
Aragaki memperlihatkan kebencian itu dengan jelas dan mengulangi perintahnya kembali.
“Sekarang, kamu sudah tau apa yang dilakukan oleh leluhurmu di masa lalu dan aku tidak ingin mengulangi kata-kataku. Kamu mengatakan bahwa kamu akan melakukan perintahku, bukan?”
Reda yang memegang pisau itu mulai menggerakkan tangannya. Belum melakukan apapun, Ryuunosuke kembali berlari ke arah Reda dan menangis.
“Reda-sama jangan lakukan! Reda-sama! Ryuunosuke akan melindungi Reda-sama! Aku mohon jangan lakukan!”
Dia berlari lagi ke arah Aragaki. Dia benar-benar putus asa.
“Aragaki-sama, Ryuunosuke menyukai Reda-sama! Aragaki-sama juga pasti akan menyukai Reda-sama! Reda-sama sangat baik, aku mohon tolong tarik kembali perkataan itu! Hiks…Ryuunosuke mohon, Ryuunosuke mohon. Hiks…hiks…”
Mendengar tangisan Ryuunosuke yang bahkan sampai memohon seperti itu membuat keempat pelayan lainnya merasa tidak enak. Itu karena hal ini baru pertama kali terjadi.
Reda melihat pisau itu dan bertanya pada Aragaki.
“A–Aragaki-sama…apakah setelah aku melakukan perintahmu, Aragaki-sama akan menyukai manusia?”
Semua orang melihat Reda dengan wajah bingung, termasuk Ryuunosuke yang masih menangis.
“Reda-sama…hiks…”
“Apakah jika aku membunuh diriku sendiri, Aragaki-sama akan mau membuka sedikit hatimu dan mau memaafkan manusia?” Reda bertanya kembali pada Aragaki. Wajahnya terlihat begitu tenang sambil memegang pisau kecil itu di tangannya.
Aragaki menatapnya dingin seraya berkata padanya, “Kebencian yang kumiliki pada manusia tidak akan hilang sampai kapanpun. Bahkan jika kamu mati setelah membunuh dirimu sendiri, api kebencian ini akan tetap menyala.”
Mendengar jawaban itu, Reda tersenyum dan meletakkan kembali pisaunya di lantai. Dia mendorong pisau tersebut sedikit ke arah depan dan bersujud kembali.
“Mohon maaf sebesar-besarnya, jika demikian maka aku tidak bisa melaksanakan perintah tersebut.”
-Deg
Sebuah kejutan, bukan hanya untuk Ryuunosuke tapi untuk Aragaki. Matanya melebar karena terkejut dengan jawaban dari gadis desa tersebut.
Hal tersebut juga dialami oleh keempat pelayan setianya. Bahkan kalimat Reda membuat mereka tidak bisa berkomentar apapun. Pikiran mereka begitu kosong dan tidak tau reaksi apa yang bisa mewakili perasaan terkejut mereka selain mematung.
“Sekali lagi, maafkan aku.” Reda mengangkat kepalanya lalu menatap lembut Aragaki dan berkata, “Aragaki-sama, mendiang ayah dan ibuku mengatakan bahwa apapun yang terjadi kita harus menepati janji yang telah dibuat.”
”Aku sudah berjanji kepada Ryuunosuke untuk berjuang bersama agar Aragaki-sama mau sedikit melihatku selama aku menjadi pelayanmu. Kami berjanji untuk berjuang bersama.”
“Jika aku mati sekarang, maka itu artinya aku telah mengingkari janjiku dan Dewa tidak akan menerima rohku kembali ke alam akhirat. Sekalipun rohku diterima, aku telah mengingkari janjiku dengan Ryuunosuke dan itu akan membuatnya sedih. Dia mungkin akan mengingat hal itu dan berbalik membenciku.”
Aragaki benar-benar terkejut dibuatnya. Kini, bukan hanya ekornya yang membesar namun kuku di setiap jarinya yang indah mulai tumbuh.
“Aragaki-sama, aku menyadari bahwa aku mungkin memiliki darah dari leluhurku yang telah mengingkari janjinya padamu. Aku benar-benar minta maaf. Tapi, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”
“Selain itu, aku tidak peduli jika harus mati setelah 3 bulan seperti lainnya. Tapi, setidaknya aku akan berusaha mencairkan kebencian di hati Aragaki-sama. Aku akan melayani Aragaki-sama sampai ada manusia yang akan menjadi cinta sejatimu.”
Sebuah kalimat yang begitu menyentuh hati Ryuunosuke. Dia tidak bisa mengekspresikan rasa harunya mendengar semua itu.
“Pertama kalinya…pertama kalinya ada gadis manusia yang mau memikirkan Aragaki-sama. Pertama kalinya, ada gadis manusia yang mau berusaha untuk mengubah hati Aragaki-sama yang dingin kepada manusia selama ini. Ryuunosuke yakin bahwa Reda-sama adalah gadis yang tepat untuk Aragaki-sama. Ryuunosuke yakin itu.”
Rubah kecil itu menghapus air matanya dan ketika dirinya ingin menghampiri Reda, tiba-tiba terasa aura yang berat dari belakangnya. Itu adalah aura kemarahan dari sang majikan.
Ekor milik Nagi dan Ginko bahkan menjadi tegang dan gemetar karena takut. Seluruh ruangan itu menjadi begitu menegangkan. Kecuali Reda yang masih tersenyum, siluman yang lain merasakan sebuah tekanan di ruangan tersebut.
Tanda merah di kening Aragaki mulai muncul dan ekornya menjadi sangat besar seperti saat dia marah pada Ryuunosuke.
“Berani sekali manusia mengatakan akan mencoba mencairkan kebencianku! Berani sekali gadis kotor dan hina sepertimu mengatakan bahwa aku akan bertemu manusia yang akan menjadi cinta sejatiku! Sejak kapan manusia berani mengaturku!!”
Sebuah dorongan angin terasa sampai seluruh pintu shoji yang tertutup menjadi terhempas dan rusak.
Bukan hanya pintu yang rusak, meja dan seluruh hiasan di ruangan itu terhempas dan rusak karena kekuatan dari Aragaki.
Reda berusaha menahan kekuatan angina itu agar tidak lagi terlempar seperti hari pertama.
Aragaki bagai mengutuk Reda yang berani mengatakan semua hal yang untuknya sangat tidak masuk akal tersebut.
“Jangan pernah sesekali kamu bermimpi untuk dapat melakukannya! Sampai kapanpun, hati ini tidak akan terbuka dan mencair untuk manusia! Sampai kapanpun, aku akan mengutuk kalian semua! Bahkan jika kalian mati dan meninggalkan Kamakura, desa dan seluruh isinya akan aku lenyapkan!”
“Pikiran kotor dan hina itu tidak akan pernah aku terima. Sampai kapanpun, aku akan menolak untuk menghilangkan kebencianku pada bangsa kalian!!”
Ekor besar Aragaki bergerak untuk menyerang Reda. Keempat pelayan yang melihatnya menjadi panik karena mereka berpikir gadis itu akan benar-benar mati.
Akan tetapi semuanya tidak seperti itu. Ekor Aragaki yang hendak menyerangnya berhenti tepat di depan wajah Ryuunosuke yang telah berlari menuju Reda.
Rubah kecil itu berani menentang sang majikan demi melindungi gadis desa itu. Dia berdiri di depannya demi agar bisa menghentikan serangan yang akan melukai Reda.
Dengan tubuh gemetar, dia memohon pada Aragaki.
“Aragaki-sama, tolong hentikan itu. Ryuunosuke mohon, beri kesempatan untuk Reda-sama melakukannya! Reda-sama berbeda dari yang lain, benar kan? Nagi-sama, Ginko-sama, Hakuren-sama dan Kuroto-sama juga berpikiran begitu kan?”
Aragaki terdiam dan melihat keempat pelayannya yang terlihat hendak berdiri dari tempatnya untuk melindungi gadis itu. Mereka terlihat tidak begitu menyadari perubahan tubuh mereka.
“Apa yang kalian ingin lakukan?” tanya Aragaki dengan mata dinginnya
Keempatnya melihat ke arah sang majikan dan baru menyadari bahwa mereka telah mengubah posisi duduk simpuh mereka menjadi satu kaki yang siap melangkah ke arah tengah.
Menyadari hal tersebut, keempatnya langsung kembali bersimpuh dan memberi hormat dengan bersujud pada sang penguasa.
“Kami minta maaf padamu, Aragaki-sama.”
“Nushi-sama, tidak ada niat dari kami semua untuk menentang apa yang Nushi-sama lakukan. Kami benar-benar minta maaf atas ketidaksopanan kami.”
“Tolong maafkan kami, Aragaki-sama.”
“Maafkan kami.”
Aragaki menatap kembali rubah kecilnya yang masih berdiri dengan kaki kecilnya yang gemetar. Dia terus mencoba mempertahankan tubuh kecil dan tangan kecilnya yang direntangkan demi melindungi gadis desa tersebut.
“Aragaki-sama, Reda-sama adalah orang yang baik. Reda-sama tau dimana posisinya sekarang dan Reda-sama melakukan semua yang Ryuunosuke ajarkan padanya. Reda-sama berbeda dari gadis-gadis sebelumnya. Ryuunosuke sangat yakin!”
“Aku mohon, tolong berikan kesempatan untuk Reda-sama menyelesaikan tugasnya. Aku mohon, tolong biaskan Reda-sama melayani Aragaki-sama. Tidak perlu menikah tidak masalah. Reda-sama juga mengatakannya. Ryuunosuke hanya ingin Aragaki-sama memberikan Reda-sama kesempatan. Hiks…”
Melihat pelayan kecil kesayangannya begitu takut dan sedih, Aragaki menarik ekor besarnya kembali. Seluruh aura mengerikan itu ditahan olehnya dan dia kembali ke wujudnya semula. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Sebelum dia pergi, dia sempat berkata pada Ryuunosuke.
“Ryuunosuke…”
“I–iya?”
“Karena kamu begitu bersikeras menginginkan dia untuk melakukan tugasnya. Lakukan sesukamu. Buat dia berguna dan setelah 3 bulan, aku sendiri yang akan membunuhnya. Sebaiknya, jangan terlalu berharap pada sampah dari desa terkutuk itu.”
Begitu Aragaki pergi, keempat pelayannya langsung duduk dengan santai dan penuh keringat.
“Aku hampir mati. Aku kira Aragaki-sama akan mengamuk. Kalau beliau mengamuk, aku yakin umurku akan memendek 100 tahun.” Kata Nagi sambil mengelap keringan di keningnya
“Nushi-sama benar-benar emosi tadi. Aku bersyukur kita tidak terlempar keluar juga.” tambah Ginko
“Tapi, ini pertama kalinya dalam 200 tahun aku melihat Aragaki-sama marah di acara penyambutan. Benar kan, Kuroto?”
“Aa, kurasa itu juga karena gadis desa itu.” Kuroto menunjuk gadis desa yang sedang memeluk Ryuunosuke
Ryuunosuke langsung memeluknya begitu Aragaki keluar ruangan. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan gadis cantik itu.
“Huwaaaa…Reda-sama, Reda-sama…syukurlah…syukurlah…hiks”
“Syukurlah ya, Ryuunosuke.” Reda mengelus-elus rambut dan telinga Ryuunosuke dengan lembut sambil memberikan senyumannya yang cantik. “Mulai sekarang kita akan berjuang, Ryuunosuke. Kita berjuang agar Aragaki-sama mau tersenyum lagi ya.”
“Hiks…iya. Ryuunosuke akan membantu Reda-sama juga. Kita berjuang ya. Kita berjuang demi Aragaki-sama.”
Reda mengelus-elus rubah kecil itu sampai tubuhnya berhenti gemetar. Melihat gerakan tangan lembut yang mengusap dan mengelus telinga serta rambut Ryuunosuke membuat Nagi dan Ginko tampak begitu ingin merasakannya juga.
Mungkin ini tidak pernah terjadi sebelumnya, karena itu ekor rubah keduanya bergoyang karena menikmati pemadangan yang dilihatnya sekarang.
“Ryuunosuke beruntung sekali.” gumam Nagi dalam hati
“Kenapa aku merasa iri sekali melihat itu. Tapi, ini bukan berarti aku menerima gadis itu. Hanya saja aku merasa kau juga…” pikir Ginko
Di dalam hati, Reda terus mengatakan hal yang sama.
“Reda akan berjuang untuk Aragaki-sama dan Ryuunosuke. Setidaknya, ini adalah kesempatan terakhirku untuk hidup. Aku akan berusaha agar Aragaki-sama mau tersenyum padaku.”
“Meski hanya sedikit, aku berharap aku bisa mencairkan dinding es di hatinya. Sampai cinta itu muncul di hadapannya, aku berharap Aragaki-sama akan bahagia.”
****