
Tiba waktunya sarapan untuk Aragaki dan keempat pelayannya. Anehnya, ada sedikit hal yang tidak biasa. Aragaki yang biasanya menjadi orang yang ditunggu oleh pelayannya, untuk beberapa menit dia menjadi orang yang menunggu mereka.
Begitu mereka berempat tiba, mereka langsung meminta maaf pada sang majikan karena datang terlambat.
“Maafkan kami, Aragaki-sama.”
“Apa yang kalian lakukan sampai terlambat seperti ini? Apa ada hal yang sangat penting?”
“Kami hanya…”
“Ya sudah, tidak masalah. Aku mengerti. Terkadang aku harus merasakan sendiri bagaimana perasaan menjadi orang yang menunggu yang lain. Masuklah dan kita makan bersama.”
Aragaki tidak terlihat marah juga tidak terlihat tersenyum, sebuah ekspresi datar di wajahnya membuat keempat pelayannya itu setengah was-was dan setengah lega.
Mereka menyadari bahwa mereka semua terlalu fokus melihat Reda bekerja hingga nyaris melupakan waktu sarapan dengan tuannya.
Ryuunosuke datang membawakan sarapan bersama Reda saat itu. Reda menyempatkan dirinya membantu Ryuunosuke membawakan sarapan di saat dirinya masih harus mencuci pakaian yang kotor di belakang.
“Ryuunosuke, hati-hati membawanya ke dalam ya.”
“Baik.”
Reda memberikan satu per satu piringnya kepada Ryuunosuke.
Karena hari pertama dia sudah dilarang masuk ke ruang makan, Reda tidak menunjukkan dirinya sama sekali di hadapan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut dan tetap berada di balik shoji yang membatasi antara engawa di luar dengan ruang makan.
“Dia benar-benar tidak menunjukkan wajahnya lagi saat Nushi-sama berada di ruangan ini.” pikir Ginko dalam hati
Bukan hanya Ginko, tiga temannya yang lain juga menyadarinya tapi tidak ada yang mengatakan apapun.
Saat piring terakhir diberikan kepada Aragaki, dirinya bertanya pada rubah kecilnya.
“Ryuunosuke tidak ingin menemaniku sarapan lagi?”
“Ryuunosuke akan makan bersama Aragaki-sama kalau Reda-sama boleh makan denganmu juga.”
“Hal itu tidak akan pernah terjadi.” Aragaki dengan tegas mengatakannya
“Kalau begitu, Ryuunosuke akan makan sendiri di dapur. Aragaki-sama melarang Ryuunosuke makan dengan Reda-sama jadi Ryuunosuke akan makan sendiri.”
Rubah kecil itu pergi meninggalkan ruang makan. Dia menarik tangan gadis itu bersamanya untuk ikut ke dapur.
Keempat pelayannya tidak berani berkomentar, tapi mereka tidak menyangka bahwa rubah kecil kesayangan Aragaki bisa menolak tuannya sendiri demi calon ‘pengantin’ yang hidupnya mungkin kurang dari 3 bulan.
Di saat mereka berempat merasa tegang dan canggung karena kejadian tersebut, Aragaki membuka mulutnya.
“Kalian berempat, apa menurut kalian aku sudah ditolak oleh anak itu?”
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah jelas jawabannya, tapi tidak ada yang berani jujur.
“Ka–kami tidak berpikir demikian, Aragaki-sama.”
“Aku rasa, Nushi-sama terlalu berlebihan.”
“Ryuunosuke baru berusia 200 tahun, Aragaki-sama. Jika disamakan, sifatnya itu mirip seperti anak manusia berusia 6-7 tahun.”
“Aku harap Aragaki-sama tidak terlalu memikirkannya.”
Keempat pelayan itu mencoba memberikan jawaban yang baik kepada sang majikan, tapi sebenarnya itu percuma.
Hal itu dikarenakan Aragaki sudah mengetahui jawabannya. Dia hanya bertanya karena ingin melihat reaksi keempat pelayannya tersebut.
**
Di dapur, Reda bicara pada Ryuunosuke.
“Ryuunosuke, kenapa menolak Nushi-sama seperti itu? Itu tidak baik.”
“Ryuunosuke hanya ingin makan dengan Reda-sama dan Aragaki-sama! Reda-sama adalah calon ‘pengantin’ Aragaki-sama! Kenapa Aragaki-sama begitu membencimu? Ryuunosuke marah pada Aragaki-sama!” rubah kecil itu terlihat marah dengan telinga berbulunya yang tegak ke atas
Hal itu cukup membuat Reda merasa khawatir.
“Ryuunosuke, besok temani Nushi-sama makan ya. Nushi-sama sangat ingin makan denganmu.”
“Tidak mau!”
“Ryuunosuke, jangan seperti–”
-Kruuuyuuk
Terdengar suara perut yang cukup keras hingga membuat telinga rubah kecil itu bergoyang sesekali.
Suara itu datang dari perut Reda. Reda memegangi perutnya dengan wajah merah karena menahan malu.
“Reda-sama…Reda-sama lapar, kan?” Ryuunosuke terlihat panik
“I–ini tidak seperti itu. Aku hanya–”
-Kruuuyuuk
Suara perut itu tidak bisa membohongi siapapun. Ryuunosuke langsung bergegas mengambil nasi dan membuat nasi kepal isi telur yang diambil dari jatah sarapannya.
Dua nasi kepal telah tersaji di atas piring kecil dan diberikan kepada Reda.
“Reda-sama, Ryuunosuke sudah membuatkan ini. Makanlah dulu.”
Reda mencium aroma wangi dan lezat dari makanan nasi kepal isi telur itu. Gadis itu menelan ludahnya sendiri dan ingin sekali memakannya. Namun, dia ingat pesan Aragaki dan kemarahannya pagi ini.
Gadis itu menolaknya.
“Ryuunosuke, itu jatah sarapanmu. Makanlah. Aku tidak apa-apa. Perut ini akan terisi ketika aku minum nanti siang. Sementara ini, aku akan menahannya karena Nushi-sama tidak mengizinkanku mengambil apapun dari tempat ini.”
“Tapi, Reda-sama bisa sakit! Bagaimana kalau tiba-tiba Reda-sama jatuh pingsan?!”
Reda meletakkan piring kecil yang dipegang rubah kecil itu ke atas meja dan mengelus wajahnya dengan lembut.
“Aku tidak ingin Nushi-sama menghukum Ryuunosuke. Apapun yang terjadi, jangan pernah melanggar perintah Nushi-sama ya.”
“…” Ryuunosuke terlihat begitu mencemaskan gadis itu
Setelah sedikit menghiburnya, Reda kembali ke belakang untuk menyelesaikan tugasnya pagi ini.
Ryuunosuke benar-benar tidak tau bagaimana caranya agar Reda bisa makan makanan yang dibuatnya meskipun sudah dilarang oleh tuannya.
“Reda-sama tidak boleh sakit. Ryuunosuke harus memikirkan sesuatu. Tapi, bagaimana?! Reda-sama bisa tidak makan sama sekali hari ini.
**
Di ruang makan, entah kenapa nafsu makan Aragaki sedikit berbeda. Kuroto yang baru saja menghabiskan makanannya bertanya pada tuannya.
“Aku sedang memikirkan kenapa rubah kecil itu begitu terobsesi dengan janji palsu yang dibuat oleh manusia dari desa itu? Aku sudah mengatakan padanya untuk berhenti berhadap lebih pada keturunan dari mereka yang telah membunuh Ryoko, tapi dia tetap tidak mau mendengarkanku.”
“…” semuanya terdiam
Satu per satu dari mereka mulai meletakkan sumpitnya di atas meja dan menyudahi sarapan mereka.
“Kenapa tidak dilanjutkan?” Aragaki bertanya pada pelayan setianya
“Kalau Nushi-sama tidak nafsu makan, untuk apa kami menikmatinya sendiri?” Ginko menjawabnya
“Kami ingin Aragaki-sama juga menikmati makananmu.” kata Nagi menambahkan
Aragaki tersenyum pada pelayannya tersebut.
“Nafsu makanku tidak ada hubungannya dengan milik kalian. Sebaiknya kalian habiskan semua itu. Kasihan Ryuunosuke yang sudah susah payah membuatnya. Setelah ini, aku akan meminta maaf padanya karena tidak menghabiskan makanan buatannya.”
“Aragaki-sama…”
“Aku permisi dulu. Lanjutkan sarapan kalian. Setelah itu biarkan gadis kotor itu yang membereskannya.”
Aragaki berdiri dan meninggalkan ruang makan. Dia bermaksud kembali ke kamarnya setelah ini.
Selain Kuroto, ketiga lainnya tidak menghabiskan makanannya sama sekali. Mereka keluar dari ruangan. Hakuren dan Kuroto kembali untuk berpatroli di sekitar hutan, sedangkan dua youko itu mencari Ryuunosuke di dapur.
Ryuunosuke yang berada di dapur sedang sibuk mengupas kentang. Tidak lama setelah itu, Nagi memanggilnya.
“Rubah kecil, kami sudah selesai makan.”
“Sudah selesai?! Kenapa cepat sekali?”
“Nushi-sama sedang tidak nafsu makan. Akibatnya kami juga tidak berselera, maafkan kami ya.”
“Aragaki-sama mengatakan untuk menyuruh gadis desa itu membereskan sisanya. Cepat panggil dia dan urus sisanya. Aku dan Ginko akan kembali berpatroli.”
Ryuunosuke sedikit penasaran dan melihat sendiri ke ruang makan. Begitu masuk, rubah kecil itu hanya melihat satu porsi makanan yang habis. Sisanya masih ada sedikit nasi, sup miso dan lauk lain.
Dia bahkan melihat milik tuannya nyaris tidak tersentuh alias tersisa banyak.
Ryuunosuke berlari menemui tuannya di ruangan.
“Aragaki-sama, Aragaki-sama…”
“Ryuunosuke, ada apa kamu berlari-lari seperti itu?”
“Aragaki-sama, kenapa makanannya tidak dihabiskan?! Apakah rasanya tidak enak?”
Aragaki berdiri dan menghampiri rubah kecilnya itu. Dia memberikan senyum dan mengelus-elus kepala rubah kecilnya.
“Aku hanya sedang tidak berselera makan. Aku minta maaf padamu ya. Tapi, aku akan menantikan makan siang hari ini.”
Ryuunosuke bertanya dengan perasaan menggebu-gebu. –
“Makanannya…makanannya harus dibuang?”
“Tidak mungkin dimakan lagi, kan? Tentu saja harus dibuang. Biarkan gadis kotor itu yang mencuci piringnya dan–”
“Jadi, makanannya tidak akan diminta oleh Aragaki-sama kan?”
Pertanyaan yang sungguh aneh. Aragaki tidak mengerti dengan pertanyaan itu. Dia hanya menganggukan kepalanya. Mendengar hal itu, Ryuunosuke langsung bergegas dan berlari menuju ruang makan.
Setelah kepergian rubah kecilnya itu, Aragaki mengendus sedikit tangannya. Dia mencium aroma yang tidak asing. Aroma itu begitu kuat dan melekat di tangannya.
Dia tidak lupa apa yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Aragaki mengelus-elus kepala Ryuunosuke. Sorot matanya berubah tajam dan sebuah kalimat keluar dengan nada dingin.
“Bau gadis kotor itu begitu pekat.”
**
Di belakang, Reda yang baru saja selesai mencuci dua pakaian dan menjemurnya mulai bisa bernapas lega.
“Syukurlah sudah selesai.”
-Kruuuyuuk
Perutnya kembali berbunyi. Reda tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Dia lapar.
“Aku hanya makan sebuah apel untuk makan siang dan tidak menyentuh apapun lagi sampai pagi ini. Aku juga harus menyelesaikan semua tugasku sebagai hukuman. Aku rasa aku tidak bisa pergi ke hutan untuk mencari makan sampai semua tugasnya selesai.”
Reda menguatkan dirinya dan mulai berjalan mengambil air untuk menyirami tanaman di kebun. Sebelum dia melakukannya, terdengar suara seseorang yang memanggilnya.
“Reda-sama, Reda-sama!!”
“Ryuunosuke?”
Reda melihat rubah kecil itu berlari membawa sesuatu seperti bungkus daun bambu. Dengan menarik tangan gadis itu, si rubah kecil membawanya ke tempat yang lebih teduh.
“Reda-sama, ini makanan untukmu! Ryuunosuke membuat nasi kepal dengan banyak lauk. Makanlah!”
“Ryuunosuke, aku sudah bilang kalau–”
“Ini Ryuunosuke buat dari makanan sisa sarapan milik Aragaki-sama dan yang lain!”
“Eh? Makanan…sisa?”
Mata Ryuunosuke mulai memerah menahan tangisnya.
“Maaf, Ryuunosuke hanya bisa membuat makanan untuk Reda-sama dari makanan sisa. Tapi, Ryuunosuke tidak tau harus bagaimana lagi agar Reda-sama bisa makan. Jadi, Ryuunosuke memastikan bahwa Aragaki-sama tidak menginginkan makanan ini lagi.”
“Ryuunosuke…”
“Aku ingin Reda-sama tidak kelaparan! Kalau Reda-sama takut makan karena dilarang Aragaki-sama, makanan sisa ini tidak akan dilarang olehnya. Percayalah! Ryuunosuke sudah memilih kembali makanan sisa ini agar layak dimakan oleh Reda-sama!”
Mendengar hal itu, Reda menyerah. Dia berlutut melihat rubah kecil yang manis itu. Tanpa disadari air mata keluar dihiasi senyuman kebahagiaan.
“Ryuunosuke, kenapa kamu begitu manis sekali? Aku benar-benar berterima kasih padamu, rubah kecil. Terima kasih.”
Ryuunosuke menangis dan memeluk gadis itu dengan perasaan senang. Di saat itu, Reda akhirnya mau memakannya.
Nasi kepal yang terbuat dari makanan sisa itu dimakannya sampai habis dengan air mata yang terus keluar karena senang.
“Enak tidak?”
“Enak. Sangat enak. Aku benar-benar menyukainya.”
Dari kejauhan, Nagi dan Ginko melihat pemandangan itu. Entah apa yang mempengaruhi mereka, ada sebuah perasaan aneh saat melihat gadis itu menangis dan memeluk rubah kecil itu.
****