
Setelah pulang dari jalan-jalan berdua yang disebut kencan, keduanya disambut oleh pelukan hangat dari si rubah kecil yang manis.
"Reda-sama!!!"
Rubah kecil itu seakan melupakan majikannya yang asli dan langsung berlari memeluk gadis kesayangannya.
"Aku pulang, Ryuunosuke."
"Selamat datang, Reda-sama."
Keduanya saling berpelukan. Aragaki hanya tersenyum. Keempat pelayannya yang lain memperhatikan sambil memberi salam.
"Selamat datang, Aragaki-sama."
"Aku pulang. Apakah semua baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja." jawab Ginko. "Kami hanya membersihkan rumah dan Ryuunosuke baru saja selesai memasak makan malam."
Rubah kecil itu melepaskan pelukannya dan berkata pada gadis itu dengan penuh semangat.
"Reda-sama, Ryuunosuke masak hari. Reda-sama makan bersama ya. Ayo ayo..."
Rubah kecil itu menarik tangan gadis itu.
Sebelum mereka masuk, Aragaki memanggil.
"Tunggu."
Keduanya berhenti dan Reda melihat ke belakang.
Aragaki memberikan benda yang dipegangnya sepanjang hari ini demi bisa menggandeng tangan sang gadis desa tersebut.
"Ini milikmu. Jangan dilupakan karena sudah sampai di rumah. Bawalah dan simpanlah dulu di kamarmu ya."
Reda tersenyum dan mengangguk.
Setelah itu, dia membawa hadiah itu bersamanya.
Reda dan Ryuunosuke pergi ke ruangan kamar gadis itu lalu menuju ruang makan.
Di luar, Aragaki hanya tersenyum sebelum dirinya sadar bahwa keempat pelayannya itu ikut memasang senyum aneh.
"Wajah kalian kenapa?" tanya sang majikan pada keempat pelayannya
"Kami tidak apa-apa." jawab mereka serentak
"Begitu. baguslah. Jujur saja, senyum kalian itu mengerikan. Jangan tunjukan itu padaku lagi. Merusak hari baikku."
"..." keempatnya terdiam sejenak
Sampai akhirnya Nagi dengan berani mendekati sang penguasa dengan senyumannya yang tadi.
"Jadi, kencannya bagaimana? Ideku tidak buruk kan, Aragaki-sama?"
"Semuanya baik. Aku melakukannya dengan pemikiranku sendiri."
"Tapi awalnya kan ideku dan Kuroto."
"..." Aragaki terdiam diledek oleh pelayannya sendiri. Dia melihat Nagi yang tersenyum sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Jadi, ideku bagus kan?"
"..." Aragaki masih tidak mau mengakuinya
"Aragaki-sama pemalu sekali. Ehehe~"
Tampaknya Aragaki sedang tidak mau diganggu oleh pelayan usilnya itu.
"Nagi..."
"Ya?"
"Uang jatah bulan ini aku potong setengahnya ya. Jam patroli Hakuren dan Kuroto akan aku ganti menjadi kamu yang lakukan."
"Apa?!" Nagi sekarang berteriak. "Aragaki-sama tidak bisa melakukan ini padaku! Akan aku adukan pada Reda-sama nanti!"
"..." Aragaki diam mendengar ancaman itu dan tersenyum. "Aku mengerti, uang bulan ini milikmu tidak perlu diberikan. Terima kasih pengertianmu, rubah dewasa."
Sang penguasa pergi meninggalkan Nagi yang menangis. "Hiks...selamat tinggal jajanan pasar kesukaanku. Ini tidak adil!!"
"Buahahahaha!!" Kuroto tertawa keras sekali
Ginko dan Hakuren hanya bisa melihat satu sama lain.
"Hakuren, tidakkah kau merasa bahwa Nushi-sama telah menjadi Nushi-sama yang dulu?"
"Kau benar, Ginko. Aragaki-sama yang tidak mau tersenyum dengan sepenuh hati dan dingin sekarang mau menunjukkan ekspresi seperti itu."
"Aku rasa Reda-sama akan benar-benar bisa merubah Nushi-sama kembali seperti dulu." ucap Ginko penuh harap
"Aku juga. Aragaki-sama sudah mulai memiliki rasa tertarik pada Reda-sama. Aku rasa hanya tinggal menunggu waktu sampai beliau mengakui cintanya."
Keempatnya masuk ke dalam dengan Nagi yang masih meratapi nasib uang bulanannya.
**
Reda dan Ryuunosuke pergi ke kamar Reda terlebih dahulu.
Dengan hati-hati, dia melakukan benda yang terbungkus kain itu dengan sangat hati-hati.
Wajah merahnya itu mulai memperlihatkan kesan seperti seorang gadis yang sedang dipenuhi cinta.
Rubah kecil itu bertanya pada Reda, "Reda-sama, apa itu hadiah dari Aragaki-sama?"
Reda melihat rubah kecilnya dan memeluknya. Dia begitu bahagia.
"Ryuunosuke, aku ingin menceritakan semua hari indah ini padamu. Nanti malam, kita bercerita ya. Kamu harus dengar semuanya."
Ryuunosuke begitu senang. Hal itu dibuktikan dengan ekornya yang terus bergoyang dengan cepat.
Tidak ingin membuat yang lain menunggu, mereka segera pergi ke ruang makan.
Keadaan di ruangan tersebut lebih hangat dan terasa sangat hidup. Hidup karena suara tangisan Nagi yang memakan nasi sambil meneteskan air matanya.
"Hiks...jajanan manis...hiks..."
"Nagi-sama kenapa?" tanya Reda yang khawatir
Aragaki yang memakan makanannya dengan nada datar menjawab gadis itu, "Abaikan dia."
"Tapi Nagi-sama terlihat begitu sedih."
"Dia hanya senang." Aragaki melihat ke arah gadis itu lalu tersenyum padanya, "Makanlah lalu segeralah istirahat. Hari ini kamu pasti lelah."
Semua pelayan setia Aragaki langsung terperangah melihat perubahan sikap sang majikan.
**
Setelah makan malam, Reda mandi dan bersiap untuk tidur. Namun, dia ingin sekali menceritakan banyak hal yang terjadi hari ini.
Rubah kecilnya yang menunggu di depan kamarnya mulai menyambut kedatangan gadis itu setelah selesai mandi.
"Reda-sama, Ryuunosuke sudah datang!"
Gadis itu tersenyum. Keduanya masuk dan Reda menunjukkan bungkus kain yang disimpan olehnya.
"Ryuunosuke, coba lihat ini. Semua cantik kan?"
"Huwaaa~"
Rubah kecil itu terkejut dan takjub dengan hal yang ada di depannya sekarang.
"Ini semua hadiah dari Nushi-sama. Indah kan? Aku masih...belum bisa percaya. Rasanya seperti mimpi."
"Ini semua sangat cantik, Reda-sama."
Dengan wajah malunya, Reda bercerita pada rubah kecil itu.
"Ryuunosuke, hari ini aku pergi bersama Nushi-sama untuk berkunjung ke tempat Jorogumo-sama."
"Saat ingin membeli hadiah, kami mampir ke tempat waktu itu. Toko makanan manis yang kita kunjungi bersama."
Ryuunosuke hanya mendengarkan tanpa memberikan komentar atau memotong kata-kata gadis tersebut.
Gadis itu bicara dengan senang, "Di sana kami makan bersama dan...kami saling memberikan suapan makanan."
-Bluuush
Gadis itu memerah karena malu. Ingatan itu masih segar di kepalanya dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sekarang.
Rubah kecil langsung memperlihatkan ekspresinya.
Tidak sampai di sana. Reda juga bercerita bahwa mereka membeli cermin ini dan Aragaki memuji dirinya cantik berkali-kali.
"Aragaki-sama mengatakannya? Kyaa! Genitnya~" kata rubah kecil itu sambil tersenyum menggoda
Reda juga bercerita bagaimana pria yang dicintainya itu memegang erat tangannya serta mengajaknya pergi ke kebun bunga yang indah.
Gadis itu mengingat kejadian yang terjadi saat mereka ada di sana.
"Ryuunosuke..."
"Iya, Reda-sama?"
"Nushi-sama...meminta maaf padaku."
"Eh?"
"Nushi-sama mengatakan bahwa beliau sudah tidak membenciku dan...beliau tidak..."
Air mata Reda mulai menetes. Melihat gadis kesayangannya menangis, Ryuunosuke mulai memeluknya.
"Aku ingin...berada di samping Nushi-sama. Hiks, aku ingin selalu bersamanya. Ryuunosuke, aku ingin sekali bersama Nushi-sama. Hiks hiks."
Ryuunosuke menghibur gadis kesayangannya. "Reda-sama, Ryuunosuke yakin, Aragaki-sama pasti akan melihatmu."
"Aragaki-sama tidak lagi membenci Reda-sama. Hadiah itu adalah buktinya."
Gadis itu menghapus air matanya dan melihat ke arah cermin yang dipegang oleh Ryuunosuke saat ini.
"Lihat cermin dan semuanya ini, Reda-sama. Kalau Aragaki-sama memberikan ini, artinya Reda-sama memiliki kesempatan!"
"Kesem...patan?" seperti melihat sebuah harapan, gadis itu mulai terlihat berbinar
"Aragaki-sama akan mulai dekat denganmu, Reda-sama!! Ryuunosuke sangat yakin!"
Mendapatkan sebuah support dari rubah kecilnya membuat Reda merasa sangat baik.
"Terima kasih, Ryuunosuke. Aku akan mulai berjuang demi bisa terus bersama Nushi-sama. Aku...tidak ingin berpisah darinya."
"Meskipun mungkin takdir akan berkata lain, tapi aku akan berjuang dengan perasaan ini."
"Ryuunosuke selalu mendukung Reda-sama! Ryuunosuke akan selalu menjadi pendukung Reda-sama, jangan khawatir."
Gadis itu mulai tersenyum dan menceritakan hal-hal indah yang terjadi padanya lagi.
Setiap detailnya diceritakan hingga malam mulai larut.
Gadis itu mengantarkan kembali rubah kecilnya ke kamar.
"Selamat malam, Ryuunosuke. Terima kasih sudah mau mendengarkanku."
"Ryuunosuke juga senang! Peluk Ryuunosuke!"
Reda tersenyum dan memberikan sebuah pelukan untuk rubah kecil manisnya.
"Ryuunosuke..."
"Ya, Reda-sama?"
"Aku mencintai Nushi-sama."
"Iya."
"Dan aku juga mencintai Ryuunosuke."
Rubah kecil itu memeluknya semakin erat.
"Ryuunosuke juga mencintai Reda-sama."
Mereka melepaskan pelukannya, "Selamat malam rubah kecil. Mimpi indah ya."
Rubah kecil itu menutup pintu kamarnya. Reda berjalan kembali ke kamarnya.
Di belakang gadis itu, tanpa diketahui olehnya, sosok sang penguasa berdiri dan mendengar semuanya.
[Aku mencintai Nushi-sama]
Aragaki menatap gadis itu di kejauhan sampai bayangannya menghilang lalu berkata, "Aku juga..."
Sebelum semua kalimatnya selesai, sang penguasa hanya memegangi dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang semakin cepat.
****