
Setelah melalui banyak langkah membuat sarapan yang lezat dan menu baru lain untuk menyenangkan hati sang Dewa Pelindung, akhirnya Reda berhasil membuatnya.
“Selesai~”
“Huwaaa~semua terlihat lezat, Reda-sama.”
“Nasinya juga sudah matang. Sebagai percobaannya…Ryuunosuke, ayo cicipi semuanya. Katakan ini enak atau tidak, ya.”
Ryuunosuke terlihat begitu antusias sampai ekornya bergoyang dengan cepat.
“Huwaaa~”
Nasi jamur, tempura dan kakiage dari sayuran liar, sup miso dengan tambahan jamur dan acar sayuran menemani sarapan pagi ini.
“Aku menambahkan telur tamagoyaki yang kubuat di akhir dan kucincang sebagai tambahan nutrisi agar Ryuunosuke semakin bersemangat. Ayo dicoba.”
Ryuunosuke langsung melahapnya. Baru satu suapan, dia sudah terlihat merona karena begitu senang. Rasanya enak dan kerenyahan itu membuatnya begitu menikmati sayurannya.
“Enak…tidak?” Reda sedikit ragu dengan menu yang dia buat untuk si rubah kecil
“Enak! Aragaki-sama dan yang lain akan menyukainya, insting pelayan Ryuunosuke sangat yakin akan hal itu!”
Mendengar itu, gadis desa itu tampak begitu senang.
“Syukurlah. Aku berharap, Nushi-sama akan selalu bahagia saat memakannya.”
Senyum gadis desa ketika menyebut Aragaki terlihat begitu cantik. Dia begitu mengagumi pria yang bahkan telah berbuat kasar padanya.
Ryuunosuke melihat itu.
“Seandainya perasaan Reda-sama cepat tersampaikan kepada Aragaki-sama.”
Reda mulai bermaksud mengambilkan piring dan mangkuk untuk menyiapkan sarapan. Tapi, dia sedikit takut.
“Aku…apakah aku bisa menuangkan sup itu ke mangkuk?”
“Ryuunosuke saja yang menyiapkannya. Reda-sama duduk dulu dan sarapan juga.”
“Ryuunosuke, aku akan ke gubuk untuk merebus sayuran liarnnya nanti. Yang penting sarapan semuanya siap.”
“Tapi, Reda-sam bisa makan sisa milik Ryuunosuke.”
Reda menggelengkan kepalanya.
“Itu jatah Ryuunosuke, jadi makanlah hingga kamu kenyang. Aku tidak apa. Meski tidak punya minyak dan bumbu lainnya, aku masih bisa merebusnya jadi jangan khawatir.”
Tanpa diketahui oleh kedua orang yang ada di dapur, keempat pelayan Aragaki telah pergi. Tidak ada yang tau kemana mereka pergi setelah melihat semua itu.
“Benar juga. Aku lupa bertanya, sudah seminggu ini kita tidak memasak daging untuk Nushi-sama dan yang lain. Apakah ada ikan atau daging lainnya?” tanya Reda
“Biasanya kami mencarinya di pasar. Reda-sama pasti ingat desa siluman saat masuk ke sini, kan?”
“Tempat itu ya…”
Reda mengingat perlakuan buruk yang diterimanya saat pertama kali datang, tapi dia juga tidak ingin tuannya yang merupakan siluman serigala memakan sayuran seperti makhluk herbivora.
“Aku ingin sekali membuat tumis daging untuk Nushi-sama.”
“Reda-sama, nanti kita belanja ke pasar bersama. Bagaimana?”
Gadis desa itu mengangguk.
“Kalau diingat, sudah seminggu aku tidak pergi keluar tempat ini. Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu. Aku harap mereka mau menerimaku sedikit demi sedikit.”
**
Aragaki kembali membawa beberapa masakan seperti ubi dan buah serta kacang kastanye.
“Siapa yang menyangka kalau berjalan-jalan pagi seperti ini bisa membuatku mendapatkan semua ini secara gratis?” gumam Aragaki
Ya, itu benar. Tuan penguasa Higashi no Mori ini sangat tampan meskipun dia terkadang dingin. Walaupun dia membenci manusia, dia tidak pernah menunjukkan sisi dingin itu kepada penduduk Higashi no Mori.
Sebagai penguasa dan pelindung hutan tersebut, sudah sewajarnya dia melihat sendiri hal yang terjadi di desa. Berkat itu, dia sering mendapatkan banyak hal untuk ditanam secara cuma-cuma.
“Aku yakin rubah kecil itu akan menyukai buah ini. Apel dan kastanye ini tampak begitu lezat. Anak ituakan menyukainya.”
Aragaki tidak pernah keluar selama seminggu terakhir dan betapa senangnya dia begitu keluar dari kediamannya.
Saat itu, dia berhenti berjalan dan melihat pepohonan di sekitarnya. Tidak jelas apa yang dia pikirkan, dia hanya merasa bahwa waktu telah menggerakkan dan menghentikan
semuanya di saat yang sama.
“Andai semua itu hanya mimpi, aku mungkin bisa memaafkan semua yang terjadi. Aku ingin tau apakah aku bisa mengisi kembali perasaanku yang kosong?”
Sesampainya di depan pintu masuk, Aragaki membuka pintunya dan melihat keempat pelayannya seperti baru saja kembali dari suatu tempat.
“Kalian…”
-Deg
Semua terdiam. Mereka menengok ke arah tuannya dan menatapnya.
“Kalian semua, apa yang kalian lakukan? Apa kalian juga baru saja kembali? Dari mana kalian?”
Aragaki bertanya kepada pelayannya. Melihat wajah mereka yang aneh, membuat Aragaki semakin penasaran. Di saat itu, keempatnya mengalihkan pembicaraan.
“A–Aragaki-sama, apakah itu ubi dan buah?” tanya Hakuren
“Ini? Ini diberikan penduduk desa. Mereka memberikannya kepadaku. Aku bermaksud memberikannya kepada rubah kecil kesayanganku itu. Karena sebentar lagi waktunya sarapan, sebaiknya aku memberikannya sekarang.”
“Aragaki-sama tidak perlu memberikannya kepada rubah itu. Biar kami yang mengantarnya!”
“Nagi benar, Aragaki-sama. Kami yang akan mengantarnya. Sebaiknya Anda cepat ke ruang makan sekarang.”
Tidak bermaksud bertanya kepada mereka, Aragaki langsung menuju ruang makan meninggalkan keempat pelayannya.
“Haaa~aku senang kalian berhasil mengalihkan Nushi-sama, Nagi, Kuroto” ucap Ginko dengan perasaan lega
Hakuren mengangguk setuju dengan ucapan Ginko.
“Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Aragaki-sama jika tau masakan enak yang dimakannya selama seminggu terakhir ini ternyata buatan Reda-sama.”
“Aku yakin gadis desa itu akan langsung dilempar keluar dari sini.” ucap Nagi
“Bahkan sampai sekarang aku juga masih tidak bisa percaya. Cara gadis itu mengolah dan memasaknya agar tidak meninggalkan aroma tangannya ternyata berkat bantuan Ryuunosuke. Mereka benar-benar seperti sebuah tim.” Kuroto menambahkan
Tapi tidak ada dari keempatnya yang bermaksud memberitau hal tersebut kepada tuannya. Tiba-tiba Hakuren mengatakan sesuatu.
“Aku…aku masih belum mengubah pandanganku kepada Reda-sama. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku cukup mengerti perasaan rubah kecil itu. Dan sekarang, aku cukup menaruh harapan besar kepada Reda-sama.”
“Hakuren…” Kuroto terkejut mendengarnya
Ternyata, bukan hanya Hakuren sendiri yang berpikir demikian. Rubah lainnya juga tampaknya memiliki pikiran yang tidak jauh berbeda.
“Aku tidak bermaksud menerima gadis desa itu. Tapi, aku harus mengakuinya. Dari semua calon ‘pengantin’ yang datang ke tempat ini sejak 200 tahun lalu, baru dia seorang yang mau melakukan semua tugasnya meski mendapat perlakuan buruk.”
“Nagi benar. Selain itu, Ryuunosuke begitu menyukainya dan Reda-sama juga memperlakukan rubah kecil kesayangan Nushi-sama dengan begitu baik. Dia bahkan memberikan pita yang dulu sering dikenakan Ryoko-san semasa hidup.”
“…” Kuroto terdiam
Tampaknya hanya dia yang belum sepenuhnya menerima gadis desa itu. Tapi dia juga tidak memiliki pandangan buruk terhadapnya.
Dia mengajak Nagi untuk mengantarkan semua barang di tangannya ke dapur.
Di dapur, Ryuunosuke sedang bersiap mengantarkan makanan untuk semuanya bersama Reda. Keduanya pergi membawa semua menu sarapan pagi ini.
“Aku harap semuanya menyukainya, Ryuunosuke. Aku merasakan hal baik selama tiga hari terakhir dan aku juga tidak ingin berhenti membawakan banyak makanan enak untuk Nushi-sama.” kata Reda dengan senyuman
“Ryuunosuke juga, Reda-sama. Ryuunosuke berharap Aragaki-sama semakin menyukai semua masakan yang dibuat Reda-sama diam-diam.”
Ketika waktunya sarapan, setidaknya Aragaki sudah ada di ruang makan.
“Aragaki-sama~”
“Selamat pagi, Ryuunosuke.”
“Apa Aragaki-sama bangun pagi-pagi sendiri lagi? Ryuunosuke sengaja tidak membangunkan Aragaki-sama lagi pagi ini.”
“Begitulah. Hmm? Aromanya enak. Apa menu makanan baru lagi?” tanya sang majikan dengan senyuman
Mendengar Aragaki bertanya demikian dengan nada lembut, Reda yang menunggu di luar rasanya ingin sekali mencuri pandang sedikit dan melihat ekspresi wajah apa yang dibuat oleh orang yang dicintainya dalam diam itu.
“Kuatkan dirimu, Reda! Kamu tidak boleh melanggar perintah Nushi-sama atau kamu akan dihukum. Aku harap Nushi-sama mau bicara denganku selembut itu sebelum aku mati nanti. Meskipun mustahil, tapi…aku benar-benar mengharapkannya.” kata gadis itu dalam hati
Dari belakang, ada suara langkah kaki yang terdengar. Itu adalah suara langkah kaki Ginko dan Hakuren yang berjalan menuju ruang makan.
Mendengar suara itu, Reda yang masih berdiri menunggu rubah kecil itu keluar menengok dan segera memberi salam kepada keduanya.
“Selamat pagi, Ginko-sama, Hakuren-sama.”
Biasanya, Reda tidak pernah mendapatkan salam balik dari mereka. Sekalipun ada, mereka hanya akan melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam ruang makan.
Namun, tampaknya semua berbeda.
Reda menyadari bahwa ada dua pasang kaki yang berhenti di depannya. Begitu dia mengangkat kepalanya, dia mendapatkan sebuah senyuman dan salam balik dari keduanya.
“Selamat pagi, Reda-sama.”
“Selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan, Reda-sama. Terima kasih sudah mau membantu rubah kecil itu lagi pagi ini.”
Melihat itu, Reda hampir tidak percaya. Dia mendapatkan senyuman tulus dari siluman penjaga Aragaki untuk pertama kalinya sejak seminggu tiba.
“Rasanya seperti mimpi.”
Itulah yang ada di benak gadis cantik nan lugu itu.
Begitu senangnya, Reda memberikan senyum terbaiknya kepada kedua siluman itu. Keduanya tampak senang melihat gadis itu tersenyum. Bagaimanapun juga, itu karena mereka mengetahui apa yang diperbuat gadis itu di belakang mereka.
Hal tersebut juga dilakukan Nagi dan Kuroto. Ketika Reda dan Ryuunosuke membawakan makanan lain ke ruang makan, mereka berdua yang berjalan di belakangnya menyapanya.
“Yo, gadis desa.” sapa Nagi
Reda terkejut dengan sapaan tersebut. Dia seperti nyaris menjatuhkan makanan yang dibawanya. Begitu menengok ke belakang, dia langsung memberi salam kepada keduanya.
“Se–selamat pagi, Nagi-sama, Kuroto-sama.”
Nagi memang langsung melewatinya, tapi dia memberikan senyumnya kali ini. Reda cukup terkejut. Bukan hanya itu, Kuroto bahkan sempat mengatakan sesuatu yang tidak diduga oleh gadis itu.
“Pita yang bagus. Itu cocok untukmu.”
Wajah gadis itu memerah mendengarnya. Pujian dan senyuman di pagi hari itu memang bukan berasal dari orang yang dicintainya, akan tetapi mengetahui sikap dingin keempat pelayan Aragaki berubah menjadi baik padanya, membuat gadis itu mendapat harapan baru.
Gadis itu tidak mengetahui bahwa keempat pelayan setia Aragaki telah mengetahui semuanya.
Semua usaha terbaik gadis desa itu untuk tuan mereka selama ini, telah mendapatkan apresiasi besar dari mereka.
****