
Ayaneru menyetujui disaat Reo mengajaknya untuk berbincang bersama. Kini Reo mulai menepikan mobil mewahnya di dekat Bay Bridge dan mereka turun bersama.
Mereka masih saling terdiam selama beberapa saat dan hanya memandangi lautan luas di hadapannya. Angin yang berhembus cukup kencang di pagi hari ini menyapu tubuh mereka dengan cukup dingin.
Dan semua itu cukup dirasakan oleh Reo, karena pakaian hangatnya sudah dipakaikannya untuk Ayaneru saat ini.
Belum sempat mengatakan apapun, tiba-tiba Ayaneru mulai mengucapkan sesuatu yang cukup membuat Reo terkejut bukan main.
"Aku akan mengundurkan diri dari F Group. Dan mungkin aku akan kembali ke London setelah mengurus semuanya." ucap Ayaneru dengan lirih, pandangannya masih menatap nanar lurus ke depan.
"Ap-apa? Tidak boleh! Aku tidak memberikan ijin untuk semua itu!" ucap Reo dengan cepat.
"Aku akan segera melunasi pinaltinya setelah aku mendapatkan pekerjaan baru saat aku di London. Aku akan mencicilnya." ucap Ayaneru lagi berusaha untuk tetap tegar, berusaha untuk menjadi dirinya di masa 5 tahun yang lalu.
"Tidak, Neru ... aku mohon jangan lakukan itu. Jangan meninggalkan aku untuk yang kedua kalinya." ucap Reo penuh harap.
Kali ini Reo meraih kedua bahu Ayaneru dan menghadapkan padanya. Pandangan mereka saling bertemu dalam kekalutan.
"Aku harus pergi, Reo. Maaf ..."
"Tidak!!"
GREPP ...
Reo langsung meraih dan memeluk Ayaneru dengan sangat erat. Kali ini Reo benar-benar merasa cukup khawatir jika Ayaneru akan benar-benar meninggalkannya lagi.
Ayaneru benar-benar sudah merasa sangat tidak berdaya. Wanita itu malah kembali menangis di dalam pelukan Reo. Semua rasa berkecamuk menjadi satu di dalam dirinya.
"Kamu boleh merasa marah dan kesal. Kamu boleh menangis, Neru ... tapi aku mohon jangan pernah pergi lagi dariku. Jangan meninggalkanku lagi ..."
"Aku tak punya tempat untuk berpijak kembali, Reo. Aku tak memiliki keberanian lagi ... bahkan kedua orang tuaku sendiri saja sudah tidak menginginkanku. Hiks ... aku ... aku ... tidakbisa lagi berada disini. Hiks ... kembalilah, Reo. Semua kehidupanmu lebih berarti jika dibanding denganku. Hubunganmu dengan Mr. Rei akan hancur saat kamu masih berusaha untuk mempertahankanku. Kembalilah ..."
Masih di dalam isak tangisnya Ayaneru berusaha untuk melepaskan pelukan Reo. Namun Reo tak juga melonggarkan sedikitpun pelukannya.
"Neru ... akulah Mr. Rei ..." ucap Reo lirih.
"Ap-apa yang baru saja kamu katakan?" kali ini Ayaneru mendongak menatap wajah tampan itu.
"Akulah MR. Rei, Neru. Akulah pria yang telah dijodohkan denganmu 5 tahun yang lalu. Akulah pria yang menjadi tunanganmu 5 tahun yang lalu." Reo mengakui semuanya dan menunduk menatap nanar sepasang pupil kehijauan bak green sapphire diamond yang masih berkilauan dengan indah itu.
"Maafkan aku yang selama ini tidak jujur kepadamu, Neru. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu ataupun membohongimu. Namun kamu tentu sangat tau, jika Mr. Rei adalah identitas yang begitu tersembunyi selama ini di dalam dunia bisnis fashion. Aku tak mau mencampur adukkan dengan kehidupan pribadiku. Jadi ... aku sengaja melakukan semua itu. Maaf ..." ucap Reo dengan tulus dan berharap Ayaneru tidak akan marah kepadanya.
Pengakuan dari Reo cukup membuat Ayaneru terkejut bukan main. Padahal jika saja saat beberapa saat yang lalu Ayaneru mendengarkan pembicaraan semua orang saat berada di gedung F Group, seharusnya Ayaneru akan langsung mengetahui kebenaran itu.
Namun nampaknya Ayaneru memang tak tidak mendengarkan semua itu dengan baik, sehingga pengakuan Reo kali ini cukup membuatnya terkejut.
"Jadi ... kamu adalah benar Mr. Rei?" Ayaneru kembali bertanya untuk memastikannya lagi, dia masih menatap Reo bingung.
"Hhm. Iya ... itu adalah aku. Jadi jangan pernah merasa bersalah lagi. Karena semua ini adalah sepenuhnya kesalahanku. Maafkan aku jika selama ini aku sudah membuat hidupmu menjadi begitu berat dan sulit. Kali ini ... aku akan menebus semuanya, Neru. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu." Reo mulai menyeka hangat sisa air mata yang masih membasahi wajah Ayaneru.
Perlahan Reo mulai melepaskan pelukannya dan meraih kedua belah tangan Ayaneru yang kini sudah menjadi dingin.
"Will you marry me, Neru?" tanya Reo menatap lekat manik-manil indah itu.
Ayaneru mengangguk pelan dan merasa begitu terharu. Wanita itu tak kuasa untuk memendam tangis harunya, hingga akhirnya lelehan hangat itu kembali membasahi wajah ayunya.
Ayaneru merasa cukup terharu akan sebuah permainan takdir hidupnya yang sangat tidak dia duga sebelumnya. Andai saja sejak awal dia tau jika pria yang menggagahinya dimasa 5 tahun adalah calon suaminya sendiri, pasti hidupnya tak akan begitu berat seperti yang sudah dia lewati selama ini.
Namun kini ada sebuah perasaan lega saat mengetahui semua ini. Karena takdir telah mempertemukan dirinya kembali bersama pria itu. Dan takdir telah menjadikan dirinya menjadi wanita yang kuat dan tegar.
...🍁🍁🍁...
Aku benar-benar tidak menyangka, jika pria yang pernah dijodohkan denganku adalah dia. Dan dia juga yang telah melakukannya di masa lalu ...
Ayaneru terlihat melamun di depan cermin riasnya sambil menyisir pelan rambutnya.
Beberapa hari ini Reo memintanya untuk mengambil cuti dan beristirahat dulu di rumah hingga suasana hati Ayaneru membaik, dan suasana kantor juga membaik.
CEKLEKK ...
"Mama!!" tiba-tiba saja Leona mulai melangkah seperti menari-nari saat memasuki kamar Ayaneru.
Wajah mungilnya terlihat begitu berseri-seri saat memasuki kamar sang mama. Sementara Leon masih melanggang santai di belakangnya.
"Mama!!" Leona segera melempar dirinya ke dalam pelukan Ayaneru.
"Ya sayang? Ada apa?" sahut Ayaneru tersenyum hangat menatap putri kecilnya.
"Aku senang sekali akhirnya aku akan memiliki seorang papa! Terima kasih karena mau menikah dengan papa Reo ya, Ma! Aku senang sekali!!" ucap Leona begitu bahagia.
"Ahaha ... mengapa kamu malah terlihat seakan kamu anak dari paman Reo saja, Sayang?" Ayaneru tertawa kecil karena mendengar ucapan dari Leona.
"Intinya aku senang sekali, Ma! Akhirnya aku akan memiliki dan mendapatkan seorang papa. Jadi mereka tidak akan memperolok aku dan kak Leon lagi." jawan Leona masih dengan wajaha penuh binar.
Dan mulai sekarang akan ada seseorang yang akan selalu menjaga mama dengan baik dan benar. Karena saat ini, aku masih belum bisa melakukan semua itu dengan baik. Aku harap mama akan bahagia setelah menikah dengan papa.
Batin Leon yang hanya bisa menatap sang mama dan adiknya sambil bersandar pada dinding dekat pintu.
"Leon kemarilah! Kita membuat pelukan lingkaran bersama!" ucap Ayaneru menggoda Leon.
"Eh? Aku ... aku kurang menyukai hal manis seperti itu, Ma! Kalian berdua saja!" sahut Leon menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan memasang wajar datar seperti biasanya.
Namun Ayaneru segera melenggang mendekati Leon sambil mengulum senyuman. Dan tiba-tiba saja Ayaneru mulai menggendong Leon dan mengangkatnya tinggi seakan terbang.
"Kamu ini masih kecil, Sayang! Ayo nikmati masa bermain dan penuh canda seperti ini ... ahaha ..." Ayaneru tertawa renyah dan mulai memutar tubuhnya sambil masih mengangkat tinggi Leon.
...🍁🍁🍁...