
Ini terjadi setelah Nagi pergi.
Rubah kecil malang itu menangis sendirian di kamarnya sambil memeluk ekor tebal miliknya sendiri dan bola yang diberikan Reda untuknya.
“Hiks…Reda-sama…Reda-sama harus pulang. Hiks…ibu, tolong Reda-sama…”
Ginko yang melihat rubah kecil malang itu terus menangis sendirian di sudut kamarnya sendiri tidak tega dan masuk untuk membujuknya makan.
“Ryuunosuke, ayo makan dulu. Aku sudah membuat sedikit sup untuk malam ini. Mereka akan kembali. Percayalah.”
“Hiks…Reda-sama tidak ada saat Ryuunosuke bangun dari tidur. Lalu Ryuunosuke mendengar suara aneh dan hiks…Reda-sama menghilang. Huwaaa…”
Rubah kecil itu menangis lagi dan kali ini semakin keras. Telinga rubahnya turun tanda dia sangat sedih dan tangannya memeluk ekornya begitu erat sampai rambut ekornya mulai mengeriting.
Ginko memeluk si rubah kecil dengan ekspresi sedihnya.
“Ryuunosuke, jangan khawatir. Nushi-sama sendiri yang menjemputnya. Reda-sama akan kembali pada kita. Setelah itu, kita akan makan bersama lagi.”
“Hiks…Ryuunosuke ingin Reda-sama kembali. Ibu, Ryuunosuke ingin Reda-sama kembali lagi! Hiks…tolong Reda-sama, ibu. Hiks…hiks…”
Ginko menjadi semakin sedih, “Setiap kali dirinya sedih, dia selalu merengek memanggil Ryoko-san. Rubah kecil yang malang.”
“Ryoko-san, tolong lindungi semuanya. Lindungi Nushi-sama. Aku tau Ryoko-san melihat semuanya. Tolong selamatkan calon pengantin Nushi-sama.”
Di luar, seluruh pohon sakura seperti tertiup angin kencang di malam yang hening. Selain itu, ada hal yang tidak biasa terjadi.
Seluruh pohon-pohon sakura itu bersinar. Sinar merah muda yang menerangi kediaman Aragaki di malam itu merupakan sebuah jawaban doa dari mereka yang berharap untuk keselamatan sang majikan dan calon istrinya.
Kelopak-kelopak itu tertiup angin dalam satu tujuan menuju hutan.
Bagaikan hidup dan memiliki pikirannya sendiri, kelopak bunga sakura yang banyak itu seperti membentuk tubuh seorang perempuan.
Sosok perempuan cantik dengan ekor rubah dan telinga rubah yang sekilas mirip dengan Ryuunosuke. Rambut yang panjang tercipta dari visualisasi ribuan kelopak bunga sakura tersebut.
“Nushi-sama…”
Itulah yang dikatakannya.
Di saat yang sama, Nagi masih belum bisa mengejar Aragaki-sama mencium aroma yang tidak asing baginya.
“Aroma…sakura?”
Tidak lama kemudian, Nagi melihat satu kelopak sakura. Tapi lama kelamaan jumlahnya menjadi banyak.
“Kenapa bisa ada kelompak bunga sakura di sini?”
Nagi semakin mencium aroma yang tidak asing untuknya, sampai akhirnya dia melihat sosok perempuan yang tidak asing untuknya.
“Nushi-sama…”
Suara bisikan yang tidak asing terdengar dari sosok perempuan pada kelompak sakura tersebut.
“Ryoko…-san? Ryoko-san!!”
Nagi langsung berlari mengikuti kelopak sakura yang terlihat seperti Ryoko, mendiang ibu Ryuunosuke.
Kelopak tersebut terus berjalan lurus seakan mengetahui dimana letak sang majikan.
“Itu kelopak bunga sakura seribu harapan! Jiwa Ryoko-san yang ada di sana muncul. Apakah ini karena Ryoko-san…”
“Tidak perlu memikirkan apapun sekarang! Jika itu memang Ryoko-san, maka aku tidak boleh memperlambat kecepatanku! Ryoko-san berusaha membimbingku ke tempat Aragaki-sama dan Reda-sama berada, aku yakin.”
Nagi mengikuti sosok Ryoko dari kelopak bunga sakura tersebut.
**
Di kedalaman hutan yang semakin gelap, Aragaki mencengkeram leher Ara-mitama.
“Beritau aku dimana kamu membawa gadis desa itu sekarang?”
Aragaki tidak sedang bercanda. Dia benar-benar nyaris mematahkan leher Ara-mitama.
Bukan hanya tidak bisa lagi menggunakan kegare yang berasal dari tubuhnya, kemampuan spiritual Aragaki bisa menetralkan semua kegare yang hendak keluar sebelum mencapai tanah. Itu artinya, Ara-mitama hanya punya satu tujuan yaitu memberitau semuanya pada sang penguasa atau mati.
Tapi tampaknya Ara-mitama lebih senang memilih pilihan yang sulit.
“Aruji…-sama akan…mendapatkan darah segar…”
“…!!”
“Ini karena Aragaki-sama…tidak akan memberikan gadis itu…sejak Aragaki-sama mulai…menerima gadis itu. Karena itu Aruji-sama akan…memakannya hari…ini.”
Mendengar ucapan Ara-mitama yang terbata-bata, Aragaki tidak membutuhkan waktu lama untuk melenyapkan jiwa tersebut.
Dengan kuat, tangan Aragaki menghancurkan leher Ara-mitama dan seketika sosoknya lenyap bagai debu.
Aura kemarahan kuat menekan seluruh tempat tersebut yang membuat angin besar tercipta dari auranya.
“Beraninya Nue mencoba melakukan hal yang tidak perlu. Aku akan membuatnya tidak bisa melihat matahari terbit besok.”
Hakuren dan Kuroto terpaksa berlutut karena kekuatan angin dari aura kemarahan milik sang tuan. Bahkan seperti adanya tekanan, tanah di sekitar tempat dimana Aragaki berpijak menjadi retak. Retakannya semakin besar dan besar hingga menciptakan lubang.
Saat Aragaki akan melompat, ada aroma bunga sakura yang begitu familiar untuknya.
“Sakura…”
“Nushi-sama…”
Suara itu adalah suara yang sangat dikenal oleh Aragaki dan sosok yang mulai terlihat oleh Aragaki adalah sosok Ryoko.
Hakuren dan Kuroto juga sangat kaget melihatnya.
“Ryoko…-san?”
“Mustahil…”
Sosok sakura itu melewati Aragaki sambil mengatakan sesuatu.
“Di depan sana. Hanya tinggal sedikit lagi…”
“…”
“Aragaki-sama!!” Nagi dari belakang berteriak, “Ryoko-san…Ryoko-san ingin menunjukkan tempat Reda-sama berasal!”
Mendengar teriakan Nagi, Aragaki mengikutinya. Dia langsung berlari mengikuti arah kelopak sakura tersebut.
Ryoko, dalam sosok bunga sakura seribu harapan, membawa Aragaki menuju tempat dimana Reda berada.
Saat Aragaki dan ketiga pelayannya memutuskan untuk mengikuti sosok Ryoko, yang mereka dapati adalah gua milik Nue.
“Nue!!” Aragaki berteriak dan berhenti. Pedang yang ada di tangan sang penguasa dikeluarkan dari sarungnya.
Mendengar teriakan dan kuda-kuda dari sang penguasa, kedua tengu dan Nagi langsung berpencar dan mengepung gua tersebut.
Dengan aura yang begitu kuat, dua tebasan dari Aragaki cukup membuat gua tersebut nyaris hancur.
Sosok Ryoko dari sakura seribu harapan mulai berpencar, terkena angin dari serangan Aragaki namun tidak benar-benar menghilang.
Seluruh kelopak bunga sakura itu hanya melayang di udara.
Kemudian, Nue muncul dari dalam gua dengan membawa tubuh Reda dalam posisi terbalik.
Melihat itu, Aragaki hampir menghancurkan semua tempat di sekitarnya. Namun, dia menyadari bahwa sakura seribu harapan masih ada di sekitar tempat itu.
“Ryoko, apa kamu sedang melihat tuanmu ini?”
“Aku akan menyelamatkannya. Aku akan mengendalikan diriku. Terima kasih banyak, Ryoko.”
Selanjutnya, pertarungan dimulai hingga Aragaki melempar pedangnya ke arah Nue.
**
Kembali ke dalam kondisi saat ini, Aragaki yang telah memotong ekor Nue dan mendapatkan kembali gadis desa pujaannya itu menatap Nue penuh emosi.
Jelas terasa tetesan darah dari punggung Reda yang menetes ke tanah dan membasahi pakaian sang penguasa.
Aragaki melihat wajah pucat sang gadis yang penuh air mata dan goresan di kaki dan tangannya, serta pakaian indah yang sobek dan kotor menjadi bukti bahwa Reda mengalami rasa takut dan sakit.
Mata Aragaki menjadi tajam dan ekornya menjadi besar, menandakan dirinya begitu marah.
“Beraninya kamu menculik dan melukainya seperti ini, Nue. Sepertinya kamu sudah bosan hidup malam ini.”
“Aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari terbit besok.”
-Graaar!!
Nue mulai mengaung menahan rasa sakitnya. Nagi yang berada tidak jauh dari tempat dimana Aragaki berdiri melihat ribuan sakura seribu harapan yang terpencar mulai membentuk sosok Ryoko kembali.
Seperti membelai rambut Reda dengan lembut, sosok Ryoko tersenyum padanya.
“Ryuunosuke akan senang bertemu denganmu lagi. Jangan mati dan tetaplah di sisi Nushi-sama dan anakku, gadis cantik.”
Aragaki dan Nagi terkejut mendengar suara bisikan Ryoko. Kemudian, sebelum sosok itu menghilang, sedikit demi sedikit luka di punggung Reda menutup secara ajaib.
****