
Wajah Ayaneru masih merona karena mendengar ucapan dari Reo beberapa saat yang lalu. Selama ini, seperti apapun keadaan mereka berdua, mereka akan selalu bersikap manis dan hangat. Dan kini Reo mulai menggodanya kembali.
"Uhm ... itu ... baiklah jika kamu menginginkannya. Uhm ... tapi jangan disini, kita di atas pembaringan saja yuk! Aku khawatir jika aku kamu pangku seperti ini, maka akan semakin memperburuk kondisi kaki kamu."
Ucap Ayaneru masih dengan wajah yang merona malu, namun dia tak mau jika kondisi kesehatan suaminya akan malah semakin memburuk karena posisi mereka berdua saat ini.
"Dimanapun itu, aku tidak masalah kok. Intinya aku kangen dan sedang ingin bersamamu." lagi-lagi Reo mengucapkannya dengan sangat manis dan lembut.
"Uhm. Ya sudah, aku akan membantumu untuk berpindah." ucap Ayaneru berusaha untuk berdiri kembali.
Kali ini Reo melepaskan Ayaneru, namun rupanya rambut Ayaneru malah tersangkut pada salah satu kancing pakaian Reo dan membuatnya tertahan dengan posisi menunduk berhadapan dengan Reo. Sementara kedua tangannya mendarat dan berpegangan pada dada bidang Reo.
Pandangan mereka berdua saling bertemu selama beberapa saat dan membuat mereka berdua terhanyut dalam situasi indah dan hangat saat ini.
"A-aduh ... rambutku malah tersangkut. Maaf ..." ucaap Ayaneru setelah beberapa saat dan berusaha untuk melepaskan beberapa helai rambutnya dari salah satu kancing pakaian Reo.
Ikatan itu tak kunjung bisa dilepaskan oleh Ayaneru, namun Ayaneru masih tetap berusaha untuk melepaskannya. Sementara Reo malah menikmati wajah ayu di hadapannya itu.
Meskipun sudah memiliki 2 orang putri dan 1 orang putra, namun Ayaneru masih terlihat sangat cantik dan muda. Karena usianya juga masih cukup muda saat ini, yaitu memasuki 26 tahun.
Tak bisa menahan diri lagi, akhirnya Reo berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Tangan kirinya meraih tangan Ayaneru, sementara tangan kanannya meraih tengkuk istrinya dan sedikit menariknya untuk mendekatkannya pada dirinya.
Hingga akhirnya sebuah kecupan lembut nan hangat itu terjadi begitu saja membuat Ayaneru terkejut dan membelalakkan sepasang mara beningnya yang indah. Karena semua ini sangat tiba-tiba. Namun setelah beberapa saat, akhirnya dia mulai memejamkan sepasang matanya dan menikmatinya.
Reo kembali menarik Ayaneru hingga membuatnya terduduk kembali di atas pangkuannya tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Tak bisa menolaknya, Ayaneru hanya mengikuti saja kemauan dan permainan dari Reo.
Sebuah suara manja dan sedikit mendes*ah mulai menyelinap keluar dari mulut Ayaneru disaat jemari Reo mulai bermain pada area sensitif Ayaneru yang sampai saat ini masih sangat sensitif jika terjamah olehnya.
Sentuhan-sentuhan itu membuat tubuh Ayaneru menggeliang dan merasa terbang ke angkasa.
Disaat itulah sebenarnya Ayaneru mulai merasakan ada sesuatu yang cukup aneh terjadi. Dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal disaat dia duduk di atas pangkuan Reo.
Eh? A-apa ini? Mengapa ada sesuatu yang mengganjal? Apakah itu ... apakah Reo sudah sembuh? Semoga saja memant seperti itu. Karena aku juga ingin segera melihatnya pulih kembali. Rasanya tak tega melihatnya selalu terduduk di kursi roda ...
Batin Ayaneru di tengah-tengah ciuman intents yang sudah menjadi semakin bergairah itu. Namun setelah beberapa saat, akhirnya Ayaneru mulai mendorong tubuh Reo dan menghentikan semuanya, hingga semuanya berakhir.
"Ada apa, Sayang?" tanya Reo tak mengerti dan sedikit menyibak rambut bergelombang kecoklatan milik istrinya.
"Uhm ... jangan seperti ini ... ayo kita pindah ke atas pembaringan saja ... biar bagaimanapun kamu belum sepenuhnya pulih." Ayaneru kembali mengusulkan karena masih mengkhawatirkan kondisi Reo.
"Hhm. Baiklah jika istriku yang cantik ini menginginkan untuk melanjutkannya di atas pembaringan. Sekali-kali bagaimana jika kamu yang menguasai semuanya, Sayang? Aku akan pasrah kamu mau memperlakukan aku seperti apa." ucap Reo dengan seulas senyum manisnya menggoda Ayaneru.
"Apaan sih ..." Ayaneru menyauti malu-malu dan wajahnya semakin bersemu merah.
Reo langsung tertawa kecil melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangat manis dan menggemaskan.
Ayaneru hanya memasang wajah cemberut karena suaminya masih saja suka menggodanya. Dan sangat mengetahui kelemahan Ayaneru.
Ayaneru segera melepaskan kembali beberapa helai rambutnya yang tersangkut pada salah satu kancing pakaian Reo. Setelah itu dia mulai membantu Reo untuk berpindah ke tempat tidurnya.
Namun kali ini mereka malah melihat-lihat beberapa foto Anya, Leon dan Leona di dalam galeri ponsel Ayaneru. Canda tawa terlihat menghiasi wajah mereka berdua.
Dan sebenarnya hal ini sengaja Ayaneru lakukan untuk menutupi kegugupannya saat ini. Reo memahami semua itu, namun dia mengikutinya saja. Karena melihat Ayaneru yang tersipu malu membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan, dan hal itu sangat disukai oleh Reo.
"Sayang, tidur yuk!" ajak Reo yang terlihat sudah mulai lelah dan mengantuk.
"Hhm? Ayo ..." sahut Ayaneru menyimpan kembali ponselnya di atas nakas dan mulai mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu malam.
Reo meraih tangan Ayaneru dan menariknya, membuat Ayaneru terbaring di dekatnya dan melingkarkan tangan Ayaneru melingkar memeluk tubuhnya.
Dengan sangat manja Reo mengusap-usap kepala Ayaneru dengan dagu indahnya.
"Terima kasih ya, karena selama ini kamu sudah bersabar dan selalu ada di sampingku. Meskipun aku cacat dan tidak berguna, namun kamu masih selalu ada membersamaiku tanpa merasa malu karema memiliki suami yang cacat dan tidak berguna. Kamu juga tidak meninggalkanku disaat aku sedang terpuruk. Kamu bahkan selalu merawatku tanpa pernah merasa lelah. Terima kasih, Neru. Aku sangat beruntung karena memilikimu. Selain cantik, kamu juga sangat baik, tulus dan setia."
Ucap Reo tulus dan memejamkan sepasang matanya. Menghirup aroma wangi rambut Ayaneru yang selalu dia ridukan disaat dia harus bekerja dan berjauhan dengan sang istri.
"Justru akulah yang sangat beruntung karena telah menjadi istrimu. Kamu sangat baik, penyayang, da selalu mementingkan keluargamu. Sesibuk apapun itu dan selelah apapun itu, kamu tak pernah mempedulikan semua itu. Karena kamu hanya memikirkan keluargamu untuk bisa selalu bahagia. Akulah yang sangat beruntung karena menjadi istrimu, Sayang. Terima kasih ..."
Balas Ayaneru memejamkan sepasang matanya dan semakin menengelamkan kepalanya memeluk Reo.
"Bibirmu sangat manis. Membuatku ingin merasakannya lagi ..." balas Reo malah menggoda Ayaneru lagi.
"Ahaha ... bibirmu lebih manis. Aku bahkan belajar semua ini darimu." balas Ayaneru membela diri.
"Oh ya?"
"Hhm ..."
"Kamu memang istriku! Kamu sangat cerdas!" puji Reo. tersenyum tipis.. Ya sudah ayo kita tidur, Sayang, Oyasuminasai ..."
"Oyasuminasai ..." balas Ayaneru semakin menenggelamkan kepalanya di dalam pelukan sang Suami.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka berdua mulai tertidur dengan pulas. Karena suasana hati mereka berdua saat ini, sudah begitu nyaman, istirahatpun menjadi lebih tenang seketika
...🍁🍁🍁...
Besambung ...