
"Kamu hampir tertabrak saat menyeberang di kala hujan. Dan aku telah menyelamatkanmu saat itu. Dan kita juga selalu bertemu saat sore hari di bukit di dekat taman kota. Kamu selalu datang untuk melihat gambarku saat itu. Apa kamu sungguh tidak mengingat semua itu, Neru?"
Ucap Reo menatap lekat Ayaneru.
Ayaneru kembali terdiam dan berusaha untuk mengingat-ingat semua itu. Hingga akhirnya dia berhasil mengingat sesuatu, meskipun hanya sedikit saja.
"Puding?" gumam Ayaneru sedikit ragu.
"Hhm. Kamu bahkan mengatakan jika itu adalah puding paling enak yang pernah kamu makan. Apa kamu mengingatnya, Neru?" tanya Reo antusias.
Ayaneru mulai mengangguk dan tak sadar mulai tersenyum tipis. Namun tiba-tiba saja dia mulai menunduk. Antara rasa bahagia dan malu seketika bercampur menjadi satu.
Bahagia dan lega karena mengetahui jika putri tidur yang selalu disukai oleh Reo ternyata adalah dirinya. Malu karena kini Reo telah mengetahui hati dan perasaannya, jika Ayaneru juga sudah mulai peduli dan juga menyukainya.
"Lalu ... perjodohan itu?"
"Hhm. Aku yang memintanya kepada papa dan mama untuk dijodohkan denganmu 5 tahun yang lalu. Aku selalu mencari tau tentangmu saat itu, namun aku sungguh tak mengenalimu saat bertemu denganmu kembali Neru. Putri tidur kecilku rupanya sudah tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik." ucap Reo dengan tulus dan menatap lekat Ayaneru.
Seketika wajah Ayaneru mulai bersemu merah karena pujian dari Reo. Jantungnya berdegup semakin kencang seperti drum.
"Atau ... apakah kamu sama sekali tak pernah ingin bertemu denganku lagi, Neru?" tanya Reo lirih dan sedetikpun tak pernah berpaling untuk menatap wajah cantik itu.
"Aku bahkan selalu datang saat sore untuk mencarimu. Tapi kamu tidak pernah datang lagi setelah musim semi berakhir. Padahal kamu mengatakan jika akan selalu datang setelah pulang sekolah." sahut Ayaneru mulai terlihat murung.
"Aku pindah saat itu. Karena papa mulai membuka bisnisnya di Osaka. Maaf jika aku tak sempat memberitahumu dan maaf karena tidak sempat berpamitan denganmu." ucap Reo penuh sesal. "Satu hal yang aku sesalkan adalah, aku tak pernah mencarimu saat itu. Dan malah dengan bodohnya aku berniat untuk melupakanmu saat itu. Maaf ..."
Reo mulai meraih jemari Ayaneru yang sudah menjadi dingin karena cuaca saat ini.
"Namun aku baru sadar, ternyata aku tetap tidak pernah bisa melupakanmu saat itu. Hingga aku mulai mencarimu kembali. Dan akhirnya aku meminta bantuan papa dan mama untuk perjodohan kita. Meskipun perjodohan itu juga sempat kandas, namun akhirnya takdir mempertemukan kita kembali, Neru. Dan kali ini aku tak akan pernah melepasmu lagi untuk kesekian kalinya. Tidak akan ..." ucap Reo penuh keyakinan.
Ayaneru tak tau lagi harus berkata-kata, tiba-tiba saja ada lelehan hangat yang mulai membasahi pipinya.
"Jangan menangis, Neru. Aku tidak berkhianat padamu kok. Karena gadis yang aku sukai dan selalu ada di hatiku itu juga adalah kamu." ucap Reo malah menggoda Ayaneru.
"Mulai sekarang kamu harus selalu bahagia! Jika ada orang yang berani membuatmu menangis, maka aku adalah orang pertama yang akan membuatnya menyesalinya!" hibur Reo sembari menyeka air mata Ayaneru.
"Bagaimana jika ayahku atau kedua anak kembarku yang membuat aku menangis?" Ayaneru malah memberikan sebuah pertanyaan konyol untuk Reo.
"Eh ... itu ..." Reo terlihat mulai kebingungan untuk menjawabnya.
"Aku hanya sedang bercanda. Maaf ..." potong Ayaneru tak sadar dia mulai tersenyum tipis.
"Hhm? Sudah berani menggodaku ya? Baiklah ... Reo tersenyum tipis dan mulai meraih tubuh ramping Ayaneru dengan menggendong depan lau segera membawanya memasuki mobil mewahnya.
"Kamu mau membawaku kemana? Dan apa yang sedang kamu rencanakan?" ucap Ayaneru dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu sedang berharap agar aku melakukan sesuatu untukmu? Hhm?" ucap Reo semakin menggoda Ayaneru dan sesekali mengecup pipi Ayaneru.
"Aahhh ... mana mungkin aku berharap sesuatu agar kamu ..." ucapan Ayaneru terputus karena dia malah berfikir kemana-mana saat ini.
"Apa kamu yakin? Tidak mau aku hangatkan malam ini, Sayang?" Reo semakin menggoda Ayaneru dan menahan senyum gemasnya.
"Apaan sih?!" Ayaneru menunduk dan menyembunyikan wajahnya karena sudah bisa dipastikan jika wajahnya sudah semakin merona saat ini.
Reo hanya tertawa kecil melihat ekspresi Ayaneru, hingga akhirnya kini mereka berdua mulai memasuki mobil Reo yang terparkir tak jauh dari mereka berdua.
Reo mulai menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya. Namun dia juga terlihat mulai menghubungi seseorang dan hanya menggunakan salah satu earpieces-nya saja. Tak menunggu lama, akhirnya panggilannya segera diangkat oleh seseorang di seberang.
"Yora, tolong temani dan jaga si kembar malam ini! Ayaneru dan aku harus mengurus sesuatu malam ini. Dan katakan kepada Leon dan Leona, jangan mengkhawatirkan mamanya. Karena mamanya akan baik-baik saja bersamaku. Dan mamanya akan aku perlakukan seperti ratu." ucap Reo tanpa mengurangi fokusnya saat mengemudikan mobilnya.
Reo segera mengakhiri panggilannya saat Yora mengiyakan perintahnya. Sementara Ayaneru mulai membulatkan sepasang matanya karena terkejut.
"Sejak kapan Yora ada di pihak kamu?!" selidik Ayaneru tak percaya jika mereka sudah seperti bos dan atasan saja.
"Semenjak dia mendukungku untuk melamar dan menikahimu." jawab Reo dengan santai.
"Apa?! Tapi, Reo. Kita mau kemana?"
"Ke apartemenku!"
"Ha? Mau ngapain?"
"Aku masih kangen sama kamu. 14 tahun itu bukan waktu yang singkat, Neru. Apalagi kamu selalu saja dingin padaku selama ini. Sungguh tidak seperti kamu saat kecil."
"Kamu juga berbeda. Kamu saat masih kecil baik dan manis. Tapi kamu yang sekarang memberikan kesan buruk saat pertama kali kita bertemu kembali."
"Itu karena pengaruh obat. Aku dijebak oleh seseorang."
"Mak-maksudku bukan soal itu!" ucap Ayaneru dengan cepat dan wajahnya kembali merona. "Maksudku adalah saat kita pertemu di F Group saat hari pertamaku bekerja." imbuh Ayaneru membenarkan.
"Tapi ngomong-ngomong siapa yang menjebakmu 5 tahun yang lalu, Reo?" tanya Ayaneru yang juga mulai penasaran.
"Maria ..."
"Maria?" tanya Ayaneru mengulangi nama itu karena masih sangat syok.
"Hhm. Aku berhasil menghindarinya saat itu. Namun kamu malah ada di kamarku saat itu. Sebenarnya siapa yang ingin kamu temui saat itu?" Reo mulai berbalik bertanya dan berharap jika Ayaneru tak sedang ingin menemui seorang pria saat itu.
"Hana, sepupuku yang baru pulang dari Amerika." jawab Ayaneru seadanya.
"Lalu? Mengapa kamu malah bisa salah masuk ke dalam kamarku?" tanya Reo lagi seolah belum puas saat mendengarkan jawaban dari Ayaneru.
"Dia salah mengetik nomor kamar. Kamar dia adalah tepat di sebelahmu saat itu ..."
"Huft ... untung saja aku yang bertemu denganmu malam itu."
"Apanya yang untung? Kamu bahkan malam itu malah ..." ucapan Ayaneru berhenti dan seketika Reo dan Ayaneru bertatapan aneh dengan sepasang mata yang sedikit membelalak, karena saat ini mereka sedang berhenti di lampu merah.
TINN ...
Suara klakson mulai membuyarkan angan mereka, hingga akhirnya Reo mulai menjalankan mobilnya lagi dengan sedikit canggung.