
Di saat yang sama saat Nagi dan Ginko kembali setelah mengetahui petunjuk tentang sosok yang mengikuti mereka, Hakuren dan Kuroto berada di langit hutan di sekitar kediaman Aragaki.
Hutan tersebut adalah wilayah istimewa karena berada dekat dengan kediaman sang penguasa.
“Menemukan sesuatu, Hakuren?”
“Tidak. Tidak di sini. Sepertinya di kedalaman hutan ini tidak ada apapun. Selain itu, aku tidak tau tapi…aku merasa kita harus maju sedikit lagi.”
“Mau sampai ke mana?” tanya Kuroto dengan wajah serius
“Perbatasan ‘tempat itu’ kurasa.”
“Tempat yang kau maksud…Nue no Kurai Dokutsu (gua kegelapan Nue)?”
Hakuren mengangguk, tapi tampaknya Kuroto sedikit tidak setuju dengan ide tersebut.
“Aku rasa itu berlebihan. Letaknya sangat jauh dari dalam hutan yang biasa didatangi oleh gadis desa itu dan lagi…untuk apa kau sampai berpikir sejauh itu?”
Hakuren yang mendengar respon temannya kemudian terdiam dan memilih turun ke bawah dan tertunduk.
Di dalam hatinya, dia termenung, “Aku tidak tau, tapi aku hanya berpikir bahwa mungkin ini akan berbeda. Kenapa hatiku merasa bahwa aku harus melihat ke sana?”
Kuroto yang melihat temannya turun akhirnya ikut turun dan menghampirinya, “Bukankah kau itu sudah keterlaluan jika kita sampai mencari ke tempat Nue? Iblis Nue tidak akan melakukan apapun sampai Aragaki-sama sendiri yang melempar gadis desa itu ke sana.”
“Tapi aku rasa Aragaki-sama akan berhenti melakukannya tahun ini dan setelah ini…Aragaki-sama mungkin tidak akan membutuhkan gadis desa lain.”
Jawaban Hakuren membuat Kuroto terkejut. Dia baru menyadari sesuatu.
“Benar juga, Aragaki-sama sudah mulai tertarik dan jatuh cinta pada gadis desa itu. Kemungkinan tahun ini dan tahun-tahun mendatang tidak akan ada manusia yang akan menginjakkan kaki di Higashi no Mori.”
“Iblis Nue mungkin tidak akan memakan apapun tahun ini. Jadi begitu, inilah yang dikhawatirkan oleh Hakuren rupanya.”
Kuroto memastikan sesuatu, “Mungkinkah kau cemas karena tidak akan ada persembahan untuk iblis Nue lagi?”
Hakuren terlihat serius dengan ekspresinya, “Begitulah. Hanya firasat tapi melihat dari cerita dan sejarah panjang sejak tragedi itu, Aragaki-sama tidak pernah absen memberikan korban kepada iblis Nue.”
“Sudah lebih dari 200 gadis desa yang menjadi makanannya setiap tahun karena Aragaki-sama begitu menolak untuk berdamai.”
“Dan kini, Aragaki-sama telah menemukan sosok gadis yang berbeda dari sebelumnya.”
“Ini mungkin terdengar tidak sopan untukmu, Kuroto. Aku ingin Reda-sama menjadi yang pertama dan terakhir untuk beliau.”
“…” Kuroto terdiam mendengar semua kalimat Hakuren. Dia tau sejak awal temannya itu begitu menaruh harapan pada gadis itu dan sangat peduli padanya seperti rubah kecil.
Kuroto terdiam. Dia mulai berpikir kembali untuk memeriksa tempat yang menjadi sumber keresahan hati temannya.
“Aku mengerti. Kita coba–”
-Deg
Sebuah perasaan yang aneh dirasakan oleh kedua tengu tersebut.
“Apa ini?!” tanya Kuroto dengan ekspresi panik
“Aku tidak tau. Kita harus melihatnya, Ini tidak baik!”
Keduanya terbang menuju tempat yang dirasa buruk oleh mereka dan begitu sampai, mereka melihat di depan mereka penuh dengan daun kering.
“Apa…ini? Apa yang terjadi?”
Tidak semua tempat menjadi kering, namun sebagian besar sampai beberapa meter di depannya mongering. Batang pepohonan ada banyak yang berubah lapuk dan keduanya mengamati daun-daun serta tanahnya tampak mati.
Hakuren dan Kuroto memeriksa seluruh tempat itu.
“Aku akan melihat ke depan. Kau tunggu di sini!” kata Kuroto
Dia terbang dengan ketinggian rendah untuk memeriksa di depannya. Hakuren mulai menyentuh dan mengambil beberapa dedaunan. Daun yang diambilnya mudah sekali hancur tak berbekas ditiup angin.
“Seluruh sari-sari kehidupannya menghilang. Apa yang terjadi sebenarnya?”
**
Sementara itu, Nagi dan Ginko menghadap sang penguasa yang berada di ruangannya setelah selesai memakan kudapan manis dari gadis desa itu.
“Masuk.”
Begitu masuk, tidak lagi basa-basi. Nagi dan Ginko langsung duduk dan melaporkan kejadian yang dialaminya dari arah pasar sampai yang terbaru.
Ekspesi Aragaki terlihat serius dan dingin. Setiap laporan yang diterima dari kedua youko itu membuatnya begitu dingin. Sang penguasa mencoba menahan dirinya.
Ginko kemudian mengatakan tebakannya, “Itu seperti mitama, Nushi-sama. Tapi kami tidak yakin apakah itu benar sosok mitama atau bukan. Selain itu, ada banyak sosok mitama yang mungkin berkeliaran di sekitar Higashi no Mori.”
Aragaki terlihat berpikir sambil mengatakan sesuatu.
“Sekarang jelas kenapa aku tidak bisa mendeteksi kehadiran mereka.”
“Mitama memiliki karakteristik seperti jiwa suci pilihan. Karena itu tidak semua mitama bisa dirasakan keberadaannya.”
“Meskipun begitu, ada banyak mitama di sini. Mitama mana yang mungkin mengincar Reda-sama?” tanya Ginko kembali
“…” Aragaki terdiam sambil serius berpikir
“Mitama adalah jiwa yang masuk ke hutan Higashi no Mori dan sejak dulu dipercaya sebagai jiwa yang dilindungi oleh Dewa.”
“Karena itu, aku tidak pernah merasakan adanya ancaman apapun. Mereka adalah jiwa yang menyatu dengan baik di hutan ini.”
“Meskipun ada Ara-mitama sekalipun, tapi mereka bukanlah jiwa yang akan melakukan hal buruk. Siapa yang mengawasi gadis itu?”
Aragaki masih belum menyadari badai yang mendekat. Namun, dia mencoba tenang dan mulai berpikir jernih.
“Aku mengerti, terima kasih untuk laporannya. Aku rasa, aku akan mulai mencari tau sendiri nanti malam. Tolong jangan katakan hal ini kepada rubah kecilku. Hakuren dan Kuroto akan aku beritau begitu mereka kembali.”
“Baik.” jawab keduanya
“Kalian boleh pergi sekarang.”
Kedua youko itu pergi meninggalkan ruangan Aragaki. Di balik rasa cemasnya, sang penguasa ingin melihat keadaan gadis yang menjadi sumber rasa khawatirnya.
Dari sinilah, Aragaki keluar dari ruangannya untuk menemui gadis desa tersebut.
Sang penguasa bertemu dengan gadis itu bersama rubah kecilnya saat mereka hendak membawa barang-barang menuju dapur. Dia membantu gadis itu membawakan barangnya, menemaninya mengambil sisa barangnya kembali dan berjalan berdua saat hendak ke dapur bersama.
“Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya dan…aku akan mulai menerima kenyataan bahwa aku telah jatuh cinta padanya.”
Itulah pengakuan paling dalam dan tulus dari Aragaki pada dirinya sendiri saat ini. Mencoba untuk tidak membohongi dirinya, dia akhirnya mengerti perasaan itu.
Cinta, itulah nama perasaan indah di dadanya saat ini.
Setelah selesai mengantarkan semua benda-benda itu ke dapur, Aragaki masih berada di sana sambil memperhatikan senyuman gadis cantik itu saat dirinya membuka peralatan makan yang dibeli Nagi dan Ginko.
**
Di hutan saat ini, Kuroto yang terbang mengikuti jejak tanah tandus yang mati itu mulai pucat.
“Terlalu banyak, ini sudah terrlalu banyak. Bukan hanya satu dua pohon, tapi sepanjang jalan ini hampir seluruhnya mati dan lapuk. Kenapa?” tanya Kuroto dalam hati
Kuroto mendarat dan berjalan. Dia melihat sebuah pemandangan sangat tidak mengenakkan.
“Ini gila…”
Wajahnya syok sekarang dan dia menjadi pucat. Tidak berlarut-larut lagi, dia kembali terbang ke belakang menemui Hakuren.
“Hakuren harus lihat ini. Kami berdua harus melaporkan ini pada Aragaki-sama. Ini serius!”
Begitu sampai, Kuroto tidak membutuhkan waktu lama untuk menarik temannya itu bersama. Tanpa menjelaskan apapun, Kuroto terbang sambil menarik temannya dan betapa pucatnya Hakuren.
“Ini bencana.”
“Kita kembali dan laporkan ini pada Aragaki-sama. Beliau harus melihat ini sendiri!” ujar Hakuren dengan wajah serius. Kuroto mengangguk dan mereka kembali ke kediaman Aragaki.
Begitu sampai, sebelum memberitau kepada sang penguasa, mereka melihat kedekatan tuannya dengan Reda di dapur.
Sekarang, rasa enggan menghancurkan momen indah itu akhirnya membuat mereka terpaksa menunda berita penting ini.
****