Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Kecelakaan



Setelah menjelaskan dengan pelan dan sabar, akhirnya Leona mulai memahaminya. Bahkan dia tidak mengambek seperti saat Leon yang menjelaskan kepadanya.


"Jadi seperti itu ya, Pa? Kita hanya bisa menunggu saja ya sampai adik kecil hadir?" tanya Leona mendongak menatap Reo yang masih duduk bersimpuh di hadapannya.


"Benar sekali, Sayang. Oh iya, papa membelikan pizza untuk kalian. Makanlah bersama mama dan kak Leon ..." ucap Reo memberikan sebuah bingkisan pipih namun berukuran lebar itu.


"Wah!! Asyikk!! Pizza!! Terima kasih, Papa! Ayo kita makan, Kak Leon!!" seru Leona bersemangat dan mulai berlari ke arah Leon lalu meletakkan bingkisan pizza itu di atas meja untuk segera membuka dan menyantapnya.


Sedangkan Ayaneru mulai menghampiri Reo untuk menyambut suaminya. Seperti biasa sebuah ciuman singkat layaknya sebuah ritual yang selalu mereka lakukan disaat bertemu atau berpisah mereka lakukan.


Ayaneru juga membantu Reo membawakan tas kerjanya. Namun Reo segera mengambilnya kembali.


"Biar aku saja yang membawanya, Sayang." ucap Reo karena tak ingin merepotkan istrinya yang sedang kurang fit karena saat ini sedang hamil muda. "Bagaimana hari ini? Apa masih mual dan merasa lelah?"


"Iya, tapi tidak terlalu parah seperti kemarin kok. Hanya saja jika sudah sore hingga malam, semua menjadi semakin parah. Rasa lelahnya langsung terasa kembali di saat-saat itu." sahut Ayaneru bercerita dan kali ini membantu Reo melepaskan jas kerjanya.


"Wah ... itu artinya kamu sedang ingin bermanja-manja denganku, Sayang. Karena disaat sore dan malam tiba, aku akan ada bersamamu." sahut Reo malah menggoda Ayaneru, membuat sang istri tersenyum malu.


"Mungkin saja memang seperti itu ..." jawab Ayaneru asal dan masih tersenyum tipis. "Ya sudah, aku akan siapkan pakaian ganti untukmu. Kamu segera mandilah ..." imbuh Ayaneru bersiap untuk menuju kamar mereka.


Namun Reo segera meraih tangan Ayaneru dan membuat Ayaneru tertahan kembali.


"Tidak, Sayang. Kamu makan saja bersama anak-anak. Aku akan menyiapkannya sendiri. Kamu tidakboleh terlalu.lelah, seperti apa kata dokter. Okay?" ucap Reo tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Ayaneru dan segera bergegas meninggalkan ruangan itu.


Ayaneru patuh dan mengangguk pelan. Reo segera meninggalkan mereka menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Sementara Ayaneru segera menemani Leon dan Leona kembali.


Namun dia tak ikut makan bersama karena merasa kurang selera makan. Bahkan segala jenis makanan apapun akhir-akhir ini sangat kurang selera. Kalaupun makan pasti hanya sesuap atau dua suap saja.


...🍁🍁🍁...


Kehidupan rumah tangga Reo dan Ayaneru menjadi semakin harmonis di setiap harinya. Terlebih setelah Ayaneru sedang mengandung, Reo semakin perhatian dan menyayangi istrinya. Bahkan untuk hal sekecil apapun Reo selalu memperhatikan istrinya. Walaupun hanya sekadar untuk mengingatkan mengkonsumsi vitamin.


Hal ini membuat beberapa orang yang masih menyimpan dendam untuk Reo mejadi semakin kesal dan murka. Bahkan mereka mengharapkan Reo untuk menderita semenderita-deritanya, atau mereka juga mengharapkan kehidupan rumah tangga Reo menjadi hancur sehancur-hancurnya.


Beberapa rencana licik juga sudah mereka siapkan untuk menghancurkan Reo dengan menggunakan para kaki tangannya. Karena di dunia ini uang-lah yang akan memegang semua kendali! Hanya dengan uang, kemewahan, dan obsesi terkadang seseorang bisa lupa diri dan berubah.


Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga kini usia kehamilan Ayaneru sudah memasuki usia 20 minggu, sehingga perutnya sudah terlihat sedikit buncit.


Hari ini kebetulan mobil Reo mogok, dia memutuskan untuk pulang bekerja dengan menggunakan taxi online. Dan saat ini dia sedang menunggu di tepian jalan untuk menantikan taxi online-nya yang belum datang.


Hari ini Reo juga berniat ingin memberikan sebuah hadiah untuk istrinya, karena sang istri berulang tahun. Dia memutuskan untuk pulang lebih awal untuk memberikan kejutan untuk Ayaneru.


Di dalamnya ada sebuah gelang yang beberapa hari yang lalu dia pesan secara khusus di Ruby Shine, dan hari ini Reo berniat untuk memberikannya untuk istri tercintanya.


Membayangkan Ayaneru memakai gelang itu, membuatnya begitu bahagia. Dan pasti akan membuat istrinya semakin cantik.


Namun tiba-tiba saja kotak hadiah itu terlepas dan terjatuh menggelinding ke tengah jalanan. Saking terburu-burunya ingin mengambll kotak hadiah itu, Reo melangkah begitu saja untuk memungutnya kembali.


Yeap, tanpa melihat kiri kanan dan tidak memperhatikan jalanan, Reo mulai melenggang untuk segera mengambil kotak hadiah itu kembali. Reo mulai jongkok dan memungut kotak hadiah berwarna biru navy lembut itu.


Namun tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang begitu menyilaukan mata dan sebuah klakson dari sebuah mobil mulai terdengar sangat dekat.


TIINN ...


TIINN ...


Reo tidak sempat beranjak dari tempatnya berada saat ini dan hanya bisa mengangkat lengannya karena cahaya itu begitu menyilaukan matanya.


CCKKIITT ...


BRAKK ...


Mobil itu menabrak Reo dan membuat tubuh Reo sedikit terhempas ke depan terpental di aspal, hingga membuatnya seketika tak sadarkan diri.


Sepasang matanya mulai kabur tidak jelas dan perlahan memejam. Jemarinya terlihat berdarah dan masih menggenggam kotak hadiah itu. Namun perlahan genggaman kuat itu mulai melonggar hingga terlepas terlepas karena Reo yang sudah menjadi tak sadarkan diri.


Beberapa orang yang berada tak jauh dari tempat itu segera mendatangi Reo yang sudah tidak sadarkan diri dan berusaha untuk menolongnya lalu segera membawanya ke rumah sakit.


...🍁🍁🍁...


Di depan sebuah ruangan rawat ICU terlihat seorang wanita yang yang sedang duduk di sebuah bangku panjang rumah sakit. Raut wajahnya terlihat begitu dipenuhi kekhawatiran karena sedang menunggu sebuah oprasi yang sedang dilakukan oleh beberapa tim medis profesional di dalam.


Sementara di sebelahnya juga sudah ada seorang wanita yang duduk menemaninya dan selalu menghibur dan menguatkan wanita yang sedang dilanda khawatir dan kecemasan itu.


"Neru. Kamu harus tetap tenang. Suamimu pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku ... tuan Reo tak akan meninggalkan kalian, dia sangat menyayangimu." ucap Kara berusaha untuk menghibur Ayaneru.


"Kara ... hiks ... aku takut sekali ... aku takut sekali ... aku tidak mau dia pergi ... hiks ..." Ayaneru masih saja menangis karena sampai saat ini dia masih belum mengetahui bagaimana keadaan Reo, karena oprasi belum diselesaikan.


"Tuan Reo pasti akan tetap kuat untukmu dan juga untuk putra putrinya. Jangan bersedih dan sampai terpuruk, Neru. Kasihan janin yang sedang kamu kandung." ucap Kara mulai meraih tubuh sahabatnya dan memeluknya.


Diusapnya lembut punggung Ayaneru, berusaha untuk menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya. Karena hal ini tentu saja membuat Kara sangat mengkhawatirkan Ayaneru yang sedang hamil. Sedangkan orang yang sedang mengandung tidak diperbolehkan untuk stress.