
Reo terduduk di atas kursi rodanya dengan pandangan yang begitu datar. Sementara Ayaneru mendorong kursi roda itu dengan begitu hati-hati untuk membawa Reo berjalan-jalan melihat taman rumah sakit, seperti yang Reo inginkan saat ini.
Angin berhembus membuat tanaman bunga di hadapan mereka menari-nari dengan indah, seolah-olah sedang ingin menghibur mereka berdua yang sedang bersedih saat senja ini.
Ayaneru sedikit maju dan menunduk, dia mulai memeluk Reo dari belakang dan mendaratkan dagu indahnya pada bahu lebar suaminya. Wanita cantik ini bersikap untuk tetap ceria dan kuat agar suaminya memiliki semangat dan tidak berputus asa karena kondisinya yang seperti ini.
Pendangan Reo masih saja nanar menatap lurus ke depan entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Dia yang selama ini dikenal sebagai sosok pria yang tegas, cerdas, kuat untuk menghadapi segala hal apapun, terkenal sebagai seorang raja dari segala raja di dunia bisnis fashion ... namun kali ini terlihat begitu rapuh.
Bahkan dia merasa tidak berguna, karena tak akan bisa melindungi istri dan anak-anaknya dengan sempurna seperti sebelum-sebelumnya.
"Neru ... maafkan aku ..." ucapnya lirih dan bergetar.
Reo masih menatap nanar ke depan dan mulai mengusap tangan Ayaneru yang masih memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku jika aku menjadi suami yang sangat tidak berguna untukmu. Maafkan aku jika aku mungkin tidak bisa menjadi sosok papa yang baik untuk anak-anak. Aku tidak berguna. Dan kini aku menjadi cacat ..." ucap Reo lagi masih dengan lirih dan parau.
"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Bagaimanapun keadaanmu, seperti apapun kamu ... bagi kami, kamu adalah sosok suami dan seorang papa yang sangat baik. Kami menyayangimu. Dan kami akan selalu ada untukmu. Kamu juga harus selalu semangat, kamu pasti bisa pulih kembali! Jangan pernah menyerah! Kita sebagai manusia hanya bisa untuk berusaha dan berdoa disaat menghadapi apapun. Saat ini mungkin turun hujan, namun kita tidak pernah tau hari esok. Bisa saja esok akan ada pelangi indah yang sedang menantikan kita."
Ucap Ayaneru berusaha menghibur suaminya dengan ceria, meskipun sebenarnya hatinya masih saja merasa nyeri dan sakit.
"Jangan pikirkan apapun lagi! Yang terpenting sekarang adalah kamu harus tetap semangat untuk menjalani beberapa terapi dan juga meminum obat dengan rutin." ucap Ayaneru lagi tersenyum hangat dan memiringkan wajahnya menatap sisi samping wajah Reo, dan sesekali dia mengecup pipi suaminya.
"Terima kasih, Sayang ..." ucap Reo tulus dan kembali mengusap-usap tangan Ayaneru yang masih memeluknya dari belakang.
"Hhm ... kamu mau makan sesuatu? Aku akan pesankan. Atau kamu mau memakan makanan faforitmu?" Ayaneru menawari.
Reo tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Sayang, jangan seperti itu. Kamu harus makan sesuatu karena sebentar lagi adalah waktunya meminum obat. Aku pesankan makanan kesukaanmu ya?" tanya Ayaneru kembali memiringkan wajahnya menatap suaminya.
Reo juga memiringkan wajahnya untuk menatap sang istri, lalu dia tersenyum tipis dan mengangguk menuruti sang istri.
"Baiklah! Tunggu sebentar!" Ayaneru mulai melepaskan pelukannya dan segera melakukan sesuatu dengan ponselnya.
Dia meminta salah satu pengawalnya untuk mengantarkan makanam kesukaan suaminya. Setelah itu dia kembali mengajak Reo kembali ke ruangan rawatnya.
Tak butuh untuk menunggu lama, seorang pengawal mulai datang mengantarkan bingkisan ke ruangan rawat Reo. Ayaneru melakukan tugasnya sebagai seoramg istri dengan baik.
Dia menyuapi Reo dengan sabar dan telaten, meskipun pada awalnya Reo menolak untuk disuapi dan ingin memakannya sendiri dengan alasan kedua tangannya masih bisa berfungsi dengan baik.
Di sela-sela situasi hangat saat ini, Reo kembali melontarkan sebuah pertanyaan untuk istrinya.
"Neru ..."
"Ya?"
"Mengapa aku harus malu? Bagiku kamu tidaklah cacat, tapi kamu sangat sempurna! Cinta dan kasih sayangmu begitu sempurna!" sahut Ayaneru tersenyum hangat dan mulai membersihkan sudut bibir Reo yang ada sisa makanan.
"Sayang, bagiku ... cacat fisik itu lebih baik jika dibandingkan dengan cacat hati. Jika cacat fisik, masih bisa diperbaiki. Namun jika cacat hati, semua akan sulit untuk diperbaiki." imbuh Ayaneru mendekatkan wajahnya pada Reo untuk menatap setiap detail dari wajah suaminya.
"Begitukah?"
"Hhm ... tentu saja!!"
"Kau ... memang istriku. Sangat pandai berkata-kata." gumam Reo mulai tertawa kecil karena merasa terhibur.
Ayaneru ikut tertawa bersama Reo. Dia merasa senang karena melihat suaminya kini bisa tertawa lagi.
"Tentu saja! Aku belajar banyak darimu, Sayang!" sahut Ayaneru yang sepertinya mulai terbiasa dengan panggilan itu.
"Benarkah? Apa saja itu?" tanya Reo sangat ingin tau dan mulai melupakan kesedihannya saat ini.
"Hhmm. Apa kamu ingin tau?" tanya Ayaneru mulai meletakkan bingkisan makanan yang sudah habis itu di atas nakas.
"Hhm. Aku ingin tau ..." sahut Reo masih penasaran dan mendongan menatap sang istri.
Ayaneru mulai berjalan medekati kursi roda dimana Reo masih terduduk di atasnya. Perlahan dia mulai membungkuk mendekati Reo dan tersenyum samar.
"Salah satunya adalah ini ..." ucap Ayaneru mulai memiringkan wajahnya dan mendekati wajah Reo dengan sepasang mata yang terpejam, hingga akhirnya dia mulai memagut bibir pucat Reo.
Sepasang mata kebiruan Reo malah membulat sempurna ketika mendapatkan hal tak terduga ini dari sang istri. Namun akirnya Reo mulai memejamkan sepasang matanya dan mulai menikmatinya.
Bukan sebuah ciuman yang dipenuhi dengan hasr*t, namun lebih mengarah pada ciuman untuk mengungkapkan rasa rindu dan rasa saling menyayangi satu sama lain.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya orang tua Reo baru bisa datang mengunjunginya di Yokohama, karena beberapa saat yang lalu mereka sempat pergi ke luar Negeri bersama. Nami terlihat begitu syok melihat kondisi putranya yang saat ini hanya bisa duduk di atas kursi roda saja.
"Sayang, mengapa semua ini bisa terjadi? Katakan pada mama dan papa! Siapa orang yang menabrakmu saat itu! Katakan, Sayang! Papamu tidak akan melepaskan orang itu! Orang itu akan segera dihukum!" ucap Nami begitu khawatir dan emosi sendiri.
"Ya, Reo. Mamamu benar! Katakan pada papa ..." sahut Nara.
"Tenang saja, Ma. Mama dan papa tidak perlu merasa khawatir lagi. Aku sudah meminta Gavin untuk menyelidiki masalah ini kok. Pelaku tabrak lari itu pasti akan segera ditemukan Gavin." sahut Reo dengan santai.
"Ya!! Dia harus segera ditemukan!! Mama tidak terima jika dia kabur! Setidaknya berikan hukuman yang setimpal karena dia sudah membuatmu seperti ini, Sayang. Hiks ... mama tidak terima!! Hiks ... putra kesayanku malah menjadi seperti ini gara-gara cecunguk gila itu! Hiks ..." kali ini Nami malah menangis dan memeluk putranya yang terduduk di atas brankar.
"Tenang, Mama. Menantu mama akan merawatku dengan baik kok. Dan aku pasti akan segera sembuh karena menantu mama merawatku dengan penuh cinta dan kasih." ucap Reo tersenyum berusaha untuk menghibur mamanya.
Namun rupanya wajah Ayaneru malah bersemu merah karena ucapan manis Reo di hadapan kedua mertuanya.