Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Ayaneru Berubah ?



Mendengar ada sesuatu yang pecah, kini membuat Ayaneru dan Nami menghentikan aktifitas mereka berdua. Mereka berdua beralih menatap ke asal suara itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Hingga akhirnya mereka mulai melihat seorang pria paruh baya sedang jongkok dan memunguti sesuatu. Nami terlihat begitu syok dan segera mendatangi pria paruh baya yang tak lain adalah suaminya sendiri yang tas sengaja menyenggol dua pot yang berisi dengan tanaman hias kesayangan milik Nami.


"Oh my God, Sayang!! Apa yang sedang kamu lakukan terhadap Philodendron Minima dan Old Pine Bonsai kesayanganku?!!" celutuk Nami terlihat begitu frustasi karena kedua tanaman kesayangannya dirusak oleh suaminya sendiri.


"Sa-sayang, ma-maafkan aku. Ak-aku tidak sengaja melakukannya. Aku sedang bermain bersama Leon dan Leona dan tak sengaja menyenggol pot yang berisi Philodendron Minima dan Old Pine Bonsai kesayanganmu hingga terjatuh dan rusak seperti ini." ucap Nara terlihat begitu was-was ketika mengetahui kemarahan sang istri.


"Kamu sangat menyebalkan!! Aku setiap hari selalu merawatnya!! Namun kamu malah menghancurkannya begitu saja tanpa perasaan!! Kamu menyebalkan, Nara!!" Nami terlihat sangat kesal dan menghujani dada Nara dengan tinju pukulan-pukulannya.


"Sayang, aku berjanji akan mengganti semua itu. Jangan khawatir, Sayang. Jangan bersedih dan menangis."


"Aku tidak bersedih dan menangis! Tapi aku kesal padamu! Kamu sungguh sangat menyebalkan, Nara!" Nami masih saja menghujani tubuh suaminya dengan pukulan-pukulannya.


Sebenarnya pemandangan ini terlihat sangat lucu untuk Ayaneru. Seorang pria paruh baya yang selalu terlihat berwibawa, tegas, berkharisma tinggi, dingin di depan semua orang, namun begitu konyol dan takut ketika melihat istrinya sedang marah dan kesal kepada dirinya.


Nami masih merasa kesal dan meninggalkan tempat itu. Sedangkan suaminya masih berusaha untuk mengejarnya. Berusaha untuk membujuk dan meminta maaf kepadanya.


Selepas kepergian mereka, Leon dan Leona mulai menghampiri Ayaneru.


"Ma! Aku lapar!" rengek Leona memegangi perutnya dengan memasang mimik wajah kelaparan.


"Aku juga, Ma!" imbuh Leon.


"Baiklah. Ayo mama akan ambilkan dan temani kalian untuk makan!" sahut Ayaneru mulai menggandeng kedua buah hatinya untuk menuju dapur.


"Kalian mau makan apa? Mama akan memasaknya untuk kalian." tanya Ayaneru setelah mereka sampai di dapur.


"Makanan yang sudah ada saja, Ma." sahut Leon mulai duduk di salah satu kursi di ruangan makan.


"Hhm. Apa yang ada saja, Ma!" imbuh Leona.


"Baiklah. Ini ada Kaarage dan Curry Rice. Kalian mau kan, Sayang?" sahut Ayaneru memeriksa makanan di lemari penyimpanan.


"Iya, Ma! Tapi punyaku jangan dikasih sayuran ya, Ma!" ucap Leona meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil tak sabar untuk menantikan makanan itu diantarkan sang mama.


"Kasih saja sayuran yang banyak, Ma! Lama-lama ngelunjak ni anak tidak mau makan sayuran sama sekali!" ujar Leon mendengus kesal.


"Ihh!! Apaan sih, Kak Leon!! Aku tidak mau makan jika ada sayurannya!" tandas Leona kesal.


Ayaneru tersenyum tipis mendengarkan perdebatan kedua buah hatinya. Dia membawakan 2 piring Curry Rice dan juga sepiring kaarage untuk mereka berdua.


Sehingga serat sayuran akan sedikit tergantikan dari buah-buahan itu untuk Leona.


...🍁🍁🍁...


Malam ini Reo mengajak Ayaneru dan kedua buah hatinya kembali ke Yokohama. Karena sebenarnya masih ada beberapa yang harus Reo urus di Yokohama. Sementara untuk Fukushi Group masih memiliki beberapa anak buah untuk mengurusnya, bahkan papanya juga masih memegang kendalinya disana.


Berbeda dengan beberapa perusahaan baru yang masih membutuhkan pengawasan ekstra untuk tumbuh semakin besar dan kuat dengan struktur organisasi dan pemasarannya.


"Tubuhku terasa begitu lelah dan tak bertenaga. Lemas sekali rasanya, tak seperti biasanya." gumam Ayaneru mulai memutuskan untuk beristirahat, padahal saat itu kedua buah hatinya masih saja berada di ruang tengah sedang asyik menonton TV bersama baby sitter mereka.


"Kalau begitu aku akan memijitimu, Sayang ..." sahut Reo yang rupanya sudah menyusul ke kamar dan mulai mengunci pintu kamarnya.


"Eh? Ti-tidak perlu ... aku hanya butuh beristirahat saja kok. Setelah bangun nanti mungkin tubuhku sudah kembali segar dan pulih."


"Mana bisa aku membiarkan istriku kelelahan begitu saja?! Sudah jangan menolak lagi! Diam dan menurut saja! Kamu pasti kelelahan karena kemarin sibuk di Osaka. Mama mengatakan kika kamu membersihkan seisi rumah dan merawat tanaman mama tanpa beristirahat. Padahal kamu tidak perlu melakukannya, Sayang. Karena mereka sudah memiliki beberapa pelayan khusus yang memiliki masing-masing pekerjaan." ucap Reo yang sudah menggendong depan Ayaneru untuk membaringkannya di atas pembaringan.


Reo mulai menurunkan Ayaneru di atas pembaringan dan berusaha untuk membantunya melepaskan sepatu hak tingginya, namun dengan cepat Ayaneru sedikit menghindarinya karena merasa segan.


"Aku akan melepasnya sendiri ..." ucapnya berusaha untuk melepaskannya sendiri.


Namun Reo tak mau mengalah. Dia kembali meraih kaki jenjang putih itu dan sedikit mengusapnya, sementara jemari satunya berusaha untuk melepaskan sepatu hak tinggi Ayaneru.


"Neru, jangan lupa janjimu malam ini. Kamu mengatakan jika akan membayar janjimu tadi pagi." ucap Reo mulai menagih janji sang istri.


"Eh? Tapi saat ini aku merasa sangat lesu dan lelah sekali, Reo ..."


"No reason! Kamu sudah berjanji padaku, Sayang ... dan aku tak mau menerima alasan apapun." kini Reo berusaha untuk mendorong tubuh Ayaneru dan membuatnya terbaring.


Namun disaat jarak di antara wajah mereka berdua hanya menyisakan beberapa inchi saja, tiba-tiba Ayaneru segera mendorong tubuh Reo hingga membuat tubuh Reo terhuyung ke samping.


Dengan cepat Ayaneru menuju ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya karena merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Dan kini tiba-tiba saja dia sudah merasa mual dan ingin mengeluarkan sesuatu.


Sementara Reo yang mendapatkan perlakuan yang tidak seperti biasanya dari sang istri mulai kebingungan sendiri.


"Ada apa dengan dia? Mengapa dia menolakku untuk menciumnya? Mengapa dia menolakku malam ini? Apakah ... ini ... karena Lin Chen yang sudah mempengaruhi pikirannya? Arghh ... awas saja jika sampai hal itu benar-benar terjadi!" geram Reo sangat kesal.


Bukannya mengejar Ayaneru, tapi Reo malah memeriksa ponsel milik sang istri untuk memastikan sesuatu. Beberapa sosial media mulai diperiksanya satu per satu untuk mencari sesuatu.


Namun disaat bersamaan, ponselnya mulai berdering. Terlihat nama Gavin memenuhi layar ponselnya. Tanpa pikir panjang dan merasa mendapatkan sebuah kesempatan waktu yang tepat, akhirnya Reo mulai mengangkat panggilan itu.