The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 35. Untuk Calon Pengantin Terbaik



Reda dan Ryuunosuke masih di pasar untuk membeli yang lainnya. Rubah kecil itu menunjukkan banyak sekali tempat yang tidak dilihat Reda ketika datang pertama kali di malam itu.


“Reda-sama, kita pergi ke sana ya.”


“Baiklah.”


Rubah kecil itu menarik tangan Reda dan berjalan menuju pedagang aksesoris.


“Huwaa~cantiknya.” Ryuunosuke tampak begitu senang sampai ekornya bergoyang-goyang, membuat Reda tertawa kecil melihatnya.


Di tempat aksesoris itu, terlihat beberapa penjepit rambut cantik, bola kertas, kipas kertas dan pita rambut.


“Reda-sama, lihat ini! Ini cantik sekali untukmu! Ayo dicoba dulu, dicoba dulu!”


Reda terlihat malu sekali pada penjualnya yang menatap mereka dengan penuh senyum, tapi melihat rubah kecil itu begitu antusias dan senang sekali, dia mengangguk.


“Biarkan aku memilih ya, Ryuunosuke.”


“Tentu! Reda-sama harus membeli ini agar semakin cantik.”


Reda melihat-lihat dan akhirnya memutuskannya.


“Tuan, aku ingin membeli bola ini.”


“Baiklah.”


Ryuunosuke bingung dengan pilihan gadis itu.


“Reda-sama, kenapa membeli bola?”


Begitu bolanya dibayar dan diterima, bola itu diberikan kepada si rubah kecil.


“Ini untuk Ryuunosuke. Anggap saja hadiah dariku karena Ryuunosuke sudah membelikan kain cantik ini untukku.”


Mendengar ucapan itu, betapa senangnya rubah kecil itu. Dia terlihat begitu bahagia sampai melompat ke sana kemari.


“Terima kasih, Reda-sama! Ryuunosuke akan merawat bolanya. Huwaa, senangnya~”


“Aku juga mengucapkan banyak terima kasih, rubah kecil.”


Selesai dengan toko aksesoris, mereka kembali mencari daging. Ada banyak daging di sana.


“Hmm, banyak sekali tukang dagingnya. Reda-sama ingin melihat-lihat dulu?”


“Apa tidak apa-apa?”


“Tentu saja!”


Reda tersenyum dan pergi ke pedagang satu dengan lainnya. Tapi, mungkin karena mereka begitu senang pergi bersama sampai akhirnya tangan mereka sudah penuh dengan belanjaan lain yang tidak menjadi fokus utamanya.


Dari atas langit, kedua tengu yang mengawasi mereka sempat menggelengkan kepala.


“Rubah itu…kenapa mereka jadi membeli barang yang tidak diperlukan? Apa itu lagi, lobak? Kita punya lobak di kebun, kan?” gerutu Kuroto


“Mungkin mereka senang karena lobak itu sudah bersih.”


“Tapi itu tidak masuk akal, Hakuren! Lihat itu lagi, mereka membeli lidah buaya?!”


“Aku rasa itu untuk Reda-sama.”


“Dan sekarang mereka membeli kain lain?! Ini sudah tidak benar. Hakuren, mereka membeli minyak dan tali sumbu sekarang!”


“Kuroto, itu untuk Reda-sama. Ryuunosuke mengatakan bahwa dia ingin membeli sesuatu untuk Reda-sama, kan?”


“Lalu bagaimana dengan pakaian untuk gadis itu?! Haduh, kepalaku sakit.”


Entah kenapa, Hakuren merasa Kuroto menjadi sedikit cerewat dari biasanya. Dia tersenyum dan menggoda temannya sedikit.


“Kau ini tampaknya semangat sekali melihat mereka belanja ke pasar, Kuroto. Persis seperti ayah yang mengawasi anaknya saat pertama kali belanja ke pasar.”


“Hah?!”


Mendengar itu, Kuroto sempat kesal. Tapi, dia mencoba menyembunyikan hal itu dan melihat kedua orang di bawahnya.


Hari itu, matahari juga mulai semakin terik.


Setelah dirasa tangan mereka tidak sanggup lagi membawa belanjaan, mereka berjalan meninggalkan pasar dan pulang. Menandakan bahwa mereka sudah menghabiskan banyak waktu di pasar.


Di atas mereka, kedua tengu itu masih mengawasi keduanya. Mereka melihat Ryuunosuke tampak begitu senang sekali.


“Pada akhirnya kita tidak membeli daging yang dibutuhkan, Ryuunosuke. Aku jadi tidak enak membeli semua ini.”


“Kenapa tidak?! Reda-sama mempunyai lobak untuk makan malam ini, ini kan tidak diambil dari kediaman Aragaki-sama. Lalu ada lidah buaya juga untukmu mandi, ada minyak dan sumbu untuk penerangan dan kain dari Ryuunosuke bisa dipakai untuk selimut saat tidur.”


Mendengar itu, Reda begitu terharu sekali.


“Rubah kecilku yang manis begitu perhatian. Senangnya diperhatikan begitu olehmu~”


“Ehehe~Ryuunosuke anak baik, kan? Ibu dulu sering memuji Ryuunosuke.”


“Benar. Ryuunosuke baik.” gadis itu tersenyum mendengar si rubah kecil bercerita banyak hal tentang dia dan ibunya sepanjang jalan.


Begitu sampai di gubuk untuk meletakkan semua belanjaan ini, mereka mendapat kejutan.


“Kami pulang. Eh?!”


“Reda-sama, ada a…huwaaa! Apa ini?!”


Banyak sekali sayuran liar dan jamur. Bahkan kali ini, ada buah apel juga.


“Ini berkah dari Dewa. Terima kasih banyak, Dewa. Ryuunosuke, kira-kira siapa yang meletakkan semua ini ya? Apakah Hakuren-sama dan Kuroto-sama lagi?”


Ryuunosuke meletakkan belanjaannya dan mencium ada aroma yang dikenal olehnya.


“Aroma ini…Nagi-sama dan Ginko-sama?”


Ryuunosuke melihat wajah senang Reda dan bermaksud memberitaunya.


“Reda-sama, ini semua dari–”


“Ryuunosuke, sebentar lagi makan siang. Sepertinya aku sedang ingin sekali memasak sesuatu. Nanti, Ryuunosuke mau makan bersamaku di sini tidak?”


Niat rubah kecil itu diurungkan, bahkan mungkin dilupakan olehnya. Ryuunosuke mengangguk senang sekali.


Di gubuk tua itu, Reda mencuci semua sayuran yang ada di sana sementara si rubah kecil membantu meletakkan barang-barang yang dibeli untuk Reda.


Setelah selesai, Reda kembali membawa sayuran yang sudah dicuci bersih untuk diolah.


“Aku senang aku membeli niboshi dashi ini. Dengan ini, rasa sup jamurnya pasti akan semakin lezat.”


Rubah kecil itu membantu Reda mengambil air untuk merebus sayurnya.


“Aku akan membuat tumis jamur dan sup jamur lobak dengan niboshi dashi ini. Aku harap Ryuunosuke menyukainya.”


Reda tersenyum senang mendengarnya. Si rubah kecil itu bahkan berinisiatif memotong ikan yang dibelinya tadi. Reda yang melihatnya menjadi bingung.


“Ryuunosuke, kenapa dipotong ikannya?”


“Ini untuk digoreng. Memang Reda-sama tidak suka ikannya?”


Reda meletakkan centong kayunya dan mengusap-usap kepala rubah kecil itu.


“Ryuunosuke, ikannya untuk Nushi-sama. Beliau harus mencicipi ikannya terlebih dahulu. Aku tidak masalah tidak memakan ikannya, yang penting Nushi-sama memakannya dengan lahap seperti biasanya.”


“Tapi…”


“Jangan khawatir. Oh, tapi kalau hanya untuk Ryuunosuke tidak masalah. Aku akan menggorengnya.”


“Uu…” telinga dan ekornya menurun


Reda benar-benar tidak tega dengan si kecil menggemaskan itu, tapi dia berusaha untuk tetap mematuhi perintah Aragaki.


Dia menghibur si rubah kecil sampai akhirnya rubah itu mau mengerti. Tentu saja rubah itu belajar banyak hal.


“Makanan sisa tidak akan ditolak Reda-sama!” begitu isi pikirannya. Karena itu, dia memilih potongan ikan paling besar.


Reda membagi ikan itu menjadi ikan goreng dan sup lobak ikan. Aroma harum mulai tercium dari lubang jendela yang terbuka, membuat dua tengu yang ada di luar gubuk itu cukup tergiur.


“Sial, kenapa aroma buatan gadis itu lezat sekali? Membuatku kesal saja!” gerutu Kuroto


“Selama Aragaki-sama tidak tau bahwa Reda-sama yang memasaknya, kita masih bisa makan siang dengan masakan buatan Reda-sama.”


“Aku ingin makan sekarang.”


“Kuroto, kita belum membelinya.”


“Kau benar, ayo!”


Kedua tengu itu terbang kembali seakan merencanakan sesuatu.


Di dalam gubuk, Reda dan Ryuunosuke mulai makan siang. Tentu saja ekor rubah kecil itu bergoyang setiap menyantap masakan buatan gadis itu.


“Enak tidak? Apa rasanya aneh?”


“Enak~masakan Reda-sama tidak ada yang tidak enak. Semuanya enak, semuanya lezat. Sup ikannya juga enak, ikan goreng dan tumis sayurnya juga enak. Sayur gorengnya juga dan–”


“Iya iya, aku mengerti. Jangan bicara saat makan atau nanti Ryuunosuke tersedak. Ini, habiskan ya.”


Mereka benar-benar seperti ibu dan anak. Ryuunosuke menjalankan rencananya. Dia mengambil potongan ikan di piringnya dan membaginya ke piring Reda.


“Eh?”


“Ini untuk Reda-sama. Ryuunosuke sudah kenyang, mau minum sup dan gorengan sayurnya saja.”


“Ryuunosuke…”


Reda menjadi sangat terharu. Dia mulai menyadari bahwa rubah kecilnya itu pasti sengaja melakukannya. Di siang itu, sepotong ikan dari Ryuunosuke adalah makan siang termewah yang dia makan selama di sana.


Selesai makan, rubah kecil itu berniat ingin membantu Reda merapikan semuanya. Namun Reda memintanya untuk kembali ke rumah.


“Kembalilah dulu, Ryuunosuke. Bawa ikan dan bumbunya ya. Nanti kita memasak bersama.”


Ryuunosuke mengikuti permintaan Reda dan berlari keluar membawa ikannya. Selesai merapikan semua, gadis desa itu kedatangan tamu.


“Reda-sama!!”


Reda terkejut dengan kedatangan Hakuren dan Kuroto. Karena terlalu terkejut, dia langsung memberi salam dengan panik.


“Se–selamat siang Hakuren-sama, Kuroto-sama!”


“Selamat siang. Jangan panik seperti itu, Reda-sama.”


“Tapi–”


Reda terdiam melihat apa yang dibawa oleh kedua tengu tersebut. Ada sesuatu yang dilapisi kain tebal di sana.


“Hakuren-sama, Kuroto-sama, itu apa?”


Kuroto langsung memberikannya kepada gadis itu.


“Ini!”


“Ah!” Reda nyaris menjatuhkannya. Memang Kuroto memberikannya dengan sedikit kasar, tapi benda yang diberikan olehnya sangat cantik.


“Apa…ini?”


“Pakaian untuk ganti. Memang kau tidak bosan hanya punya dua sampai tiga helai kain untuk bekerja setiap hari?” nadanya memang sedikit ketus, tapi Kuroto benar-benar memperhatikan gadis itu


“Ini…untukku?”


“Memang kau ingin kami memakai yukata wanita?”


“Kuroto.” Hakuren memberikan bungkusan miliknya. “Ini dariku, Reda-sama. Terimalah.”


Reda merasa terharu dan bingung.


“Tadinya aku memberitau Ryuunosuke untuk membeli pakaian agar Reda-sama bisa menarik perhatian Aragaki-sama, tapi tampaknya rubah kecil itu memiliki idenya sendiri.”


Reda meneteskan air mata.


“Kenapa Hakuren-sama dan Kuroto-sama memberikan ini untukku? Bagaimana kalau kalian dihukum Nushi-sama nantinya?”


Hakuren mendekatinya dan bicara dengannya.


“Reda-sama, kami memutuskan untuk mendukung usaha rubah kecil kesayangan Aragaki-sama. Kami sudah katakan padamu pagi ini bahwa kami tetap akan memperhatikan kalian berdua.”


“Kami sangat yakin dengan apa yang kami katakan dan…kami melihat adanya harapan sekarang.”


“Reda-sama adalah calon ‘pengantin’ yang baik untuk tuan kami. Jika takdir mengizinkannya, kami benar-benar berdoa untuk semua kebahagiaanmu.”


Mata Reda tidak bisa lagi menahan air matanya.


“Anggap itu hadiah, gadis desa. Menangislah karena bangga, seperti pagi ini.”


Ucapan Kuroto itu semakin membuat hati Reda tersentuh. Ini adalah pengakuan untuknya, dia diakui oleh mereka yang setia pada sang Dewa Pelindung sebagai calon ‘pengantin’.


Di dalam hati gadis itu, masih tersimpan perasaan bahwa dirinya sangat tidak pantas untuk Aragaki. Namun, dengan ini dia menjadi begitu percaya bahwa ada kesempatan untuknya mencairkan hati Aragaki yang membeku.


Air mata gadis itu membuat Hakuren begitu tersentuh.


“Reda-sama, seandainya takdir mengizinkan…hanya Reda-sama yang pantas untuk mengisi kekosongan hati tuan kami. Aku berharap ada keajaiban dari langit untuk takdirmu.”


****