
Selesai makan, semuanya tidak langsung keluar. Kali ini, Reda menyiapkan makanan penutup selama memasak sendirian.
Reda meminta izin untuk pergi ke dapur kembali bersama dengan rubah kecil. Selang beberapa lama, keduanya membawa yokan dengan teh gandum lain sebagai penutup.
“Ini?”
“Makanan penutup. Kemarin aku melihat semuanya menyukai yokan jadi aku membuatnya kembali. Silahkan dimakan dengan teh gandum keringnya.”
Semuanya cukup senang. Memang benar, selalu ada bagian khusus untuk menu makanan penutup.
Mereka memakannya dengan santai dan begitu menikmatinya. Aragaki bahkan terlihat sangat menyukainya.
“Dibandingkan dengan rasa yokan yang pernah aku makan, ini paling pas di lidahku.”
“Aku mungkin telah jatuh cinta pada masakannya dahulu sebelum aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padanya.”
Reda melihat sang penguasa dan bertanya padanya. Semua keberaniannya dituangkan dalam pertanyaan sederhana tersebut, “Nushi-sama, apakah rasanya enak?”
Aragaki melihatnya dan tersenyum, “Aku menyukainya. Ini enak. Aku sangat suka. Terima kasih banyak.”
Reda tersenyum manis sekali. Mungkin di mata Aragaki saat ini, senyum bahagia gadis desa di sampingnya itu adalah yang paling manis melebihi rasa manis yokan yang dia makan.
Pemandangan bahagia itu jelas terlihat dan disaksikan oleh semua pelayan setia Aragaki. Tertanam dalam benak mereka masing-masing sebuah satu tekad yang sama.
“Reda-sama harus aman! Tidak ada yang boleh menyakitinya!”
“Apapun yang terjadi, kami harus melindunginya!”
Makanan penutup adalah waktu paling santai setelah canda tawa saat makan siang beberapa waktu lalu.
Kini, makan siang benar-benar berakhir dan Reda mulai merapikan kembali meja makannya. Dibantu oleh rubah kecil, mereka membawa semua peralatan makan tersebut ke dapur.
Di ruangannya, Aragaki terlihat seperti membuka lemari pakaiannya. Dia juga seperti pergi ke bagian kamar penyimpanan dan membuka sebuah kain penutup yang menutupi sesuatu.
“Terakhir kali aku memakai ini adalah saat aku membinasakan para manusia kotor yang membunuh Ryoko dan semua pelayan setiaku.”
“Aku membunuh semua penduduk beserta para pendeta onmyouji yang mengaku melakukan ini atas kehendak Dewa.”
“Kali ini, aku mungkin akan menggunakan ini untuk membunuh iblis yang selama ratusan tahun telah lama setia padaku dan membantu membersihkan semua kotoran yang datang dari tanah pendosa itu.”
“Ini semua demi gadis itu. Aku akan menemuinya dan bertanya padanya langsung”
Aragaki mengambil sebuah pedang panjang dengan sarung pedang berwarna ungu. Ukiran cantik dengan tali kumihimo (tali anyaman Jepang) berwarna ungu dan emas menghiasinya.
“Lama tidak bertemu. Sudah 200 tahun lamanya, bukankah begitu, Gyuki-Yoshitsune.”
Itulah nama pedang milik sang Dewa Pelindung Higashi no Mori, Gyuki-Yoshitsune. Pedang itu dibawa oleh sang penguasa keluar.
“Tergantung jawabannya nanti, aku mungkin akan mengampuni atau membunuhnya sendiri. Aku harus melakukannya.”
Di ruangannya, Aragaki duduk bersimpuh dengan pedangnya di depan meja. Dia memejamkan matanya.
“Aku melakukan ini untuk melindunginya. Meskipun aku mungkin belum bisa mengatakan semua itu, tapi hati ini menolak untuk memberikannya pada Nue.”
“Mungkin hal itu telah diduga olehnya sehingga dia mencoba mengambilnya karena menganggap semua gadis calon ‘pengantin’ desa kotor itu adalah makanannya.”
“Hanya butuh waktu kurang dari satu bulan untuknya membuatku tidak bisa lepas darinya. Aku akan mulai memahami dan menerima perasaan ini.”
Mata Aragaki terbuka dan sorot mata tajam dengan pupil mata berwarna keemasan terlihat.
“Aku tidak akan menyerahkan gadis desa itu.”
**
Reda yang baru selesai mencuci piringnya pergi ke belakang untuk mengangkat jemuran. Dia pergi seorang diri dan meninggalkan rubah kecilnya yang ingin membersihkan sisa memasak sebelumnya.
Di belakang, Reda mulai merasa bahwa hari-harinya semakin menyenangkan. Dia bahkan bisa bersenandung pelan diam-diam saat sedang sendiri.
“Rasanya menyenangkan sekali.”
Saat pakaian milik sang penguasa yang akan diangkat olehnya, tangan Reda berhenti sejenak. Dia terlihat ragu untuk menyentuhnya dan mengingat hal yang pernah dikatakan oleh sang penguasa padanya.
[Membersihkan seluruh rumah ini dan mengerjakan urusan di kebun. Kecuali memasak dan menyentuh pakaian milikku, biarkan dia membersihkan semuanya sendiri]
“Dulu…Nushi-sama merasa sangat jijik sekali denganku. Aku merasa sekarang, Nushi-sama mungkin mau menerimaku sedikit demi sedikit.”
Reda tersenyum. Dia memberanikan dirinya menyentuh pakaian lembut milik sang penguasa dan mengangkatnya.
Setelah itu, dia membawanya masuk dan melipatnya. Untuk beberapa momen, setelah makan benar-benar waktu yang cukup santai dan luang.
Reda menghabiskan waktu untuk melipat pakaian dan setelah itu dia duduk dengan pintu shoji yang terbuka, langsung menembus ke arah pohon bunga sakura seribu harapan.
Angin berhembus membuat sebuah lambaian nyaman untuk gadis itu. Tidak seperti biasanya, Reda merasa begitu nyaman dan tertidur.
Di ruangan itu, rasa nyaman dan sejuk membuat mata Reda tertutup. Semua rasa lelahnya berubah menjadi sebuah ilusi dan menghilang.
Sejuk angin seperti belaian tangan lembut.
Waktu berjalan. Rubah kecil yang mencari keberadaan gadis kesayangannya menemukan pemandangan menyenangkan.
“Kyaa!” telinga rubahnya berdiri. Dia menghampiri Reda yang tertidur pulas dengan wajah senang.
“Reda-sama tidur, Reda-sama tidur! Reda-sama tidur setelah melipat pakaian Aragaki-sama ya. Kyuuu~”
Pakaian yang dilipatnya di meja dilihat oleh si rubah kecil. Dia memilih pakaian tidur milik tuannya dan mengambilnya.
Betapa manisnya rubah kecil itu. Rubah kecil manis itu menggunakannya sebagai selimut untuk tidur bersama di samping gadis itu. Dia menyelimuti Reda dengan pakaian milik tuannya sendiri yang telah rapi dilipat.
“Ehehe~Ryuunosuke juga mau tidur siang dengan Reda-sama.” bisiknya
Siang itu, rubah kecil tidur dengan gadis kesayangannya kembali.
“Ryuunosuke suka tidur dengan Reda-sama. Aroma Reda-sama sangat lembut seperti ibu. Senangnya~”
Siang berlalu begitu cepat.
Di dalam ruangannya, sang penguasa memeriksa beberapa buku dan gulungan penting. Semua dihabiskan untuk melakukan pekerjaannaya sebagai penguasa hutan.
Tanpa sadar, siang meninggalkan hari dan berganti petang.
Aragaki yang baru saja selesai dengan semua kebimbangannya mencari keberadaan si rubah kecil. Walaupun sebenarnya dia juga mencari keberadaan gadis itu.
“Tidak biasanya. Kemana rubah kecilku?”
Saat Aragaki berjalan ke engawa luar, dia melihat sebuah pintu terbuka lebar. Dan ketika memeriksanya, pemandangan paling indah terlihat.
“…!!”
-Deg
Aragaki tidak bisa menahan dirinya dan melihat gadis desa dan rubah kecilnya itu tidur berselimut pakaian miliknya yang barus dilipat.
Jelas dia mengetahui bahwa pelakunya adalah rubah kecilnya.
Senyum dan tawa kecil terlihat di wajah sang penguasa. Dia berlutut dan menyeka helaian rambut lembut gadis desa itu.
Hanya satu kata untuknya, “Cantik sekali calon pengantinku.”
Sebuah kalimat yang dikatakan di bibir Aragaki, tanpa sebuah hipnotis, tanpa sebuah paksaan. Dia mengakui Reda sebagai calon pengantinnya, bukan dengan tanda kutip.
Itu adalah pandangan penuh cinta miliknya. Di sore hari itu, angin lembut yang mengantarkan ribuan kelopak sakura kembali bertiup. Seakan merayakan pengakuan terindah di sore hari.
**
Di luar pintu, Ara-mitama berjalan dengan santainya.
“Aku akan menjemputmu malam ini, calon makanan Aruji-sama.”
Tidak disangka, sosok Ara-mitama berubah menjadi sosok yang sangat tidak asing untuk penghuni kediaman sang penguasa.
“Aku akan membawamu pergi dari tempat itu.”
****