
Nagi dan Ginko yang baru saja masuk ke dalam toko itu mulai melihat ke sekeliling.
"Tempat ini ramai. Dimana Aragaki-sama dan kedua orang itu?"
"Aku tidak tau. Nagi, tunggu di sini. Aku akan coba bertanya pada pemilik di sana."
Ginko meninggalkan Nagi sebentar. Dia menghampiri salah satu pemilik toko makanan manis tersebut.
"Selamat siang, Nakuru-san."
"Oh, selamat siang Ginko-sama. Ada yang bisa dibantu?"
"Apakah Nushi-sama datang ke sini?"
"Aragaki-sama datang bersama Ryuunosuke dan seorang gadis. Beliau meminta ruangan pribadi untuk tiga orang."
"Ruangan pribadi?"
"Benar. Ah, istriku sedang menyiapkan beberapa kudapan untuk Aragaki-sama."
"Apakah beliau memesan sesuatu?"
"Tidak, belum pesan. Namun kami berinisiatif memberikan menu terbaik untuk beliau. Jarang sekali penguasa Higashi no Mori mau ke tempat ini. Ahahaha."
Sang pemilik tersebut tampaknya begitu senang dengan kedatangan Aragaki. Ginko hanya tersenyum mendengarnya.
Saat dia hendak pergi ke tempat Nagi, pemilik toko tersebut bertanya padanya.
"Ginko-sama, boleh aku bertanya padamu?"
"Ya? Ada apa Nakuru-san?"
Rubah pemilik toko tersebut mendekat dan berbisik pada Ginko.
"Istriku, Tenko mengatakan bahwa gadis yang datang bersama Aragaki-sama adalah manusia. Apakah hal tersebut benar adanya?"
"Apakah ada masalah dengan gadis itu?" Ginko balik bertanya. Dia mengamati pemilik toko dan gerak gerik wajahnya.
Sang pemilik toko berbisik kembali.
"Itu...aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi bukankah Aragaki-sama sangat membenci manusia?"
"Aku mendengar gosip bahwa gadis dari desa terkutuk itu jahat dan licik."
Ginko terkejut mendengarnya, "Apa? Gosip seperti itu ada di sekitar tempat ini?!"
"Benar. Tapi istriku tadi mengatakan bahwa gadis yang diduga manusia itu sangat dekat dengan Ryuunosuke."
"Kata istriku, gadis itu dekat dengan rubah kecil itu dan mau tersenyum padanya."
Ginko tersenyum, "Menurut Nakuru-san, jika dia manusia...bagaimana pendapatmu mengenai gadis itu?"
Sang rubah pemilik toko dia dan tampak berpikir sejenak.
"Menurutku..."
"Iya, aku ingin dengar pendapatmu. Bagaimana dia di mata Nakuru-san dan Tenko-san?"
"Menurutku dia cukup cantik. Istriku juga bilang dia cantik dan mau tersenyum pada siluman."
"Selain itu Aragaki-sama sendiri mengatakan bahwa beliau datang bersamanya."
Ginko tersenyum senang mendengar ucapan tersebut dan bertanya kembali, "Apakah menurutmu gosip itu benar?"
"Aku rasa gosip itu salah." Jawaban Nakuru si pemilik toko kedai makanan tersebut membuat Ginko merasa bahagia.
"Terima kasih banyak, Nakuru-san. Mengenai hal ini, tolong jangan katakan pada Nushi-sama bahwa aku datang mencarinya ya."
"Baik. Aku mengerti, Ginko-sama."
Ginko pergi ke tempat Nagi kembali.
"Bagaimana? Ketemu?" tanya Nagi
"Nushi-sama sedang makan bersama Reda-sama dan Ryuunosuke. Tampaknya Nushi-sama sendiri yang memesan ruangan pribadi."
"Apa katamu?! Aragaki-sama memesan ruang pribadi untuk mereka?"
"Benar. Bukankah itu sangat bagus, Nagi?"
"Bagus, sangat bagus! Aku ikut senang. Kalau begitu sebaiknya kita menunggu di luar."
"Aku mengerti. Ayo."
Keduanya pergi keluar.
**
Di dalam ruangan tempat Aragaki berada, dirinya yang baru menghapus air mata gadis di depannya terkejut dan hampir lupa bersikap layaknya seorang pemimpin.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menunjukkan sikap seperti itu padanya? Aku benar-benar terbawa perasaan."
Bagaikan bingung dengan tindakannya barusan, Aragaki tampak tidak menyesali semua hal tersebut.
Dia justru terlihat begitu senang dan senyum manis diperlihatkan olehnya kembali untuk menghibur gadis desa di hadapannya.
"Sudah lebih baik?"
Gadis di hadapannya terlihat malu dan tersipu.
"Sudah. Terima kasih banyak untuk kalimat indah itu, Nushi-sama."
Wajah Reda memerah merona. Dia sempat ingin menundukkan kepalanya karena malu, namun dia juga masih ingin melihat wajah Aragaki yang tersenyum.
"Oh Dewa, betapa indahnya senyuman Nushi-sama. Rasanya Reda ingin selalu melihat senyuman itu."
Hati sang gadis desa yang lugu hanya dipenuhi oleh wajah dan rasa cintanya pada Aragaki.
Ryuunosuke hanya melihat kedua orang yang saling berhadapan itu dengan ekor dan telinga yang bergoyang-goyang.
"Ibu, ibu harus lihat dari langit. Aragaki-sama mau makan dengan Reda-sama, ibu. Ryuunosuke senang! Ryuunosuke sangat bahagia!"
Aragaki berhenti menghapus air mata di wajah gadis itu dan bersikap biasa.
Sang penguasa terlihat normal demi menyembunyikan perasaan aneh campur bahagianya sekarang.
"Kita coba pesan makanannya dulu."
"Permisi, Aragaki-sama. Aku datang membawakan makanan."
Istri pemilik masuk dengan membawakan beberapa kudapan manis, teh hijau hangat serta beberapa buah yang sudah dipotong.
"Huwaaa~ini kelihatan enak!" Ryuunosuke terlihat senang dengan telinga yang bergerak
"Ini adalah dango spesial dengan aroma sakura kesukaan Aragaki-sama, yang ini potongan buah apel dan jeruk."
"Yang ini adalah menu baru kami, mochi gula tabur. Rasanya manis dengan gula di atasnya. Silahkan dicicipi."
"Aku belum memesan apapun." kata sang penguasa dengan senyumnya
"Ini adalah pelayanan khusus untuk Aragaki-sama. Lagipula, jarang sekali Anda datang bersama..."
Istri pemilik itu melihat gadis yang duduk di depan Aragaki.
Melihatnya begitu senang dan tersenyum bersama rubah kecil itu membuatnya ikut tersenyum juga.
Aragaki tampak menyadari arah pandangan pemilik toko tersebut.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Aragaki
"Ah! Tidak ada. Jika suka, nanti akan aku bawakan kembali."
"Tidak apa-apa. Kami akan mencicipi ini dulu. Terima kasih banyak ya."
Istri pemilik toko keluar. Sebelum dirinya bangun, Reda memberi hormat sebagai ucapan terima kasihnya.
"Terima kasih banyak, nyonya."
Tidak disangka, istri pemilik toko tersenyum pada Reda. Hal tersebut membuat gadis itu senang dan memberikan senyumannya kembali.
Akhirnya mereka kembali bertiga.
"Reda-sama, ini mochi katanya. Bentuknya lucu. Kyaaa~Ryuunosuke senang!"
"Suara Ryuunosuke juga lucu. Aku senang mendengarnya."
Ryuunosuke tampak bahagia sekali. Dia melihat Aragaki yang tersenyum padanya.
"Aragaki-sama, Ryuunosuke ingin makan ini!"
"Tentu. Aku mengajak kalian untuk makan." Aragaki meletakkan bagian milik sang gadis dan rubah kecilnya. Dia mempersilahkan keduanya untuk makan terlebih dahulu.
"Ayo, makanlah dulu."
"Terima kasih banyak, Nushi-sama."
Reda dan rubah kecilnya makan terlebih dahulu mochi gula di depannya.
Saat dimakan, Reda begitu terkejut dengan rasanya manis yang masuk dan meleleh di mulutnya.
"Enak. Manisnya."
"Ryuunosuke suka makanan ini! Aragaki-sama, ini enak!"
"Begitu. Syukurlah kalau kalian menyukainya."
Aragaki mencicipi bagiannya. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, rasa manis mulai menyebar dalam mulut.
"Ini enak." katanya pelan
Tapi, bukan hanya rasa manis yang ada di pikirannya. Senyum manis milik gadis desa di depannya itu juga mewarnai rasa manisnya.
Hal yang lebih sulit membuatnya berpaling saat ini adalah wajah cantik sang gadis yang begitu menikmati makanan yang dimakannya sekarang.
Suara lembut dari gadis itu juga menjadi warna lain yang menemani rasa manis.
"Aku benar-benar menyukai makanan ini. Ini sungguh enak dan manis. Senangnya~"
Kalimat pelan yang dikatakan dengan senyum indah di wajahnya membuat Aragaki tidak berhenti menatapnya.
"Ah...senyuman itu yang tidak bisa hilang dari ingatanku. Akhirnya....akhirnya aku melihatnya lagi."
Mata Aragaki menatap Reda dengan lembut tanpa diketahui oleh sang gadis. Detak jantungnya mulai cepat dan seluruh fokusnya kini hanya untuk gadis itu.
Saat Reda memakannya lagi, ada sedikit butiran gula di sisi lain bibirnya.
Reda tidak menyadari hal tersebut dan ketika dia melihat Aragaki yang seperti menatapnya, wajah merah langsung terlihat.
"Nu–Nushi-sama, apakah ada sesuatu?"
Gadis di hadapan Aragaki tampak malu-malu. Namun hal itu pula yang jadi daya tarik untuk Aragaki.
Butiran gula di sisi samping bibirnya itu menjadi sebuah kesempatan untuk sang penguasa menyentuh gadis itu.
Tangan Aragaki dengan lembut menyentuh bibir indah gadis itu.
Dengan senyum hangat dan lembutnya, Aragaki berkata, "Ada gula di bibirmu. Aku sudah membersihkannya."
-Bluuuush
Kali ini, seluruh wajah Reda memerah.
"Dewa, aku ingin pingsan. Tangan halus Nushi-sama...menyentuh bibirku!"
Rubah kecil yang melihat itu menjatuhkan mochi di mulutnya kembali karena terlalu syok.
Wajahnya ikut memerah dan matanya mulai berkaca-kaca seakan ingin menangis haru.
"Ini keajaiban, ini sungguh bukan mimpi! Ibu, Ibu...lihat itu ibu! Aragaki-sama mulai mencari perhatian Reda-sama!"
"Ryuunosuke senang, Ryuunosuke senang. Ibu harus melihat ini dari langit!"
Aragaki melakukan hal itu secara sadar. Dia tidak mencoba mengelak atau mencari alasan demi melakukannya.
"Akhirnya...aku menyadarinya. Perasaan bahagia ini adalah keinginanku."
"Aku ingin melihat senyum dan wajah itu. Aku ingin mencoba menyentuhnya dan menyadari perasaannya."
"Aku...mulai tertarik padanya."
****