The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 58. Semakin Dekat, Semakin Ingin Melihatnya



Aragaki menangkap tubuh Reda saat terjatuh, membuat kedua wajah mereka berdua terlihat dekat. Mata Aragaki terbelalak saat melihat mata gadis itu dari dekat.


“Matanya…indah”


Sedangkan Reda mulai berubah panik. Meskipun untuk sesaat dia begitu terpesona dengan ketampanan dari pria yang begitu dicintainya, namun menyadari kebencian Aragaki padanya membuat Reda memaksakan dirinya sekali lagi.


Dia langsung melepaskan diri dari Aragaki dan bersujud meminta maaf padanya.


“Ma–maafkan Aku! Maafkan kelancanganku, Nushi-sama! Aku tidak sengaja! Aku benar-benar tidak sengaja! Tolong jangan marah, ini tidak akan terulang kembali!”


Aragaki melihat tubuhnya gemetar. Gadis itu takut padanya. Dia tau bahwa gadis itu menahan rasa sakit di punggungnya untuk bergerak dan bersujud padanya demi mendapatkan maaf.


“…”


Mungkin, ini adalah pertama kalinya Aragaki menyentuh manusia atas keinginannya sendiri.


Dia memegang kedua pundak Reda dan memintanya untuk berhenti bersujud seperti itu.


“Jangan melakukan hal yang bisa membuat lukamu semakin parah. Bangunlah.”


Reda begitu terkejut. Tangan lembut yang hangat itu menyentuh dan memegangi kedua pundaknya. Bukan hanya memerah, mata Reda mulai berkaca-kaca karena menahan air mata.


“Kyaa!” suara imut datang dari arah belakang Reda


“Eh?” Reda menengok ke belakang


Aragaki melihat apa yang ada di depannya. Itu si rubah kecil yang memegang nampan dengan makanan di atasnya.


Wajah rubah kecil itu memerah dan telinganya bergoyang-goyang. Dia langsung berjalan masuk ke dalam, meletakkan nampan tersebut dan meninggalkan keduanya.


Dari luar, rubah kecil itu berteriak sambil berlari.


“Aragaki-sama genit! Kyaa! Ryuunosuke tidak mau mengganggu”


“Ryuunosuke?!” Reda semakin merah dan panik. Dia melihat wajah Aragaki yang bingung dengan kelakuan rubah kecilnya yang muncul dan hilang bagai angin badai.


“Kenapa dengan anak itu?”


Di dalam ruangan itu, Aragaki melihat nampan berisi sup dan tamagoyaki serta nasi untuknya.


“Itu sarapanmu. Makanlah dulu.”


“A…itu…” Reda jadi benar-benar salah tingkah sekarang. Di dalam ruangan itu, tidak pernah ada dalam mimpinya bahwa akan tiba saat dimana dia akan berdua dengan orang yang paling dicintainya dalam diam.


“Bagaimana ini? Reda bermimpi? Mungkinkah ini semua hanya ilusi? Nushi-sama…Nushi-sama ada di sampingku? Dewa, jika ini mimpi…tolong jangan bangunkan aku!”


Jantungnya semakin kencang. Reda terus menundukkan kepalanya dan melihat wajah Aragaki dengan malu-malu.


Aragaki tidak tau apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Karena dia berpikir gadis itu takut padanya, Aragaki berdiri. Reda mengira sang penguasa akan pergi meninggalkannya dan semua mimpi indah itu berakhir.


Kenyataannya berbeda. Aragaki berdiri dan duduk di sisi lain di samping gadis itu.


Sang penguasa hanya berpindah posisi. Dia duduk di dekat nampan makanan dan mengambil mangkuk sup untuk diberikan pada Reda.


“Rubah kecil sudah membawakan ini dan ini masih hangat. Sebaiknya kamu minum ini dan lanjutkan dengan sarapannya.”


Suara lembut itu seperti menghipnotis. Reda mengambil mangkuk sup itu dan meminumnya.


“Enaknya~”


Reda tersenyum meminum sup itu. Melihat senyum itu, Aragaki merasakan sesuatu.


Seperti ada yang menyentuh hatinya, senyuman itu membuat Aragaki tidak melepaskan pandangannya dari gadis di hadapannya sekarang.


Senyuman itu menawan hati Aragaki.


“Kenapa aku tidak bisa berhenti melihat senyuman itu? Sejak kemarin sore, aku terus memikirkannya?”


Reda baru menyadari bahwa di sampingnya ada sang penguasa. Dia hampir menumpahkan supnya karena panik.


“Maafkan aku! Nushi-sama pasti tidak nyaman dengan aroma tubuhku ini.”


“Aku hanya datang melihat keadaanmu. Jika aku tidak melakukannya, mereka semua akan menerobos masuk lagi ke ruanganku seperti kemarin sore.”


“Menerobos masuk?”


“Bukan apa-apa. Untuk hari ini, kamu tidak perlu melakukan pekerjaan apapun. Biarkan Nagi dan teman-temannya yang melakukan itu. Ryuunosuke akan menemanimu sampai kamu sembuh.”


“Ta–”


“Jika kamu memaksakan diri lagi, rubah kecil itu akan menangis dan aku tidak tau bagaimana caranya untuk minta maaf pada Ryoko.”


“Aku mengerti. Terima kasih banyak untuk kebaikan hati Nushi-sama.” Reda tersenyum merona pada sang penguasa


Lagi-lagi, ada perasaan hangat di hati Aragaki saat melihat senyumnya.


“Apakah aku terlalu memikirkan kata-kata rubah kecil dan mereka semua kemarin?”


Di balik pintu, rubah kecil bersama ketiga pelayan Aragaki mencoba mengintip.


“Kau yakin kita akan baik-baik saja, Nagi?” tanya Kuroto sambil berbisik


“Memangnya kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi di dalam? Aragaki-sama di dalam berdua saja dengan Reda-sama itu adalah hal paling langka di sini!” jawab Nagi


“Sebentar…sekarang kau memanggilnya dengan sebutan Reda-sama?”


Nagi terlihat malu dan memilih mengabaikan pertanyaan Kuroto. Ryuunosuke tersenyum dengan ekor yang bergoyang cepat.


“Aragaki-sama bersama Reda-sama, serasi sekali~Ryuunosuke senang melihatnya. Ini keajaiban dari langit. Ryuunosuke senang, Ryuunosuke senang.”


Memang tidak ada apapun yang terjadi di dalam sana, namun melihat Aragaki mau menunggu Reda selesai dengan makanannya saja sudah cukup pantai dicatat dalam sejarah Higashi no Mori.


Saat makan, Reda terus merasa malu karena diperhatikan oleh Aragaki.


“Dewa, ini memalukan. Reda tidak bisa berhenti untuk gugup. Bagaimana ini?”


Pada akhirnya, Reda hanya terus makan tanpa mencoba melirik ke arah pria yang dikaguminya.


“Terima kasih untuk makanannya.”


Hal lain yang sangat mengejutkan adalah Aragaki sendiri yang membereskan mangkuk tersebut dan menyingkirkannya ke samping.


“Sudah lebih baik?”


“Su–sudah. Maaf sudah membuat Nushi-sama menunggu di sini.”


Reda masih terlalu canggung dan malu saat berhadapan dengannya. Itu wajar karena selama ini hanya penolakan demi penolakan yang diterimanya.


Tapi, kesempatan ini mungkin tidak akan pernah didapatkan olehnya jadi Reda berusaha untuk bersikap setenang mungkin walau sulit mengendalikan rasa malunya.


Aragaki keluar setelah Reda selesai makan. Dia tau bahwa para pelayannya yang sangat aktif itu mengawasi dari pintu dalam sehingga dengan sengaja Aragaki keluar dari pintu tersebut.


-Braak


“Eh?” Reda terkejut


Saat pintu dibuka oleh Aragaki, terlihat keempat pelayannya jatuh bersamaan.


“Aku senang sekali kalian mendapatkan hobi baru selain menerobos masuk ke kamar majikan kalian. Tampaknya menguping dan mengintip akan menjadi hobi yang bagus.”


“Aragaki…-sama. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan, percayalah.” Kuroto mencoba mengelak meskipun tubuhnya masih belum bangun. Aragaki hanya diam dan menatap dingin mereka semua.


Reda menjadi semakin malu mengetahui bahwa semua orang melihat dari balik pintu.


-Bluuush


Wajah merah Reda benar-benar sudah mencapai puncak. Melihat wajah Reda memerah, Ryuunosuke langsung bangun dan menghampiri Reda.


“Reda-sama tidak apa-apa?! Reda-sama pusing? Apa itu demam?” dia menjadi panik


Mendengar rubah kecil bicara begitu, Aragaki langsung menengok dengan cepat ke arahnya. Itu adalah rasa khawatir, Aragaki merasakan perasaan khawatir pada gadis itu.


-Deg


“Kenapa aku mengkhawatirkannya?”


Tidak mau memperlihatkan ekspresinya lebih dari ini, Aragaki memilih keluar. Ketiga pelayannya yang masih tersungkur di lantai memperhatikan sang majikan berjalan menuju ruangannya.


“Kalian lihat itu?” tanya Ginko pelan


“Lihat, aku lihat. Aragaki-sama tampaknya mulai sedikit perhatian pada Reda-sama. Ini hal yang bagus.” ucap Nagi dengan senyum


Mereka kembali melihat keadaan Reda dan mendapati gadis itu sedang memeluk Ryuunosuke.


“Reda-sama?”


Wajah Reda terlihat bahagia dengan air mata yang menetes.


“Ryuunosuke, apakah ini mimpi? Aku bisa…bicara dengan Nushi-sama. Nushi-sama duduk di sampingku dan terlihat dekat sekali. Apa ini mimpi?”


Mendengar itu, Ryuunosuke tersenyum senang dan memeluk gadis kesayangannya.


“Ini nyata, Reda-sama. Aragaki-sama duduk dan melihatmu. Syukurlah, Reda-sama. Ryuunosuke senang, Ryuunosuke senang.”


Rubah kecil itu melepas pelukannya dan menghapus air mata gadis itu, “Ini hal yang baik. Ini hal yang baik, Reda-sama. Akhirnya usaha kita tidak sia-sia.”


“Terima kasih sudah mau mendukungku. Rasanya senang sekali. Hati ini begitu bahagia.”


Mendengar itu, ketiga pelayan Aragaki ikut tersenyum senang.


**


Aragaki yang berjalan menuju kamarnya berhenti sebelum sampai. Dia terdiam.


“Kenapa hatiku merasa aneh? Sejak kapan?”


“Apakah sejak Shuen mengatakan hal aneh itu? Atau sejak semua pelayanku membelanya habis-habisan?”


“Atau mungkin…sejak aku melihat senyumannya kemarin?”


“Kenapa aku merasakan perasaan ini? Aku membencinya tapi di sisi lain sekarang…aku merasa aku ingin melihat seperti apa dia sebenarnya.”


“Kalimat rubah kecil dan pelayanku membuatku ingin tau. Ini seperti aku…ingin tau lebih dalam lagi mengenai gadis itu.”


Hanya kurang dalam waktu 2 minggu, Reda berhasil membuat kediaman Aragaki tampak berbeda.


Ingatan tentang kalimat rubah kecil soal cinta murni gadis itu telah menggelitik hatinya untuk melihat gadis itu.


“Saat aku melihatnya dari dekat, aku tidak pernah tau bahwa wajahnya selalu memerah karena malu seperti itu. Semakin aku memperhatikannya saat itu, aku semakin ingin melihat ekspresi lainnya.”


“Aku tidak mau mengakui ini. Tapi, aku ingin melihatnya lebih dekat.”


Kini, senyum yang dulu dianggap palsu akhirnya menjadi sebuah rasa hangat di dada sang penguasa.


****