The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 51. Membuat Hadiah Untuk Aragaki-sama



Di salah satu ruangan kosong, Reda bersama Ryuunosuke duduk sambil menyusun semua yang telah mereka beli.


“Ada pita untuk hiasannya, batu warna-warni agar indah, tusukan ini agar bunganya berdiri tegak dan…” Reda melihat ke arah rubah kecil


“Huwaaa~” rubah kecil itu masih memperhatikan mangkuk cantik dengan ukiran gambar bunga dan pohon sakura di tangannya.


Reda bisa melihat betapa senangnya rubah kecil itu dari ekornya yang bergoyang ke kanan dan kiri serta telinganya yang berputar.


“Dia pasti sangat senang. Jika Nushi-sama melihat ini, beliau akan tersenyum karena tingkah rubahkecilnya yang menggemaskan. Lucunya~”


Reda memperhatikan rubah kecil itu sambil tersenyum senang dan mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


“Ryuunosuke senang ya?”


“Senang! Lihat ini, Reda-sama! Aragaki-sama pasti menyukai gambar bunga sakura ini!”


“Iya. Kalau begitu, letakkan mangkuknya dulu dan kita cari bunga untuk disusun sebagai hiasan ikebana ya. Nanti Ryuunosuke yang menyusunnya agar cantik.”


Rubah itu terlihat senang dan berlari lebih dulu ke taman. Reda yang keluar ruangan di belakangnya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya.


“Ya Dewa yang Agung, aku mohon semoga amarah Nushi-sama setelah ini tidak lagi muncul dengan dibuatnya hadiah ini.”


“Semoga beliau tidak lagi marah agar rubah kecilnya bisa terus merasa senang seperti ini.”


Reda berjalan mengikuti rubah kecil. Tanpa disadari olehnya, doa itu didengar oleh Nagi dan Ginko yang ada di belakang Reda.


Bersama dengan itu, angin lembut mulai bertiup. Kelopak bunga sakura yang sangat tipis dan ringan menari bersama angin. Cuaca cerah yang ceria seperti menemani mereka.


Kedua youko itu mengiringi harapan Reda.


“Aku harap apa yang Reda-sama harapkan menjadi kenyataan. Aku tidak ingin Nushi-sama marah lagi pada semua orang di sini, terutama pada Reda-sama dan Ryuunosuke.” kata Ginko dengan wajah sendunya


Kalimat Ginko telah membuat Nagi terdiam sejenak. Dia melihat rubah kecil yang senang dengan gadis desa itu.


Gadis desa itu mau menemani rubah kecil kesayangan Aragaki sehingga Nagi melihat, untuk pertama kalinya rubah kecil itu menjadi anak-anak pada umumnya.


“Kau benar, Ginko. aku juga berharap begitu. Sekalipun itu terjadi, aku rasa sudah waktunya membela mereka.”


“Sejak Aragaki-sama sendiri mengatakan bahwa beliau kecewa pada kita. Kenapa tidak sekalian kita tunjukkan pada Aragaki-sama, sejauh apa ‘pengkhianatan’ kita padanya.”


“Nagi…”


“Jika saat Aragaki-sama kembali, beliau masih mengingkari semua tentang gadis desa itu…aku mungkin akan mengorbankan kesetiaanku demi menyadarkan Aragaki-sama."


"Kita berempat adalah saksi dari semua yang dilakukan gadis desa itu.”


Mata Nagi menunjukkan kesungguhan.


Tampaknya, kedua youko itu telah memutuskan untuk menjadi ‘pengkhianat’ demi mempertahankan pemandangan yang telah mereka lihat.


**


Di kediaman Shuen, Aragaki dan sang pemilik rumah disuguhkan makanan oleh para kelinci kecil. Siluman kelinci itu membawakan begitu banyak makanan lezat dengan lauk yang sangat menggugah.


“Makanlah dulu sebelum pulang, Aragaki. Percayalah, masakan mereka itu enak sekali.” kata Shuen dengan senyum


Aragaki hanya mengangguk pelan. Aroma masakan itu memang lezat, tapi entah kenapa seperti ada yang berbeda.


“Aromanya tidak begitu membuatku tergugah untuk makan.”


Dia hanya menyimpan pikiran itu di dalam hatinya karena tidak ingin menyakiti hati sang teman. Suapan nasi hangat pertama masuk ke dalam mulutnya. Dia mendengar Shuen tampak memuji masakan pelayannya.


“Enak sekali, Yumekichi. Kamu makin pintar memasak ya.”


“Aww~senangnya! Terima kasih banyak, Nushi-sama! Yumekichi senang sekali~”


“Iya iya. Kembalilah. Kalau sudah tidak ada yang perlu dikerjakan, kalian boleh main ya.”


“Terima kasih banyak, Nushi-sama. Yumekichi permisi dulu. Aragaki-sama, semoga menikmati masakan Yumekichi.”


“Iya, ini enak. Terima kasih, Yumekichi.”


Kelinci kecil itu pergi meninggalkan ruangan. Shuen memakan masakan itu dengan penuh rasa puas. Dia sempat melihat wajah temannya.


“Ada apa? Apa masih memikirkan hal yang tadi aku katakan padamu?” tanya Shuen dengan lembut


“Bukan. Tidak apa-apa.”


“Aku minta maaf kalau menyinggungmu soal yang tadi.”


“Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa.”


Aragaki tidak mengatakannya. Dia tidak begitu menyukai masakan di meja.


“Rasanya tidak asin, rasa gurih yang kurang. Selain itu, nasi yang dibuat Ryuunosuke akhir-akhir ini memiliki rasa karena jamur dan bumbu di dalamnya saat dimasak.”


“Sup miso ini hanya berisi rumput laut dan tahu tanpa sayur. Entah kenapa, sup buatan Ryuunosuke memiliki cita rasa yang berbeda di tiap harinya, membuatku menantikan masakan itu lagi setiap hari.”


“Aku…lebih suka rasa buatan rubah kecilku itu. Dan karena kemarahanku, aku yakin rubah itu pasti sedang menangis sekarang.”


Aragaki menyantap semua makanan itu, tapi pada akhirnya dia tidak menghabiskannya.


Dia pergi dari tempat Shuen menuju pasar, mengingat dia ada janji dengan Jorogumo untuk mengambil pita pesanannya.


Sesampainya di sana, dia hanya mampir untuk mengambil pita dan pergi dari sana.


Sepanjang jalan dia terus memikirkan ekspresi takut dan sedih milik rubah kecilnya.


“Aku ingin tau, bagaimana keadaannya sekarang. Aku sengaja tidak kembali ke rumah. Apakah dia masih menangis sekarang?”


Dari langit, Hakuren dan Kuroto yang sedang berpatroli melihat tuan mereka dari atas langit.


“Hakuren, itu Aragaki-sama!”


“Kau benar. Mau coba mengikutinya?”


“Kurasa itu ide yang bagus.”


Keduanya memutuskan untuk mengikuti kemana Aragaki pergi.


**


Di kediaman Aragaki, rubah kecil itu sibuk melihat-lihat bunga di taman yang luas di kediaman Aragaki.


“Reda-sama, bagusnya pakai bunga yang mana ya?”


“Terserah Ryuunosuke. Ini adalah hadiah dari Ryuunosuke jadi harus Ryuunosuke yang memilihnya sendiri.”


“Reda-sama tidak mau membuat satu juga untuk Aragaki-sama?”


Reda tersenyum sambil memeluk rubah kecil itu.


“Tidak usah. Nushi-sama akan jauh lebih bahagia menerima hadiah yang benar-benar Ryuunosuke buat dibandingkan dengan milikku.”


“Reda-sama…” rubah kecil itu sedikit murung, tapi Reda tidak membiarkan hal itu terjadi terlalu lama


Mereka menghabiskan waktu sangat lama hanya untuk memilih bunga di taman.


“Ryuunosuke bingung. Aragaki-sama menyukai bunga sakura, tapi Ryuunosuke tidak mau memetik jiwa teman-teman kami di langit. Bagaimana ini?”


“Kita pilih yang lain saja kalau begitu ya.”


Begitu mereka berdiri, angin kembali bertiup kencang. Dahan-dahan bunga sakura tampak menari-nari. Kedua orang itu tampak begitu terkejut dengan pohon sakura yang terlihat seperti hidup.


“Anginnya kencang sekali, sampai membuat dahan dan batang bunga sakuranya bergoyang seperti itu.” kata Reda terkejut


Rubah kecil itu melihat kelopak yang berguguran karena tertiup angin di tanah. Sebuah ide muncul.


“Reda-sama, Reda-sama. Ryuunosuke ingin menambahkan bunga sakura di tanah sebagai tambahan hiasan, boleh?”


“Eh?”


“Bunganya sudah di tanah. Teman-teman pasti mengizinkannya.”


Reda hanya mengangguk dan mengikuti keinginan rubah kecil itu. Dari kejauhan, kedua youko memperhatikan hal yang dilakukan mereka tanpa berkomentar.


Reda mengumpulkan semua kelopak bunganya hingga ada dua buah dahan kecil penuh bunga sakura jatuh di depannya.


“Ryuunosuke, lihat! Ada yang jatuh!”


“Apanya yang jatuh?”


“Ini.” Reda mengambil dua dahan kecil penuh bunga sakura itu. Betapa senangnya rubah kecil itu sekarang.


“Huwaa~ada yang jatuh! Teman-teman di langit pasti menolong Ryuunosuke. Terima kasih, semuanya. Terima kasih, ibu. Senangnya~”


Keduanya masuk ke dalam dengan kelopak sakura di tangan dan dua dahan kecil bunga sakura. Kedua youko yang melihat tersenyum ke arah pohon sakura di kejauhan.


“Terima kasih banyak, kalian yang ada di langit karena sudah mau membantu rubah kecil itu.”


Reda dan Ryuunosuke akhirnya membuat hadiah dari bunga sakura itu. Dengan sabar, gadis desa itu benar-benar mengajarkan rubah kecilnya membuat hiasan tanpa menyentuh dan membantunya.


“Ini istimewa karena buatan Ryuunosuke. Tinggal tambahkan pita di sini dan selesai.”


Ikebana itu selesai. Betapa senangnya Ryuunosuke melihat hasil buatannya sendiri.


“Cantiknya~”


Ryuunosuke berlari untuk mengambil air dan begitu mangkuk diisi, sentuhan terakhirnya adalah kelopak sakura yang diambil oleh keduanya diletakkan di atasnya.


Sebuah hadiah indah untuk tuan yang dicintainya. Dengan penuh sinar kebahagiaan, hadiah terindah untuk Aragaki-sama telah selesai.


****