Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Makan Malam Bersama



Akhirnya Maria menyempatkan dirinya untuk mendatangi apartemen Jay Yeol saat ini juga. Karena sepertinya sedang terjadi sesuatu yang cukup serius saat ini hingga membuat Jay Yeol kesal.


Maria sengaja meminta kepada para pengawalnya untuk menunggunya di dalam mobil saja. Sementara wanita cantik itu kini mulai memasuki sebuah apartemen mewah Azabu.


Setelah beberapa saat, akhirnya Maria mulai memencet bel salah satu kamar apartemen itu. Tak menunggu waktu yang lama, pintu itu sudah terbuka.


Terlihat seorang pria tampan berambut pirang dengan wajah sedikit kebulean sudah berada di balik pintu. Tanpa berkata-kata, pria itu langsung saja menarik Maria untuk masuk ke dalam kamar apartennya. Tak lupa dia juga mengunci apartemennya.


Sebenarnya ada apa? Mengapa Jay terlihat sangay kesal padaku?


Batin Maria memandangi sisi samping wajah Jay Yeol yang saat ini sedang menarik tangannya, hingga akhirnya menghempaskan tubuh Maria di atas sofa panjang.


"Ughh ... sebenarnya ada apa, Jay? Mengapa kamu bersikap sangat kasar padaku?" tanya Maria tak mengerti.


"Maria!! Kau ingin mempermainkanku?!! Berani sekali kamu!!" geran Jay menatap nyalang Maria yang masih terduduk di atas sofa panjang itu.


"Ap-apa maksudmu, Jay? Aku tidak mengerti ..."


SRAAKK ...


Jay melemparkan sebuah amplop coklat tepat di hadapan Maria.


"Apa ini, Jay?" tanya Maria menatap amplop coklat di hadapannya dengan sangat bingung.


"Buka dan lihatlah sendiri!" sahut Jay dengan nada bicara yang masih kurang bersahabat.


Maria mulai meraih amplop itu lalu mulai mengeluarkan beberapa isi di dalamnya. Yang rupanya adalah beberapa foto.


Seketika sepasang mata Maria mulai membulat saat melihat beberapa foto candid dirinya yang selalu saja menempel pada Reo.


"J-Jay Yeol ... ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan ... kamu tau kan aku masih ada hubungan kontrak pekerjaan dengan F Group. Dan kamu pasti juga tau bukan jika dia adalah masa laluku saja."


Ucap Maria berusaha untuk mencari alasan dan meyakinkan Jay Yeol, pria yang saat ini sangat dekat dengannya, hingga Jay juga menjadikan Maria sebagai Brand Ambasador dari perusahaan fashion miliknya.


"Benarkah itu?" Jay meyeringai licik dan mulai mendekati Maria.


"Tentu saja, Jay. Bagiku ... sekarang hanya kamu yang ada di hatiku ..."


"Jika memang seperti itu, maka buktikan padaku!" kali ini Jay mulai menatap Maria dengan begitu dekat.


Karena kini Jay membungkuk dan menggunakan tangan kanannya untuk berpegangan pada sandaran sofa dimana Maria sedang duduk saat ini.


"Kamu mau bukti apa?" tanya Maria dengan berhati-hati dan masih menatap pria berdarah campuran Jepang-Korea-Kanada itu.


Jay tersenyum miring dan mulai menatap wajah hingga menuruni tubuh Maria dwngan tatapan nakalnya. Bahkan tanpa mendengarkan jawaban dari Maria, kini Jay sudah maju dan mulai menikmati leher jenjang Maria.


"Emhh, Jay ... aku masih ada pemotretan. Dan kak Jun Ze sedang menungguku saat ini." Maria berusaha untuk mendorong tubuh Jay.


Namun Jay malah semakin melancarkan aksinya dan berusaha untuk membuka kancing pakaian Maria.


"Jay ... kak Jun Ze akan membunuhku jika sampai aku tidak datang." Maria mulai menangkap tangan Jay untuk menghentikan Jay.


"Ckk ... tidak bisakah kamu hanya menjadi Brand Ambasador dari Blink Fashions saja?!" gerutu Jay terlihat sangat kesal.


"Hehe ... itu ..."


Maria tak bisa lagi menolaknya, dan entah apa yang akan managernya lakukan kali ini untuk menghukumnya karena menghilang saat pemotretan dan malah bercinta dengan Jay.


...🍁🍁🍁...


Leon dan Leona terlihat sedang asyik bermain puzzle bersama di ruangan tengah. Sedangkan Ayaneru masih sibuk berada di dapur untuk memasak sesuatu.


Dan rupanya diam-diam Leona sudah menghubungi Reo dan mengatakan jika mamanya sedang memasak banyak dan mengatakan jika sang mama mengundangnya untuk makan malam bersama.


Dan tentu saja, Reo akan dengan senang hati menerima undangan itu tanpa pikir panjang lagi. Beberapa saat kemudian, Ayaneru segera memanggil Leon dan Leona dari ruangan makan karena makan malam sudah siap untuk dinikmati.


"Leon! Leona! Ayo kita makan malam dulu, Sayang! Selagi makanan ya masih panas dan baru matang." seru Ayaneru dari ruangan makan.


"Baik, Ma!" sahut Leona segera pergi menyusul Ayaneru.


Sementara Leon masih merapikan puzzle-puzzle itu. Namun disaat Leon hendak menyusul Leona, tiba-tiba saja saja sebuah melodi yang berasal dari langit-langit mulai terdengar, menandakan saat ini sedang ada seorang tamu di luar.


Leon berniat untuk segera membukakan pintu itu. Namun belum sempat Leon membukakan pintu untuk sang tamu, Ayaneru malah lebih dulu berjalan mendahului Leon.


"Leon, kamu makan saja dulu bersama Leona. Biar mama saja yang membuka pintunya, Sayang." ucap Ayameru dan mulai mempercepat langkah kakinya untuk membukakan pintu itu.


"Baik, Ma." sahut Leon dengan patuh dan segera berbalik untuk menyusul Leona.


Sementara Ayaneru kini mulai membuka pintu berwarna putih itu. Dan betapa terkejutnya Ayaneru ketika melihat sosok Reo sudah berdiri dengan gagahnya di hadapannya dengan penampilan yang selalu rapi dan harum seperti biasanya.


"Kamu ... apa yang sedang kamu lakukan disini?!" tanya Ayaneru keheranan.


"Memenuhi undangan dari anak-anak." jawab Reo dengan entengnya dan tersenyum manis.


"Apa?! Kamu ..."


"Daripada berdebat lebih baik kita segera makan bersama. Ayo, Neru ..." Reo berkata dengan nada lebih lembut dan segera memasuki rumah itu.


Helaan nafas panjang dari Ayaneru menandakan saat ini dia tak memiliki pilihan lain lagi. Hingga akhirmya Ayaneru membiarkan Reo dan segera menyusulnya.


Karena seberapa dilawan dan seberapa kerasa Ayaneru berusaha untuk mengalahkan Reo, hal itu tak akan mungkin terjadi!


"Horee ... paman sudah datang!!" seru Leona berjingkrak saat melihat kehadiran Reo.


"Hhm. Karena paman sudah sangat tak sabar ingin bertemu dengan kalian. Dan tentu saja paman sudah tak sabar ingin mencicipi kembali masakan kalian." Reo menyauti dengan hangat dan segera menark sebuah kursi kayu lalu mendudukinya.


"Hhm. Masakan mama sangat enak! Paman pasti menyukainya!" sahut Leona kembali.


"Baiklah. Mari kita makan malam bersama ..." kali ini Ayaneru mulai duduk bersama dengan mereka.


"Rasanya seperti sebuah keluarga kecil saja ya, Ma ..." celutuk Leona tiba-tiba tanpa mengurangi fokusnya saat memakan sepotong daging wagyu.


"Uhukk ... uhukk ..." Ayaneru seketika tersedak saat dia meminum teh ocha hangat miliknya dan malah membuat kotor pakaiannya.


"Minumlah dulu ..." Reo dan Leon secara bersamaan berkata sambil menyodorkan masing-masing segelas air mineral untuk Ayaneru.


Hingga perlakuan kedua pria dingin berbeda generasi itu malah membuat Ayaneru terpaku selama beberapa saat.