
Reda mulai melakukan aktivitasnya kembali begitu selesai membantu Ryuunosuke mengantarkan sarapan. Hatinya sedang diselimuti kebahagiaan saat ini. Pujian yang didengarnya tadi membuatnya berbunga-bunga.
“Ya Dewa, terima kasih banyak. Syukurlah Nushi-sama menyukainya, syukurlah semua orang menyukainya. Aku akan berjuang sedikit lagi. Ayah, Ibu, Reda akan berjuang sedikit lagi.”
Dia memetik banyak sayur di kebun.
“Lobak dan kol sudah matang. Tomat, kentang dan terongnya juga siap panen. Nanti siang aku bisa membuat banyak masakan enak untuk Nushi-sama dan lainnya.”kata sang gadis dalam hati
Reda memetiknya dan mencuci besih sayuran tersebut langsung di sumur. Kemudian dia pergi ke dapur. Ketika memasuki dapur, rubah kecil itu memeluknya.
“Reda-sama, Reda-sama, masakan Reda-sama benar-benar enak. Ryuunosuke menyukainya.”
Reda meletakkan sayuran tersebut di atas meja dan memeluk rubah kecil itu. Gadis cantik itu bahwa tertawa melihat mulut si rubah kecil yang penuh dengan nasi dan bekas gorengan.
“Ryuunosuke, makanlah pelan-pelan.” Gadis itu membersihkan mulut si rubah kecil itu menggunakan pakaiannya sendiri. Tidak ada rasa jijik sedikit pun darinya, membuat si rubah kecil itu malu dan memeluknya kembali.
“Ryuunosuke suka dengan sup dan telurnya! Ryuunosuke juga suka sekali dengan tumis sayur dan dagingnya. Aragaki-sama juga makan dengan lahap!”
“Benarkah?” Reda sempat tidak percaya mendengarnya
“Ryuunosuke baru saja makan karena Aragaki-sama dan semuanya meminta tambahan nasi dan lauknya lagi.”
Mendengar itu, Reda benar-benar sangat terkejut dan senang.
“Kalau begitu, apa aku perlu membuatkan yang lain lagi?”
“Reda-sama mau membuatnya lagi?”
Reda mengangguk. Mendengar itu, rubah kecil itu tampak senang dan berlari mengelilingi gadis itu dengan ekor yang bergoyang. Tiba-tiba dia terdiam. Dia menatap Reda yang sedang mengupas kentang.
“Reda-sama belum sarapan, benar kan?” tanya Ryuunosuke
Reda hanya melihat rubah itu dengan senyuman. Tidak ada balasan apapun darinya. Rubah kecil itu mengambil mangkuk makannya dan melihat sisa nasi di dalamnya. Masih ada sedikit nasi, sedikit sayur tumis dan sedikit sup miso dagingnya.
Ryuunosuke memberikan sisa sarapannya dengan menambahkan setengah centong nasi lagi secara diam-diam. Dia menarik pakaian Reda.
“Ada apa, Ryuunosuke?”
“Reda-sama, ini sisa makanan Ryuunosuke. Makanlah dulu agar Reda-sama tidak sakit.”
“Tapi, Ryuunosuke harus makan banyak. Nasimu masih sangat banyak seperti itu. Bagaimana kalau Ryuunosuke sakit? Kesehatanmu lebih penting daripada aku.”
“Itu tidak benar! Reda-sama juga penting! Reda-sama makanlah dulu. Ryuunosuke akan memotong sayurnya. Nanti Reda-sama bisa melanjutkannya kembali.”
Rubah kecil itu menarik tangan Reda dan memintanya untuk duduk. Reda melihat sisa makanan tersebut dengan menelan ludahnya. Dia lapar dan tentu saja sisa makanan yang sedikit itu menjadi sebuah berkah untuknya.
Reda mengelus-elus wajah dan kepala si rubah manis itu dengan senyum yang cantik.
“Terima kasih, Ryuunosuke.”
“Ehehe, makanlah Reda-sama.”
Reda memakan semua makanan itu. Ryuunosuke mulai mengupas kentang dan memotong sayuran lainnya.
“Dengan begini, Aragaki-sama dan yang lainnya tidak akan tau bahwa semua ini Reda-sama yang membuat. Ryuunosuke hanya perlu memasukan sayurannya dan sisanya Reda-sama yang meracik bumbunya. Ini sempurna!
Aragaki-sama akan menyukai masakan Reda-sama setelah ini, Ryuunosuke yakin sekali!!” pikir si rubah kecil
Selesai makan, Reda merapikan piring kotornya dan mulai meracik bumbunya. Dia membuat nikujaga (tumis daging kentang Jepang) serta menambahkan tomat serta terong ke dalam sup misonya.
Ryuunosuke yang mencicipinya langsung menyukainya dan menyuguhkannya kembali kepada Aragaki di ruang makan.
Siapa yang mengira bahwa itu akan menjadi jam sarapan paling lama selama Ryuunosuke melayani tuannya. Hal itu karena untuk pertama kalinya sang penguasa memakan sarapannya sampai menghabiskan dua mangkuk.
Melihat tuannya makan dengan nafsu makan yang banyak, membuat Ryuunosuke dan pelayan setia lainnya ikut senang.
“Kapan terakhir kali Aragaki-sama makan dengan perasaan seperti ini?”pikir Nagi
“Rasanya, Nushi-sama terlihat senang. Aku tidak heran, masakan Ryuunosuke sejak semalam benar-benar enak!” Ginko juga berpikiran sama seperti Nagi
Kuroto dan Hakuren hanya memandangi tuannya yang tersenyum senang. Ryuunosuke yang telah sarapan
terlebih dahulu menunggu Aragaki dan lainnya selesai sarapan dengan masih membawakan masakan yang baru matang.
“Supnya enak. Aku melihat isian lain di dalamnya.”
“Itu…sayur yang baru dipetik Reda-sama. Ryuunosuke yang mencucinya dan langsung dimasak.”
“Ryuunosuke sangat pintar. Terima kasih banyak sudah membuatkanku sarapan seenak ini.”
“Jadi, Aragaki-sama menyukai masakannya?” tanya Ryuunosuke
“Tentu saja. Rasanya sangat enak. Aku yakin yang lain juga berpikir begitu, benar kan?”
“Ryuunosuke, aku suka dengan tumis kentang daging yang baru matang ini.” kata Hakuren memuji si rubah kecil
“Ehehe~”
Rubah kecil itu hanya tertawa kecil. Suasana ruang makan itu benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya.
Di belakang, Reda mulai menimba air dan mengepel lantai bagian dalam. Saat dia melewati pintu ruang makan, dia sempat berhenti mengepel dan duduk bersimpuh. Dia mendengar suara tawa dalam ruangan itu.
“Syukurlah semuanya menyukai masakan yang kubuat. Syukurlah, Aragaki-sama mau tersenyum memakannya.”
“Aku harap suatu saat nanti, aku bisa ikut bergabung dengan mereka untuk makan di dalam sana sebelum aku mati nanti.”
Reda berdiri perlahan-lahan dan mencoba setenang mungkin. Dia berjalan pelan dan mulai melanjutkan kembali tugasnya.
Aragaki menyadari hal itu, namun dia langsung mengabaikannya. Sejauh ini, dia masih tidak mau menganggap gadis itu ada di dalam rumahnya.
Akan tetapi, hal itu tidak untuk Hakuren. Dia mengingat hal yang dipikirkannya semalam dan sempat melirik ke arah pintu.
“Gadis itu…dia benar-benar berusaha dengan baik agar tidak merusak perasaan bahagia milik Aragaki-sama…”
Di ruang makan itu, Hakuren menjadi orang lain selain Aragaki yang menyadari kehadiran Reda di luar ruangan.
**
Setelah selesai mengepel bagian dalam, Reda menyiram tanaman dan memperhatikan bunga-bunga di taman.
“Bunganya sudah tumbuh sangat cantik. Apa aku bisa melakukan sesuatu untuk membuat suasana rumah menjadi lebih cantik dengan ini?”
Reda berpikir keras. Dia mulai mencari sesuatu di dapur sebagai wadahnya. Setelah menemukan dua buah mangkuk yang sedikit retak, dia membawanya ke belakang. Dengan mengisi air di mangkuk, dia meletakkan beberapa batu di dalamnya.
“Selesai. Cantiknya~”
Reda terlihat senang sekarang. Di hari ketiganya tinggal di sana, dia bisa melakukan sesuatu untuk membuat sang Dewa Pelindung merasa senang.
“Mendiang ayah dan ibu dulu pernah membuat ini di rumah. Ikebana? Kalau tidak salah. Ini untuk menghormati Dewa dan keindahan bunganya. Nushi-sama yang merupakan Dewa Pelindung desa pasti senang dengan ini.” gumam gadis itu dengan senyum cantiknya
Dia membawanya ke dapur untuk sementara kemudian meninggalkannya kembali.
Setelah Ryuunosuke membawa piringnya dibantu oleh Nagi dan Ginko, mereka yang tiba di dapur melihat rangkaian bunga di meja.
“Huwaa~cantiknya”
Rubah kecil itu terlihat begitu senang.
Kedua youko lain merasa takjub dengan hiasan bunga tersebut. Setelah mendekat sedikit, mereka jelas mencium aroma gadis itu di setiap bagiannya.
“Ini…gadis desa itu yang membuatnya?” Nagi terlihat terkejut
“Reda-sama yang buat?!”
Ekor Ryuunosuke bergoyang-goyang karena senang. Dia belum pernah melihat hiasan bunga seperti ini sebelumnya.
“Aku tidak tau kalau Reda-sama bisa membuat hiasan ikebana?” kata Ginko
Tidak lama setelah itu, Reda datang membawa rangkaian bunga lain ke dapur. Betapa terkejutnya dia melihat ada orang lain di sana.
“Na–Nagi-sama, Ginko-sama!”
Kedua youko itu menengok Reda yang membawa hiasan bunga lain di tangannya.
“Kau yang…membuat ini?”
“Itu…”
Reda terlihat takut. Tangannya gemetar dan dia tidak bisa menyembunyikan hal itu dari mata kedua rubah dewasa tersebut. Tapi Ginko mendekatinya perlahan.
“Reda-sama, kami tidak akan mengatakan apapun yang akan menyudutkanmu. Kami hanya ingin tau apakah ikebana ini Reda-sama yang membuat?”
“Aku…aku melihat banyak bunga bagus di taman. Karena mereka terlihat cantik dan mengingatkanku pada Nushi-sama yang sedang senang hari ini, jadi aku membuatnya. Ini…sebagai persembahan untuk Nushi-sama karena beliau sedang bahagia.”
“Persembahan?”
“Mendiang orang tuaku berkata bahwa ikebana bisa dipakai untuk menunjukkan rasa syukur kepada Dewa. Karena Nushi-sama adalah Dewa Pelindung di desaku jadi aku membuatnya.”
“Ini mungkin tidak bisa dilihat oleh Nushi-sama sejak beliau tidak menyukai aroma tubuhku. Aku hanya akan membuatnya dan meletakkannya di sini.”
Nagi dan Ginko melihat satu sama lain.
“Kalau tidak keberatan, boleh berikan ini pada kami berdua?”
“Eh? Apa…apa ini akan dibuang?”
Ekspresi Reda langsung berubah menjadi sedih. Tapi Nagi langsung merebutnya dari tangan gadis itu.
“Sudahlah, pokoknya berikan pada kami. Sekarang, pergi bekerja sana!”
Reda tidak membantah dan langsung pergi meninggalkan dapur.
“Nagi-sama jahat sekali! Ryuunosuke tidak senang Reda-sama dibentak seperti itu!”
“Diamlah kau, rubah kecil! Bukankah ada hal yang harus kau lakukan?”
“Eh?”
Nagi berbisik pada Ryuunosuke.
“Rubah kecil dengar, kau harus melapisi dan menyentuh semua bagian hiasan ini. Kami juga akan membantumu.
Kita akan menyamarkan aroma tubuh gadis itu pada setiap bagian ikebana ini dan memberikannya pada Aragaki-sama.”
“Tapi, bukankah Nagi-sama dan Ginko-sama tidak menyukai Reda-sama?”
“Ryuunosuke, aku dan Nagi mungkin masih belum mempercayainya. Namun, melihat Reda-sama begitu memperhatikanmu membuat kami berdua bisa sedikit membantunya.” bisik Ginko
“Sebelumnya kami sudah diperingatkan oleh Aragaki-sama karena suatu hal. Tapi sejak Aragaki-sama tidak memedulikan gadis desa itu, kami sangat yakin beliau tidak akan memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu seharian ini.”
Ryuunosuke menjadi sedikit percaya diri setelah mendengarnya. Ketiga rubah itu langsung melakukan ide tersebut.
**
Di ruangannnya, Aragaki sibuk menulis gulungan seperti biasa. Dia menyadari pelayannya datang.
“Aragaki-sama…”
“Masuk. Ada apa kalian bertiga?”
Ryuunosuke menghampiri tuannya dengan senang.
“Aragaki-sama, Ryuunosuke dengan Nagi-sama dan Ginko-sama membuat hiasan untuk ruanganmu. Lihat! Cantik, kan?”
Aragaki terkejut dan tersenyum pada ketiga pelayannya.
“Kalian membuat ini?”
“Benar. Karena Nushi-sama hari ini sedang bahagia jadi ini sebagai hadiahnya.” jelas Ginko
Aragaki menerimanya dan melihatnya baik-baik.
Ketiga pelayan setianya sempat keringat dingin karena panik, tapi kemudian mereka berubah lega. Aragaki berdiri dan meletakkannya di tokonama (tempat khusus untuk meletakkan hiasan).
“Ini indah. Terima kasih banyak. Aku senang menerimanya.”
Senyuman itu adalah bukti bahwa tuan mereka menerimanya dengan baik. Ginko yang melihatnya merasa begitu berterima kasih pada Reda dalam hati.
“Reda-sama, Nushi-sama senang dengan hiasan buatanmu. Terima kasih banyak.”
Di balik semua hal yang diterima Aragaki, ada kehangatan gadis desa yang menginginkan senyumannya.
****