The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 114. Melawan Sang Iblis



Di pertarungan, Hakuren dan Kuroto sedang membunuh para Ara-mitama yang muncul sebelumnya.


“Sial! Baru juga mati satu, sudah muncul lagi Ara-mitama yang lain!” gerutu Kuroto


“Kita harus membunuh sumbernya yaitu Nue, tapi…”


“Tidak perlu kau ingatkan aku juga tau! Tapi untuk ke sana, puluhan Ara-mitama ini harus dilenyapkan dulu!”


Hakuren berpikir, “Menerobos untuk membantu Nagi mungkin akan sulit, apalagi setiap kali mati, mereka akan muncul dengan jumlah dua kali lipat dari yang baru kami kalahkan. Kalau begini, tidak akan selesai!”


Kuroto menyerang para Ara-mitama itu dengan mengeluarkan kertas kuning dari balik pakaiannya.


“Aku lelah bermain-main dengan para kerdil ini. Hakuren, minggir dari jalanku kalau tidak mau hangus terbakar!”


Hakuren menengok dan langsung terbang ke atas. Kuroto menuliskan sesuatu dan melemparkan kertas kuning dengan tulisan dari darahnya tersebut.


“Moesakaru no Hi yo, yami o fukitobase. Fuda-Ikari no Bakuhatsu (wahai api membara, lenyapkan kegelapan. kertas mantra-jurus api ledakan)”


Kuroto melempar kertas itu dan secara ajaib, muncul ratusan kertas kuning yang membentuk lingkaran dan menyemburkan banyak api. Semua api-api tersebut membakar hangus para Ara-mitama tanpa sisa.


Untuk api yang satu ini, jelas membuat seluruh pepohonan yang ada di sana ikut terbakar. Karena itu, Hakuren terbang sedikit lebih ke atas untuk mengantisipasi hal tersebut.


Dengan cara yang sama, dia mengeluarkan kertas kuning dan membacakan mantra.


“Orite kite daichi o nurasu. Fuda-Azuma no Mori no Ame (turunlah dan basahilah bumi ini. Kertas mantra-hujan dari hutan timur)”


Kertas mantra tersebut dilemparkan ke udara dan seketika mengeluarkan air dalam jumlah banyak yang menyebar seperti hujan.


Begitu seluruh Ara-mitama itu dihilangkan, api mulai dipadamkan sehingga tidak begitu banyak kerusakan yang terjadi.


Selama kurang lebih 10-15 menit, api sudah pada seutuhnya dan seluruh Ara-mitama dengan kegare milik mereka telah hilang sebelum menyebar kembali.


“Kerja bagus, Hakuren.” puji Kuroto dengan tubuh yang basah akibat terkena hujan buatan Hakuren. Namun tampaknya dia tidak memikirkan itu. “Satu masalah selesai, selanjutnya yang tersisa adalah iblis terkutuk itu. Kita harus segera membantu Nagi!”


“Aku mengerti. Ayo!”


**


Sementara itu, di saat yang sama saat Hakuren dan Kuroto melawan para Ara-mitama itu, Nagi dan Nue telah bertarung sampai menghancurkan beberapa pohon di sana.


Serangan Nagi dan tombak apinya tidak mudah menyerang Nue yang bergerak cepat.


Namun sebelum ini, Nagi berhasil memberikan sedikit luka pada bagian kaki depan dan sisi samping kanan tubuhnya. Hal itu terjadi tidak lama setelah sang majikan pergi membawa Reda pergi.


“Enyahlah kau dan matilah dengan penyesalan!” itulah teriakan yang dikatakan olehnya sebelum ini


-Craaat!


“Aaakh!!”


Teriakan dari Nue terdengar. Itu adalah saat dimana dia terkena serangan dari Nagi pada bagian kaki depannya. Lalu, Nagi kembali melompat ke sisi samping kiri untuk mendaratkan serangan kedua.


Untuk serangan ini gagal karena Nue langsung menebisnya dengan hempasan angin yang berasal dari energi spiritualnya.


Nagi terpaksa melompat untuk menghindari angin tersebut dan langsung menghunuskan tombaknya ke bawah, tepat menuju punggung atas sang siluman iblis buas berkaki empat tersebut.


“Jangan bermimpi untuk berhasil menyerangku lagi!”


Nue membalas Nagi dengan cakar besarnya. Nagi yang dalam posisi turun langsung menggunakan tombaknya untuk menghalangi serangan cakar tersebut dan menghindar ke sisi kanan. Barulah dia berhasil menyerang sisi kanan tersebut.


Itulah yang terjadi.


Sekarang, inilah lanjutan dari pertarungan tersebut.


Nagi mulai menyerang kembali dengan Nue yang terus mencoba memancing emosinya dengan kalimat penuh kemarahan.


“Dasar tidak berkaca! Kau kira siapa yang memberimu tempat berlindung setelah semua bagian hutan menentangmu, hah?!”


“Ini tidak ada hubungannya dengan semua itu! Aku ingin gadis itu kembali!”


“Gadis itu tidak akan kemanapun! Dia akan menjadi istri Aragaki-sama dan kau telah berani menyentuhnya! Rasakan ini!”


Nagi menusuk telapak tangan Nue yang mencoba nyerangnya. Namun serangan tersebut tidak begitu berpengaruh kali ini.


Kulit Nue menjadi sedikit lebih keras sehingga tombak Nagi tidak bisa menggores atau menembusnya sekarang.


“Apa?!”


“Rasakan ini!!” Nue memberikan dorongan keras pada Nagi. Hal tersebut langsung ditahan oleh tombak milik Nagi meskipun membuat tanah yang dipijaknya retak dan menciptakan lubang.


“Kh!”


Nue memanfaatkan hal tersebut untuk memberikan serangan terbaik sampai akhirnya dari kejauhan, terdengar suara teriakan.


“Nagi!”


Itu adalah Hakuren dan Kuroto. Mereka langsung menghunuskan pedang mereka ke arah depan dan bersiap untuk menusuk tubuh Nue.


Nue berusaha menghindar dan melompat ke sisi samping dengan terpaksa sehingga membuat Nagi akhirnya tidak lagi dalam tekanan.


Iblis itu terlihat tidak begitu merasakan rasa sakit jadi dia tidak memikirkan semua serangan balasan dari para pelayan Aragaki. Namun tetap saja, pedang yang menancap di dekat wajahnya itu cukup terasa.


“Pedang ini mengganggu! Aku akan mendapatkan gadis itu! Aku akan mendapatkannya!”


Hakuren dan Kuroto berdiri di depan Nagi.


“Kau baik-baik saja, Nagi?”


“Aku tidak apa-apa. Aku akan membereskan dia sebelum Aragaki-sama tiba di tempat ini. Dia harus mati karena sudah membuat Reda-sama sampai seperti itu!”


“Jangan cemas, bukan hanya kau yang akan membuat dia merasakan akibatnya. Aku dan Hakuren kebetulan juga punya pikiran yang sama.”


Nue dengan sombongnya tertawa, “Ahahaha, hanya rubah dan gagak saja sudah sangat sombong. Ini bukan kemampuanku yang sesungguhnya. Aku tidak akan pernah menyerahkan gadis itu kembali pada siapapun termasuk Aragaki-sama!!”


-Graaaar!!


Nue terlihat menumbuhkan ekornya kembali yang telah putus oleh Aragaki sebelumnya, mulai berubah menjadi besar, bahkan ukurannya dua kali lebih besar dari yang sebelumnya, kuku tajam serta taring besar juga muncul.


Sungguh sebuah perubahan yang sangat besar. Namun satu yang tidak berubah, yaitu kenyataan bahwa pedang milik Aragaki masih menancap padanya.


“Aku akan membunuh kalian dan mengambil gadis itu kembali!”


Saat dirinya hendak menyerang ketiga pelayan Aragaki, pedang milik Aragaki mulai bergerak. Perlahan kemudian dengan cepat seperti memotong dari bagian mulut sampai ke leher dengan sendirinya.


"Graaaaar!!!!”


Itu adalah ringisan kesakitan. Pedang Aragaki kemudian menusuk bagian dimana dia berhenti bergerak yaitu leher Nue sebelum akhirnya terlepas dan pergi kembali menuju sisi dalam hutan.


Pedang itu sudah berada di tangan seseorang sekarang dan itu adalah sang pemilik.


“Aku akan membuatmu membayar semua yang telah kamu lakukan, Nue. Gadis itu terluka, menangis dan ketakutan…aku harap kamu merasakan hal yang sama. Aku tidak akan memberikan kematian yang mudah untukmu.”


Ketiga pelayan Aragaki melihat sang penguasa keluar dari arah pepohonan hutan dan mulai menampakkan sosok wajah penuh kemarahan dengan rambut panjang serta ekor besarnya.


“Kamu akan berakhir bersama malam dan tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi besok.”


****