
Reo yang baru saja menyelesaikan sebagian pekerjaannya, kini menyempatkan dirinya untuk menghubungi Ayaneru. Sebenarnya pekerjaannya belum sepenuhnya selesai, namun dia memutuskan untuk melanjutkannya esok karena tiba-tiba saja perasaannya sangat tidak enak.
Kali ini pria yang penuh dengan pesona dan kharisma tinggi itu memutuskan untuk pergi ke apartemen Ayaneru untuk mengantarkan beberapa makanan.
Dan tentu saja alasan yang sebenarnya adalah untuk menemui calon istri dan juga kedua anak kembarnya. Bisa dikatakan untuk mengobati rasa rindunya. Namun rupanya panggilannya sama sekali tak diangkat oleh Ayaneru. Dan panggilan kedua tiba-tiba saja tak terhubung pada ponsel Ayaneru. Ponsel Ayaneru tidak aktif.
Tentu saja hal itu sebenarnya cukup aneh untuk Reo. Karena hubungan mereka berdua sebelumnya sangat baik-baik saja. Dan tidak ada pertengkaran terjadi.
.
.
.
.
.
"Apa? Mama kalian belum pulang?" tanya Reo tak percaya ketika sudah sampai di apartemen sederhana itu.
Bahkan Leon dan juga Leona masih berada bersama Yora saat Reo datang.
Ini sudah sangat larut, seharusnya Ayaneru sudah pulang sebelum senja tiba. Ponselnya tiba-tiba saja tak bisa dihubungi. Ckk ... kemana sebenarnya dia pergi?!
Batin Reo yang sebenarnya cukup merasa khawatir akan Ayaneru saat ini.
"Ya sudah kalian makan ini saja bersama bibi Yora. Papa akan menjemput mama kalian dulu." ucap Reo sambil menyodorkan sebuah bingkisan yang beraroma begitu manis dan gurih kepada Leona.
"Baik, Pa. Hati-hati ..." sahut Leona mulai memasuki rumah Yora saking bersemangatnya untuk segera menyantap makanan lezat yang sudah menggoda saliva Leona.
"Pa!" tiba-tiba saja Leon meraih jemari Reo dan membuat Reo tertahan. "Tolong segera jemput dan bawa mama pulang kembali. Perasaanku tidak enak, Pa. Tidak seperti biasanya mama seperti ini. Mama akan selalu memberikan kabar jika dia akan pulang terlambat." imbuh Leon berharap Reo agar segera membawa kembali mamanya pulang untuknya.
Reo mulai duduk bersimpuh untuk menyeimbangi tinggi Leon. Reo juga tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Leon. Sementara Leon hanya menatapnya dengan tatapan datar namun penuh kecemasan.
"Jangan khawatir, Leon. Papa akan segera menjemput dan membawa mama kalian pulang. Kamu makanlah dulu bersama Leona di dalam." ucap Reo dengan hangat.
Leon hanya menggangguk pelan lalu mulai memasuki rumah.
"Tolong jaga baik-baik Leon dan Leona! Aku akan mencari Neru." titah Reo kepada Yora.
"Baik, Tuan Reo."
Reo segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Namun rupanya dia malah berpapasan dengan Lin Chen yang baru saja datang. Pada awalnya Reo merasa kesal karena melihat pemuda itu. Karena Reo ingat jika pemuda itu pernah ingin menjemput Ayaneru saat di Narita Airport saat mereka baru kembali dari Paris.
"Lebih baik kau pulang saja! Neru belum pulang!" tandas Reo ketus seakan Reo bisa membaca maksud kedatangan Lin Chen yang ingin menemui Ayaneru.
"Neru belum pulang?" tanya Lin Chen dengan kening berkerut.
"Hhm. Jadi lebih baik kamu pulang dan jangan pernah berusaha untuk mendekati calon istriku lagi!" ucap Reo penuh dengan ancaman.
"Calon istri? Tu-tunggu dulu! Apa maksudnya Neru akan menikah dengan kamu?" tanya Lin Chen terlihat begitu syok.
"Hhm. Akhir bulan ini kami akan segera menikah!" tandas Reo menekankan.
Pernyataan dari Reo cukup membiat Lin Chen merasa syok. Karena selama ini Lin Chen belum mengetahui semua itu. Bahkan Ayaneru juga belum pernah bercerita kepada dirinya.
Harapan dan impian untul kembali mendekati Ayaneru seketika pupus setelah mendengarkan ucapan dari Reo. Padahal Lin Chen juga sudah memantapkan hatinya untuk segera melamar Ayaneru dan akan menerima Leon dan Leona dengan tulus.
Semua rasa kecewa dan kekalutan itu hanya sebentar saja mengganggu suasana hatinya saat ini. Karena Lin Chen mulai sadar akan ucapan dari Reo "Neru belum pulang."
Dan hal itu kembali membuat Lin Chen teringat dengan beberapa saat yang lalu. Disaat Ayaneru malah pergi bersa dengan Jay Yeol saat Ayaneru baru pulang bekerja.
"Tuan Reo!!" Lin Chen kembali memanggil Reo yang sudah melenggang meninggalkan dirinya.
Reo yang sudah berada beberapa meter dari dirinya kini mulai menghentikan langkahnya kembali dan berbalik.
"Ada apa?! Aka kamu masih saja ingin berperang dan mendekati calon istriku?!" celutuk Reo dengan tatapannya yang tajam.
"Bukan seperti itu! Aku hanya ingin bertanya kepada tuan. Apakah tuan Reo tau dimana keberadaan Neru saat ini?"
"Aku tidak tau! Dan jika aku sudah tau, maka sebelum aku datang ke tempat ini, maka pastinya aku akan lebih dulu menjemputnya!!" tandas Reo tegas.
"Sebenarnya sore tadi aku melihat presdir Jay Yeol menjemput Neru saat dia baru pulang berkerja." ucap Lin Chen mulai bercerita.
"Apa?! Jay Yeol?!" ucap Reo sangat syok dan hampir saja tak percaya. "Jadi ini adalah ulah dari playboy bule gila itu ya?!!" geram Reo mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya saking emosinya.
"Aku tidak begitu yakin. Tapi aku hanya melihat itu. Dan itu adalah terakhir kali aku melihat Neru hari ini."
Tanpa menjawab ucapan dari Lin Chen, Reo segera berbalik dan melangkahkan kakinya semakin cepat. Reo segera kembali memasuki mobilnya yang rupanya di dalam sana masih ada Gavin yang sedang menunggunya.
Reo mulai mengusir Gavin yang sedang duduk di dekat kursi kemudi.
"Kau pegang kemudi!! Aku harus melakukan sesuatu saat ini!!" titah Reo dengan tegas dan terburu-buru.
Gavin segera berpindah di kursi kemudi, sementara Reo mulai duduk di sebelahnya. Sebuah mini computer mulai diaktifkannya dengan sangat cepat.
"Jalan!!"
"Kita pergi kemana lagi, Tuan?"
"Jalan saja kemanapun sambil menunggu instruksi dariku!!" tandas Reo mulai membuka sebuah aplikasi dan mulai memasukkan beberapa coding-coding untuk melakukan peretasan di berbagai tempat.
Jemarinya begitu lincah menari di atas keyboard. Sementara sepasang netranya fokus menatap layar kecil itu.
...🍁🍁🍁...
Sementara itu di tempat lainnya di dalam sebuah kamar hotel berbintang di daerah Yokohama, terlihat seorang wanita cantik dengan gaun malam yang begitu aduhai, sedang bersama dengan dua orang pria.
"Ughh ... aku harus segera meninggalkan tempat ini! Aku harus bisa keluar dari kamar ini! Tapi ... ada apa dengan tubuhku? Mengapa tubuhku terasa sedikit aneh dan tidak seperti biasanya?" gumam Ayaneru berusaha untuk segera bangun, meskipun tubuhnya terasa sedikit aneh dan berbeda.
Salah satu pria itu mulai mendekati wanita itu dan segera menggendongnya dengan bahunya dan berakhir menghempaskannya di atas pembaringan berukurang king itu.
BRUGGHH ...
"Ahhh ..." pekik wanita itu karena hempasan yang cukup kasar itu.
Pria berambut pirang dan sedikit gondrong itu terlihat sudah tidak sabaran untuk melakukan sesuatu kepada wanita itu. Dan mungkin ini adalah karena pengaruh dari dupa pembangkit gairah yang sudah mereka nyalakan.
Pria itu mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu dan berakhir menanggalkannya begitu saja, hingga tubuhnya yang sedikit kurus namun atletis mulai terlihat.
"Cckk ... Aarroon!! Biarkan aku dulu yang menikmatinya!! Aku yang lebih dulu menemukannya!!" pria lainnya mulai mendorong tubuh sang adik dan segera mendekati wanita yang kini sudah terduduk di atas pembaringan dengan tingkah yang sedikit berbeda.