
"Mungkin jika aku mencicipi makanan lain yang diambilkan olehmu, rasanya akan semakin enak."
Itulah kalimat yang dikatakan oleh sang penguasa pada gadis itu.
Wajah malu dengan warna merah di pipinya begitu menggambarkan rasa malunya sekarang.
"Nushi-sama...ta–tadi itu..."
"Bukankah kamu yang mengatakan padaku untuk mencicipinya? Aku tidak salah, benar kan?"
"Itu..." Reda bingung menjawabnya. Sekarang dia lebih bingung lagi.
"Aku memang mengatakan kepada Nu–Nushi-sama untuk mencicipinya. Ta–tapi aku tidak pernah berpikir bahwa Nushi-sama akan makan dari sumpitku! Malunya~"
Aragaki tau bahwa gadis itu malu sekarang, tapi dia tidak memedulikan hal itu.
"Aku ingin dia terbiasa berinteraksi dan disentuh olehku. Meskipun...melihatnya malu seperti ini memang tidak buruk."
"Wajahnya yang malu itu sangat cantik. Aku rasa aku harus lakukan sesuatu agar dia mau menatapku."
Sang penguasa mengambil sumpitnya sekarang. Dia memotong aburage dan hendak menyuapi gadis itu.
"Nushi...-sama?"
"Aku tadi sudah memakannya darimu. Sebagai gantinya, aku akan melakukan hal yang sama. Ayo, buka mulutnya."
"Eh?!" Reda menjadi semakin merah
"Ahaha, kenapa terkejut? Ini bukan pertama kalinya aku menyuapimu, kan?"
"Selain itu bukankah kamu menyukainya, aburage ini? Rasanya pasti enak."
-Bluuuush
Wajahnya semakin merah merona. Gadis itu semakin tidak bisa mengendalikan detak jantungnya.
"Disuapi oleh Nushi-sama...dengan banyak orang di sini?"
"Memang kenapa?"
"Ta–tapi..."
"Kamu menolaknya?"
Reda terdiam dengan wajah penuh harapan, "Tidak mungkin menolak! Disuapi Nushi-sama...disuapi Nushi-sama adalah hal yang mungkin tidak akan terjadi lagi! Aku...aku tidak mungkin menolaknya!"
Akhinya, gadis itu memakannya. Wajah malu tetap mendominasi, tapi senyum bahagia berbinar setelah itu langsung menghiasi.
"Enak, iya kan?" tanya Aragaki dengan senyum dan suara lembutnya
"Enak. Ini yang terenak."
"Syukurlah. Jadi, apakah aku bisa mendapatkan potongan aburage juga?"
"Nushi-sama mau aburage lagi? Tapi...di piring..."
Reda melihat sang penguasa memiliki aburage pada piring kecilnya. "Aburagenya... sudah ada di piring Nushi-sama."
"Kamu tidak mau menyuapiku?"
"Eh?! Menyuapi–"
Aragaki kembali beralasan.
"Rasanya, makan dari tangan orang lain itu lebih nikmat."
"Selain itu, yang sebelumnya aku makan darimu itu juga potongan yang terenak."
-Bluuuush
Wajah Reda kembali memerah. Seperti tidak tau harus malu atau senang, dia bingung sekarang.
Satu sisi dia ingin sekali melakukannya, tapi di sisi lain dia terlalu malu.
Namun dia menyadari bahwa wajah pria yang begitu dicintainya sudah ada di depannya.
Begitu dekat seakan semua yang terjadi sekarang hanya sebuah ilusi.
Reda menahan rasa malunya dan mulai memotong tahu aburage yang ada di piringnya. Kemudian, dia menyuapi sang penguasa.
Tentu saja ekspresinya tidak berubah. Namun, ada rasa bahagia tersendiri yang terpancar.
"Saat pertama datang, bahkan untuk menyentuh masakanku saja Nushi-sama menolak. Sekarang, kami bisa menjadi sedekat ini."
"Rasanya semua yang selalu aku harapkan mulai terkabul."
"Dewa, seandainya aku bisa selalu memberikan perhatian seperti ini pada Nushi-sama selamanya."
Rasa bahagia menyelimuti gadis itu. Aragaki juga tersenyum melihatnya.
Meskipun masih terlihat sangat canggung, tapi sang penguasa mulai melihat gadis di depannya sudah terbiasa dengan interaksi dengannya.
Hal tersebut ditunjukkan dari mulainya dia menerima makanan yang diambilkan oleh Aragaki sampai bersedia disuapi olehnya.
Waktu berjalan cepat dan mereka selesai dengan makanannya.
"Bagaimana rasanya? Apa menurutmu aku bisa membeli ini untuk Jorogumo?"
"Rasanya enak. Jorogumo-sama akan menyukainya, Nushi-sama."
"Begitu. Syukurlah. Kalau begitu kita beli ini dan pergi ke tempatnya ya."
"Baik." kata gadis itu dengan senyuman
Mereka memutuskan untuk membeli menu yang dimakannya sebelum pergi dari tempat itu.
Sang istri pemilik toko menghampiri gadis itu kembali.
"Nanti datang lagi ya."
"Iya. Makanan di sini sangat enak, nyonya. Aku sangat suka menu barunya. Terima kasih banyak untuk makanannya."
"Syukurlah." sang istri pemilik toko langsung melihat sang penguasa. Dia berbisik kembali.
"Aragaki-sama, pokoknya jangan sampai dilepaskan!"
Sang penguasa tersenyum dan menjawabnya kali ini, "Aku sedang berusaha sekarang. Doakan aku agar bisa membuatnya bertahan denganku ya, Tenko."
Ekor dan telinga istri pemilik toko langsung bergoyang cepat. "Tentu saja, Aragaki-sama! Tentu saja! Berjuanglah!"
Suami pemilik toko hanya bisa tersenyum melihat sang istri senang.
Aragaki dan Reda pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka berjalan kembali.
Reda membawa makanan yang dibeli Aragaki untuk Jorogumo.
Aragaki mengulurkan tangannya kembali pada Reda. Gadis itu berhenti karena bingung.
"Nushi-sama, ini..."
"Biar aku yang membawa makanannya."
"Tapi–"
"Tidak apa-apa. Berikan padaku."
Reda memberikannya pada Aragaki karena dia tidak bisa menolaknya.
Saat makanan tersebut sudah dibawa Aragaki dengan dari tangan, tangan lainnya langsung menggenggam tangan Reda.
"Nushi-sama?!" gadis itu terkejut. Dia kembali malu.
"Di sini mulai ramai. Pegang tanganku dengan erat ya, agar kamu tidak tersesat dalam kerumunan orang-orang ini."
Tangan Reda yang sudah digenggam erat oleh Aragaki tampaknya tidak memiliki kesempatan untuk lepas.
Dan sepertinya, gadis itu juga tidak punya niat untuk melepaskan tangan sang penguasa juga.
Mereka berjalan sambil melihat-lihat sekeliling. Keramaian itu membuat Reda sangat senang.
Sesekali sang penguasa menawarkan diri untuk mengajaknya pergi ke tempat pedagang lain.
Reda beberapa kali menolaknya karena merasa bahwa itu mungkin akan merepotkan sang penguasa.
Tapi tanpa disadari gadis itu, dia sesekali melihat hal yang menurutnya menarik. Pandangan matanya yang jujur membuatnya kadang lupa bahwa dia sedang berjalan bersama sang penguasa.
"Kamu tertarik melihat aksesoris?" tanya Aragaki
"Ah! Itu..." Reda menunjuk sebuah cermin bulat indah dengan hiasan bunga
"Apa kamu menyukai cermin itu?"
"Cerminnya sangat cantik. Tapi, aku rasa gadis jelek dan buruk rupa sepertiku tidak memerlukannya."
Reda selalu menganggap dirinya rendah sejak dia selalu mendapat penolakan dari penduduk desa.
Meskipun dia mulai mendapat kepercayaan dirinya sejak diterima dengan baik oleh Ryuunosuke dan pelayan setia Aragaki, namun hati kecilnya masih belum bisa sepenuhnya sembuh.
"Dulu, setiap melihat pantulan diriku pada genangan air saat masih di desa, penduduk desa selalu mengatakan bahwa gadis buruk dan bodoh sepertiku tidak akan pernah bisa menikah."
"Aku...aku tau bahwa hal itu mungkin benar. Gadis sepertiku tidak pantas melihat bayangan diri sendiri dalam cermin."
Reda terlihat murung. Dia bahkan mengingat hal yang mungkin akan menjadi takdirnya.
"Bahkan, ketika mereka mengatakan bahwa akhirnya aku bisa menjadi calon 'pengantin' Nushi-sama, pada akhirnya aku mungkin akan mati."
"Menikahi Nushi-sama...adalah hal paling mustahil untukku. Sekalipun kami mulai dekat, Nushi-sama tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis kotor sepertiku."
Mata Reda berkaca-kaca seakan air mata akan menetes.
Tapi, belaian lembut mendarat hangat di wajahnya. Itu adalah tangan Aragaki yang melepaskan genggamannya dan membelai wajahnya.
"Kenapa bersedih? Itu tidak benar. Siapa yang mengatakan bahwa kamu tidak pantas melihat dirimu dalam cermin?"
Belaian lembut di wajah Reda membuat gadis itu meneteskan air matanya.
Aragaki menghapus tetesan air mata di wajah Reda dan menggandengnya untuk pergi ke tempat aksesoris itu.
Dia meminta Reda berdiri di depan cermin yang dilihatnya.
"Lihat? Itu adalah wajahmu."
"..." Reda melihat pantulan dirinya di cermin.
Aragaki berdiri di belakangnya dan berkata, "Wajah itu adalah wajah yang dipuji setiap saat oleh rubah kecilku."
"Saat dia memperkenalkan dirimu, dia berkata dengan rasa bangga dan penuh percaya diri bahwa kamu cantik."
"Dan...aku merasa hal itu benar."
"Eh?"
Reda melihat Aragaki dengan ekspresi terkejut. Senyum Aragaki menyambutnya bersamaan dengan banyak kalimat indah.
"Kamu cantik. Sangat cantik. Dan aku merasa wajah cantikmu hanya pantas dihiasi dengan senyuman."
"Karena itu, jangan menangis lagi dan tersenyumlah."
Reda merasa bahagia dan terharu mendengarnya.
"Nushi-sama...mengatakan aku...cantik?"
"Benar. Kamu sangat cantik. Aku yakin yang lain juga setuju." Aragaki bahkan bertanya pada si penjual cermin, "Tuan, bagaimana menurutmu? Apa kamu juga setuju gadis ini sangat cantik?"
Pedagang itu tersenyum dan memuji Reda.
"Hoo~sungguh gadis yang cantik. Anda cantik, nona. Percayalah pada apa yang dikatakan oleh suamimu itu."
"Suami?! Bukan tuan. Ini bukan..."
Wajah Reda langsung panik dan malu kembali. Dia sempat melirik Aragaki dengan wajah merah kembali.
"Hmm? Bukan suamimu? Meskipun kalian cocok?" pedagang itu heran
Aragaki tidak mau membuat gadis itu malu kembali.
"Kita beli cerminnya ya? Jadi, kamu bisa melihat wajahmu setiap hari agar mulai yakin bahwa kamu tidaklah seburuk yang kamu pikirkan."
Reda tidak mengatakan apapun karena dia sudah sangat senang. Bohong jika dia tidak bahagia.
Apalagi, kebahagiaannya itu semakin bertambah setelah Aragaki benar-benar membeli cermin itu dan memberikannya pada Reda.
"Ini...benar-benar untukku, Nushi-sama?"
"Kamu menyukainya, kan? Dengan begini kamu bisa lebih percaya diri setiap bercermin."
Reda menunjukkan senyum manisnya pada sang penguasa yang membuat jantung pria itu berdetak cepat.
-Deg
"Senyuman yang cantik itu lagi...akhirnya, aku bisa melihatnya."
Sambil tersenyum, sebuah kalimat terucap mulut Reda.
"Terima kasih banyak, Nushi-sama. Aku akan merawat hadiah ini dengan baik."
Pedagang aksesoris itu seperti seorang penonton dari kisah cinta kedua orang tersebut.
****