The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 70. Selamat Tinggal, Tempat Indah Pertama



Aragaki memandangi wajah cantik gadis yang ada di depannya. Niat untuk pergi sepertinya sudah tidak ada lagi.


Masih memikirkan cara dan alasan agar bisa lebih lama dengannya, tapi tampaknya perut Ryuunosuke lebih jujur dari perasaan sang majikan.


-Kruuuuyuuuk


"Uu..." Ryuunosuke melihat Reda dengan wajah malu dan merah. "Reda-sama..."


Aragaki dan Reda melihat rubah kecil yang kelaparan. Reda tersenyum dan mengusap-usap kepala si rubah kecil.


"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu. Kita masuk ya."


Reda melihat sang penguasa dan membungkuk, "Nushi-sama, kami permisi. Ryuunosuke akan menyiapkan makan siangnya."


"Begitu. Kalau begitu aku masuk." Aragaki menghentikan langkahnya kembali dan berkata, "Ingatlah untuk istirahat jika sudah merasa lelah."


Reda hanya membungkuk kembali sampai Aragaki masuk ke rumahnya.


Begitu sang penguasa telah menutup pintu dan masuk, Reda menggandeng tangan rubah kecil.


Mereka menuju dapur.


Di belakang pohon sakura, Nagi dan Ginko serta Hakuren dan Kuroto yang baru turun dari udara saling melihat satu sama lain.


Selang beberapa detik kemudian, mereka berempat bersorak.


"Yeaaah!!"


"Akhirnya tiba juga saat seperti ini!" Nagi terlihat senang


Hal tersebut ditandai dengan ekor rubahnya yang bergoyang-goyang dengan cepat.


Ginko juga tidak kalah senang dari Nagi, "Ini adalah kencan pertama Nushi-sama dengan manusia sejak ratusan tahun terakhir. Aku bisa melihat hal bagus di sini."


"Syukurlah musim semi telah datang untuk Reda-sama." Hakuren tersenyum lega


"Gadis desa itu telah masuk dalam daftar manusia beruntung. Aku rasa dia tidak akan cepat mati." celetuk Kuroto


Mendengar celetukan Kuroto, Nagi menjadi yang pertama mengatakan kalimat tegasnya.


"Tidak akan, gadis itu tidak akan mati."


"Nagi?" Ginko terkejut


"Dia akan bersama Aragaki-sama."


Mata Nagi begitu penuh dengan keyakinan dan dia tidak menepis apapun. Youko itu mulai sama dengan Ryuunosuke.


Ketiga temannya yang lain tidak kalah darinya.


"Tidak ada dari kita yang akan mengabaikan." tegas Kuroto


"Melihat hari ini, Aragaki-sama sudah mulai mau menerima kehadirannya. Kita hanya perlu mengawasi dan melindungi Reda-sama." kata Hakuren


Dengan senyumnya, Ginko berkata, "Nushi-sama akan luluh, aku percaya itu."


**


Di dapur, Ryuunosuke bersiap dengan sayuran dan berasnya.


"Reda-sama, Ryuunosuke yang akan..."


Rubah kecil itu menengok Reda yang berjongkok sambil menutupi wajahnya. Rubah kecil cemas dan histeris.


"Reda-sama!" dia mendekati gadis kesayangannya, "Reda-sama, Reda-sama baik-baik saja?! Apa lukanya sakit?!"


Reda langsung memegang tangan kecil si rubah manisnya.


"Ryuunosuke...apakah kebahagiaan ini benar-benar bisa aku rasakan selamanya?"


"Reda-sama?"


Ryuunosuke melihat wajah merona dan malu dari gadis kesayangannya itu.


"Aku benar-benar...masih belum bisa percaya semua ini. Nushi-sama mengizinkanku tinggal di sini, mau mengajakku pergi bersama bahkan makan di satu meja yang sama."


"Selain itu, Nushi-sama mau menyentuhku dengan tangan lembutnya. Ini benar-benar membuatku seperti di surga."


"Aku sangat senang, Ryuunosuke. Rasanya mimpi dan doaku selama ini mulai terkabul."


Wajah cantiknya semakin memerah mengingat tangan lembut sang pujaan hati menyentuh bibirnya saat di toko makanan manis.


"Nushi-sama...benar-benar sangat tampan dan lembut. Senyum indah itu tidak bisa hilang dari pikiranku."


Ryuunosuke terlihat begitu senang dan terharu. Cinta tulus gadis desa di depannya ini mulai memperlihatkan buah manis.


Usahanya tidak ada yang sia-sia dan rubah kecil itu menyadari perubahan sang majikan terhadapnya.


"Aragaki-sama akan mulai melihatmu dan saat itu tiba, Ryuunosuke akan selalu ada di samping Reda-sama dan Aragaki-sama."


Reda memeluk rubah kecilnya, "Rubah kecil manisku, terima kasih banyak. Aku mencintaimu."


"Ehehe~Reda-sama harus mengatakan kalimat itu juga pada Aragaki-sama."


"Tentu. Aku akan coba mengatakan perasaanku pada Nushi-sama."


"Apapun hasilnya, aku akan tetap mencintainya. Tapi...mungkin aku akan menyelamatkan cacing di perut Ryuunosuke dulu."


Keduanya tertawa bersama. Mereka menyiapkan makan siang.


Waktu memang berjalan lebih cepat dari yang mereka duga dan memasak membutuhkan cukup banyak waktu. Tapi itu bukan masalah.


Yang memasak semua makanan itu adalah Reda. Dengan bantuan Ryuunosuke yang masih memotong sayuran, Reda menyelesaikan masakannya.


Aroma lezat tercium sampai keluar dan hal itu membuat keempat pelayan setia Aragaki cukup terpancing.


Setelah selesai, Reda dan rubah kecilnya membawa menu makanan tersebut ke ruang makan.


Saat makanan siap, rubah kecil memanggil tuannya yang sedang bekerja di kamarnya. Makanan siap disantap di ruang makan.


Reda yang melihat sang penguasa berjalan bersama rubah kecilnya memberi hormat dengan bersujud seperti biasa. Tapi ada yang berbeda kali ini.


Entah kenapa bisa berubah begitu drastis, sang penguasa berlutut dan memintanya bangun.


"Kamu belum makan juga kan? Ada banyak makanan untuk semua jadi makanlah di dalam."


"Rubah kecilku akan semakin senang jika bisa makan bersama seperti pagi ini."


Itu sungguhan, kalimat yang sungguh-sungguh diucapkan oleh pria yang dulu begitu membencinya.


Jangankan melihat, Aragaki dulu selalu menganggapnya tak ada di sana. Kini, pria itu sendiri yang mengajaknya makan, bahkan sampai berlutut.


Bersamaan dengan itu, Reda yang memerah menjadi malu namun senang. Dia tidak bisa berhenti tersenyum dan senyuman itu yang diperlihatnya kepada Aragaki.


Ryuunosuke yang ada di sana adalah saksi, bersama dengan para pelayan Aragaki yang sudah menunggu di dalam.


Gadis itu akhirnya bangun dan masuk.


Siapa yang menyangka kalau rubah kecilnya sudah menyiapkan semuanya untuk jatah semua orang, termasuk dirinya.


Siang itu, mereka kembali makan bersama.


"Ini enak. Aku menyukai masakan ini." itulah komentar sang penguasa untuk makanannya


"Rasanya seperti mimpi. Senangnya~" kata Reda dalam hatinya


Para pelayan Aragaki yang telah melihat hal yang terjadi siang ini hanya bisa tersenyum satu sama lain.


Selesai makan siang, semua dibereskan oleh Nagi dan kawan-kawannya, sedangkan Reda pergi bersama Ryuunosuke untuk mengambil jemuran di gubuk lamanya.


"Pakaiannya sudah kering sebagian, Reda-sama. Ryuunosuke akan mengangkatnya dan membawanya untuk dijemur kembali di rumah Aragaki-sama."


"Iya."


Reda menyempatkan diri untuk masuk ke dalam gubuk tuanya.


Dia melihat tempat itu sekali lagi.


"Tempat tinggal ternyaman pertama untukku. Rasanya cukup aneh karena aku akan meninggalkan tempat ini." gumamnya


Dia masih memperhatikan seluruh ruangannya. Bahkan futon tipis dan sehelai kain untuk selimutnya masih dilihatnya.


"Aku sudah terbiasa tidur di tempat ini walaupun sepi tanpa cahaya. Tempat ini jauh lebih baik dari kandang hewan di desa."


"Aku juga bisa memasak walau hanya merebus sayurannya. Rasanya cukup banyak kenangan di tempat ini."


Gadis itu tersenyum lembut sambil duduk di atas tatami tua di sana dan mengusap-usap pelan tataminya, "Terima kasih banyak untuk semuanya. Maafkan aku karena aku harus pergi."


Seperti melepas sesuatu yang nyaman pertama kali, gubuk tua itu adalah kali pertama Reda bisa tidur di tempat yang bersih.


Ryuunosuke yang selesai dengan pakaiannya langsung memanggil Reda dan mengajaknya pulang.


"Reda-sama, ayo."


Reda keluar dari gubuk itu dan membungkuk seraya memberi hormat.


Rubah kecilnya menggandeng tangan gadis kesayangannya dan menghiburnya, "Mulai sekarang Reda-sama akan lebih baik."


"Iya. Terima kasih, Ryuunosuke. Semoga ke depannya akan semakin baik ya."


Keduanya berjalan bersama meninggalkan tempat awal titik perjuangan keduanya untuk mencairkan hati beku Aragaki.


****