
Reda akhirnya duduk di dekat Nagi dan Ginko. Ryuunosuke duduk dekat dengan Aragaki. Selama duduk, Aragaki melihat ekor rubah kecilnya yang bergoyang cepat dan mata berbinar yang mengarah pada gadis itu.
“Dia benar-benar sangat senang rupanya. Rubah kecil ini benar-benar terlihat bahagia.” pikirnya
Aragaki melihat wajah bingung gadis itu di mejanya.
“Apa aku benar-benar boleh ada di sini? Bagaimana kalau Nushi-sama marah nanti?” Reda mulai takut sekarang
“Reda-sama, tenang. Nushi-sama sendiri yang memintamu untuk masuk. Jangan cemas seperti itu ya.”
Reda melihat ke arah sang penguasa. Aragaki dan Reda bertemu pandang. Tentu saja gadis itu yang langsung tertunduk malu dengan wajah merah merona karena malu.
“Nushi-sama melihatku. Malunya~”
Tidak disadari oleh siapapun, Aragaki tersenyum melihat wajah malu Reda yang tertunduk.
“Baiklah, kita makan. Selamat makan semua.” katanya lembut
“Selamat makan~”
Sup miso adalah menu pertama yang dicicipi oleh Aragaki.
“Rasa ini yang aku suka. Sup yang kaya rasa dengan aroma yang lembut. Selain itu, berbeda dengan yang ada di tempat Shuen, isian sup miso yang begitu banyak ini membuatku sangat menikmatinya.”
“Daging lembut dan kombinasi sayuran empuk ini sangat cocok. Selain itu…”
Araraki yang belum selesai berkomentar memakan nasi dengan jamur dan kacang edamamenya.
“Nasi ini juga begitu lezat.”
Aragaki memakan suapan dari tiap menunya dan dia terlihat begitu menikmatinya.
“Ini adalah rasa yang begitu aku rindukan. Rasanya seperti sudah lama sekali aku ingin merasakannya lagi.” Aragaki melihat ke arah gadis itu.
[Aku harap Nushi-sama mau memakannya]
Kalimat itu diingat oleh sang penguasa.
“Aku tidak pernah mau melihatnya selama ini. Siapa yang menyangka, bahwa dia membuatku tidak bisa lepas dari rasa masakan ini.”
“Kalau aku ingat lagi…tidak pernah ada calon ‘pengantin’ yang mau melakukan semua hal yang aku perintahkan.”
“Aku selalu mengabaikan mereka karena masa lalu dan aku melakukan hal yang sama padanya. Tapi dia masih berusaha untuk melakukan semua ini demi bisa menepati janjinya pada Ryuunosuke.”
Aragaki melihat para pelayannya yang makan dengan lahap.
“Ryuunosuke, aku minta nasi dan supnya lagi!” kata Kuroto sambil menyodorkan mangkuknya yang kosong
“Eh?” Reda terkejut dengan itu
Menyadari orang yang membuatnya ada di dekatnya, Kuroto mengedipkan matanya dan tersenyum pada gadis itu.
Reda terlihat senang sekali.
“Syukurlah Kuroto-sama menyukainya.”
Rubah kecil itu langsung dengan senang hati mengambilkan nasi dan supnya lagi. Setelah memberikannya pada Kuroto, rubah kecil itu langsung berlari ke tempat gadis kesayangannya.
“Reda-sama mau tambah nasinya lagi tidak? Ryuunosuke akan ambilkan untukmu.”
“Ah, tidak perlu Ryuunosuke. Ryuunosuke juga makan yang banyak ya.”
“Ehehe~Ryuunosuke akan makan yang banyak!” rubah kecil itu tersenyum senang dan kembali ke tempatnya. Dia langsung menghabiskan makanan di mangkuknya dan berlari mengambil nasinya lagi.
Reda mencoba melirik Aragaki. Meskipun malu dan takut, dia merasa sangat ingin memandangnya.
“Dewa, ini pasti mimpi. Rasanya Nushi-sama begitu dekat.”
Tanpa sadar, Reda mengatakan sesuatu yang cukup membuat Nagi dan Ginko terkejut.
“Nushi-sama indah sekali.”
“Bruuufh!” Nagi dan Ginko tidak sengaja menyemburkan sup miso yang sedang diminumnya
“Eh?! Na–Nagi-sama, Ginko-sama! Kalian baik-baik saja?!” Reda langsung panik
“Ada apa, Nagi, Ginko?” Aragaki juga sampai bertanya kepada kedua youko tersebut
“Ka–kami tidak apa-apa, Aragaki-sama. Jangan khawatir. Ahahaha” kata Nagi sambil pura-pura tertawa
“Maaf sudah membuat kaget, Nushi-sama. Reda-sama juga jangan panik. Kami berdua hanya terlalu cepat meminum supnya.”
“Be–begitu…” Reda masih terlihat tidak percaya
Di dalam hati kedua youko itu, mereka saling berkomentar.
“Untung hanya aku dan Ginko yang dengar. Gadis ini…dia benar-benar mengatakan itu saat Aragaki-sama di depan? Benar-benar di luar akal sehat.”
“Reda-sama tampaknya tidak menyadari ucapannya. Tapi meskipun terkejut, aku sangat senang sekali perasaan Reda-sama yang murni dan jujur. Syukurlah, Reda-sama bisa melihat Nushi-sama dari dekat seperti ini.”
Aragaki melihat gadis di sampingnya yang tampak bingung melihat kedua pelayannya. Wajah sang penguasa begitu serius memperhatikan gadis itu.
[Nushi-sama indah sekali]
Siapa yang menyangka bahwa kalimat yang diucapkan gadis itu ternyata terdengar olehnya. Biarpun pelan, namun karena kemampuan sang penguasa, dia bisa mendengarnya walau Reda mengatakannya dengan nada pelan sekalipun.
“Selama ini aku tidak pernah memedulikannya, jadi aku tidak pernah peduli pada apa yang dilakukan dan dikatakannya.”
“Tapi kalau sudah begini…aku tidak mungkin bisa berpura-pura tidak peduli lagi.”
Ada sebuah rasa penasaran pada hati sang penguasa sekarang dan hal itu terlihat jelas dari sorot mata yang memandang ke arah gadis itu.
Selesai makan, seperti biasanya, Aragaki akan menjadi orang pertama yang keluar dari sana. Rubah kecil langsung berlari ke arah Reda.
“Reda-sama tidak boleh bekerja hari ini. Reda-sama harus istirahat. Ryuunosuke yang akan membereskan ini.”
“Tapi ini banyak sekali, Ryuunosuke.”
“Kami akan membantunya, Reda-sama. jangan khawatir.”
“Kau harus istirahat karena aku tidak mau ganti menu makan siang hari ini, gadis desa. Aku ingin sup dan sayur tumis seperti itu lagi, jadi sebaiknya kau jangan terlalu lelah.”
Reda tersenyum mendengarnya. Dia begitu senang karena akhirnya sedikit demi sedikit dia bisa diterima dengan baik oleh mereka semua.
Ryuunosuke menarik tangan Reda untuk keluar dari sana.
“Ah, Ryuunosuke. Aku akan kembali ke gubuk dulu. Pakaianku pasti kotor dan penuh debu karena tidak dibersihkan.”
“Ryuunosuke ikut. Ryuunosuke yang akan membersihkan tempat Reda-sama nanti.”
“Terima kasih banyak, rubah kecil manisku.” Reda mengelus-elus rubah kecilnya. Sambil bergandengan tangan, Reda dan Ryuunosuke bercerita banyak hal.
“Ryuunosuke, rasa hari ini seperti mimpi paling indah. Senang sekali~”
“Ehehe~Ryuunosuke juga senang, Reda-sama.”
Reda berhenti dan berlutut di depan rubah kecilnya.
“Saat pertama kali datang, rasanya aku tidak pernah berpikir akan bisa makan di ruangan yang sama dengan Nushi-sama. Tapi, aku bisa makan dan melihat Nushi-sama dari dekat. Aku seperti sedang bermimpi.”
“Rasanya senang sekali, Ryuunosuke.” Reda memeluk rubah kecilnya. Tanpa sadar, air matanya menetes, “Nushi-sama mau menyentuh tanganku, mau mengajakku makan bersamanya, mau menyuapiku dan merawatku saat sakit. Ini terlalu indah untuk disebut kenyataan, Ryuunosuke.”
“Reda-sama…” mata rubah kecil itu mulai ikut berkaca-kaca. Dia mulai ikut menangis.
“Aku…aku sangat mencintai Nushi-sama, Ryuunosuke. Aku ingin sekali Nushi-sama tersenyum dan bahagia.”
“Ryuunosuke tau itu, Reda-sama. Kita berjuang lagi ya, Reda-sama.”
“Uum…aku akan berjuang lagi, Ryuunosuke. Biarpun mungkin Nushi-sama tidak akan memilihku, selama bisa membuatnya tersenyum, aku akan berusaha sedikit lagi.”
Sambil bicara dalam hatinya, Ryuunosuke memeluk erat gadis kesayangannya, “Reda-sama akan dipilih oleh Aragaki-sama! Pokoknya hanya Reda-sama yang harus dipilih oleh Aragaki-sama!”
“Ibu, tolong bantu Ryuunosuke juga. Aragaki-sama harus memilih Reda-sama, ibu! Tolong bantu Ryuunosuke!!”
Ryuunosuke melepas pelukannya dan menghapus air mata Reda. Gadis itu tersenyum dan berdiri sambil menggandeng tangan rubah kecilnya. Mereka berjalan ke gubuk kembali.
Tanpa disadari keduanya, Aragaki ternyata melihat dan mendengar semua itu.
[Nushi-sama mau menyentuh tanganku, mau mengajakku makan bersamanya, mau menyuapiku dan merawatku saat sakit. Ini terlalu indah untuk disebut kenyataan, Ryuunosuke]
[Aku sangat mencintai Nushi-sama, Ryuunosuke. Aku ingin sekali Nushi-sama tersenyum dan bahagia]
Sang penguasa terlihat mulai luluh setelah mendengar hal itu walau masih sulit menerimanya.
“Cinta…setelah semua yang aku lakukan padanya, dia masih bisa mengatakan bahwa dia mencintaiku?”
Perasaan hangat datang, Aragaki menjadi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Dengan kemampuan visualisasinya, dia melihat apa yang dikerjakan gadis desa itu bersama rubah kecilnya di gubuk tua.
“Itu gubuk tempatnya tinggal. Dia benar-benar bersedia tinggal di tempat itu?”
Ini hal yang lucu, mengingat Aragaki sendiri yang memintanya tinggal di sana. Akan tetapi sekarang dia juga yang terkejut.
Dia memperhatikan lebih dekat lagi. Aragaki melihat bagian dalam gubuk tersebut.
“Aku selalu meminta para keturunan desa terkutuk itu untuk menghabiskan waktu mereka di sana. Tidak ada satupun dari gadis kotor tersebut yang mau tinggal di sana.”
“Bukan hanya mencoba melarikan diri dan menyiksa rubah kecil kesayanganku, mereka juga membuat tempat itu semakin hancur dan rusak hingga nyaris seperti tempat yang tak layak ditinggali.”
“Namun, dia bersedia tinggal di sana dan membuatnya terasa nyaman untuknya sendiri…”
Aragaki melihat sekeliling gubuk tersebut. Dia mengamati semuanya tanpa diketahui Reda dan Ryuunosuke di sana.
“Tidak ada cahaya dan tidak ada hal yang layak dipertahankan di sana. Bagaimana bisa dia terus tersenyum padaku setelah aku memintanya tidur di tempat yang buruk seperti itu?”
“Kenapa aku mulai merasakan perasaan tidak nyaman melihatnya tinggal di sana?”
Aragaki menutup matanya dan mulai menghela napas.
“Ini tidak benar…” gumamnya pelan
Setelah itu dia berjalan menuju ruangannya. Di ruangan tersebut, dia duduk dan melihat mangkuk dengan bunga sakura hasil buatan tangan rubah kecilnya.
Saat Aragaki melihat ikebana tersebut, dia mengingat senyum manis dari gadis desa tersebut.
Meskipun saat itu gadis yang dianggapnya kotor sedang terluka, dia memberikan senyum tercantik miliknya hanya untuk sang penguasa.
“Ini bukan seperti diriku. Kenapa aku tidak bisa menghapus ingatan saat itu? Kenapa wajah dan senyumnya yang terus aku ingat?”
Tampaknya, sang penguasa nyaris tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak mau mengakui bahwa dia peduli, namun dia tidak ingin menghapus ingatan tentang senyum Reda dari pikirannya.
Aragaki duduk di ruangannya. Setelah diam beberapa saat, dia mulai memanggil pelayan setianya.
“Nagi, Ginko, Hakuren, Kuroto.”
Sang penguasa memanggilnama pelayan setianya. Tidak butuh waktu lama, keempat pelayan tersebut tiba-tiba muncul di hadapannya.
Sejak mereka adalah pelayan paling setia milik penguasa Higashi no Mori, kapanpun dan dimanapun mereka akan segera muncul saat dipanggil olehnya.
“Aragaki-sama memanggil kami?” tanya Hakuren
“Ada sesuatu yang Anda butuhkan, Nushi-sama?” Ginko juga bertanya demikian
“…” Aragaki sempat terdiam
“Aragaki-sama?”
Sang penguasa menghela napasnya dan mulai bertanya pada mereka berempat, “Aku ingin tau, sejak rubah kecilku memintaku untuk melihat gadis desa itu lebih dekat, apa yang harus aku lakukan?”
"Apa yang harus aku lakukan untuk melihatnya lebih dekat?"
****