
Aragaki terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh keduanya. Awalnya dia hanya peduli pada perubahan sikap Ryuunosuke yang menjadi ceria dan lebih ceria. Tapi, mungkin dia belum menyadari ada hal lain yang menarik perhatiannya.
“Reda-sama, kol ini besar!”
“Huwaaa, besar sekali~”
“Ini enak tidak kalau dimasak?”
“Enak. Karena masih ada daging, kita masak tumis daging dan kol ya. Nushi-sama pasti menyukainya.”
“Ryuunosuke akan cari yang banyak!”
Mereka memetik sayuran yang ada di kebun. Di sela-sela itu, Ryuunosuke bercerita.
“Reda-sama, saat makan malam kemarin, Ryuunosuke bercerita tentang sayur yang kita petik pada Aragaki-sama dan beliau tersenyum!”
“Benarkah?”
“Iya! Hari ini Ryuunosuke akan memetik yang banyak juga agar bisa memamerkannya pada Aragaki-sama!”
Rubah kecil itu tampak begitu antusias dan semangat. Benar-benar seperti seorang anak kecil. Reda hanya tersenyum senang sambil memberinya dukungan.
“Kita petik yang banyak ya. Nanti kalau aku bertemu Nushi-sama, aku akan menceritakannya juga. Beliau pasti akan memuji Ryuunosuke.”
Rubah kecil itu senang sekali dipuji olehnya. Dari kejauhan, Aragaki mendengar dan melihat semuanya.
“Dia benar-benar melakukan itu untuk rubah kecilku…”
Sedangkan pelayannya yang lain terlihat semakin bingung.
“Oi, ini aku yang mulai gila atau Aragaki-sama memang sedang mengawasi mereka berdua?” bisik Nagi
“Kalau kau mulai gila maka kami bertiga juga sudah mulai tertular. Masalahnya aku yakin di depan kita itu memang Aragaki-sama!” Kuroto menjawab dengan ekspresi sama terkejutnya dengan Nagi
“Ginko, bagaimana pendapatmu?”
“Aku hanya berharap Nushi-sama tidak mengetahui kenyataan bahwa Reda-sama yang memasak semua makanan yang selama ini dimakan olehnya atau Reda-sama akan langsung terkena masalah.”
“Aku juga sependapat.” ucap Hakuren
“Kita harus benar-benar mengawasi Aragaki-sama kalau begini. Tapi, beliau pasti menyadari kehadiran kita.”
“Selama kita tenang, kemungkinan kita tidak akan begitu diperhatikan oleh Nushi-sama.”
Sebenarnya, dugaan mereka tidaklah benar. Saat ini, fokus Aragaki benar-benar hanya tertuju pada apa yang sedang dia lihat dari kejauhan.
Redan dan Ryuunosuke yang telah selesai dengan sayurnya membawa keranjang tersebut ke belakang untuk dicuci.
Sang penguasa menyadari sesuatu. Tiap interaksi dan obrolan kecil dilakukan keduanya, membuat Ryuunosuke sama sekali tidak berhenti tertawa bersama gadis desa yang dianggapnya kotor.
Tanpa sadar dia menjadi ikut tersenyum sendiri.
Pelayan yang mengawasinya semakin bingung dengan tuannya.
“Kalian bertiga, aku yakin mataku ini normal.”
“Apa maksudmu, Nagi? Kita tidak buta!” ucap Kuroto ketus
“Tapi aku yakin mataku mencoba membodohi otakku! Aragaki-sama tersenyum melihat gadis desa itu bersama si rubah kecil! Kau pikir itu sungguhan?!”
Ketiganya melihat kembali baik-baik.
“Nagi, aku kira aku mulai pusing.” Kata Kuroto sambil memegang kepalanya
“Benar, kan?”
“Mungkinkah Aragaki-sama mulai penasaran tentang Reda-sama?” Hakuren menebaknya
“Apa?!” ketiganya berteriak
“Sst! Jangan berteriak, dasar bodoh! Pelankan suara kalian itu!”
Mereka menenangkan diri untuk sementara, tapi akhirnya akal sehat mereka kembali.
“Itu…nyaris mustahil. Tapi, jika benar begitu…”
“Aku berharap Nushi-sama memang benar-benar penasaran dan mulai tertarik pada Reda-sama. Reda-sama gadis yang baik. Dia pantas bahagia.” Kalimat Ginko itu ditanggapi serius oleh semuanya.
“Aku tidak pernah suka pada manusia karena perbuatan mereka, tapi gadis desa itu tidak buruk. Lagipula masakannya enak. Perut laki-laki itu adalah yang paling jujur. Buktinya, Aragaki-sama tidak pernah makan sedikit sejak gadis itu yang membuat makanannya diam-diam, kan?”
Kuroto membuat sebuah alasan bagus dan ketiga orang lainnya setuju sekali dengan kalimatnya.
Masih dalam rangka mengawasi pergerakan sang majikan yang mengamati kedua orang yang ada di dapur, kali ini keduanya pergi ke dalam untuk mengambil pakaian kotor.
Reda dan Ryuunosuke masuk ke dalam. Hal ini juga sekaligus tur kecil untuk Reda.
“Reda-sama, kalau diingat-ingat Reda-sama belum tau ruangan Ryuunosuke dan yang lain ya?”
“Belum.”
“Eh? Ah, Ryuunosuke jangan berlari nanti jatuh!”
Aragaki mengikuti mereka. Dengan tetap tenang dan tidak mengeluarkan aura miliknya, selama hampir setengah hari itu, sang penguasa mengikuti kegiatan rubah kecilnya bersama sang gadis desa.
“Taraaa~ini kamar Ryuunosuke. Bagus tidak?”
“Bagusnya. Ryuunosuke rapi sekali. Aku bangga sekali pada Ryuunosuke. Pintarnya.”
“Ehehe~ibu juga sering memuji Ryuunosuke dulu.”
Reda tersenyum. Tentu saja Ryuunosuke masuk dan mengambil baju kotornya. Setelah itu dia pergi ke kamar Nagi dan yang lain. Reda hanya menunggu di luar dan tidak masuk sama sekali ke kamar yang lain.
“Reda-sama tidak mau masuk juga?”
“Tidak apa-apa, Ryuunosuke. Aroma tubuhku sangat asing. Selain itu, tidak sopan jika aku yang baru tinggal satu minggu sudah masuk tanpa izin.”
“Begitu.”
Aragaki cukup takjub dengan tata krama yang dimiliki gadis itu.
“Dia masih ingat tempatnya dan tidak melewati batasnya. Aku kira dia gadis kotor yang bodoh, ternyata dia punya akal untuk berpikir juga.”
Memang bukan seperti pujian, tapi Aragaki juga tidak terlihat membencinya.
Saat sampai di ruangan Aragaki, Ryuunosuke masuk dan mengambil pakaian kotor milik Aragaki. Reda yang di luar melihat ikebana yang pernah dia buat.
“Ryuunosuke, kenapa benda itu ada di sana?”
“Hmm? Benda apa?”
“Ikebana…”
“Ah! Ryuunosuke yang memberikannya pada Aragaki-sama dengan bantuan Nagi-sama dan Ginko-sama!” rubah kecil itu menjadi sangat antusias ketika mengatakannya
Reda sedikit bingung. Jelas-jelas ikebana itu dibuat dengan tangannya sendiri dan yang pasti akan meninggalkan aromanya.
“Tapi, Nushi-sama tidak menyukai aromaku? Kalau sampai beliau mencium aroma tanganku di sana, beliau akan membuang dan memarahimu.” Reda terlihat panik
“Jangan khawatir! Ryuunosuke, Nagi-sama dan Ginko-sama sudah mengakalinya agar Aragaki-sama tidak tau.”
“Tapi…”
“Bukankah Reda-sama membuatnya untuk persembahan bagi Aragaki-sama? Beliau sangat menyukainya. Reda-sama sudah membuat Aragaki-sama tersenyum, jadi jangan khawatir.”
Reda berlutut dan mengelus pipi rubah kecil itu dengan kedua tangannya.
“Rubah kecilku yang manis, kenapa kamu bisa mengambil resiko seperti itu? Aku tidak mau Ryuunosuke terkena masalah.”
“Reda-sama mencintai Aragaki-sama, kan? Hadiah dari Reda-sama membuat Aragaki-sama tersenyum. Ryuunosuke mendukung Reda-sama! Nagi-sama dan Ginko-sama juga mendukungmu!”
Reda tidak bisa menahan air matanya. Dia memeluk rubah kecilnya.
“Rubah kecilku manis sekali. Terima kasih banyak sudah mau melakukan ini untukku.”
“Ehehe~jangan menangis, Reda-sama. Ryuunosuke akan mendukung Reda-sama agar Aragaki-sama mau menerimamu.”
Reda melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
“Ryuunosuke menyukai ikebana tidak? Nanti akan aku buatkan juga untuk hadiah.”
“Benarkah?!”
“Tentu. Kita bisa membuatnya bersama setelah ini. Nanti aku akan mengajarimu. Selain itu, kita buat satu untuk mendiang ibu Ryuunosuke agar beliau senang.”
“Huwaa~kalau ibu melihat dari langit, ibu pasti akan senang!”
Keduanya tersenyum bersama. Saat mereka pergi dari ruangan Aragaki menuju belakang, Aragaki terdiam. Dia mendengar semuanya.
Tidak lama setelah bayangan kedua orang itu menghilang, sang penguasa masuk ke dalam ruangannya dan berdiri di depan hiasan ikebana yang dipajang serta dirawatnya baik-baik.
[Bukankah Reda-sama membuatnya untuk persembahan bagi Aragaki-sama? Beliau sangat menyukainya. Reda-sama sudah membuat Aragaki-sama tersenyum, jadi jangan khawatir]
[Reda-sama mencintai Aragaki-sama, kan? Hadiah dari Reda-sama membuat Aragaki-sama tersenyum. Ryuunosuke mendukung Reda-sama! Nagi-sama dan Ginko-sama juga mendukungmu!]
Aragaki mengingat kalimat yang baru saja dia dengar. Dia juga mengingat apa yang dikatakan oleh pelayan setianya ketika mengantarkan hiasan ini.
[Aragaki-sama, Ryuunosuke dengan Nagi-sama dan Ginko-sama membuat hiasan untuk ruanganmu. Lihat! Cantik, kan?]
[Kalian membuat ini?]
[Benar. Karena Nushi-sama hari ini sedang bahagia jadi ini sebagai hadiahnya]
Dia terlihat cukup syok sekarang. Akhirnya rasa penasarannya hari ini sudah membuatnya mengetahui satu rahasia yang tersembunyi.
“Aku…dibohongi.”
****