
Reo memicingkan sepasang matanya menatap sosok siluet hitam di lantai 2 itu. Namun sesekali dia juga masih mengawasi sekitarnya untuk mencari sosok Ayaneru. Begitu juga dengan Panther yang mengawasi sekitarnya tanpa membuat komplotan para berandalan itu curiga.
"Dimana istriku?!" tanya Reo menggelegar.
"Bwahaha ... mengapa begitu terburu-buru sekali?! Bukankah kita bisa bermain-main dulu? Kamu sangat jagoan bukan? Bagaimana jika kamu berduel dulu denganku?" ucap sosok siluet hitam itu dengan tawa menyebalkan.
"Siapa kamu? Dan sebenarnya apa maumu?!!" ucap Reo tak sabaran, karena yang dia khawatirkan saat ini adalah Ayaneru dan calon bayinya.
"Ahahaha ... tidak penting siapa aku! Lebih baik kita berduel sekarang! Ayo, tunjukkan kehebatanmu padaku, Mr. Rei!" sosok siluet itu kini mulai menuruni tangga dan hanya dalam beberapa saat saja, dia sudah berdiri di hadapan Reo.
Sosok itu sama sekali tidak dikenali oleh Reo, dia masih mengenakan penutup kepala dan penutup wajah. Pria itu memberikan isyarat dengan tangan kanannya, salah satu anak buahnya mulai mengambil alih kursi roda Reo dan merebutnya dari Panther.
Dengan sangat kasar, pria itu membuat Reo terjatuh tesungkur di atas lantai yang kotor dan berdebu itu tepat di hadapan sang bos.
BRUGGHH ...
Reo mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. Karena saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. Panther yang masih menyamar menjadi salah satu komplotan penjahat itu juga masih belum bisa melakukan apapun.
Namun dia sudah melangkah satu langkah disaat melihat mereka memperlakukan Reo dengan sangat kasar dan tidak baik. Panther merasa marah luar biasa melihat semua itu dan ingin segera membantai mereka semua.
Namun Reo yang menyadari semua itu memberikan isyarat agar Panther tetap menahan diri saat ini, karena biar bagaimanapun keselamatan Ayaneru dan calon buah hatinya yang paling penting saat ini.
"Reo!!" sebuah teriakan histeris seorang wanita terdengar dari suatu sudut ruangan.
Reo beralih menatap ke arah sang pemilik suara, dan melihat Ayaneru yang sedang terduduk di atas sebuah kayu dalam keadaan terikat. Di dekatnya ada seorang pria yang selalu menjaganya.
"Neru ..." gumam Reo lirih.
Saat ini Reo maupun Panther tak bisa berbuat apa-apa, karena serangannya akan sangat membahayakan dan mengancam Ayaneru yang saat ini masih disandera oleh para preman itu.
"Katakan padaku! Apa mau kalian! Lepaskan istriku!! Yang kalian inginkan hanya aku bukan?" tandas Reo yang masih terduduk tak berdaya.
"Ahahaha ... mauku? Hhm ... bagaimana jika aku mengatakan untuk melihatmu menderita dan aku ingin melihatmu terpuruk? Apa kamu rela menerima semua itu?" sang bos mulai melenggang mendekati Reo yang masih terjatuh di atas lantai.
"Asal kamu melepaskan istriku, maka aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Sekalipun nyawaku! Jadi ... lepaskan dia dulu! Setelah itu lakukan saja semaumu ..." ucap Reo lirih dan masih menunduk menatap cincin pernikahannya.
BUAKK ...
"Akkkhh ..." pekik Reo, karena sang bos tiba-tiba saja menendang perut Reo. Membuat Ayaneru berteriak dan ingin melepaskan dirinya.
"Reo!! Jangan sakiti dia ... hiks ..." Ayaneru tak kuasa menahan tangisnya dan sudah menangis tersedu-sedu.
Gawat! Jika seperti ini, ini akan sangat berbahaya untuk Neru dan kandungan Neru. Aku harus membuat mereka melepaskan Neru.
Batin Reo mengkhawatirkan istrinya.
"Kau pikir aku bodoh ya?! Kamu ingin aku melepaskan istrimu? Hah!! Enak saja!!" ucap sang bos ketus dan kembali menendang tubuh Reo.
DUAKKK ...
"Reo ... hiks ..." Ayaneru terus menangis dan memanggil nama suaminya.
"Aku mohon. Lepaskan dan biarkan Neru pergi. Aku akan menuruti semua kemauanmu setah ini." ucap Reo lagi.
"Tidak!! Tujuanku adalah untuk membuatmu menderita dan terpuruk!! Hhmm ... bagaimana jika aku memulainya dari istrimu yang cantik, Mr. Rei? Sepertinya akan menarik. Bahkan istrimu terlihat semakin cantik dan mulus setelah kehamilannya. Aku akan mencobanya di depanku ... bwahaha ..." sang bos tertawa lepas dan mulai mendekati Ayaneru.
"Jangan sentuh dia!!" ucap Reo menandaskan dengan aura yang begitu kelam dan mencekam.
Panther juga perlahan mulai mengikuti sang bos yang berniat untuk melakukan hal tak senonoh kepada Ayaneru. Namun belum sempat Panther beraksi, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menahan sang bos yang berniat untuk membuka kancing atas pakaian Ayaneru.
"Hentikan semua ini!! Kamu tidak boleh melakukan hal ini! Bahkan hal seperti ini tak pernah dibicarakan sebelumnya!!" tandas pria yang baru saja datang dengan jas hujannya.
Sepasang mata tanpa eyelid itu menatap tajam ke arah sang bos dan membuat sang bos merasa kesal dan marah.
"Aargghh!!" si bos menghempaskan kasar tangan pria dengan sepasang mata tanpa eyelid itu.
"Li-Lin Chen ... ka-kamu adalah komplotan dari mereka?" tanya Ayaneru tak mempercayai semua ini.
"Maafkan aku, Neru ... aku terpaksa melakukan semua ini." ucap Lin Chen terlihat sangat menyesal dan penuh dengan rasa bersalah.
"Baiklah! Jika begitu, kau beri pelajaran untuk pria sombong itu yang cacat itu, Lin Chen!!" titah sang bos.
Sementara Reo yang melihat semua ini terlihat begitu dipenuhi dengan amarah.
"Keparat satu itu!! Benar-benar berani sekali dia melakukan semua ini!!" geram Reo lirih dan berusaha untuk duduk.
Bereskan 4 orang ini sekaligus! Agar orang yang berada di sekitar nyonya Ayaneru bisa langsung dibereskan. Dengan begitu maka pada jarak dan waktu yang dekat ini, setidaknya tuan Reo akan aman. Sebelum para berandalan lainnya datang, seharusnya waktu yang aku perkirakan adalah cukup.
Batin Panther mengatur sebuah rencana. Yeap, Panther yang berada di dekat Ayaneru, sang bos, Lin Chen, dan seorang preman segera menggunakan kesempatan ini dengan cepat.
Dengan cepat pria yang sebenarnya berkulit hitam itu mulai melakukan penyerangan dengan gesit dan cepat. Dia adalah salah satu anak buah Reo yang berasal dari Afrika. Namun dia begitu lihai dalam hal penyamaran dengan menggunakan topeng silikon.
Bahkan saat ini tangannya juga menggunakan silikon dan terlihat seperti orang Asia Timur yang berkulit putih pada umumnya. Penyamarannya sangat sempurna sebagai salah satu anak buah dari preman itu.
BUAKK ...
BUGHH ...
DUUAKK ...
SREETT ...
BUAGGHH ...
Panther menggunakan seni bela diri terbaiknya untuk membereskan keempat pria itu sekaligus. Hanya dalam 3 menit saja Panther sudah membuat keempat pria itu terkapar. Bahkan beberapa berandalan yang datang juga dibereskan dengan rapi dan cepat oleh Panther.
Huftt ... sepertinya belum waktunya aku mengungkapnya kepada semua orang. Panther sudah melakukan semuanya dengan sempurna.
Batin Reo tersenyum misterius menatap Panther dari kejauhan.
Kini Panther mulai membuka penutup kepala serta penutup wajah sang bos.