Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Ada Apa?



"Mamaku adalah mama terbaik!! Tidak ada yang bisa melebihi dia di dunia ini!!" tandas Leon menatap tajam para wanita dewasa itu.


"Benar!! Kalian tak tau apa-apa soal mamaku! Jadi jangan berbicara omong kosong, Wanita sihir tua yang jelek dan ber-make up tebal!! Dasar tak tau malu dan merasa paling baik saja!" imbuh Leona mulai berbicara juga karena merasa kesal.


"Wah wah!! Hebat sekali didikan wanita itu! Sampai anak sekecil ini sudah dengan sangat tidak sopan mengatakan kami nenek sihir?! Benar-benar bukan wanita yang baik dan sangat kasar. Pasti mulutnya akan lebih kasar dari putranya ini. Ckkk ..." timpal salah satu wanita itu mencibir.


"Apa kalian tidak sadar?! Mulut kalian lah yang kasar dan pedas!" balas Leon tak mau kalah.


"Wah benar tidak benar ini didikannya!" balas wanita itu lagi.


"Dan sepertinya didikan kedua orang tua kalian juga sudah sangat tidak benar, sehingga mulut kalian menjadi sangat jahat seperti ini!!" timpal Leona sangat berani.


"Dasar!! Benar-benar anak tak tau diri dan sangat kurang ajar!! Berani sekali mengatakan hal seperti itu!! Apa kamu tidak tau siapa aku?!!" wanita itu sangat kesal dan mulai mendekati Leona ingin melayangkan tamparannya.


Ayaneru yang sebenarnya sejak dari tadi menahan amarahnya, kini dengan cepat mendekati mereka dan menahan serangan itu.


GREPP ...


"Jika kamu berani menyentuh putra dan putriku, maka kamu akan berhadapan denganku. Dan aku akan memperlihatkan diriku yang sebenarnya kepada kalian!! Seberapa jahat, kejam dan tak tau dirinya aku!! Agar kalian puas!!" tandas Ayaneru dengan wajah yang sudah memerah padam menahan amarahnya.


"Anak sama ibu sama saja tak tau etika dan sangat kasar dan jahat!! Rasakan ini karena sudah menghina kedua orang tuaku!!" wanita itu melayangkan tangan kanannya untuk menampar Ayaneru.


Namun tiba-tiba saja seseorang mulai menangkap tangan kanannya.


GREPP ...


"Nyonya. Tolong jangan bersikap kasar seperti ini. Atau kami bisa melaporkan semua ini kepada pihak berwajib!" tandas seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jasnya sudah berdiri tepat di samping Ayaneru.


Wanita itu membeku seketika, namun segera menepis tangan pria itu dengan sangat kasar. Para wanita itu segera meninggalkan tempat ini danasih saja mencibir di sepanjang jalan.


"Dasar!! Benar-benar tukang selingkuh!! Sekarang mereka malah terang-terangan bertemu di hadapan umum seperti ini. Ckkk!! Aku harap Mr. Reo bisa membuka matanya dan sadar!" bisik wanita itu kepada wanita lainnya di sepanjang jalan.


"Neru. Apa kamu baik-baik saja? Mengapa tidak ada pengawal bersama kalian?" tanya pria tanpa eyelid itu.


"Lin- Lin Chen? Kami baik-baik saja kok. Terima kasih ... para pengawal ada di luar sekolah kok. Tapi ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Ayaneru kebingungan, mengapa Lin Chen bisa ada di sekolah anak-anak. Sementara Lin Chen belum memiliki seorang anak.


"Oh soal itu ... aku ada keperluan dengan seorang pengajar disini." jawab Lin Chen dengan ramah seperti biasanya.


"Paman Lin Chen tidak sengaja mengikuti mama ke tempat ini bukan? Tolong jangan persulit mama ya, Paman ..." ucap Leon mendongak menatap Lin Chen dingin.


"Ehh? Te-tentu saja tidak, Leon. Paman benar-benar ada janji dengan salah satu pengajar kalian di sini kok." jawab Lin Chen salah tingkah.


"Paman tidak sedang berusaha untuk merebut mama dari papa bukan?" selidik Leona memicingkan mata menatap Lin Chen.


"Ehh? Ten-tentu saja tidak, Leona ..." sahut Lin Chen semakin gelagapan dan melambaikan kedua tangannya.


"Hai!! Kamu sudah datang, Lin Chen? Maaf, tadi aku keluar sebentar dan baru kembali." ucap wanita berpakaian formal itu.


"Tidak masalah kok. Aku juga baru saja datang kok!" sahut Lin Chen ramah.


"Oh hai, Leon dan Leona. Halo, Nyonya." sapa wanita itu menatap Leon, Leona dan Ayaneru.


Ayaneru membalasnya dengan senyum dan menundukkan kepalanya, "Hallo. Saya datang untuk menjemput mereka."


"Halo, Bu guru cantik! Kalau begitu kami permisi dulu ya. Kami harus segera pulang!! Dah, Bu Guru cantik!! Dah, Paman Lin Chen!!" Leona segera menggandeng tangan Leon dan Ayaneru untuk meninggalkan tempat itu.


...🍁🍁🍁...


Di sepanjang perjalanan bahkan hingga sampai di rumah, Ayaneru lebih banyak terdiam karena memikirkan semua ucapan dari para wanita di tempat sekolah Leon dan Leona.


Ayaneru masih saja tidak mengerti akan apa yang telah mereka bicarakan. Bahkan Ayaneru sudah berusaha untuk mencari tau melalui media sosialnya dan melakukan browsing, namun tetap saja Ayaneru tak menemukan apapun di dunia digital.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mereka marah dan kesal padaku. Mereka juga mengatakan jika aku adalah tukang selingkuh. Bahkan mereka berharap Reo akan menceraikanku. Sebenarnya siapa yang selingkuh dengan siapa? Aku bahkan tak pernah dekat dengan pria manapun.


Batin Ayaneru terdiam menatap sisi kaca jendela samping mobil. Sementara Leon dan Leona masih sibuk dengan dunianya sendiri. Namun sesekali Leon juga berusaha untuk menghibur sang mama.


"Ma. Jangan pikirkan ucapan para nenek sihir yang suka bergosip itu, Ma! Tak ada gunanya memikirkan mereka!" ucap Leon masih dengan nada datar, namun pria kecil ini berharap bisa sedikit menghibur sang mama.


"Kak Leon benar, Ma! Mereka hanya iri saja dengan mama! Iri tanda tak mampu!! Dan itu artinya mama lebih baik dari mereka!" imbuh Leona sambil memakan kue di dalam mobil.


"Kalian tenang saja. Mama baik-baik saja kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkan mama ya ..." ucap Ayaneru dengan tulus.


...🍁🍁🍁...


Ayaneru masih saja kefikiran mengenai apa yang menimpanya saat di sekolahan kedua anak kembarnya. Namun seberapa dia mencari tau apa penyebabnya, tetap saja dia tak menemukan apapun.


Dia hanya terdiam dan melamun saja di sepanjang malam di kamarnya. Dan hal ini cukup membuat Reo kebingungan. Bahkan Reo malah mengira jika Ayaneru masih mengambek gara-gara masalah TV dan kue di kantor.


"Sayang ... apa kamu baik-baik saja? Kamu terlihat murung seharian ini ..." ucap Reo yang sudah duduk santai di atas pembaringan.


Sementara Ayaneru masih duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambut panjangnya yang sedikit bergelombang indah.


"Aku baik-baik saja kok."


"Aku tidak yakin. Kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini kan? Katakan padaku ... ada apa, Sayang? Bukankah aku sudah mengatakannya agar kita saling terbuka? Apakah ini karena tadi di kantor? Aku ... minta maaf jika memang karena itu ... aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis kok."


Mendengar ucapan dari Reo, Ayaneru tersenyum tipis dan meletakkan sisirnya di atas meja rias.