
Seorang anak laki-laki terlihat cukup lama berkutat di depan mini computer-nya di atas pembaringannya. Beberapa coding-coding juga sudah dia masukkan untuk berusaha mencari sesuatu yang sangat dia ingin tau saat ini.
Apa lagi jika tidak untuk melakukan peretasan? Karena peretasan adalah salah satu yang begitu dia kuasai, meskipun pria kecil itu masih sangat kecil. Namun kemampuannya sangat luar biasa dan dia sangat genius!
Sementara di sebelahnya sudah ada sang gadis kecil yang hanya memperhatikan sang kakak. Karena gadis kecil yang tak lain adalah Leona itu sama sekali tak memahami mengenai peretasan.
"Huft ... tak ada satupun yang aku temukan! Tak ada informasi apapun yang bisa aku dapatkan tentang mama dan papa di masa lalu. Bahkan mereka seakan tak dekat dan tak saling mengenal satu sama lain. Hubungan apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua? Aku malah mendapatkan sebuah informasi jika 5 tahun yang lalu, mama telah dijodohkan dengan seorang presdir utama dari Fukushi Group yang terletak di Osaka. Hhm ... tapi ... mengapa yang menjadi papa kita bukanlah orang itu dan malah papa Reo?" gumam Leon tak mengerti.
"Atau jangan-jangan papa Reo sudah merebut mama dari presdir utama dari Fukushi Group, Kak? Maka dari itu pernikahan itu tidak terjadi, dan mama malah bersama denganpapa Reo?" celutuk Leona.
"Mungkin saja, Leona ... namun mengapa mama terlihat sedikit kurang menyukai papa Reo?"
"Hhm ... mungkin saja mama menyesal karena telah memilih papa Reo. Mungkin saja presdir utama dari Fukushi Group jauh lebih tampan dan mempesona dari papa Reo. Sehingga mama menyesali semua itu ..." celutuk Leona memperlihatkan wajah serius.
"Itu tidak mungkin, Leona. Mama bukanlah orang yang seperti itu. Pasti sudah terjadi seauatu di masa lalu." gumam Leon menyimpulkan.
"Kalian masih belum tidur, Sayang?" tiba-tiba saja Ayaneru sudah datang dan memasuki kamar kedua anak kembar itu.
Leon menjadi sedikit gelagapan dan dengan cepat segera menutup mini computer-nya agar Ayaneru tak melihat apa yang sudah dilakukan oleh Leon saat ini.
"Ini sudah sangat larut lo, Sayang. Mengapa kalian masih belum tidur dan malah bermain dengan mini komputer?" tanya Ayaneru mulai melenggang mendekati pembaringan lalu duduk di tepian pembaringan itu.
"Hehe kami keasyikan nonton kartun, Ma. Dan sekarang sudah mau tidur kok. Benar begitu kan, Kak Leon?" Leona mulai menyauti dan segera berakting mengantuk. "Hoamm ... mama juga cepatlah tidur. Besok mama juga masih harus bekerja bukan?"
"Hhm. Mama akan segera tidur kok."
Kini Leon dan Leona mulai berbaring, sementara Ayaneru mulai memberikan selimut untuk kedua anak kembarnya lalu mulai mengecup kening mereka dengan hangat.
CUP ...
CUP ...
"Have a nice dream, Dear." Ayaneru mulai mematikan lampu kamar dan segera meninggalkan kamar ini.
...🍁🍁🍁...
Di dalam sebuah ruangan kerja yang begitu mewah dan elegan di F Group, terlihat seorang pria dengan setelan pakaian kerjanya yang berbalut dengan sebuah rompi tanpa lengan berwarna keiruan pudar terlihat sedang duduk di kursi kerjanya.
Sementara di hadapannya sudah ada seorang pria yang juga berpakaian rapi berdiri di hadapannya yang hanya berbataskan dengan sebuah meja.
"Periksa semua rekaman CCTV Pacific hotel 5 tahun yang lalu, Gavin! Aku ingin melihat siapa gadis yang malam itu memasuki kamarku dan menghabiskan malam itu bersama denganku!" titah Reo kepada asisten pribadinya.
"Baik, Tuan. Akan segera aku periksa." jawab sang asisten dengan patuh dan mulai memberikan sebuah ampop besar berwarna coklat untuk sang tuan. "Ini adalah beberapa informasi yang sudah aku dapatkan tentang wanita itu, Tuan. Silakan tuan memeriksanya."
Ada beberapa foto dan juga beberapa berkas yang bersangkutan dengan Ayaneru. Gadis yang sedang dicurigainya sebagai gadis yang memberikan kehangatan untuknya di 5 tahun yang lalu itu.
Lembar demi lembar kertas itu mulai dibaca oleh dengan sangat teliti oleh Reo. Keningnya terlihat mulai berkerut disaat membaca beberapa berkas itu
"Ayaneru Ryusei? Jadi dia benar-benar putri tunggal dari keluarga Ryusei?" gumam Reo masih seakan sulit untuk mempercayai semua ini.
"Benar, Tuan. Gadis itu adalah mantan gadis yang pernah dijodohkan dengan presdir utama dari Fukushi Group yang berpusat di Osaka. "Dan dia meninggalkan Tokyo 5 tahun yang lalu lalu menetap di London. Dan beberapa pekan yang lalu, wanita itu kembali lagi ke Tokyo karena ayahnya sakit keras. Namun karena wanita itu pulang dengan membawa kedua anak kembarnya, ayahnya begitu murka dan dia malah diusir dari rumah besarnya. Dan kini wanita itu mengontrak bersama kedua anak kembarnya." ucap Gavin menjelaskan.
"Lalu siapa suaminya? Aku tak melihat dia berhubungan dan dekat dengan seorang pria di dalam semua laporan ini." ucap Reo yang masih melihat-lihat berkas itu.
"Itu karena wanita itu masih belum menikah, Tuan." ucap Gavin lagi.
"Belum menikah?"
"Benar, Tuan ... dan untuk mengenai hal itu sepertinya dia hamil sebelum meninggalkan Jepang. Karena wanita itu melahirkan di sebuah rumah sakit setelah 7 bulan berada di London." jelas Gavin lagi.
Reo terdiam dan tampak berpikir keras sambil menatap beberapa foto cetak Ayaneru yang baru dibawakan oleh sang asisten pribadi.
Jadi ... karena inikah dia meninggalkan Jepang? Karena dia sudah hamil bersama pria lain dan ingin menghindari pernikahannya bersama presdir utama dari Fukushi Group? Mengapa kamu begitu ceroboh hingga bisa melakukan semua itu, Neru?
Batin Reo yang masih mengamati foto demi foto itu, bahkan ada foto Leon dan Leona.
Semua perhitunganku adalah tepat! Namun mengapa hasil tes DNA saat itu bisa negatif? Pasti sample milikku sudah ditukar oleh seseorang!! Arghhh!! Aku juga harus memeriksanya kembali!!
Batin Reo mulai meletakkan seluruh dokumen itu di atas mejanya lalu mulai menautkan kedua jemarinya.
"Gavin!! Periksa seluruh rekaman CCTV 3 hari yang lalu di St. Luke's International hospita! Bagian labolatorium! Sesegera mungkin berikan info padaku lagi!!" ucap Reo memberikan titahnya.
"Baik, Tuan."
"Pergilah dan mulai dari sekarang!"
"Baik, Tuan." Gavin menyauti dengan patuh lalu mulai membungkukkan sedikit badannya dan bergegas untuk meninggalkan ruangan ini.
Setelah kepergian dari Gavin, kini Reo mulai meraih gagang ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh seseorang.
"Hallo, divisi marketing disini." sahut seorang gadis dari seberang.
"Katakan kepada Ayaneru untuk segera datang ke ruangan kerjaku sekarang juga!" titah Reo dengan tegas lalu segera meletakkan kembali gagang telponnya ke tempat semula.