
"Ayah ... apa ayah sama sekali tidak bisa memaafkanku? Aku ... memang salah dan sangat ceroboh saat itu. Namun aku tak pernah menginginkan semua kejadian itu menimpaku, Ayah. Pada awalnya aku memang merasa sangat menyesal, namun setelah melihat kehadiran Leon dan Leona, malah membuatku merasa bersyukur atas kejadian itu. Karena atas kehadiran Leon dan Leona malah membuatku menjadi lebih kuat untuk menjalani hidupku, Ayah. Mereka adalah kekuatanku saat ini."
Ucap Ayaneru memberanikan diri dan terdengar sedikit bergetar dengan sepasang manik-manik indah yang terlihat sudah berkaca-kaca.
Mendengar ucapan dari Ayaneru malah semakin membuat sang ayah dipenuhi oleh amarah. Karena sang ayah malah berpikir jika Ayaneru malah menikmati dosa yang telah dia lakukan di masa lalu. Dan malah tidak menyesalinya sama sekali.
"Segera bawa kedua anak itu dan tinggalkan rumah ini!!" tandas sang ayah lagi karena sudah dipenuhi oleh amarah yang semakin memuncak, membuat wanita cantik bermata kehijauan itu merasa sesak.
Setelah mengucapkan hal itu, sang ayah mulai meninggalkan Ayaneru begitu saja. Ayaneru mulai menyusul kedua anak kembarnya dan segera mengajaknya untuk pulang.
Meskipun sebenarnya sang ibu sudah menahannya sebelumnya. Namun karena untuk menghormati titah dari sang ayah, akhirnya Ayaneru bersikeras untuk segera mengajak kedua buah hatinya untuk pulang.
"Ma, sebenarnya ada apa? Mengapa kakek sepertinya tidak menyukai kita? Kakek bahkan tidak mengajak kita bermain atau berbicara." tanya Leona yang rupanya paham akan semua itu.
"Kakek hanya sedang sibuk dan sedikit ada masalah, Sayang. Semuanya baik-baik saja kok. Kakek dan nenek sangat menyayangi kalian berdua. Jangan khawatir, Sayang." ucap Ayaneru mengusap lembut kepala Leona dan Leon sambil tersenyum dengan hangat.
"Baiklah, mama akan memesan taxi online dulu." kini Ayaneru mulai meraih sebuah benda pipih dari dalam sling bag miliknya.
Namun belum sempat Ayaneru memesan sebuah taxi online, tiba-tiba saja ada sebuah mobil sport hitam metalik mulai berhenti di depan mereka. Kaca depan kini mulai terbuka dan memperlihatkan seorang pria berkacamata hitam duduk di bangku kemudi.
"Neru, kaukah itu? Sejak kapan kamu pulang?" ucap pria itu mulai memuka kaca mata hitamnya.
"Lin Chen!" pekik Ayaneru hampir saja tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Lin Chen adalah pria yang pernah disukai oleh Ayaneru saat mereka duduk di bangku SMU. Dan sebenarnya mereka berdua cukup dekat saat itu. Namun saat kedua orang tua Ayaneru mulai menjodohkan Ayaneru dengan Mr. Rei, hingga akhirnya Ayaneru mulai menjaga jarak dengan Lin Chen, pria yang memiliki darah Jepang-China.
"Hhm! Ini aku!" sahut Lin Chen dengan wajah bersinar. "Kapan kamu pulang? Dan mengapa tak pernah menghubungiku selama ini?"
"Ah itu ... aku baru pulang beberapa bulan yang lalu kok. Hehe ..."
"Masuklah, aku akan mengantarkanmu!"
"Terima kasih, tapi tidak perlu, Lin Chen. Aku akan naik taxi saja." tolak Ayaneru dengan ramah.
"Ayolah, Neru! Sudah lama kita tidak bertemu. Mari makan dan berbincang bersama!" ucap Lin Chen kekeh.
Namun tiba-tiba kini Lin Chen baru saja menyadari jika Ayaneru sedang menggandeng kedua anak manis pada masing-masing tangannya.
"Keponakan siapa yang sedang bersamamu, Neru?" tanya Lin Chen masih dengan ramah.
"Mereka adalah Leon dan Leona, anak-anakku." jawab Ayaneru dengan jujur.
"Apa?! Kamu sudah menikah dan sudah memiliki 2 orang anak?" ucap Lin Chen terlihat begitu terkejut dan hampir saja tak percaya.
"Benar sekali."
"Ka-kamu menikah dengan siapa, Neru?"
"Bisakah kita tak membicarakan di depan anak-anakku, Lin Chen? Hehe ..." ucap Ayaneru memohon, karena Ayaneru selalu saja bingung jika seseorang menanyakan hal itu kepadanya.
"Oh. O-oke ... kalian masuklah! Aku akan mengantar kalian pulang." ucap Lin Chen.
"Aku harap kamu segera menemukan kebahagianmu, Neru. Kamu sudah cukup menderita selama itu. "Karena kamu juga pantas bahagia, Neru." ucap Lin Chen dengan sangat tulus ketika Ayaneru sudah menceritakan semuanya kepada Lin Chen setelah Yora mulai mengajak Leon dan Leona untuk bermain di rumahnya.
Sementara Lin Chen masih bertamu di kontrakan Ayaneru.
"Terima kasih, Lin Chen. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga sudah menikah?" ucap Ayaneru berbalik bertanya.
"Belum. Kau tentu sangat mengenaliku bukan? Aku ... tak akan mudah untuk dekat dengan gadis manapun dan tak akan mudah untuk jatuh cinta."
"Aku harap kamu juga segera menemukan orang yang tepat." ucap Ayaneru dengan tulus.
"Hhm ... semoga saja." Lin Chen tersenyum hangat menatap wanita yang kini duduk tepat di hadapannya itu, seorang wanita yang pernah dia sukai di masa lalu.
Dan takdir pertemuan mereka berdua kali ini rupanya membuat Lin Chen kembali memiliki sebuah harapan. Meskipun dia tau kini Ayaneru sudah memiliki 2 orang anak, namun hal itu sama sekali tak mengganggunya.
"Jadi intinya papa dan mama melakukan semua itu secara tidak sengaja ya, Kak? Bahkan sebenarnya papa telah dijebak oleh wanita sihir itu rupanya ya. Huft!! Pantas saja aura wanita sihir itu begitu kelam! Rupanya dia sangat jahat dan berusaha menjebak papa di masa lalu!"
Geram Leona merasa sangat kesal karena melihat sedikit cuplikan awal dari rekaman video CCTV yang diputar oleh Leon di masa lalu.
"Hhm. Benar. Mungkin karena itu mama merasa marah dan kesal dengan papa." gumam Leon menyimpulkan. "Tapi itu bukan sepenuhnya salah papa. Karena saat itu, papa juga adalah seorang korban dari wanita sihir itu." imbuh Leon mulai membela Reo.
"Jadi bagaimana rencana kita selanjutnya, Kak Leon?" Leona mulai menatap Leon sangat serius.
Selama beberapa saat Leon terdiam dan masih menatap lekat layar mini computer baru miliknya, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Reo beberapa hari yang lalu.
"Saat di Paris kita harus bisa membuat mereka menjadi dekat kembali! Karena biar bagaimanapun akan lebih baik jika papa dan mama bersatu kembali. Mama juga pastinya membutuhkan sosok seorang suami, begitu juga dengan kita. Kita sangat membutuhkan sosok seorang papa." gumam Leon masih menatap lekat layar mungil di hadapannya itu.
"Hhm! Kak Leon benar!! Aku setuju sekali!!" sahut Leona sangat bersemangat.
"Dan sebenarnya papa juga sudah melamar mama kok. Hanya saja mama masih belum menjawabnya ..."
"Apa?! Benarkah itu? Lalu mengapa mama tidak mengiyakan saja jika papa sudah berani maju selangkah? Ughh mama terkadang sangat menyebalkan!!" Leona menggerutu sendiri karena gadia kecil inilah yang paling bersemangat untuk menjadikan Reo sebagai papa sahnya secara hukum dan agama.
Namun sang mama malah terlalu mengulur waktu dan tidak segera menjawabnya.
"Tenanglah, Leona. Mereka pasti akan segera bersatu! Namun kita juga harus berusaha keras untuk hal itu!" gumam Leon mulai mematikan mini computer miliknya dan tersenyum misterius menatap sang adik.