
Di pagi hari, Reda terbangun dengan tubuh yang sangat kelelahan.
Akibat menangis semalaman, suaranya menjadi serak dan matanya menjadi sembab dan sakit. Dia tidak memiliki air matang untuk diminum karena telah kehabisan korek terakhir kemarin, sehingga gadis itu terpaksa mengambil air di sumur di belakang gubuknya minum.
Mengingat semalam dia tidak mandi dan langsung tidur karena kelelahan secara fisik maupun mental, dia lupa kalau dia sendiri belum mencari sesuatu di hutan untuk dimakan. Selesai mandi dan memakai pakaian yang dipakainya kemarin, Reda bersiap untuk mencari sesuatu ke dalam hutan.
“Ryuunosuke sudah tidak diizinkan untuk datang ke sini jadi aku harus mencari makanan di hutan. Apa aku bisa pergi sebentar sebelum ke tempat Ara…Nushi-sama ya.”
Gadis itu ingat dirinya tidak boleh lagi memanggil nama Aragaki. Terakhir kali dia memanggilnya adalah kemarin malam saat Ryuunosuke menyusulnya.
Niat hati ingin pergi ke hutan dengan pakaian yang dikenakannya kemarin, Reda terkejut melihat dua keranjang di depan pintunya.
“Keranjang?”
Reda melihat ada banyak tumpukan daun di atasnya. Sekilas itu seperti sampah, namun ketika dibawa masuk olehnya, Reda melihat pakaian bersih di tiap keranjang.
Setelah daun-daun itu dibersihkan kembali, gadis itu melihat ada banyak timun dan tomat segar serta ubi. terdapat lilin dan batu pemantik di salah satu keranjang tersebut. Sedangkan di dalam keranjang lainnya, terdapat cairan beraroma herbal seperti yang digunakannya untuk mandi dan mencuci.
Gadis itu tampak begitu terharu sampai mengeluarkan air mata.
“Ini pasti rubah manis itu.” ucapnya sambil mengeluarkan air mata
Tapi mengingat bahwa Aragaki telah memerintahkan Ryuunosuke untuk melarangnya membawakan apapun, Reda tidak menyentuhnya sama sekali.
Dia merapikan kembali kedua keranjang itu dan membawanya bersama ke dalam kediaman. Di pagi itu, Reda akhirnya tidak mencari apapun untuk sarapan dan datang lebih awal.
Reda bertemu dengan Ryuunosuke yang sudah menunggunya. Baru ingin memberinya salam, Ryuunosuke terkejut dengan dua keranjang yang dibawa oleh Reda.
“Re–Reda-sama, kenapa?”
“Ini benar Ryuunosuke yang meletakkannya, iya kan?”
“Itu…”
Reda meletakkan keranjang itu di tanah dan berlutut sambil mengelus-elus rubah kecil yang terlihat sedih.
“Ryuunosuke, aku sudah katakan bukan? Nushi-sama pasti melihat semua ini. Jika sampai Nushi-sama memarahimu dan menghukum Ryuunosuke, aku akan ikut sedih.”
Gadis itu memberikan senyum pertamanya di pagi itu untuk rubah kecil yang sedih, namun rubah itu tau apa yang terjadi pada Reda. Ryuunosuke tau bahwa malam itu, Reda terus menangis.
Semalam, Ryuunosuke mengganti makanan sisa miliknya dalam keranjang yang diletakkan di depan pintu Reda dengan timun, tomat dan ubi. Ketika sampai, dia masih mendengar Reda menangis tersedu-sedu. Hal itu tentu membuat rubah itu ikut menangis lagi sesampainya di kediaman Aragaki.
Ryuunosuke tidak mengatakan bahwa dia tau Reda menangis semalaman. Dia hanya melihat mata sembab sang gadis ikuti senyuman yang lembut dan ramah untuk menutupi kesedihannya.
“Ryuunosuke, aku kembalikan ini ya. Tidak ada satupun yang kusentuh jadi jangan khawatir. Semua ini begitu berharga. Aku tidak ingin Nushi-sama sampai membuangnya karena terkena sentuhanku.”
“Tapi…”
“Tidak apa-apa. Selain itu, aku bangun pagi-pagi sekali hari ini jadi aku sudah sempat mencari makanan di hutan. Bawa ini lagi ya.”
Siapa yang ingin dibodohi oleh gadis itu? Ryuunosuke tau yang sebenarnya. Gadis itu datang dengan perut kosong karena tidak ada makanan di sekitar gubuk tua itu. Jika ingin mendapatkan buah liar di dalam hutan, setidaknya orang tersebut harus berjalan lebih dalam lagi.
Ryuunosuke terpaksa melakukannya dan membawa pergi dua keranjang tersebut bersamanya. Keduanya pergi menuju ruang Aragaki untuk membangunkannya.
Sebelum sampai, Aragaki telah membuka pintu kamarnya dan keluar ke engawa untuk melihat pohon sakura di halaman.
“Selamat pagi, Aragaki-sama.” Ryuunosuke memberi salam sambil membawa dua keranjang di tangannya
Reda bersimpuh lalu bersujud memberi hormat kepada Aragaki.
“Selamat pagi, Nushi-sama.”
Aragaki melihat keduanya. Namun bagai tidak menganggap Reda ada di hadapannya, dia hanya menjawab salam dari Ryuunosuke dan bertanya pada rubah kecilnya itu.
“Ryuunosuke, selamat pagi. Apa yang kamu bawa itu?”
“Ini…keranjang.”
“Aku tau itu keranjang, tapi apa isi di dalamnya?”
Ryuunosuke berpikir tuannya pasti menyadari perbuatannya seperti yang dikatakan oleh Reda, tapi dia sendiri mulai takut untuk jujur. Kalaupun berbohong, hal itu juga percuma. Akhirnya mau tidak mau rubah itu berkata yang sejujurnya.
“Ma–maafkan aku, Aragaki-sama. Ini…ini pakaian bersih dan kebutuhan lain untuk Reda-sama. Re–Reda-sama pasti kesulitan mencari makanan di hutan jadi aku berpikir untuk memberikan ini kepadanya.”
“Ryuunosuke, aku tidak pernah berpikir bahwa kamu akan melarang perintahku seperti ini. Aku tidak peduli lagi dengan obsesimu pada gadis kotor itu, tapi melanggar perintahku adalah sebuah kesalahan fatal. Kamu harus dihukum.”
Mendengar itu, Reda langsung berdiri di depan rubah kecil yang menahan tangis itu dan bersujud kepada Aragaki.
“Mohon maaf, Nushi-sama, tolong ampuni Ryuunosuke. Aku yang salah. Ini semua karena semalam aku yang diam-diam memintanya membawakanku makanan karena aku belum sempat ke hutan untuk mencari makanan, jadi Ryuunosuke hanya melakukan permintaanku.”
“…” Aragaki hanya mendengarkan tanpa merubah ekspresinya
“Aku mohon, tolong jangan hukum Ryuunosuke. Aku akan menerima hukumannya. Aku mohon.” Reda bersujud sebanyak dua kali demi bisa melepaskan si rubah kecil dari hukuman
Tentu saja itu kebohongan. Rubah kecil itu mencoba menjelaskannya pada sang majikan namun Reda terus berkilah dengan mengatakan bahwa ini semua adalah kesalahannya.
“Ryuunosuke, aku memaafkanmu kali ini. Tapi, aku tidak akan pernah memaafkan gadis kotor itu. Aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari tempat ini sebelum seluruh pekerjaanmu selesai. Bersihkan sampah di sana itu dan lakukan tugasmu.”
“Baik.” Reda menyanggupinya
Aragaki pergi meninggalkan kedua orang itu tanpa melihatnya. Begitu tuannya pergi, Ryuunosuke langsung histeris.
“Kenapa berbohong demi Ryuunosuke! Reda-sama tidak perlu dihukum! Ini semua salah Ryuunosuke, ini semua salah Ryuunosuke! Reda-sama, kita pergi menemui Aragaki-sama kembali dan jelaskan padanya! Ayo bangun, ayo bangun…”
Rubah kecil itu menangis lagi. Pagi baru dimulai dan dia sudah menangis lagi untuk kesekian kalinya.
Reda berusaha menenangkan rubah kecilnya itu.
“Ryuunosuke, aku tidak ingin Nushi-sama membencimu juga. Ryuunosuke adalah orang yang berharga untuk beliau. Jangan pernah berpikir untuk dihukum olehnya. Tidak apa-apa, biarkan aku yang dihukum. Aku akan menyelesaikan tugasku hari ini.”
Rubah kecil itu masih terus memaksanya untuk bangun dan menghampiri Aragaki untuk menjelaskan hal yang sebenarnya, namun Reda terus menolak.
“Ryuunosuke, ingat tujuan kita. Membuat beliau tersenyum dan mencairkan hatinya yang beku. Jangan sampai tujuan itu gagal terwujud. Mengerti maksudku?”
Tangisnya mulai berhenti dan senyum manis dari Reda menjadi semangatnya.
Ryuunosuke pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan meninggalkan Reda yang mengambil semua isi dari keranjang yang berserakan.
Timun dan tomatnya banyak yang sudah hancur dan kotor karena tanah, sedangkan pakaian bersih itu langsung terlihat seperti kain bekas.
Reda sempat ingin mengambil sedikit tomat yang masih bisa dimakan untuk sarapannya. Namun, dia ingat pesan Aragaki untuk tidak mengambil apapun dari tempat tersebut.
Dengan menelan ludahnya dan menghapus air matanya yang keluar, dia merapikan semua. Dia membuang sayuran yang tidak bisa lagi dimakan dan membawa ubi serta benda lainnya ke dapur untuk disimpan. Pakaian bersih itu dibawa olehnya ke belakang untuk dicuci.
Tanpa sepengetahuannya, ada dua tengu yang melihat semua itu dari atas.
“Kau melihatnya kan, Kuroto?”
“Aku lihat. Aku tidak menyangka dia akan berbohong untuk membela Ryuunosuke.”
“Aku tau Aragaki-sama juga pasti mengetahui hal itu. Aku cukup terkesan dengan hal yang dilakukannya untuk Ryuunosuke.”
Kuroto melihat usaha gadis itu dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran. Hal tersebut diungkapkannya dalam hati.
“Kenapa dia sampai seperti itu? Ini hari keduanya dan tidak ada hal yang berubah dari sikap Aragaki-sama padanya. Kenapa dia berusaha sampai sejauh itu? Apakah dia serius ingin mencairkan hati Aragaki-sama yang sudah terlanjur membenci manusia? Bukankah itu hal yang nyaris mustahil? Kenapa?”
Di sisi lain di engawa, Nagi dan Ginko juga melihat hal itu. Tidak jauh berbeda dengan para tengu, kedua youko tersebut juga menjadi penasaran dengan semua yang dilakukan oleh gadis desa itu.
“Ginko, otak milikku tidak bisa memahami pikiran manusia. Apa gadis itu bodoh atau itu adalah bagian dari usahanya untuk merebut perhatian Aragaki-sama?”
“Aku tidak tau, tapi kenyataan bahwa dia memang peduli pada Ryuunosuke bukanlah kebohongan. Setidaknya itulah yang aku lihat darinya.”
Nagi tidak ingin membantah hal itu. Semalam, mereka berdua jelas menjadi saksi betapa sedihnya Ryuunosuke kala kembali dari gubuk tua tempat gadis itu tinggal. Mereka melihat rubah kecil kesayangan tuannya menangis sambil memeluk ekornya sendiri.
Kedua youko itu juga melihat semua hal yang dilakukan oleh rubah kecil itu pagi ini. Karena tidak ada perintah apapun dari sang majikan, mereka membiarkan Ryuunosuke melakukan semuanya sendiri.
Hal ini mengundang banyak pertanyaan dari keduanya, terutama Nagi yang sejak awal menolak kehadirannya.
“Kenapa bisa sampai seperti itu? Jangan pikir hanya dengan hal itu, dirinya bisa merebut hati Aragaki-sama. Aku ingin lihat, seberapa tahan dirinya menghadapi penolakan demi penolakan dari Aragaki-sama.”
Di pagi itu, tanpa disadari oleh Reda yang mulai menimba air di sumur, dia telah diawasi oleh keempat pelayan setia Aragaki.
****