The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 83. Satu Hari yang Paling Indah



Reda yang sibuk melihat-lihat pakaian bagus itu tampak begitu takjub.


"Cantiknya~"


"Nona menyukainya? Apakah tertarik mencobanya?"


"Eh?! Aku tidak apa-apa! Selain itu, pakaian secantik ini mungkin tidak akan cocok dengan–" tiba-tiba dia terdiam. Reda mengingat kalimat yang dikatakan oleh sang penguasa padanya.


[Kamu cantik]


-Bluuuuush


Reda langsung memerah kembali. Dia yang saat ini memeluk cermin yang dihadiahkan oleh Aragaki untuknya merasa bahwa pujian itu seperti tidak nyata.


"Nushi-sama mengatakan aku...cantik. Aku cantik katanya. Rasanya bahagia sekali.


"Apakah ini rasa bahagia saat dipuji oleh orang yang kita cintai?"


Reda yang tersenyum dilihat oleh karyawan Jorogumo.


"Nona, Anda pasti cocok dengan semua pakaian ini. Anda cantik."


"Sungguh?"


"Benar. Silahkan lihat ke sini. Ada model cantik lainnya."


Pelayan itu menunjukkan model lainnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Reda bisa menjadi seperti anak gadis lainnya di desanya.


**


Jorogumo yang baru selesai menunjukkan semua kain untuk membuat pakaian tampaknya sudah mendapatkan jawaban sang penguasa.


"Terima kasih, Jorogumo. Semua kain ini aku beli. Tolong buatkan banyak pakaian bagus untuk gadis itu."


"Jika tidak keberatan, pilihkan juga obi dan semuanya yang sesuai dengan gadis itu."


"Baik, Aragaki-sama."


"Lalu...aku ingin memesan satu pita rambut dengan warna yang mirip dengan milik Ryoko."


"Pita? Oh, kalau tidak salah pita yang dipakainya itu adalah milik mendiang Ryoko, benar kan?"


Jorogumo kembali bicara, "Saat aku pertama bertemu dengannya di kediaman Aragaki-sama, aku melihatnya memakai benda itu."


"Mungkinkah benda itu benar-benar diberikan oleh rubah kecil Ryoko pada gadis itu?"


"Benar. Ryuunosuke memberikan itu sebagai hadiah dan dia tampak menyukainya. Jika tidak keberatan, aku ingin pita dengan warna yang persis seperti itu."


Jorogumo tidak percaya bahwa sang penguasa yang membenci manusia bahkan mau memberikan banyak hadiah terbaik untuk gadis manusia yang bersamanya.


Tentu saja hal itu disambut baik oleh wanita laba-laba tersebut.


Selesai dengan semua urusannya, Aragaki keluar dan mendapati gadis itu sedang melihat-lihat pakaian bagus dengan wajah ceria.


"Huwaaa~yang ini juga cantik. Motif bunga apa ini?" tanya gadis itu


"Ah, ini bunga krisan. Biasanya motif ini cocok sekali untuk festival musim gugur." jelas pelayan tersebut


"Festival ya. Aku belum pernah pergi ke festival. Pasti indah sekali."


"Di sana banyak sekali hal indah, nona. Pelepasan lampion, adanya mitama-sama dan banyak lagi."


"Pasti indah sekali." Reda sangat tidak sabar mendengar hal lainnya


"Selain itu, sebenarnya di Higashi no Mori sendiri juga ada festival musim gugur. Pasti cocok dengan motif ini."


"Di Higashi no Mori juga ada festival musim gugur?"


"Benar dan Aragaki-sama sendiri yang memimpin."


"Huwaaa~Nushi-sama sendiri. Pasti akan sangat indah."


Hati kecil Reda tergugah ingin sekali menyaksikan festival tersebut.


"Seandainya aku bisa melihat festival tersebut."


Aragaki melihat betapa senangnya gadis itu sekarang. "Jika dia hidup di desa terkutuk itu, mungkin dia tidak akan pernah tersenyum seperti itu."


Tanpa diketahui siapapun, sang penguasa bergumam pelan, "Aku bersyukur kamulah yang datang ke tempat ini."


Reda melihat ke belakang dan dia tersenyum saat mengetahui sang penguasa datang menghampirinya.


"Nushi-sama. Apakah urusannya sudah selesai?"


"Sudah. Apa kamu menemukan hal menarik di sini?"


"Iya. Semua pakaiannya sangat cantik. Terima kasih sudah mengizinkanku melihat semuanya."


Aragaki merasa lebih tenang sekarang. Gadis itu sudah tidak lagi terlalu canggung dan malu. Dia telah nyaman dan terbiasa dengan sang penguasa.


Setelah berpamitan dengan Jorogumo dan keluar dari sana, Aragaki meminta benda yang dipegang oleh gadis itu.


"Biar aku bawakan cerminnya."


"Aku bisa membawanya sendiri, Nushi-sama."


"Tapi jika sampai pecah karena kamu tidak sengaja tersenggol seseorang bagaimana?"


Reda terdiam dan akhirnya memberikan cermin yang disukainya kepada Aragaki.


Sang penguasa hanya membutuhkan satu tangan untuk membawanya dan satu tangan lainnya dikhususkan untuk menggenggam tangan gadis itu.


"...!" Reda terkejut. Wajahnya memerah, namun saat dirinya melihat wajah Aragaki yang tersenyum lembut membuatnya ikut memberikan senyumannya.


Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan berkeliling bersama.


Selama seharian itu, Aragaki tidak melepaskan tangannya dari genggaman gadis itu.


Mereka makan bersama di luar, dilanjutkan dengan melihat beberapa hal di pasar dan toko-toko sekitar dan pergi ke tempat yang menarik perhatian gadis itu.


"Benda ini cantik sekali. Tuan, benda cantik ini namanya apa?"


"Itu namanya sisir, nona. Dipakai untuk membuat rambutmu lebih rapi dan halus."


"Rambut rapi dan halus ya..."


Gadis itu terlihat begitu tertarik dengan benda tersebut dan Aragaki tidak membutuhkan waktu lama untuk membelikannya.


"Eh? Membeli ini?!"


"Tolong sisir ini satu. Juga, hiasan rambut ini juga." Aragaki memilih sebuah hiasan seperti tusuk rambut untuknya.


Dia mengambilnya dan mencocokkannya dengan rambut indah sang gadis, "Hmm, cantik. Sangat cocok denganmu."


-Bluuuush


Gadis itu tidak bisa menahan rasa malunya hingga kembali memerah.


Akhirnya, Aragaki benar-benar membeli semua hal yang menarik untuk gadis itu.


"Nushi-sama...terima kasih banyak. Hadiahnya benar-benar sangat cantik." kata gadis itu dengan wajah malunya


"Tidak masalah. Kita masih akan mengunjungi banyak hal lain. Mumpung masih sore, apakah ada tempat lain yang ingin kamu datangi?"


"Tempat yang ingin didatangi..."


Ada satu tempat yang menarik perhatian Reda. Tempat indah di dalam hutan yang pernah diceritakan oleh rubah kecilnya yang manis.


Tapi meningkat hari sudah sore, Reda memutuskan untuk tidak mengatakannya.


Sebaliknya, dia mengatakan hanya ingin pulang sebelum matahari terbenam.


Mendengar itu, Aragaki tersenyum dan mengajaknya ke sebuah lokasi yang indah.


Tepat itu berada sedikit lebih jauh dari kediamannya.


Lokasinya ada di bagian luar perbatasan antara Higashi no Mori dengan torii yang menghubungkan dunia manusia.


Di sana ada sebuah taman bunga yang penuh dengan warna bunga indah.


Reda begitu takjub dengan pemandangan tersebut.


"Cantik sekali~"


"Indah bukan? Ini adalah salah satu hal terindah lain di Higashi no Mori selain air terjun dan kebun bunga alami di dalam hutan."


Reda begitu terpesona dengan pemandangan itu. Matahari senja juga menjadi sebuah hiasan manis untuknya.


Aragaki mulai tidak bisa menahan dirinya dan dia merasa bahwa inilah momen yang tepat untuk mengatakan semuanya.


"Maafkan aku."


"Eh?" Reda menengok dengan ekspresi syok. Seakan dirinya salah mendengar dia menatap mata sang penguasa.


Aragaki menggenggam erat tangan gadis itu dan menatapnya dalam-dalam. Ekspresi serius ditunjukkan olehnya.


"Selama ini aku tidak pernah memperlakukan para gadis dari desa terkutuk itu dengan baik."


"Mereka hanya membuat kebencianku semakin besar setiap harinya. Selain itu, tidak pernah ada dari mereka yang memperlakukan rubah kecilku dengan baik."


"Saat kamu datang, rubah kecilku begitu menyukaimu. Dan untuk kali pertama, dia begitu bersikeras hingga beberapa kali melawanku."


"Aku mencoba memahami perasaan dan perjuangannya selama ini. Sampai akhirnya aku mengerti kenapa mereka semua begitu menyukaimu."


"..." Reda hanya terdiam


Aragaki melepaskan genggamannya dan mengelus rambut serta wajah sang gadis dengan lembut.


"Aku mulai menyadari bahwa apa yang aku lakukan padamu sungguh kejam. Aku minta maaf padamu."


"Maafkan aku karena menolak masakanmu saat pertama kali kamu datang, maafkan aku karena menyiram sup ke arahmu, maafkan aku karena telah melukai dan menghancurkan hiasan yang kamu buat."


"Dan...maafkan aku karena telah membuatmu selalu menangis."


Seketika air mata Reda jatuh membasahi pipinya. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.


"Apa...Reda sedang...bermimpi?"


Aragaki hanya tersenyum dan menghapus air matanya.


"Tidak. Ini bukan mimpi."


"Hiks...Nushi-sama tidak...tidak lagi membenciku?"


Sang penguasa memeluknya. Dia memeluk gadis itu dan berbisik dengan suara lembutnya.


"Aku tidak membencimu. Aku minta maaf. Aku mulai menyadari bahwa semua hal yang kamu lakukan adalah sesuatu yang sangat berharga."


"Dan perasaanmu itu telah membuat banyak perubahan untuk rubah kecilku."


Aragaki tidak mengatakan hal lainnya, tapi dia mengatakan kalimat ini dalam hati.


"Senyuman indahmu telah merubah perasaanku juga."


Aragaki merasa dia masih belum pantas mengatakannya dan memilih untuk tidak mengatakan hal tersebut saat ini.


Gadis itu melihat Aragaki dengan senyuman dan air mata yang masih menetes.


"Aku tidak akan pernah membenci Nushi-sama. Bukankah aku mengatakannya, aku akan mencoba mencairkan hati Nushi-sama."


"Suatu hari nanti, jika cinta sejatimu datang, Nushi-sama dan gadis itu akan menjadi orang yang paling bahagia."


"Reda akan ikut senang."


Aragaki tidak meresponnya. Dia hanya menghapus air mata sang gadis dan mengelus-elus rambutnya.


Sore itu mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan.


Ada suasana akrab yang akhirnya terjalin.


Sepanjang jalan, Aragaki memikirkan kalimat gadis itu.


[Suatu hari nanti, jika cinta sejatimu datang, Nushi-sama dan gadis itu akan menjadi orang yang paling bahagia]


"Aku tidak membutuhkan hal itu sekarang. Entah kenapa, aku hanya membutuhkanmu berada di sampingku saat ini."


Setibanya di kediaman Aragaki, keduanya disambut dengan sebuah pelukan hangat dari rubah kecil yang manis.


Bersamaan dengan terbenamnya matahari, kencan sempurna dan hari paling indah untuk keduanya berakhir.


****