Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Salah Sangka



Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Ayaneru menunggu di sebuah halte, tiba-tiba saja sebuah mobil Lexus hitam metalik sudah berhenti di hadapannya.


Sang pengemudi mulai membuka kaca sampingnya, dan terlihat seorang pria necis masih dengan setelan jas mewahnya duduk di kursi kemudi.


Dia adalah Reo, yang sudah berhasil menyusul Ayaneru. Entah bagaimana Reo tau dimana Ayaneru sekarang berada. Padahal Ayaneru tidak mengirimkan titik lokasinya sebelumnya.


Mungkin saja Reo telah memasang sebuah chips tersembunyi di dalam ponsel Ayaneru atau di tempat lainnya. Atau mungkin ada pengawal yang memang selalu membuntuti Ayaneru dan memberitahukannya kepada Reo. Entahlah ...


Ayaneru masih berdiri saja selama beberapa saat dan menatap Reo dengan wajah yang murung.


"Masuklah ..." titah Reo dengan nada bicara pelan.


Ayaneru dengan patuh segera memasuki mobil itu dan duduk di samping kemudi. Reo mulai mecondongkan tubuhnya mendekati Ayaneru lalu memakaikan sabuk pengaman sang istri, karena Ayaneru hanya terdiam saja setelah memasuki mobil.


Sebenarnya perlakuan Reo membuat dirinya merasa kikuk dan canggung, namun tetap saja rasa kesal dan kecewa karena melihat foto-foto kemesraan Reo dan Maria di masa lalu masih begitu memenuhi hatinya saat ini.


"Bagaimana kalau kita makan dulu? Kamu belum makan kan?" tanya Reo mulai mengemudikan mobilnya kembali dengan kecepatan rata-rata.


"Aku sedang tidak lapar. Kalau kamu mau makan, aku akan menemanimu." jawab Ayaneru datar.


"Neru, ada apa? Mengapa kamu bersikap seperti ini lagi? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi? Katakan padaku ..."


"Tidak ada kok." Ayaneru berusaha untuk menyunggingkan sebuah senyuman, namun tetap saja Reo mengetahui dan peka jika sedang terjadi sesuatu kepada istrinya.


"Baiklah jika memang tidak mau mengatakannya." ucap Reo mulai menambah kecepatan laju mobilnya.


Namun bukan rute untuk ke rumah Yora yang sedang Reo tuju, melainkan rute yang diambil Reo adalah rute untuk kebali ke apartemennya.


"Re-Reo, kita harus menjemput anak-anak."


"Leon dan Leona mengatakan jika malam ini mereka akan menginap disana karena besok pagi mereka akan ikut bersama Yora dan Xavier untuk berlibur di Tokyo Disney Resort." jelas Reo tanpa mengurangi fokusnya mengemudikan mobilnya.


Tak ada percakapan lagi diantara mereka berdua di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya mereka sudah memasuki apartemen dan melakukan aktifitasnya masing-masing.


.


.


.


.


.


Reo yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya untuk menyegarkan otak, fikiran dan tubuhnya rupanya masih saja merasa tidak tenang karena sikap Ayaneru hari ini


Namun disaat Ayaneru sedang melakukan ritual mandinya, Reo mulai memeriksa ponsel sang istri untuk mencari tau sesuatu. Di tepian pembaringannya Reo terduduk dan mulai memeriksa benda pipih itu.


Hingga akhirnya Reo mulai menemukan apa yang sudah menjadi penyebab perubahan sikap Ayaneru sejak siang tadi hingga sekarang. Reo menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan segera menyalin nomor sang pengirim pesan di ponselnya lalu segera mengembalikan ponsel Ayaneru di atas nakas.


Reo mengirimkan nomor ponsel itu untuk Gavin, dan Reo juga mengirimkan titahnya melalui sesuah pesan. Sebenarnya Reo bisa saja mencari tau sendiri tentang nomor itu, namun dia tak mau repot-repot untuk mengurus hal kecil itu.


Periksa dan cari tau siapa pemilik nomor ini! Berikan peringatan dan pelajaran untuknya karena sudah berani membuat resah istriku! Reo.


Pesan itu dikirimkan untuk Gavin.


Setelah beberapa saat Ayaneru sudah kembali dari kamar mandi masih dengan jubah mandinya, dengan handuk yang masih melilit rambut basahnya juga.


Ugh ... suasana masih sangat canggung dan aneh sekali. Ditambah lagi Leon dan Leona sedang tidak ada di rumah. Huft ... aku akan menelpon mereka saja deh!


Batin Ayaneru mulai meraih ponselnya untuk menghubungi Leon. Namun dengan cepat Reo yang masih duduk di tepian pembaringan segera menahannya.


"Anak-anak sudah tertidur dan beristirahat. Jangan menghubunginya sekarang ..."


Ucapan Reo sukses menghentikan niat Ayaneru dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Leon.


"Begitu ya. Ya sudah. Aku ... juga akan segera tidur saja kalau begitu."


Reo tak membiarkan hal itu terjadi, dia meraih tangan Ayaneru dan membuatnya terduduk di atas pangkuannya. Pandangan mereka selama beberapa saat saling bertemu dengan perasaan aneh.


"Ap-apa maksudmu?"


"Jika ada sesuatu yang sedang terjadi dan jika ada sebuah masalah, lebih baik kita saling membicarakannya dan saling terbuka. Jangan sampai hubungan kita menjadi rusak hanya karena orang lain yang memang ingin merusaknya. Jangan mudah mempercayai orang asing yang bahkan kamu tidak mengenalinya sama sekali. Seberapa besar kamu percaya padamu? Seberapa kamu yakin padaku? Tanyakan hati kecilmu, Neru ... bukankan selama ini aku sudah mengatakan semuanya kepadamu?"


Reo menatap lekat sepasang manik-manik bak green sapphire diamond itu yang saat ini sudah menjadi sedikit berkaca-kaca seperti bongkahan kristal kehijauan yang indah.


Sepasang manik-manik itu juga bergetar menatap Reo. Namun Ayaneru segera menunduk, karena merasa tak kuasa untuk menatap mata bening Reo yang malam ini terlihat begitu hangat.


"Ini salahku ... aku terlalu bodoh dan terlalu mudah mempercayai orang lain." ucap Ayaneru lirih dan masih menunduk.


"Lihat aku, Neru. Aku sedang bertanya kepadamu ..."


Ayaneru memberanikan diri untuk mendongak dan menatap kembali wajah Reo.


"Seberapa kamu yakin dan percaya padaku? Bahwa di dalam hatiku, sejak saat itu ... hanya ada kamu. Aku memang salah karena berusaha melupakanmu dan berusaha untuk membuka diri untuk wanita lain saat itu. Namun keberadaan Maria yang menemaniku beberapa waktu lalu, tetap tidak mengubah sedikitpun perasaanku kepada putri tidurku. Kamu tetaplah gadis pertama dan satu-satunya.yang aku cintai, sejak saat itu ... hingga kini." ucap Reo menjelaskan dengan sabar.


"Foto-foto itu memang benar. Namun aku hanya akan menjelaskan sebuah foto padamu. Foto yang diambil saat aku dan Maria berada di hotel, adalah malam dimana sebelum aku bertemu denganmu 5 tahun yang lalu. Dimana aku sudah mengatakannya kepadamu, jika Maria berusaha untuk menjebakku saat itu." imbuh Reo berusaha untuk menjelaskannya lagi.


"Maaf ... aku benar-benar bodoh karena mempercayai mereka begitu saja." ucap Ayaneru lirih dan menatap Reo penuh rasa sesal.


Menyesal karena begitu mudahnya dia mempercayai sang pengirim foto itu. Padahal dia tidak mengenalinya sama sekali.


"Hhm. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Tidak semua orang di dunia ini sebaik yang kamu pikirkan, Sayang. Namun aku akan selalu baik padamu." Reo berkata dengan lembut dan tersenyum hangat menatap Ayaneru, membuat Ayaneru semakin beringsut dan menunduk.


"Ba-baiklah ..."


"Besok mama ulang tahun. Dan akan diadakan pesta di mansion utama di Osaka. Kita akan berangkat saat sore ke Osaka."


"Hhm. Iya ..."


"Besok tidak perlu pergi bekerja. Jalan-jalan saja ke mall untuk membeli hadiah dan membeli beberapa pakaian dan perhiasan."


"Eh? Tidak bekerja?"


"Hhm. Sehari saja tidak masalah kok."


"Uhm. Baiklah ..."


"Uhm ... Neru ..."


"Ya?"


"Kamu sudah tidak kesal dan marah padaku kan?" ucap Reo semakin mendekati wajah Ayaneru.


"Ti-tidak kok. Ya sudah, sebaiknya kita juga segera tidur yuk!" Ayaneru berusaha untuk bangun dari pangkuan Reo, namun Reo malah menahannya.


"Tidak mau! Aku hanya akan tidur, tapi setelah itu ..." ucap Reo semakin menggoda istrinya.


"It-itu apa?" tanya Ayaneru sudah dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Reo tidak menjawabnya dan malah tersenyum nakal. Jemarinya kini mulai menarik pengikat jubah mandi yang sedang dikenakan oleh Ayaneru, membuah wanita itu semakin berdebar karena mungkin Reo akan segera menyerangnya kali ini.


"Kamu sudah cukup mengujiku hari ini. Malam ini kamu harus membayarnya ..."


Ayaneru kehabisan kata-kata dan hanya bisa pasrah saja untuk menghadapi suaminya. Menolaknya pun dia tidak kuasa, karena sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, tidak munafik, jika sebenarnya Ayaneru juga selalu merindukan sentuhan hangat itu. Terlebih seharian ini mereka berdua sudah sedikit menjauh karena permasalahan sepele itu.


Reo mulai menyibak sisi depan jubah mandi milik Ayaneru dan mulai mengecup lembut leher jenjang serta bahu putih yang mulai terlihat itu. Bahkan jemarinya juga sudah mulai menyusup masuk ke dalam jubah mandi itu untuk memainkan salah satu buah ranum itu, membuat Ayaneru semakin kelihangan kesadarannya dalam sekejap.


Setelah meninggalkan beberapa kiss mark kemerahan itu pada sekitar leher dan dada sang istri, kini Reo mulai menggendong Ayaneru dan membaringkannya di pembaringan.


Dia juga mulai melepaskan jubah mandinya dan segera memberikan serangannya kembali untuk istrinya. Melayangkan kecupan intentsnya di setiap sudut tubuh sang istri yang kini sudah polos.


Skip ...


Skip ...


Skip ...