
“Aku tidak akan membencimu. Aku tidak akan pernah membencimu lagi. Aku sudah memutuskan untuk bersamamu. Karena itu…jangan menangis.”
Kalimat Aragaki membuat Reda seperti terbangun dari tidur panjangnya. Dia tidak bisa berhenti menatap sang penguasa yang tersenyum lembut padanya dan memegang tangan yang baru saja diciumnya.
Aragaki membantu gadis itu untuk duduk.
Tidak ada kalimat apapun yang terucap dari bibir gadis itu. Air matanya masih menetes, namun dia tidak lagi menangis. Seperti, hanya kebingungan dan rasa tidak percaya yang ada dalam dirinya.
“Kenapa?” tanya Aragaki dengan lembut
“Ini…benar-benar Nushi-sama?”
“Menurutmu?”
Aragaki meletakkan tangan milik gadis itu ke wajahnya sendiri. Dia membiarkan gadis itu menyentuh wajahnya. Reda memerah seakan tidak percaya dengan apa yang sedang disentuhnya.
“Ini aku. Apa aku terasa seperti mimpi untukmu?”
“Hiks…Nushi-sama tidak pernah…tidak pernah mengatakan ingin bersamaku sebelumnya, jadi…”
Aragaki memeluk gadis itu. Dia menunjukkan betapa berharganya gadis itu untuk dirinya sekarang.
“Aku tidak akan membencimu lagi. Aku sudah memutuskan untuk bersamamu. Aku ingin bersamamu dan berada di sampingmu adalah keinginanku sendiri.”
Sang penguasa menghapus air mata gadis itu, dan dengan lembut mengucapkan kalimat yang belum pernah didengar gadis itu selama ini.
“Reda…”
-Deg
Tidak ada hal terindah untuk Reda selain nama yang terucap dari bibir pria yang begitu dicintainya dengan suara indahnya.
“Nushi-sama…memanggil namaku? Hiks…”
“Aku akan memanggilmu, aku akan selalu mengucapkan nama indah itu. Reda, Reda…Reda.”
Gadis itu menangis dan memeluk sang penguasa. Dia hanya menangis dan terus memeluknya. Aragaki mendengarkan suara itu sambil tersenyum dan sesekali mencium rambut sang gadis tanpa diketahui olehnya.
Dari luar ruangan, keempat pelayan Aragaki menangis mendengarnya. Ginko bahkan memeluk rubah kecil yang menangis tanpa suara.
“Ginko-sama, Reda-sama…bisa bersama Aragaki-sama, iya kan? Hiks…hiks…”
“Iya, Ryuunosuke. Reda-sama akan selalu bersama Nushi-sama mulai sekarang. Reda-sama akan selalu bersama kita juga.”
“Akhirnya Ryuunosuke berhasil! Aragaki-sama tidak lagi membenci manusia, Aragaki-sama mau menerima Reda-sama…”
Rubah kecil itu terus menangis tanpa henti. Nagi masih ingat apa yang dikatakan oleh sang penguasa saat ada di taman bunga itu.
[Aku mencintainya dan akan belajar untuk mencintainya]
“Reda-sama…andai kau mendengar kalimat lembut dari Aragaki-sama saat itu, kau mungkin akan menangis bahagia lebih dari ini.”
“Aku, Hakuren dan Kuroto adalah saksi hidup dari semua bayaran atas apa yang telah kau lakukan selama sebulan ini. Sebuah keajaiban…kau bisa menjadi pemilik hati dari Aragaki-sama.”
Nagi ingat dengan baik, apa yang dikatakan oleh Reda saat dirinya sampai dan menghadap sang penguasa saat itu.
[Aku akan berusaha mencairkan kebencian di hati Aragaki-sama. Aku akan melayani Aragaki-sama sampai ada manusia yang akan menjadi cinta sejatimu]
“Kau adalah orang yang ditakdirkan untuk Aragaki-sama dan hal itu tidak akan berubah mulai sekarang.”
Untuk beberapa lama, Aragaki dan Reda berada berdua di kamar itu. Reda hanya menangis dalam pelukan sang penguasa.
Saat seluruh perasaannya telah dituangkan seluruhnya, Reda kembali tertidur karena lelah menangis. Dia tertidur dalam pelukan sang penguasa. Aragaki memaklumi hal itu dan membiarkan gadis pujaan hatinya beristirahat sedikit lebih lama.
Siang hari, Reda kembali sadar dan mendapat pelukan hangat dari rubah kecil kesayangannya. Tentu saja keempat pelayan setia Aragaki juga ada di ruangan itu.
“Syukurlah Reda-sama sudah bangun. Ryuunosuke…Ryuunosuke sangat cemas. Hiks…hiks…”
“Maafkan aku, Ryuunosuke. Maafkan aku ya. Jangan menangis lagi, rubah kecilku.”
-Sniff…sniff…
Saat Ryuunosuke memeluk Reda, dia mencium aroma yang begitu dirindukannya.
“Bau ibu…”
Nagi, Hakuren dan Kuroto saling melihat satu sama lain saat rubah kecil itu mengatakannya.
“Ada aroma ibu di tubuh Reda-sama. Aromanya kuat sekali. Ini aroma ibu…”
“Ibu…Ryuunosuke?” Reda sendiri bingung dengan kalimat rubah kecilnya. Tapi itu tidak lagi penting. Dia memeluk kembali rubah kecil manisnya. “Kalau begitu, Ryuunosuke bisa memelukku lagi. Ibu Ryuunosuke pasti ingin memelukmu juga melalui aroma ini.”
Rubah kecil itu menggoyang-goyangkan ekornya karena senang dan memeluk gadis kesayangannya kembali.
Aragaki tentu ada di dalam ruangan itu. Sang penguasa duduk di samping sang gadis, memastikan dirinya tidak jauh dan tetap ada bila dia membutuhkan sesuatu.
Reda tidak mengetahui apa yang terjadi. Dia tidak mendengar pernyataan cinta Aragaki saat itu, dia tidak ingat bahwa Ryoko hadir untuknya dan dia juga tidak ingat beberapa hal mengerikan yang terjadi padanya.
Saat ini, yang ada hanyalah semua perasaan senang dan hangat yang sedang menyelimutinya.
Ginko dan Hakuren pergi ke dapur untuk membawakan makan siang untuk Reda. Ryuunosuke sama sekali tidak ingin pergi dari gadis itu.
“Apakah…Jorogumo-sama yang membantu menggantikan pakaianku?” tanya Reda
“Benar. Jorogumo datang pagi ini sebelum kamu bangun untuk mengganti kembali pakaianmu. Dia sudah datang selama dua hari.” jawab Aragaki
“Dua…hari?”
Gadis itu mulai mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya diculik. Meski samar, dia teringat sesuatu.
“Apakah barang pesanan Nushi-sama sudah diantar juga ya?”
“Barang?”
“Jorogumo-sama datang untuk mengantarkan barang sore itu, benar kan?”
Kuroto mengerti maksudnya karena dia menyaksikannya sendiri bersama Hakuren. Dia mencari alasan untuk membuat gadis itu tidak curiga, “Jorogumo-san sudah mengantarkan barangnya. Jangan diingat lagi! Selain itu, barangnya juga sudah ada di tangan Aragaki-sama. Benar begitu kan, Aragaki-sama?”
Sang penguasa mengikuti permainan Kuroto, “Kuroto benar. Tidak perlu dipikirkan.” Aragaki mengelus kepala sang gadis sambil tersenyum, “Istirahatlah. Setelah makan siang, kamu bisa melakukan apapun.”
Reda memerah seakan tidak percaya dengan semua yang terjadi. Tapi, dia akhirnya mengerti bahwa sang penguasa benar-benar menerimanya sekarang.
Ada tatapan penuh cinta dari mata keduanya dan rubah kecil tau itu.
“Ibu…Aragaki-sama akhirnya mau bersama Reda-sama. Ibu harus lihat ini! Ibu harus lihat ini! Ryuunosuke senang, Ryuunosuke senang!”
Ginko dan Hakuren membawakan makan siang untuk Reda.
Selesai makan, Reda akhirnya hanya berdua saja dengan rubah kecil manisnya. Sang penguasa bersama pelayannya pergi ke ruang pertemuan. Mereka akhirnya membahas hal penting di sana.
**
Di ruang pertemuan, tempat dimana Reda menghadap Aragaki saat pertama kali datanng. Kelimanya membahas hal penting seputar kejadian dua hari lalu.
Hakuren dan Kuroto memberikan laporannya terlebih dahulu.
“Aragaki-sama\, bagian hutan tempat kita bertarung sudah kami bersihkan. Kami meminta *tsurubebi (siluman roh pohon)-*Tsurube untuk membantu memulihkan kondisi pepohonan di hutan.”
“Namun, bagian yang telah mengering akibat terkena kegare sangat sulit untuk dimurnikan.” Hakuren menjelaskan kondisinya
Kuroto menambahkan laporan tersebut, “Untuk tempat persembunyian iblis Nue, kami sudah menyegelnya. Seharusnya sudah tidak ada lagi jiwa Ara-mitama yang akan muncul dari sana.”
“Terima kasih. Aku akan memeriksanya juga setelah ini.”
Ginko mulai berpikir sejenak dengan wajah cemasnya.
“Nushi-sama…Nue sudah mati sekarang. Aku yakin penduduk kita akan mengetahui berita ini cepat atau lambat.”
“Jika…jika para penguasa lain mengetahui bahwa Nue yang selama ini menjadi siluman yang memakan gadis dari desa itu, mungkin Nushi-sama akan dipanggil ke pertemuan itu lagi.”
Ketiga temannya melihat Ginko. Tidak ada yang menyangka pikiran Ginko bisa sampai sejauh itu.
“Pertemuan itu lagi ya…”
“Aragaki-sama, Ginko benar. Mungkin saja mereka akan kembali berulah. Kecuali Shuen-sama, yang lain itu hanya bisa merusak perasaan baik. Kururugi-sama dan Mikage-sama juga pasti akan mulai mencoba memancing emosimu kembali.”
Aragaki terdiam dan berpikir sejenak. Dia menghela napas setelahnya.
“Aku tidak ingin memikirkan hal itu. Terserah jika kedua orang itu mau mencari masalah. Selama tidak mendekati Reda, itu cukup.”
“Aku juga belum ingin mengumumkan semua ini pada yang lain.”
“Bagaimanapun juga, Reda pasti masih merasa takut dan ada sedikit trauma dalam hatinya. Meskipun dia tidak mengingat semua itu, tapi membuatnya merasa lebih baik adalah hal yang harus aku lakukan.”
“…” keempat pelayannya hanya mendengarkan. Ekspresi wajah mereka seakaan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya, mereka hanya bisa menyaksikan sang majikan tersenyum.
“Aku ingin menghabiskan sedikit waktuku bersamanya. Keinginanku untuk bersamanya adalah hal yang sudah lama aku pikirkan dan sejak aku sudah berjanji pada Ryoko untuk mencoba mencintainya, aku ingin melakukannya secepat mungkin.”
“Aku ingin memberikan perasaan cinta itu padanya dan…aku tidak ingin menundanya.”
Tidak ada bantahan dari para pelayannya. Yang muncul dari wajah keempatnya adalah senyum bahagia merona. Nagi bahkan dengan lantang berani mengatakan kalimat ini pada sang penguasa.
“Aragaki-sama, Anda harus menjaganya baik-baik. Reda-sama itu sangat cantik. Jika lengah sedikit, mungkin Anda akan mendapatkan saingan nantinya.”
Sang penguasa tersenyum dan berkata, “Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
**
Di tempat yang tidak asing, ada seseorang yang sedang menikmati teh hijau hangat di siang hari.
“Tampaknya aku mulai sedikit penasaran dengan keadaan Aragaki. Aku dengar Nue telah mati dibunuh dua hari lalu.” kata seseorang
Seekor kelinci kecil menganggukkan kepalanya, “Shuen-sama benar. Tampaknya Aragaki-sama sendiri yang membunuhnya. Yukichi mendengar banyak sekali tsurubebi yang membersihkan tempat itu.”
“Begitu. Yukichi, aku akan pergi ke tempat Aragaki besok. Tolong kirimkan pesan untuknya ya.”
“Baik, Shuen-sama.”
Pelayan kelinci, Yukichi meninggalkan tuannya sendiri.
Itu adalah kediaman Shuen dan sang pemilik, Shuen, tampak berjalan ke arah engawa luar ruangannya dan melihat dedaunan maple yang berguguran.
“Aragaki, aku ingin melihatnya. Aku harap, hatimu mulai berubah dengan kematian Nue.”
**
Kisah ini akan berlanjut kembali. Seiring dengan keinginan sang penguasa, Aragaki yang mulai jatuh cinta pada gadis desa yang lugu, Reda…akan ada perjalanan baru untuk keduanya menuju kebahagiaan sejati.
Book 1, The End.
****