
Setelah mengantarkan kepergian Aragaki, rubah kecil menghampiri Reda.
“Reda-sama, Reda-sama, Aragaki-sama sudah pergi. Kita harus mempersiapkan semua sayurannya~”
“Iya, Ryuunosuke. Kita siapkan sayurannya dulu ya.”
Tampaknya ada sedikit keinginan dari Nagi dan teman-temannya. Setelah menengok satu sama lain, akhirnya Hakuren yang maju sebagai perwakilan.
“Reda-sama…”
“Hakuren-sama, ada apa?”
“Be–begini. Se–sejak Reda-sama pandai memasak, apakah Reda-sama bisa mengolah daging lain seperti sapi atau ayam misalnya…”
Wajahnya ragu-ragu dan dia tampak memainkan jarinya, tapi sepertinya dia berharap sesuatu. Bukan hanya dia, tiga orang di belakangnya juga menjadi tegang menunggu jawabannya.
Reda tersenyum, “Bisa. Dulu, mendiang ayah dan ibu pernah mengajariku memasak sayuran namanya nikujaga. Aku pernah membuatnya sekali untuk kalian meskipun bukan daging sapi dan tidak ada kacang edamamenya. Ada juga masakan lain yang–”
“Nikujaga?! Kau pernah buatkan untuk kami? Serius?!” Nagi langsung mendekati gadis itu
“Eh?”
Ginko dan Kuroto ikut mendekatinya.
“Reda-sama, apakah dagingnya perlu banyak?”
“Gadis desa, kacang edamame untuk memasak perlu berapa?”
“Eh?” Reda tampak kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa mereka berempat tampak begitu antusias seperti itu. Namun, rupanya rubah kecilnya mengetahui maksudnya.
“Ehehe~kalian ingin meminta Reda-sama untuk membuatkan menu makan malam hari ini, kan? Mengaku saja, mengaku saja. Ryuunosuke tau isi pikiran kalian. Ehehehe~”
Rubah kecil manis itu menunjukkan senyuman nakal yang meledek, membuat Nagi memerah karena malu dan kesal.
“Si–siapa yang mau memintanya membuat sesuatu?!”
“Bohong, mengaku saja. Kalau tidak mengaku, Reda-sama tidak perlu membuat menu itu. Benar kan, Reda-sama?” Ryuunosuke meledek Nagi kembali
“Dasar anak nakal….” tampaknya Nagi sedang diuji kesabarannya
Namun, itu bukan kebohongan. Keempatnya memang berharap dibuatkan sesuatu yang lain sejak mereka menyukai masakan buatan Reda.
Jika ada tuannya, mustahil mereka bisa memintanya secara terang-terangan seperti ini. Mereka sendiri berusaha keras agar sang majikan tidak mengetahui kebenaran dari rasa masakan kesukaannya yang lezat.
“Aku mengerti. Jika ada bahannya, aku akan membuatkannya. Selain itu, Ryuunosuke juga bisa belajar membuatnya juga.”
“Benarkah?!” semuanya menjawab bersamaan termasuk Ryuunosuke
Reda berlutut, “Benar. Suatu saat jika aku sudah tidak ada di sini lagi, Ryuunosuke bisa membuatnya untuk Nushi-sama dan yang lain. Aku yakin ilmu seperti ini akan bisa menjadi hadiah yang berguna di masa depan.”
“Aku sendiri juga mempelajarinya dari mendiang kedua orang tuaku sebelum mereka meninggal. Meskipun aku belum pernah membuatnya sejak mereka tidak ada, aku akan senang sekali jika bisa mengajari Ryuunosuke juga.”
Tiba-tiba ucapan Reda membuat mereka semua jadi kehilangan senyumnya sama sekali.
Tampaknya hanya gadis desa itu yang mengingat berapa lama waktu yang tersisa untuknya. Untuk beberapa saat, keempat pelayan setia Aragaki melupakan sebuah fakta penting bahwa Reda kemungkinan hanya akan hidup di sana kurang dari 3 bulan.
Rubah kecil terlihat begitu sedih. Melihat perubahan ekspresi rubah kecil itu dari telinganya yang turun tiba-tiba, Reda merasa dia sudah membuat semuanya sedih kembali.
“Aku…aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Maafkan aku ya. Be–begini saja, aku benar-benar ingin sekali memasak nikujaga dan tumisan daging dengan edamame. Apakah Nagi-sama dan yang lain bisa membelinya untukku?”
“O–oh, te–tentu.” Nagi menjawab dengan sedikit canggung akibat terdiam setelah mendengar ucapan gadis desa itu sebelumnya
“Kalau boleh, aku juga ingin membuat kaarage. Apakah aku boleh minta lebih banyak tepung terigu?”
“Kaarage?”
“Ayam tepung. Nushi-sama akan menyukainya sebagai makan malam nanti.” Gadis itu tersenyum
Melihatnya tersenyum, keempat pelayan itu mulai sedikit lega dan pergi untuk membeli semua yang dibutuhkannya.
Sedikit merayu rubah kecil manisnya yang telinganya masih turun, Reda menggendongnya agar dia tidak lagi bersedih.
“Ryuunosuke bisa jalan sendiri.” katanya sambil malu-malu
“Tidak apa-apa. Ryuunosuke manis dan imut, tidak berat. Ayo, tersenyumlah ya. Kita akan masak menu pesanan Nushi-sama sekaligus membuat masakan baru agar semuanya senang.”
Tampaknya pujian itu sudah membuat rubah kecil bahagia. Telinga dan ekornya kembali bergoyang. Sambil menunggu yang lain, keduanya mulai pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Banyak sekali?!” Reda terkejut melihatnya
“Ini sudah dibersihkan dan ada yang sudah dipotong jadi kau bisa langsung memasaknya.” Ucap Nagi sambil memberikan keranjang berisi daging
“Aku terkesan. Ini banyak sekali.”
Reda terlihat begitu senang sampai membuatnya tersenyum. Ginko memberikan keranjang berisi kacang edamame sambil menunjukkan ekspresi senang.
“Kami sudah memisahkan bagian untukmu juga, Reda-sama. sudah kami simpan di gubuk.”
“Eh? Bagianku?”
“Rasanya tidak adil jika hanya kami saja yang memakannya juga. Ini dibeli oleh kami jadi jangan khawatir. Nushi-sama tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.”
Reda begitu terharu dan senang. Dia beberapa kali membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.
Tampaknya Kuroto sudah cukup dengan semua itu.
“Aa, sudah, sudah! Kami tidak butuh ucapan terima kasih itu. Kami butuh da-ging-nya! Ingat kataku, da-ging-nya!”
“Aku mengerti, Kuroto-sama. Akan aku buatkan dulu. Silahkan menunggu sebentar ya.”
Keempat pelayan Aragaki itu pergi ke ruang makan dengan perasaan tidak sabar. Sementara itu, Reda bersama rubah kecil manisnya membuat masakan yang dimaksud.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama, Reda dan Ryuunosuke membawakan makanan itu kepada semuanya.
“Enak!!” teriak mereka semua
“Benarkah? Apa benar begitu? Aku sempat ragu karena tidak mencicipinya. Syukurlah kalau rasanya enak.”
“Reda-sama sebaiknya memakannya juga. Ini enak sekali. Benar-benar enak!”
Reda menolak saran Hakuren. Gadis itu membawakan bagian milik rubah kecil agar makan bersama yang lain juga. Karena tidak ada Aragaki, rubah kecil itu akhirnya mau memakannya bersama yang lain.
“Aku akan menyiapkan makanan malam untuk Nushi-sama, setelah itu aku akan kembali ke gubuk. Jika seandainya beliau sudah pulang tolong berikan makan malamnya, Ryuunosuke.”
“Baik~”
Gadis itu kembali ke dapur untuk memisahkan bagian Aragaki.
“Nasi hangat dengan sup jamur dan wortel serta tamagoyaki. Aku harap Nushi-sama menyukai nikujaga dan kaarage ini.”
“Sebagian adalah buatan Ryuunosuke juga. Aku yakin beliau pasti menyukai rasanya.” katanya dengan raut wajah merona
Gadis itu menyimpan sisa daging agar tidak busuk dan membereskan peralatan dapur yang kotor.
Di malam itu, dia kembali ke gubuk gelapnya untuk makan malam juga. Begitu dibuka, dia benar-benar melihat sekeranjang daging yang tertutup rapat dan bahan lainnya sebagai bumbu.
“Dewa, terima kasih karena mau memberiku kesempatan untuk menikmati ini.”
Dengan pencahayaan dari sumbu lilin, dia mencoba memasak untuknya sendiri. Semua sayur dan dagingnya dia masak sebagai tumisan dan sup agar tidak membusuk keesokan harinya.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama, Reda membersihkan tubuhnya dan merapikan alat makannya kembali.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Hakuren dan Kuroto, dia melihat bola kecil yang disimpannya.
“Bola itu milik rubah kecil. Aku harus mengembalikannya.”
Reda yang sudah mandi pergi kembali untuk mengantarkan bola kecil tersebut. Saat sampai, dia berusaha mencari keberadaan rubah kecilnya.
Tanpa sengaja, begitu dia melewati taman dengan banyak pohon bunga sakura, gadis desa itu melihat Aragaki yang tengah berdiri di bawah bunga sakura.
“Nushi-sama…”
Reda begitu terpesona dan memerah melihat orang yang dikaguminya berdiri di depannya. Walaupun berada cukup jauh dari sang penguasa tersebut, namun pandangan mata Reda hanya tertuju pada Aragaki seorang.
“Seperti sebuah keberuntungan. Aku bisa bertemu Nushi-sama di sini. Senangnya~”
Mencium aroma yang tidak asing untuknya, Aragaki menengok dan dia melihat gadis desa itu sedang memandangnya.
Ratusan kelopak bunga sakura mulai menghujani dan menyebar bersama angin malam itu.
Seperti sebuah hadiah dari langit untuk gadis desa yang cantik di malam itu, sang gadis desa bisa melihat orang yang dicintainya dalam diam di depan matanya.
****