
Selesai menangis dan meletakkan pakaian yang baru saja didapatkannya, Reda sempat melihat sesuatu yang menggelinding di tatami.
“Itu…bola kecil milik rubah kecil manis itu. Rupanya tertinggal di sini ya.” ucapnya dengan senyuman
Reda menyimpan bola itu di dekat tempat tidurnya agar mana kemudian keluar dan menemui kedua tengu yang masih ada di luar gubuk.
“Hakuren-sama, Kuroto-sama, terima kasih banyak. Sungguh, terima kasih banyak untuk semuanya.”
“Huh! Kalau mau berterima kasih, makan siang kali ini harus enak ya. Aragaki-sama membawakan kastanye dan ubi serta buah. Karena itu, kalau mau berterima kasih–”
“Kuroto…” Hakuren menatap sinis temannya
“Huh! Pokoknya harus enak!”
Reda tersenyum merona mendengarnya. Dia menyanggupinya dan membuat kedua tengu itu merasa lega. Mereka meninggalkannya Reda dan terbang kembali ke kediaman Aragaki.
Gadis itu berjalan kembali ke kediaman Aragaki.
**
Di sisi lain, ketika rubah kecil itu baru kembali dari gubuk tempat Reda tinggal menuju dapur dengan membawa ikan, Nagi dan Ginko baru saja kembali dari hutan membawa sesuatu.
“Rubah kecil!” Nagi memanggil
“Nagi-sama, Ginko-sama. Ryuunosuke baru saja pulang~”
“Kami tau. Apa yang kau bawa itu?”
“Ini ikan. Re–” rubah kecil itu menutup mulutnya lalu menarik pakaian Ginko
“Ada apa, Ryuunosuke?” tanya Ginko penasaran
Ketika Ginko berlutut, rubah kecil itu berbisik padanya.
“Reda-sama akan memasak enak untuk siang ini. Ryuunosuke tadi dibuatkan ikan goreng dan sup ikan yang lezat sekali. Ikan ini nanti akan digoreng juga. Pokoknya hari ini Aragaki-sama akan makan dengan lahap lagi.”
Telinga rubah Ginko bergoyang dan ekor rubahnya ikut bergoyang cepat. Terlihat wajah senang mendengar hal itu.
Nagi penasaran juga dan ikut berlutut untuk mendengarkan. Begitu dia mendengar ucapan si rubah kecil, telinga dan ekor Nagi ikut berputar dan bergerak karena senang.
Tampaknya dia juga sampai memiliki inisiatif tersendiri.
“Makan siang hari ini akan menjadi yang termewah. Lihat ini, kami membawa kelinci hutan lagi. Kalau begitu, akan kami kuliti dan kami potong agar gadis desa itu bisa mengolahkan langsung.”
“Dengan begitu, aroma tangannya tidak akan diketahui Aragaki-sama. Ayo kita lakukan, Ginko!”
“Kamu benar, Nagi. Kami ke belakang dulu untuk memotong daging kelincinya. Oh iya, Ryuunosuke…”
“Ya?”
“Nushi-sama bilang pada kami kalau kamu sudah pulang, sebaiknya temui beliau di ruangannya.”
“Baik.”
Begitu kedua youko itu pergi, Ryuunosuke membuat teh dan mengupas buah yang sebelumnya dibawa oleh Nagi dan Kuroto ke dapur.
“Mungkin sudah waktunya untuk cemilan sebelum makan. Reda-sama juga belum datang ke sini.”
Ryuunosuke menyiapkan teh dan cemilan itu, kemudian membawanya ke ruangan Aragaki. Pintu Aragaki terbuka, menandakan bahwa dia ada di dalamnya.
“Aragaki-sama…”
Aragaki yang sedang melihat gulungan kertas di mejanya menyambut baik kedatangan rubah kecilnya itu.
“Masuklah, Ryuunosuke.”
Ryuunosuke membawakan cemilan sebelum makan siang Aragaki. Begitu rubah kecil itu meletakkan nampan cemilan itu, hidung Aragaki mengendus sesuatu yang tidak asing.
“Aroma gadis kotor itu dan…masakan?”
Ekspresi wajahnya tidak bisa dibohongi, dia emosi.
“Ryuunosuke, apa kamu tidak merasa bahwa kamu terlalu sering disentuh oleh gadis kotor itu?”
“Eh?”
“Aroma tubuhnya terlalu menempel padamu terlalu pekat. Membuatku mual dan ingin muntah.”
“…!!” Ryuunosuke kaget mendengar hal itu
Dia memang terus menerus menempel pada Reda dan dipeluk olehnya karena dia menyayangi gadis cantik itu, tapi dia lupa bahwa tuannya itu begitu peka terhadap aroma.
Penciuman serigala miliknya membuat Ryuunosuke tidak bisa menyembunyikan hal itu dari sang majikan.
“Aragaki-sama…tega sekali pada Ryuunosuke…” gumam rubah kecil itu sambil mengerutkan keningnya
“…!!” mendengar rubah kecilnya berkata demikian dan hampir menangis, Aragaki ingat apa yang dikatakan kedua youko setianya beberapa waktu lalu.
*[Nushi-sama, mungkin Ryoko-san merindukan putra kecilnya itu*]
*[Akhir-akhir ini, rubah kecil itu juga sering menangis memanggil ibunya*]
Aragaki melihat kembali ekspresi rubah kecilnya yang diam dengan mata merah.
“Dia pasti akan menangis lagi. Aku akan dianggap jahat jika Ryoko mengetahui hal ini.”
Aragaki menghela napasnya pelan dan bicara dengan nada lembut pada rubah kecil kesayangannya itu.
“Ryuunosuke, aku minta maaf. Aku memanggilmu bukan untuk mengatakan hal seperti itu. Maafkan aku ya.”
“…”
Ucapan Aragaki memang lembut disertai senyuman, tapi hati Ryuunosuke sudah terlanjur sakit dan kecewa.
“Kenapa Aragaki-sama begitu membenci aroma Reda-sama? Aroma Reda-sama sangat wangi, mirip dengan aroma ibu.”
“…” sekarang Aragaki yang merasa heran. “Kenapa rubah kecilku sampai seperti itu menerima kehadiran gadis kotor itu?” pikirnya
Aragaki sudah tidak mau memperpanjang masalah itu karena akan membuat Ryuunosuke menangis nanti. Dia mencoba bicara santai.
“Ryuunosuke, aku berpikir mungkin sudah waktunya aku memberimu izin untuk mengunjungi makam Ryoko.”
“Eh?! Ryuunosuke boleh mengunjungi makam ibu?!” telinga dan ekor rubah itu langsung berdiri dan berputar-putar
“Nagi dan Ginko bercerita kalau akhir-akhir ini Ryuunosuke selalu memanggil Ryoko. Tadi, aku juga merasa Ryoko seperti datang. Karena itu, aku pikir ibumu pasti merindukanmu.”
Ekor Ryuunosuke bergoyang dengan cepat dan wajahnya ceria.
“Ibu juga…ibu juga tadi mendatangi Ryuunosuke, Aragaki-sama~”
“Benarkah?”
“…!!” mendengar rubahnya langsung mencatat dengan siapa dia akan berkunjung membuat ekspresi Aragaki kembali kesal. Kali ini, tingkat kekesalannya nyaris seperti akan membunuh gadis itu jika dia bertemu dengannya.
Aragaki menekan emosinya dan mencoba tidak secara langsung mengatakan kebenciannya.
“Ryuunosuke…”
“Ya?”
“Aku dan Ryuunosuke yang akan mengunjungi makam Ryoko. Tidak boleh ada orang lain.”
“Kenapa? Ryuunosuke ingin pergi dengan–”
“Aku yang memberimu izin, kan?”
-Deg
Ryuunosuke melihat mata Aragaki. Dia mengerti, Aragaki membenci Reda. Ekor dan telinganya kembali turun karena sedih.
“Ryuunosuke…tidak jadi berkunjung ke makam ibu. Aragaki-sama boleh mengunjunginya sendiri.”
“Ryuunosuke?”
Rubah kecil itu memberi salam dan bangun untuk keluar dari ruangan Aragaki.
Sebenarnya masih ada hal yang ingin ditanyakan olehnya yaitu mengenai aroma masakan yang menempel padanya. Tapi tampaknya Aragaki harus menunda untuk itu.
“Sepertinya aku lupakan saja mengenai hal itu. Rubah kecil itu masih membutuhkan waktu.”
Di engawa, Ryuunosuke berjalan dengan ekspresi kesalnya.
“Kenapa Aragaki-sama begitu jahat! Padahal Nagi-sama dan yang lain sudah mau menerima Reda-sama dengan baik.” gerutunya
Ryuunosuke terdiam.
“Ibu…Ryuunosuke ingin sekali Reda-sama melihatmu juga. Kenapa Aragaki-sama tidak mengerti? Ibu juga setuju kalau Reda-sama bersama Aragaki-sama, kan?”
Begitu sampai di dapur, Ryuunosuke melihat Reda yang sibuk membuat kuah sup.
“Ah, Ryuunosuke. Maafkan aku karena terlambat. Darimana saja kamu?”
Melihat Reda, rubah kecil itu langsung terlihat senang. Seketika semua ucapan Aragaki hilang dari ingatannya atau lebih tepatnya dia mengabaikan itu semua.
Reda hanya tersenyum melihat rubah kecil itu. Keduanya langsung bersiap untuk memasak makan siang untuk semuanya.
Seperti biasa, rubah kecil itu yang mencuci bahan dan memotong semua ikan dan sayurannya. Rubah kecil itu juga tidak lupa mencuci beras dan memasaknya.
“Ryuunosuke, kacangnya boleh kupakai tidak?”
“Mau dibuat apa?”
“Kita tambahkan ke dalam nasi agar jadi nasi kacang jamur. Nushi-sama dan yang lain pasti menyukainya.”
“Huwaaa~Ryuunosuke mau makan lagi! Boleh tidak?”
Gadis itu mengangguk senang. Begitu semua bahannya selesai dicuci dan dipotong, semuanya adalah tugas Reda. Dengan menambahkan niboshi dashi, sayuran dan daging ikan, dia memasak semuanya.
Tidak lama setelah itu, Nagi dan Ginko berjalan menuju dapur. Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa mencium aroma yang lezat sekali.
“Ini…gadis desa itu ya? Tampaknya dia sudah datang selagi kita menguliti dan memotong kelinci ini di belakang.” bisik Nagi
“Ayo kita antarkan ini.”
Begitu mereka sampai dan melihatnya, dugaan mereka benar. Reda dan si rubah kecil itu sibuk membuat makanan.
“Yo~” ucap Nagi
“Nagi-sama, Ginko-sama!” rubah kecil itu tampak begitu senang
“Reda-sama, kami baru selesai memotong kelinci hutan ini.” Ginko memberikan daging kelinci yang sudah dibersihkan dan dipotong kepada Reda. Gadis itu tersenyum sambil menerimanya.
“Terima kasih banyak, Nagi-sama, Ginko-sama. Tadinya aku ingin sekali membuat tumisan, tapi untuk makan siang ini mungkin akan kubakar.”
Air liur Nagi tampaknya tidak bisa ditahan. Dia sudah bisa membayangkan daging bakar yang lezat itu.
“Terserah saja, yang penting siang ini bisa makan enak.”
Reda hanya tersenyum mendengarnya. Kedua youko itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah menghabiskan banyak sekali waktu untuk memasak di dapur, akhirnya jam makan siang tiba. Ryuunosuke membawa semua makanan yang telah disediakan ke ruang makan.
Berbeda dengan Aragaki yang terlihat seperti biasa, keempat pelayan setianya justru terlihat seperti menunggu makan siang kali ini.
Aragaki mendengar mereka seperti berbisik dan bergumam sendiri.
“Hakuren, lihat ini. Di dalam sup ada ikannya. Aku ingin tau seperti apa rasanya.”
“Ginko, daging bakarnya belum matang ya?”
“Aku rasa belum. Tapi lihat nasi ini, Nagi. Ini kastanye yang dibawakan Nushi-sama. Aku tidak tau kacang ini bisa menghasilkan aroma yang selezat ini jika dimasak dengan nasi. Aku tidak sabar memakannya.”
“Ikan goreng ini sepertinya enak.”
Tampaknya bisik-bisik dan gumaman itu membuat sebuah pertanyaan tersendiri untuk sang penguasa.
“Kalian tampaknya sudah tau apa yang akan dibuat oleh rubah kecil itu?”
Aragaki hanya bertanya, namun tampaknya keempat pelayannya memiliki pemikiran lain. Mereka hanya saling melirik satu sama lain dan tersenyum kaku.
Begitu makanan selanjutnya datang, mereka langsung memakannya tidak lama ketika Aragaki memakan suapan pertama.
“Enak…”ucap Aragaki dalam hatinya. Nasi hangat dengan jamur dan potongan kastanye itu benar-benar cocok di lidahnya. Ikan goreng dengan sayuran liar itu juga menambah nafsu makannya.
Aragaki melihat keempat pelayan setianya. Mereka tampak begitu menikmatinya, bahkan mungkin ini adalah hal yang paling ditunggu oleh Nagi dan yang lainnya.
Tidak lama kemudian, datang lagi masakan yang baru selesai dibuat. Reda dan Ryuunosuke membawa tumis daging kelinci yang selesai dimasak.
“Ryuunosuke, ini tumis dagingnya?” tanya Hakuren
“Iya. Tumis daging kelinci hutan dengan jamur dan lobak. Ada sayuran fuki juga di dalamnya.”
“Sepertinya enak. Masakan buatan Reda-sa–”
“Reda?” Aragaki langsung diam mendengar Hakuren nyaris mengatakan nama Reda dengan jelas
Semua orang termasuk Reda yang ada di luar langsung panik mendengarnya. Aragaki langsung meletakkan sumpitnya dan menatap Hakuren dengan tatapan sinis.
“Hakuren, tadi apa maksud kalimat itu? Barusan kamu mengatakan apa? Coba katakan sekali lagi. Apa maksudnya itu?”
****