The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 109. Penculikan Calon Pengantin Aragaki



Sore itu, matahari hampir terbenam dan angin dingin mulai membelai pipi Reda yang tertidur.


“Mmm…”


Perlahan matanya terbuka dan dia melihat dirinya telah terbaring di atas futon lembut di ruangan tempat dirinya melipat pakaian dan tertidur. Tidak lupa juga di sampingnya ada rubah kecilnya yang memeluk ekornya sendiri saat tidur.


Berselimutkan pakaian milik sang penguasa, Reda begitu terkejut.


“Eh?! Kenapa pakaian Nushi-sama bisa ada di sini?”


Reda menengok ke sisi sampingnya, “Ryuuno…suke? Sejak kapan Ryuunosuke tidur di sini? Dan…” sambil mengusap futon lembut itu, Reda bertanya-tanya dalam hati, “Sejak kapan aku tidur di atas futon?”


“Apakah ada seseorang yang menyiapkannya untukku? Mungkinkan rubah kecil manis ini?”


Reda tersenyum melihat rubah kecilnya begitu nyenyak tertidur. Dia memberikan sebuah ciuman di keningnya.


-Cup


“Terima kasih banyak sudah mau repot-repot, rubahku sayang.” bisiknya pelan


Kali ini, Ryuunosuke tidak terbangun dan sepertinya Reda telah salah sangka. Dia segera melipat pakaian sang penguasa kembali dan pergi menuju dapur.


Jalan yang diambilnya adalah dari bagian engawa luar yang bisa membuatnya terlihat sampai depan.


Dengan menutup pintu ruangan itu sedikit agar rubah kecil tidak kedinginan, Reda keluar sambil bergumam sendiri.


“Bisa-bisanya aku tertidur. Aku benar-benar lupa bahwa ini sudah hampir waktunya makan malam. Aku harus menyiapkan makan malam sebelum yang lain kembali atau–”


“Reda-sama!”


“Eh?”


Dari engawa luar, terdengar suara yang tidak asing untuk Reda. Itu berasal dari pintu depan kediaman Aragaki.


“Suara itu…”


Tanpa pikir panjang, Reda segera menuju pintu depan dan menjawabnya.


“Apa itu Jorogumo-sama?”


“Benar, Reda-sama. Maafkan aku, Aragaki-sama memintaku untuk mengantarkan sebuah pakaian lain untukmu.”


“Pakaian?” Reda tidak curiga sama sekali. “Baik. Mohon tunggu sebentar, aku akan membuka pintunya.”


Entah apa karena dia baru saja bangun tidur atau sedang begitu tergesa-gesa ingin membuat makanan, dia melupakan semua peringatan Aragaki dan akhirnya membuka pintunya.


-Claaash!


Sebuah retakan dan kepingan cermin transparan yang tak kasat mata mulai berjatuhan. Tentu saja Reda tidak mengetahuinya. Begitu pintu dibuka, sosok Jorogumo terlihat berdiri di depan pintu.


“Reda-sama…”


“Jorogumo-sama, silahkan masuk. Aku baru saja ingin memasak makan malam meski sedikit terlambat. Hmm?”


Reda memperhatikan tangan Jorogumo yang ada di hadapannya, “Jorogumo-sama, bukankah katanya ingin mengantarkan barang pesanan untuk Nushi-sama?”


Senyum menyeringai terlihat dari sosok wanita di hadapannya. Reda mulai sedikit merinding dan takut.


“Jorogumo…-sama…”


Dari belakang Reda, Nagi dan Ginko yang terlihat panik berlari lalu berteriak ke arahnya.


“Reda-sama!”


“Apa yang kau lakukan!


Tutup pintu itu sekarang!”


“Eh?”


Dari belakang, Aragaki ternyata sudah berlari lebih cepat dari kedua pelayannya menuju tempat Reda, namun sayang semua itu terlambat.


Tidak ada yang menyangka. Hanya dengan kedipan mata, sosok Reda langsung hilang seperti tenggelam dalam bayangan. Dia lenyap begitu saja.


“Apa!”


Aragaki benar-benar gagal sekarang. Sebelum dirinya sampai ke tempat gadis itu, dia telah lenyap tanpa bekas.


“Kh!”


“Reda-sama!!” teriakan terdengar. Itu adalah rubah kecil yang berlari bahkan sampai terjatuh dan kesulitan untuk berdiri kembali. Dia menangis sangat keras sambil berteriak.


“Tidak! Tidak! Reda-sama! Reda-sama!! Hiks, Reda-sama!!”


“Jorogumo-san?!” itulah yang ada dalam pikiran mereka. Namun, semua berubah saat sosok itu juga ikut menghilang bagaikan tenggelam ke dalam bayangannya di tanah.


Bayangan tersebut berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam hutan.


“Gawat, dia mencoba kabur! Kuroto, kita kejar!!”


“Aku tau! Jangan sampai dia lolos!”


Kedua tengu tersebut langsung mengejar bayangan berjalan itu masuk ke hutan. Kecepatan bayangan itu hampir tidak bisa ditandingi oleh kedua tengu. Alasannya karena itu bayangan yang bergerak dan bisa berpindah ke bayangan lain di hutan.


Matahari baru tenggelam dan bayangan pepohonan di hutan masih terpantul dengan baik.


“Sial! Itu Ara-mitama! Ternyata Nue memang menginginkan gadis desa itu!”


“Aku sudah bilang padamu kalau kita harus menyelesaikan ini! Tapi sudah terlambat untuk itu, kita tidak bisa membiarkan Reda-sama dibawa ke tempat Nue!”


**


Di kediaman Aragaki, sang penguasa mengambil pedangnya. Dia benar-benar siap untuk membunuh kali ini.


Rubah kecil berlari dan memeluk kaki sang penguasa.


“Hiks…Aragaki-sama, bawa kembali Reda-sama! Bawa kembali Reda-sama milik Ryuunosuke dan Aragaki-sama, hiks! Ryuunosuke minta maaf, Ryuunosuke minta maaf. Huwaaa…”


Tangis sedih rubah kecil itu terdengar menyakitkan hati sang penguasa. Dia langsung berlutut dan memeluk rubah kesayangannya itu.


“Hiks…Reda-sama harus pulang, Reda-sama harus kembali ke sini lagi! Hiks, bawa pulang Reda-sama lagi, Aragaki-sama. Hiks…hiks…”


“Aku akan membawannya kembali. Ryuunosuke tenang saja. Aku akan membawanya kembali ke tempat ini.”


“Hiks…”


Aragaki melepaskan pelukannya dan meminta salah satu dari kedua youko untuk menjaga rubah kecil kesayangannya.


“Nagi, Ginko, aku tidak peduli siapapun di antara kalian. Tetap di sini dan jaga rubah kecilku.”


“Aragaki-sama…”


Mata Aragaki terlihat begitu marah dan tanda merah di keningnya sudah muncul sekarang. Sang penguasa mencoba menahan dirinya untuk tidak marah demi rubah kecilnya yang menangis.


“Aku akan melakukan pembantaian, karena itu sebaiknya salah satu dari kalian diam dan menunggu di sini.”


Aragaki langsung melompat dan berlari ke dalam hutan dengan cepat. Begitu cepat sampai sudah tidak lagi terlihat.


Nagi melihat Ginko dan berkata, “Aku akan mengikuti Aragaki-sama.”


“Aku mengerti. Aku akan menjaga Ryuunosuke. Hati-hatilah, Nagi.”


Nagi mengangguk dan menengok ke arah rubah kecil yang duduk dan masih menangis dengan memeluk ekor tebalnya sendiri.


“Hiks…Reda-sama, Reda-sama harus pulang. Hiks…”


Nagi berlutut, “Rubah


kecil, kami akan kembali. Tolong berhentilah menangis dan berdoalah.”


“Nagi-sama…hiks…”


Ryuunosuke memeluk Nagi yang akan pergi menyusul sang penguasa. Nagi memeluk erat rubah itu. Setelah selesai berpelukan, Nagi segera pergi.


Ginko menenangkan rubah kecil dan mengajaknya masuk ke dalam.


“Reda-sama, semoga Reda-sama baik-baik saja. Aku mohon, tolong jangan biarkan Nushi-sama kehilangan seseorang lagi!”


**


Aragaki tidak memedulikan apapun di depannya. Dengan auranya yang kuat, sang penguasa dengan cepat menghindari semua pepohonan dan berlari tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali.


Ekspresinya benar-benar sangat marah sekarang.


“Aku tidak bisa mencium aroma gadis itu. Dia tidak ada di atas tanah, itu artinya dia ada di dalam tanah atau semacam kemampuan spiritual dari Ara-mitama.”


“Mereka adalah jiwa suci yang memiliki kegelapan dan kemampuan unik yang tidak bisa dirasakan oleh siluman tingkat tinggi sekalipun.”


“Dia membawa gadis itu dengan mudah tanpa bekas dan pergi begitu saja.”


Sambil menggenggam pedangnya, Aragaki menujukkan ekspresi murka dan aura membunuh yang kuat.


“Jangan harap bisa lolos dariku. Aku akan membawa calon pengantinku kembali.”


****