
“Aku bersumpah akanmelindunginya. Setelah semua selesai, aku akan mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padanya.”
Hati Aragaki dipenuhi dengan perasaannya pada gadis itu. Khawatir, cemas, cinta, semuanya menjadi satu.
Detak jantungnya juga berdegub kencang. Aragaki bahkan berpikir bahwa gadis itu mungkin mendengarnya.
“Apakah dia mendengar ini? Aku ingin tau bagaimana ekspresinya?”
Tapi, Aragaki menyadari bahwa dia tidak boleh kehilangan kendali dirinya. Perlahan, dia melepaskan pelukan itu dan melihat wajah gadis cantik yang baru dipeluknya.
Memerah, jelas itu yang terlihat. Namun, wajah gadis itu masih mencoba bersikap biasa karena tidak ingin menjadi canggung kembali.
Sang penguasa mencoba tenang dan menatap gadis itu kembali.
“Maafkan aku. Apa aku mengejutkanmu?”
“Ti–tidak, tidak apa-apa Nushi-sama. Um…”
“Apa ada sesuatu?”
“Um…terima kasih…sudah mau mengatakan kalimat itu. Aku benar-benar sangat senang mendengarnya.”
Hati Reda seperti sedang bermimpi. Mendengar kalimat yang selalu ingin didengarnya membuatnya merasa sangat senang meskipun gadis itu piker semua itu mungkin hanya pemanis.
“Sekalipun itu hanya sebuah kalimat penghibur sebelum aku mati, aku benar-benar sangat senang bisa mendengarnya dari Nushi-sama.”
“Rasanya…sedikit impianku telah terwujud.”
Aragaki seperti bisa membaca pikiran gadis itu dan berkata, “Aku harap kamu bisa percaya pada semua yang aku katakan karena semua itu bukanlah mimpi.”
“Eh?”
“Aku berjanji akan melindungimu, karena itu aku mohon jangan berpikiran hal yang tidak-tidak.”
“Maafkan aku!”
Aragaki tersenyum dan bertanya, “Kenapa minta maaf?”
“Itu…itu karena Nushi-sama mungkin…masih membenciku jadi…”
Wajah Aragaki mendekatinya sehingga degub jantung gadis itu semakin tidak terkontrol.
“Apakah aku masih terlihat seperti itu sekarang? Coba lihat wajahku, apakah masih terlihat seperti yang kamu katakan?”
-Bluuuush
Reda memerah. Wajah tampan pria yang begitu dicintainya berada sangat dekat dengannya sehingga dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat karena malu.
“Ahahaha, maafkan aku karena sudah menggodamu berlebihan. Jangan diambil hati ya.” Sang penguasa tertawa melihat tingkah malu gadis desa itu. Dia cukup senang melihat ekspresi malu dan wajah merona yang cantik itu.
Dari kejauhan, Hakuren dan Kuroto yang masih dalam posisi siaga melihat pemandangan tersebut dan tersenyum.
“Lihat, mereka sangat serasi di bawah bunga sakura. Aku yakin Aragaki-sama sudah jatuh cinta pada Reda-sama.”
“Kau benar. Aragaki-sama hanya perlu momen tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan begitu, gadis desa itu bisa menjadi bagian dari Higashi no Mori seutuhnya.”
“Akan lebih baik jika mereka benar-benar menikah saat musim semi nanti.”
Hakuren benar-benar senang dengan pemandangan indah di bawah bunga sakura yang bertebaran kembali. Namun, ekspresi wajah Kuroto berubah dingin.
“Di saat Aragaki-sama sudah mulai mau membuka hatinya untuk manusia, ada yang mencoba merenggut itu darinya lagi.”
“Ini tidak bisa dibiarkan. Jika memang iblis Nue ada di balik semua ini, maka bisa dipastikan kejadian sebelumnya dan sebelumnya lagi adalah ulahnya juga.”
Hakuren juga menjadi serius, “Kau benar. Mengingat para gadis manusia itu berakhir menjadi makanan iblis Nue, bukan hal yang mustahil bila dia begitu menyukai darah dan daging manusia.”
“Selain itu, bisa jadi para gadis itu juga dipengaruhi sesuatu sehingga bisa melakukan hal buruk seperti mencoba meracuni Aragaki-sama atau menyiksa Ryuunosuke dulu.”
“Apapun itu, tidak untuk kali ini. Gadis desa itu harus dilindungi dan kita harus menemukan keberadaan Ara-mitama secepatnya.” ujar Kuroto dengan wajah serius. Hakuren mengangguk dan kemudian mereka berdua terbang menuju hutan kembali.
Di bawah pohon sakura, Aragaki masih belum beranjak dari hadapan gadis itu. Seakan tidak ingin berpisah, dia terus mencoba berpikir untuk bersama gadis itu. Beberapa topik pembicaraan mulai keluar untuk membuat gadis itu mau bicara dengannya.
“Hari ini…cukup cerah, bukankah begitu?”
“Ah! I–iya. Hari ini cerah, Nushi-sama.”
Reda sekarang mulai sedikit penasaran. Wajahnya tidak lagi malu, namun ekspresi cemas yang ditunjukkan.
“Apakah…ada sesuatu yang terjadi, Nushi-sama?”
“…”
“Wajah Nushi-sama terlihat tidak baik sejak kemarin. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Reda masih belum selesai dengan kalimatnya. Dia melihat wajah sang penguasa dengan rasa khawatir. “Semalam, Ryuunosuke bahkan ketakutan dan berlari ke kamarku. Nagi-sama dan Ginko-sama juga sejak kembali dari pasar terus mengabaikan aku dan Ryuunosuke.”
“Mereka begitu pucat saat rubah kecil manis itu ketakutan dan mengatakan padaku untuk tidak keluar kamar.”
“Apakah…apakah memang ada sesuatu sampai membuat Nushi-sama berkata akan melindungiku?”
Aragaki hanya memberikan senyuman tipis sambil berkata, “Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas.”
Tentu bukan itu jawaban yang sebenarnya, namun Reda memilih untuk berhenti bertanya dan diam.
“Dewa, semoga memang tidak ada hal berbahaya yang terjadi. Semoga Nushi-sama tidak diincar oleh roh jahat.”
**
Di dalam hutan, Ryuunosuke bersama Nagi dan Ginko baru selesai memetic jamur dan sayuran liar.
“Dapat banyak!! Horee horee~” rubah kecil itu terlihat senang sambil mengangkat keranjang anyaman ke atas kepalanya. Dia berputar-putar karena berhasil dapat banyak buruannya.
“Hati-hati terjatuh, Ryuunosuke. Kita harus pulang sekarang.” seru Ginko
“Reda-sama akan senang melihat ini. Makan siang hari ini akan sangat mewah. Senangnya~”
Tingkah manis rubah kecil itu membuat kedua youko yang bersamanya tertawa. Walaupun sebenarnya, tanpa disadari oleh si rubah kecil, kedua youko itu mengamati dan melakukan pengawasan.
“Menemukan atau merasakan keberadaan Ara-mitama?” tanya Ginko
“Tidak. Aku tidak merasakan apapun. Tapi, aku rasa dengan sifat Ara-mitama yang tidak mudah dirasakan keberadaannya oleh siluman lain, mustahil bisa menemukannya dengan cara ini, Ginko.”
“Kamu benar, Nagi. Bahkan siluman setinggi Nushi-sama masih kesulitan menemukan keberadaannya.”
Nagi mengamati seluruh hutan sampai ke atas pohon.
“Reimei no Kekkai yang dibuat oleh Aragaki-sama adalah satu-satunya pelindung yang bisa melindungi Reda-sama selagi bukan dia sendiri yang membuka pintunya.”
“Jika sampai Reda-sama membuka pintu kediaman Aragaki-sama tanpa pengawasan kita, maka semuanya akan menjadi serius.”
Ginko yang mendengar hal itu mengangguk setuju. “Reda-sama adalah satu-satunya harapan agar Nushi-sama berubah menjadi siluman yang mencintai manusia kembali. Apapun yang terjadi, Reda-sama tidak boleh berakhir seperti gadis-gadis desa sebelumnya.”
Rubah kecil menghampiri kedua youko yang sibuk sendiri sejak tadi.
“Ryuunosuke sudah selesai, Nagi-sama dan Ginko-sama kenapa?”
“Tidak ada apa-apa, Ryuunosuke. Kita kembali ya.”
“Iya! Ryuunosuke mau memamerkan semua sayur dan jamur liar ini pada Reda-sama dan Aragaki-sama. Ryuunosuke mau dapat elusan dan pujian dari Reda-sama. Ehehehe~”
“Iya iya, elusan dan pujian untukmu sendiri. Cepat berikan keranjangnya pada Ginko dan naik ke punggungku. Kita berlari agar bisa lebih cepat sampai.” seru Nagi pada si rubah kecil
Rubah kecil itu menurut dan dengan senang melompat ke punggung Nagi. Kedua youko bersama si rubah kecil berlari pulang menuju kediaman Aragaki.
Saat bayangan keduanya menjauh, tanpa disadari siapapun, Ara-mitama mendengar semua itu.
“Ahahahaha, begitu rupanya. Selama gadis itu yang membuka pintu kediaman Aragaki-sama maka Reimei no Kekkai akan lenyap sepenuhnya ya.”
“Akhirnya….akhirnya Aruji-sama akan bisa merasakan darah segar calon ‘pengantin’. Reda ya…nama yang unik. Ini bisa dimanfaatkan.”
“Tidak perlu menunggu 3 bulan karena Aragaki-sama tampaknya tidak akan memberikan gadis itu pada tuanku. Gadis bernama Reda itu akan menjadi santapan tuanku, Nue-sama..”
Angin hitam yang mendekati Reda akhirnya mulai bergerak.
Tanpa disadari siapapun, Reda benar-benar dalam bahaya sekarang.
****