Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Drama Leona



Leona mulai berlari terburu-buru ke arah ketiga orang dewasa itu dengan raut wajah penuh dengan kekhawatiran. Dan tentu saja hal ini membuat kedua orang tuanya yang melihatnya juga khawatir.


"Ma, Pa! Kak Leon ..." ucap Leona dengan nafas tersenggal-senggal.


"Ada apa dengan kak Leon, Sayang?" tanya Ayaneru mulai khawatir.


"Kak Leon ... kak Leon ..." ucap Leona panik masih dengan nafas naik turun.


"Leona sayang, tenanglah. Dan katakan dengan pelan-pelan. Ada apa dengan kak Leon dan dimana dia saat ini?" kali ini Reo sudah duduk bersimpuh di hadapan putri kecilnya.


"Kak Leon diculik, Pa. Seorang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba saja mengajak Kak Leon dan menggendong kak Leon lalu berusaha untuk pergi meninggalkan tempat ini." ucap Leona menceritakan masih dengan nafas tersenggal.


"Apa?!" Ayaneru dan Reo berkata dengan begitu syok pan panik luar biasa.


"Ayo, Ma! Pa! Kita harus mengejarnya! Kita harus segera menyelamatkan kak Leon!" Leona mulai menggandeng kedua tangan Ayaneru dan Reo untuk segera meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Lin Chen masih saja berdiri kebingungan. Bagaimana mungkin ada seorang penculik bisa memasuki rumah besar keluarga Fukushi saat ini? Bahkan penjagaan di rumah besar ini sangat ketat luar biasa? Dan sepertinya Lin Chen mempertimbangkan semua itu.


Sementara itu, Leona masih saja menggiring Ayaneru dan Reo ke suatu tempat dengan melewati beberapa ruangan dan para tamu undangan.


Hingga akhirnya mereka mulai masuki sebuah ruangan sepi yang berada di samping paviliun dan melihat Leon yang terduduk di sebuah kursi bersama dengan seorang pria yang sedang duduk membelakangi mereka semua.


Dengan langkah yang semakin dipercepat Reo dan Ayaneru segera melenggang untuk menghampiri mereka. Dan betapa terkejutnya mereka ketika sudah semakin mendekati Leon dan pria itu rupanya sedang bermain catur bersama.


Dan yang lebih mengejutkan lagi pria itu adalah Shika, si genius teman Shin yang juga merupakan anggota VCPD bagian navigasi dan otak.


Reo dan Ayaneru terlihat begitu lega saat menyaksikan semua ini. Tidak seperti Leona yang meringis dan bersembunyi di balik tubuh sang mama karena merasa khawatir jika kedua orang tuanya akan memarahinya karena sudah berbohong.


"Sayang, ini adalah paman Shika. Dan bukan seorang penculik." ucap Reo yang kini sengaja malah menggendong Leona dan menatap lekat putri kecilnya.


"Hehe ... setelah banyak makan bersama kakak cantik Igarashi, sepertinya aku terlalu merasa lelah dan mengantuk deh, Pa." Leona berusaha untuk berkilah agar sang papa tidak memarahinya.


"Baiklah. Papa akan mengantarmu ke kamar agar kamu bisa tidur dan beristirahat." ucap Reo.


"Sama mama juga ya! Aku mau ditemani papa dan mama!" rengek Leona penuh harap.


"Tapi, Sayang. Masih ada banyak tamu undangan disini. Mama saja yang akan mengantar dan menemanimu." ucap Ayaneru dengan cepat.


"Tidak mau! Aku maunya diantar dan ditemani papa dan mama!" rengek Leona mulai berpegangan erat pada jas Reo, seolah tidak mau dipisahkan dengan sang papa.


Ckk ... kemampuan akting Leona sungguh tak ada yang bisa menandinginya. Haha ... kamu memang adikku yang keren dalam hal drama! Lanjutkan, Leona!!


Batin Leon yang sesekali melirik ke arah sang adik dan kedua orang tuanya.


"Tapi, Leona sayang ... papa masih sangat sibuk untuk menjamu para tamu bersama kakek dan nenek." sela Ayaneru lagi.


"Tidak, Pa! Aku masih ingin bermain catur bersama paman Shika. Ini seru sekali! Paman Shika adalah rival yang keren!" sahut Leon masih menikmati permainan catur mereka berdua.


"Tenang saja, Mr. Rei. Aku akan menjaga Leon dengan baik kok. Setelah permainan kami selesai, aku akan segera mengantarkannya ke kamar untuk beristirahat." sahut Shika sesekali membenarkan letak kacamatanya yang dianggap kurang pas.


"Baiklah. Kalau begitu baik-baik dan jangan nakal ya, Leon Sayang. Mama dan papa akan menemani Leona dulu." ucap Ayaneru berpamitan.


"Hai, wakarimashita, okaa-san." sahut Leon dengam patuh.


Akhirnya Reo dan Ayaneru mengantarkan Leona di sebuah kamar yang sudah disediakan oleh papa dan mamanya. Mereka juga menemani putri kecilnya di masing-masing sisi saat di atas pembaringan.


Bahkan Ayaneru juga membacakan sebuah dongeng yang kebetulan di dalam kamar itu juga sudah disediakan beberapa buku dongeng untuk Leon dan Leona. Karena kamar ini memang disiapkan oleh Nami dan Nara untuk cucunya setelah mereka pindah ke Osaka nantinya.


Tak butuh waktu yang lama, Leona sudah benar-benar tertidur. Mungkin karena memang terlalu lelah bermain seharian. Bahkan siang ini dia juga tidak sempat tidur siang, karena ikut ke mall bersama mamanya.


CEKLEKK ...


Reo menutup pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan putri kecilnya.


"Sayang, kamu boleh disini saja untuk menjaga Leona. Pesta ini juga sebentar lagi akan berakhir kok. Aku akan mengawasi Leon juga di bawah. Jangan khawatir .. " ucap Reo ketika mereka berdua sudah berada di luar kamar Leona.


"Baiklah. Aku juga khawatir jika harus meninggalkannya sendirian."


"Hhm. Aku ... turun dulu."


"Baik ..."


Reo memberikan kecupan singkat pada bibir setipis dan semerah buah cery itu membuat Ayaneru tersipu malu kembali. Sedangkan Reo hanya tersenyum gemas dan mendekati telinga Ayaneru untuk membisikkan sesuatu.


"Aku akan menjemputmu setelah pesta berakhir. Kita akan tidur di kamar kita ..."


Lagi-lagi bisikan itu semakin membuat Ayaneru membeku hingga membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Wanita ini hanya mengangguk pelan sambil menunduk malu.


Reo mulai meninggalkan Ayaneru. Setelah punggung lebar itu menghilang dari pelupuk matanya, disaat itulah Ayaneru mulai menghembuskan nafas lega dan mulai memasuki kamar Leona lagi.


Sementara itu, di sebuah kantor kepolisian terlihat seorang pria dengan pakaian tahanan dan berambut keemasan mulai tersenyum misterius setelah mendapatkan sebuah kunjungan dari orang kepercayaannya yang memberikan sebuah kabar yang tentunya membuatnya senang.


"Akhirnya dia mau melakukannya!! Pembalasan akan segera dimulai!! Aku tak akan bisa membiarkanmu hidupmu bahagia setelah apa yang telah kau lakukan padaku!! Kau sudah menghancurkan apa yang aku miliki selama ini!! Kau akan segera membayar semua itu, Reo!!"


Geram seorang tahanan berambut keemasan itu lirih. Sepasang matanya masih menatap lekat sebuah tablet yang sedang diperlihatkan oleh kaki tangannya itu. Auranya begitu kelam dan penuh kebencian. Seakan tak tersisa lagi kebaikan di dalam dirinya.


...🍁🍁🍁...