The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 73. Momen Manis Saat di Hutan bag. 2



"Aku tidak keberatan mengantarkanmu pergi melihatnya. Tempat itu tidak begitu jauh."


Aragaki memberikan senyumannya pada gadis itu.


Dengan penuh rasa senang, Reda tentu saja mengatakan bahwa dirinya ingin pergi ke sana bersama sang penguasa yang dia cintai.


"Aku...aku berharap aku bisa pergi bersama Nushi-sama."


Wajah senang Reda yang merona membuat jantung Aragaki berdebar.


"Dia benar-benar...senang pergi denganku?"


Reda tidak tau dan menyadari hal ini, namun rubah kecil yang melihat wajah sang majikan tau bahwa Aragaki sedang tersipu.


"Aragaki-sama tersipu? Huwaaa~Ryuunosuke senang sekali!"


Aragaki hanya menunjukkan senyum tipis di bibirnya, berbanding terbalik dengan hatinya yang seperti padang bunga di musim semi.


Reda menyadari bahwa dirinya mungkin bersikap terlalu berlebihan, sehingga dia tertunduk malu.


"Maafkan aku, Nushi-sama."


Aragaki hanya tersenyum.


Sepanjang jalan di dalam hutan, Ryuunosuke yang membawa keranjang anyaman sibuk melihat kupu-kupu yang terbang.


Sang penguasa hanya diam dengan sesekali melirik gadis di sampingnya.


"Apa yang sebaiknya aku katakan di satu seperti ini?" pikirnya


Reda juga seperti memikirkan hal yang sama.


"Aku tidak tau kalau rasanya begitu senang dan bingung saat berada di dekat Nushi-sama."


"Apakah aku boleh bicara dengan Nushi-sama terlebih dahulu?"


Di saat Reda berpikir dengan lamunannya, dia nyaris tersandung jalan berbatu.


"Eh?!"


Wajah panik Reda dengan mata terpejam begitu takut. Dia berpikir dirinya terjatuh.


Namun saat matanya terbuka, sesuatu yang hangat dan begitu lembut memeluknya.


"Kamu tidak apa-apa?"


"..." Reda melihat ke atas


Antara wajahnya dan wajah tampan Aragaki hanya dibatasi oleh napas lembut dan dengan dekapan yang begitu erat, Aragaki memeluk Reda yang hampir terjatuh.


Rubah kecil itu adalah bagaikan penonton yang sedang melihat adegan orang dewasa.


"Kyuuuu~" suara imut terdengar darinya. Dia terlihat memerah dengan ekor dan telinga yang bergoyang.


"Aragaki-sama memeluk Reda-sama! Aragaki-sama memeluk Reda-sama! Ini sungguhan, Ryuunosuke sedang melihatnya."


Dari balik pohon di sekitar tempat mereka berada, Nagi dan Ginko ikut memerah.


Kedua youko tersebut seperti sedang melihat sesuatu yang mustahil terjadi untuk kedua kalinya.


Ekor dan telinga mereka bergerak dengan cepat.


"Pertama saat gadis itu pingsan dan sekarang Aragaki-sama yang memeluknya saat dia hampiri terjatuh?! Ini sebuah keajaiban dari langit!" kata Nagi dalam hati


Ginko juga terlihat memikirkan hal yang sama, "Nushi-sama tampak telah membuka hatinya pada Reda-sama! Aku ikut bahagia."


Hakuren dan Kuroto yang melihat dari langit hanya bisa saling melihat satu sama lain dengan wajah merah merona.


Aragaki masih memeluk Reda dan memegangi tangannya sambil bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"


-Bluuush


Reda mencapai batasnya. Dia memerah sepenuhnya sekarang.


Detak jantungnya begitu cepat dan gadis cantik itu tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari wajah pria yang begitu dicintainya.


"Aku...tidak kuat. Kakiku terasa lemas sekali. Rasanya aku bisa pingsan dipandang dengan wajah indah Nushi-sama."


Aragaki sendiri tampak enggan melepaskannya.


"Aroma tubuh yang melekat di tubuh Ryuunosuke waktu itu. Betapa dekat dan pekatnya aroma ini."


"Wajahnya merah.Sepertinya dia malu sekarang. Tapi, itu cocok untuknya. Entah kenapa jika dilihat dari dekat...wajahnya sangat cantik."


"Dia...begitu manis dan indah bila lihat lebih dekat."


Aragaki tidak mau mengalah pada hatinya. Perasaan itu membuatnya hanyut. Tetapi akhirnya pikiran itu kembali ke dunia nyata.


Suara gemetar yang lembut dari Reda membuat telinga Aragaki menjadi sangat peka terhadapnya.


"Nu–Nushi-sama..."


"Eh...a... "


"Jalanan di hutan semakin banyak yang tidak rata dan berbatu. Sebaiknya hati-hati."


"Ma–maafkan aku." wajah merah itu begitu membuat Reda semakin malu.


"Dipeluk oleh Nushi-sama, apakah aku sedang ada di surga?"


Aragaki dengan lembut melepaskan pelukannya dan menggantinya dengan genggaman tangannya.


"Nushi-sama?!" Reda sangat kaget dan tidak percaya


"Sebaiknya pegang tanganku. Ini akan membantumu agar tidak terjatuh. Jadi, jangan khawatir."


Sebuah senyuman manis dan lembut menghanyutkan pikiran gadis lugu yang manis. Dia hanya bisa mengangguk dan menuruti sang penguasa.


Sedikit lucu, rubah kecil yang ada di dekat sang majikan justru diabaikan olehnya.


"Kyaaa~" suara imut itu membuat keduanya menyadari kehadiran rubah manis itu lagi.


Dengan santainya, sang penguasa bertanya pada rubah kecil kesayangannya.


"Ryuunosuke, ada apa?"


"Ryuunosuke sedang melihat momen manis seperti mochi tabur gula. Ehehehe~"


"Ryu–Ryuunosuke..." Reda begitu malu digoda oleh rubah kecilnya itu. Dia mencoba tenang namun sulit.


Aragaki tersenyum dan bertanya pada rubah kecilnya, "Ryuunosuke ingin digandeng olehku juga?"


"Ryuunosuke bisa jalan sendiri. Reda-sama harus selalu digandeng karena mudah sekali tersandung batu. Iya kan, Reda-sama?"


Reda hanya bisa menatap malu rubah kecil yang menggodanya.


"Ryuunosuke...boleh menggandeng tanganku juga."


Dari kejauhan, Nagi sudah heboh sendiri.


"Jangan coba-coba merusak keadaan, anak nakal! Awas kalau kau iyakan hal itu, akan aku cubit pipimu itu sampai merah!"


"Nagi, jangan keras-keras! Nushi-sama akan dengar nanti!" bisik Ginko yang sudah panik


Tampaknya Ryuunosuke juga tidak ingin mengganggu momen manis mochi gula tabur di depannya.


"Ryuunosuke akan jalan di depan sendiri. Aragaki-sama harus menggandeng tangan Reda-sama agar tidak jauh lagi."


Setelah itu, rubah kecil itu berlari sendiri sambil bersenandung riang sekali.


Aragaki benar-benar menggenggam erat tangan gadis itu.


"Ayo jalan." katanya dengan senyum


Reda hanya bisa mengangguk karena sudah tidak bisa lagi berkata apapun.


Sepanjang jalan, Reda terus melihat tangan yang digenggam oleh sang penguasa.


Aragaki meliriknya dan bertanya, "Kenapa? Apa kamu tidak nyaman digenggam seperti ini?"


"Bu–bukan! Itu..."


"Kenapa?"


"Ta–tangan yang digenggam Nushi-sama...berkeringat. Aku...minta maaf karena membuat tangan Nushi-sama kotor karena keringat di telapak tanganku."


Seketika ekspresi wajah Reda yang metah karena malu berganti menjadi ekspresi wajah khawatir dan takut.


"Apakah aku benar-benar pantas menggenggam tangan halus Nushi-sama?"


"Tangan kasar penuh goresan yang tidak indah milikku...hanya akan membuat tangan Nushi-sama kotor."


Pikiran buruk kembali muncul dalam benaknya. Itu wajar karena selama ini, begitu pahit penolakan yang diterimanya.


Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba masih membuatnya terguncang dan tidak percaya meskipun hal itu nyata.


Namun hal itu bukan masalah sekarang.


"Tidak masalah. Tanganmu tidak akan mengotori apapun."


"Eh?"


"Tangan ini aku genggam atas keinginanku sendiri. Ini tidak akan merusak apapun."


"Tanganku menggenggamnya untuk menjagamu agar tidak jauh dariku."


Sebuah kalimat yang tidak pernah terpikirkan oleh Reda bahkan Aragaki sendiri sepertinya mengatakan hal itu di luar kendalinya.


Spontan namun kuat akan makna cinta, tanpa sadar Aragaki mengakui perasaannya pada gadis desa yang cantik itu.


****