat begitu…indah.”


“Wajahnya terlihat begitu dekat sekarang dan aku baru menyadari bahwa dia berbeda dengan gadis kotor dari desa itu. Gadis ini cantik.”


Sang penguasa mengingat hari saat pertama kali Reda dan dirinya bertemu.


Gadis kotor yang penuh dengan telur dan tomat yang dilemparkan padanya, menjelma menjadi gadis cantik yang bahkan membuat rubah kecilnya memuji gadis itu dengan penuh percaya diri.


Ditambah lagi, pita milik Ryoko yang dipakainya membuat gadis itu terlihat semakin cantik.


Kali ini, Aragaki mengakuinya. Dia mengakui bahwa gadis di depannya cantik. Begitu cantik sampai membuatnya merasakan debaran yang belum pernah dirasakannya.


“Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa tidak ingin berhenti melihatnya?”


Tampaknya, pikiran itu membuat Aragaki melakukan tindakan yang tidak biasa.


Dia menghapus air mata sang gadis itu dengan tangannya sendiri. Rubah kecil yang ada di sana adalah saksi dari tindakan lembut sang penguasa.


“Jangan menangis. Ini bukan hal yang perlu ditangisi. Kalau kamu menangis seperti itu, Ryuunosuke akan merengek lagi padaku.”


Kalimat lembut itu seperti menghipnotis Reda. Senyum menawan yang indah dan suara lembut itu membuat jantung Reda semakin berdetak kencang.


“Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini. Itu adalah keputusanku. Jangan menangis lagi dan tersenyumlah.”


Reda merasa begitu bahagia. Melihat orang yang begitu dicintainya dalam diam berada sangat dekat dengannya menbuat dirinya ingin menunjukkan senyuman terbaiknya.


“Terima kasih banyak, Nushi-sama.”


“…”


Senyuman itu adalah senyuman yang dilihat Aragaki di hari saat gadis itu memberikan ikebana dari rubah kecil padanya.


-Deg Deg


Jantung Aragaki berdetak cepat melihatnya, “Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdebar melihatnya?”


Tidak ada gunanya untuk mempertanyakan dan meragukan perasaan miliknya sendiri. Aragaki harus mengakuinya.


“Apakah ini yang mereka sebut dengan perasaan cinta?”


****