The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 80. Kencan Sempurna bag. 2



Saat sampai di keramaian, Reda masih sedikit khawatir.


"Ini kedua kalinya aku ke tempat ini lagi tanpa penutup. Seperti saat pertama kali datang ke Higashi no Mori."


Gadis itu melihat kiri dan kanannya. Dengan menggenggam tangan sang penguasa, dia berjalan di sampingnya.


Sesekali, gadis itu menatap wajah Aragaki yang terlihat terang saat terkena cahaya matahari.


"Ah~Nushi-sama benar-benar mempesona."


Aragaki melihat gadis itu setelah menyadari dirinya sedang dipandang olehnya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu lihat?"


"Ma–maafkan aku! Ti–tidak ada, tidak ada yang ingin aku lihat. Aku hanya akan menemani Nushi-sama."


Reda menjawab dengan malu-malu, namun Aragaki tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Ini adalah kencan yang telah dipikirkan olehnya bersama para pelayan setianya.


"Pertama, aku harus membuatnya terbiasa dan nyaman saat bicara denganku."


Aragaki melihat toko makanan manis yang kemarin baru saja dikunjungi oleh mereka.


"Aku bermaksud membeli sesuatu, apa kita bisa mampir dulu?"


"Iya."


Mereka berdua akhirnya mampir kembali.


Pasangan suami-istri itu melihat kedatangan sang penguasa di tengah ramainya pengunjung.


"Astaga, Aragaki-sama! Ini benar-benar sebuah kejutan!" kata Nakuru, sang suami pemilik toko


"Aku hanya mampir untuk membeli sesuatu."


Istrinya, Tenko langsung tersenyum begitu melihat gadis yang pernah dibawa sang penguasa kemarin.


Dia langsung berjalan dan menyambut gadis itu.


"Selamat datang kembali."


"Selamat pagi, nyonya."


Sang istri melihat tangan gadis itu digenggam erat oleh sang penguasa.


"Oh~" telinga dan ekor rubah miliknya langsung bergerak cepat seperti sedang bersemangat


Aragaki bertanya pada gadis itu. "Apa ada yang kamu sukai?"


"Aku?" Reda bingung


"Aku ingin membeli sesuatu untuk dibawa ke tempat Jorogumo. Akan lebih bagus jika kamu yang memilihnya."


"Tapi, bukankah akan lebih baik jika Nushi-sama yang memilihkan? Jorogumo-sama akan jauh lebih senang."


Aragaki masih belum menyerah, "Kamu dan dia sama-sama perempuan. Mungkin saja selera kalian sama."


Sungguh alasan yang sangat dibuat-buat. Namun untuk gadis selugu dan sepolos Reda, hal itu akan jadi sangat masuk akal.


Kedua pasangan suami-istri yang melihat itu sepertinya menyadari hal yang coba dilakukan oleh tuannya.


Sang istri bahkan dengan inisiatifnya langsung menawarkan beberapa menu.


"Bagaimana jika mencoba yang ini dulu? Kalau dicicipi langsung, pasti akan langsung tau mana yang enak."


"Eh? Apakah...apakah tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak. Selain itu, kami juga ada menu lain dan menu baru." kata istri pemilik toko


Reda tersenyum mendengarnya. Melihat itu, tampaknya Aragaki membuat keputusan tepat.


Istri pemilik toko menunjukkan jalan ke tempat duduk keduanya, "Aragaki-sama juga silahkan ke sebelah sini. Aku dan suamiku akan membuatkan menu yang mungkin cocok."


Aragaki mengangguk. Keduanya di antar ke lantai atas.


Tempat yang dipilih oleh pasangan itu adalah tempat yang dekat dengan area terbuka yang teduh. Sangat cocok untuk bersantai dan menikmati kudapan.


Sang istri berbisik pada Aragaki, "Aragaki-sama, Anda harus berjuang! Dia gadis yang baik, karena itu jangan sampai lepas ya!"


"..." Aragaki bingung. Namun melihat Reda menatapnya bingung saat keduanya berbisik membuat Aragaki hanya merespon dengan senyuman untuk sementara waktu.


Sambil menunggu, kedua orang yang duduk saling berhadapan mulai mencoba bicara.


Tentu saja Aragaki memulainya lebih dulu karena gadis itu masih sangat malu.


"Ini lebih indah dari ruangan kemarin, benar kan?"


"Ah! I–iya."


"Kamu menyukainya?"


"Suka. Di sini bisa melihat pemandangan dari luar juga. Tapi..."


"Tapi?"


"Ruang yang kemarin juga indah. Tempat sangat mewah dan bagus." gadis itu tersenyum


Melihatnya tersenyum membuat Aragaki punya sedikit kepercayaan diri untuk membuat gadis itu mau sedikit santai dan nyaman.


Tidak lama setelah itu, makanan datang.


"Aragaki-sama, ini saran dariku. Silahkan dicicipi."


Reda melihat beberapa kudapan dan makanan yang tidak pernah dilihatnya.


Reda bertanya pada istri sang pemilik, "Maaf nyonya, ini apa? Ini bukan kudapan manis, kan?"


"Ahahaha, ini adalah menu baru yang niatnya ingin kami jual. Namanya tahu aburage. Banyak orang yang menyukainya."


"Abu...rage?"


Wajahnya menjadi terlihat bahagia. Walaupun aneh karena toko kudapan manis justru menyediakan makanan asin gurih, namun hal itu tidak menurunkan rasa ingin tau gadis itu.


"Silahkan dimakan."


"Terima kasih banyak, nyonya."


Sang istri pemili toko terlihat senang. Baru beberapa langkah berjalan, dia menengok kembali dan merasa bahwa dua orang yang duduk berhadapan itu adalah gambaran sempurna dari pasangan yang baru memulai cinta.


Aragaki telihat senang melihat gadis itu tersenyum tanpa malu di depannya.


"Akhirnya dia bisa terlihat senang."


Reda mencium aroma lezat itu dan membuatnya lapar.


Menyadari gadis di depannya ingin makan, Aragaki langsung mengambil piring kecil di meja dan memberikannya untuk gadis itu.


"Ini, makanlah. Jika rasanya enak, kita bisa bawakan ini untuk Jorogumo."


"Tapi, bagian Nushi-sama?"


"Aku ingin dengar pendapatmu dulu. Makanlah ya."


Reda memerah karena senyuman lembut pria yang sangat dicintainya dalam diam.


"Nushi-sama...mengambilkan hidangan ini untukku. Aku benar-benar sangat senang. Rasanya pasti berkali-kali lipat lebih enak."


Gadis itu mengambil sumpit dan memakannya. Rasa asin gurih dan renyah membuatnya begitu menikmatinya.


Mata yang berbinar dan wajah senang terlihat.


"Nushi-sama, ini enak! Rasanya asin gurih dan renyah sekali~"


"Benarkah?"


"Iya. Rasanya sungguh lezat."


"Syukurlah. Aku rasa Jorogumo akan menyukainya juga."


"Aku yakin Jorogumo-sama pasti suka."


Reda memakannya lagi dengan penuh senyum. Seperti lupa bahwa di depannya ada sang penguasa, gadis itu benar-benar lahap memakannya.


Tanpa sadar dia sudah menghabiskan aburage yang ada di piring kecilnya.


"Ah!" saat makanan itu habis tak bersisa, Reda baru sadar bahwa dia memakannya sendiri tanpa menawarkannya pada sang penguasa.


"Ma–maafkan aku, Nushi-sama! Aku menghabiskannya tanpa–"


"Tidak apa-apa. Aku yang memintamu mencicipi itu. Rasanya enak, iya kan?"


"I–iya." Reda menjawab dengan malu-malu


"Kalau begitu coba makan lagi. Masih banyak yang bisa dicicipi."


Aragaki mengambil piring kecil Reda dan mengambilkan kembali makanannya. Hal itu sungguh sangat mirip seperti pasangan suami-istri yang makan bersama.


Setidaknya itulah yang dilihat oleh Hakuren dan Kuroto dari luar.


Mereka mengamati dari sisi bangunan di seberang toko tempat keduanya makan.


Karena jendela terbuka, kedua tengu itu bisa melihat dengan sangat jelas apa yang dilakukan tuan mereka kepada gadis desa yang lugu tersebut.


"Kau lihat itu? Aragaki-sama benar-benar berubah. Beliau benar-benar memperlakukan gadis itu dengan baik sekarang." kata Kuroto dengan wajah lega


"Benar."


Hakuren tersenyum dan mengatakan kalimat yang sudah lama ada di pikirannya, "Aku seperti melihat pasangan yang sangat serasi."


"Seandainya Reda-sama menjadi istri Aragaki-sama, aku yakin hanya senyum kebahagiaan yang akan ditunjukkan Aragaki-sama setiap hari."


Kuroto tidak menjawabnya, namun dia terlihat seperti memiliki pikiran yang sama.


Aragaki memberikan piring kecil milik Reda yang telah diisi makanan olehnya.


"Makanlah lagi."


Reda yang mengambil sumpit dan mengambil sepotong makanannya mulai ragu.


"Apakah...apakah Nushi-sama tidak mau mencicipinya juga?"


"Mencicipinya?"


"Aku...aku akan mengambilkanya untuk Nushi-sama juga."


Aragaki melihat tangan sang gadis yang masih memegang makanan dengan sumpitnya.


Dengan lembut, tangan Aragaki memegang sumpit beserta tangan gadis itu dan memakan sepotong makanan dari sumpit yang digunakan oleh gadis itu sebelumnya.


Gadis itu terkejut.


"Eh?!"


"Hah?!" Hakuren dan Kuroto langsung terlihat syok


Aragaki memakan makanan yang masih ada pada sumpit gadis itu.


Wajah Reda langsung berubah merah dan tangannya begitu dingin sekarang.


Aragaki yang selesai menelan makanan di mulutnya melihat gadis itu dan tersenyum.


"Makanan ini terasa sangat enak. Lebih enak dari yang pernah aku makan di sini. Kamu benar. Rasanya lezat. Terima kasih."


Secara sadar, Aragaki dengan sengaja memakan makanan yang diambil Reda dengan sumpit yang telah dipakainya untuk makan.


"Mungkin jika aku mencicipi makanan lain yang diambilkan olehmu, rasanya akan semakin enak."


Sang penguasa mulai memperlihatkan sikap perhatiannya tanpa ragu dan hal itu membuat sang gadis desa yang cantik menjadi semakin malu dan berdebar.


****