
Ayaneru berada di dalam taxi dengan keadaan hati yang sangat tidak menentu, karena dia masih terus saja mengkhawatirkan putra kecilnya, Leon.
Hingga akhirnya taxi itu kini mulai berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup besar dan berlantai 5. Setelah melihat ponselnya kembali untuk memastikan jika alamatnya adalah sudah benar, kini Ayaneru segera turun dari taxi itu dan mulai memberanikan diri untuk memasuki bangunan itu.
Meskipun Ayaneru begitu takut saat ini, namun kekhawatirannya terhadap Leon lebih besar dan mampu mengalahkan perasaan cemas dan khawatirnya itu. Hingga akhirnya setiap langkah kakinya mulai mantap untuk semakin memasuki bangunan itu.
Helaan nafas panjang mulai dilakukan oleh wanita cantik itu dengan raut wajah yang masih saja terlukiskan kecemasan.
DRRTT ...
Pintu yang menyerupai sebuah pintu bagasi itu mulai terbuka sendiri ke atas, seolah mereka sudah mengetahui dan menyambut kedatangan Ayaneru. Dengan jantung yang berdegup semakin kencang dan cepat, namun tak membuat langkah kakinya menjadi ragu dan gontai untuk tetap memasuki gedung itu.
Naik dan gunakan elevator dan datangi kamar paling ujung di lantai 4!
Sebuah suara besar dan serak seorang pria, kini mulai terdengar melalui sebuah interkom tanpa terlihat wujudnya oleh Ayaneru. Ayaneru hanya menurut dan segera memasuki sebuah elevator tua di hadapannya yang rupanya masih berfungsi dengan baik.
Setelah menekan tombol 4 pada papan kecil keabuan di sebelah pintu elevator itu dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu elevator itu mulai terbuka kembali tepat di lantai tujuannya.
Ayaneru mulai melangkahkan kakinya keluar dari elevator tua itu, namun betapa terkejutnya dia saat tiba-tiba saja seseorang mulai membungkamnya dari arah belakang.
"Eemmhhh ..." Ayaneru berusaha untuk melepaskan sekapan itu, namun sekapan itu tak bisa terlonggarkan sedikitpun saking kuatnya, malah pria itu mulai menyeret Ayaneru ke dalam sebuah ruangan dan mulai mengunci tubuhnya.
Kini mereka saling berhadapan dan pandangan mereka mulai bertemu, sepasang mata kebiruan yang begitu indah dan wajah yang sangat tak asing dari pria itu membuat Ayaneru sedikit bernafas dengan lega.
"Reo ... kamu ..." ucap Ayaneru hampir saja tak percaya.
"Stttt ..." Reo mulai menempelkan jari telunjuknya pada bibir tipis kemerahan itu untuk mengisyaratkan agar Ayaneru tetap diam dan tidak berisik.
Sebenarnya ada rasa lega saat mengetahui kehadiran Reo saat ini. Meskipun Ayaneru tak pernah mengetahui kemampuan Reo dalam hal bela diri sebelumnya. Namun akan kehadirannya saat ini sudah sedikit membuat Ayaneru menjadi sedikit lebih tenang.
Ayaneru masih menatap lekat Reo hingga akhirnya mengangguk pelan tanda dia paham.
"Reo ... Leon ... Leon sedang dalam bahaya saat ini." ucap Ayaneru memelankan suaranya.
"Hhm. Tenang saja! Semua sudah diatasi Gavin!" ucap Reo dengan santai.
DRRTT ...
Namun tiba-tiba saja ponsel Reo mulai bergetar dan dia mulai berbicara hanya dengan menggunakan earpieces nya saja.
"Ada apa, Gavin?" todong Reo to the point.
"Tuan, mereka semua sudah berhasil kami amankan! Namun Leon tak bisa kami temukan. Leon melarikan diri sebelum kami tiba, Tuan." ucap Gavin dari seberang line.
"Apa?!!" ucap Reo sangat syok. "Pulihkan kembali semua rekaman CCTV dan segera temukan Leon!" titahnya kembali dengan suara yang sedikit menggelegar.
"Baik, Tuan!" sahut Gavin dengan patuh.
Panggilan itu berakhir. Dan Reo juga mulai bertindak sendiri karena sangat tak sabaran. Reo segera mengeluarkan mini computer miliknya dan segera mengaktifkannya.
Beberapa coding mulai dimasukkannya, hingga akhirnya seluruh rekaman CCTV pada gedung ini yang sudah berhasil dimusnahkan olehnya beberapa saat yang lalu agar kehadirannya tak diketahui para berandalan itu, kini semua video rekaman itu berhasil dipulihkan kembali oleh Reo.
"Reo, apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Leon?" tanya Ayaneru karena tak bisa mendengarkan percakapan antara Reo dan Gavin beberapa saat yang lalu.
Sementara itu ...
Seorang anak laki-laki terlihat sedang berlarian di sebuah koridor lantai 2 di dalam sebuah gedung. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang berada di seberang ruangan.
BRAKK ...
Anak laki-laki itu segera mundur kembali hingga akhirnya jongkok dan bersembunyi di belakang sebuang tong raksasa. Anak laki-laki itu membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya agar tak mambuat sebuah kebisingan yang akan membuat pria itu curiga.
"Sial!! Brengsek!! Mengapa bisa malah berantakan seperti ini?! Sudah kehilangan anak itu, ditambah lagi mereka malah tertangkap begitu saja! Nona Maria pasti akan sangat murka, lebih baik aku segera pergi dari tempat ini sebelum mereka juga menangkapku.
Maria? Jadi semua ini adalah ulah dari wanita sihir itu? Mengapa dia ingin mencelakaiku atau mencelakai mama? Apakah alasannya masih sama? Dia yang begitu terobsesi dengan papa Reo?
Batin anak laki-laki yang tak lain adalah Leon.
BRAK ...
PRANG ...
Tak sengaja Leon malah menyenggol sebuah pot dan membuat pot itu pecah.
"Siapa disana?!" pria itu itu mulai curiga dan mulai mendekati ke arah suara.
Hingga akhirnya pria itu mulai melihat Leon yang masih jongkok dengan ekspresi ketakutan. Sedangkan pria itu malah menyeringai menakutkan ketika akhirnya malah menemukan Leon kembali.
"Anak manis, jangan nakal dan mari ikut paman!" ucap pria itu masih dengan seringai mencekam.
Leon segera melemparkan beberapa pecahan pot bunga itu ke arah pria itu lalu segera berlari meninggalkan pria itu.
"Secepat apa kamu berlari, Nak?" gumam pria itu masih menyeringai dan begitu meremehkan Leon dan merasa sangat yakin jika dia akan segera menangkap Leon kembali.
Namun beru saja melangkahkan kakinya dua langkah, seseorang mulai menyerangnya dari arah belakang lalu melemparkannya ke lantai dasar begitu saja.
BUAKKK ...
BRUGHH ...
"Kalian urus mereka!!" titah pria itu mulai melangkah cepat untuk segera menyusul Leon.
Namun karena Leon sangat merasa ketakutan hingga dia malah menemukan jalan buntu dan kini malah terjebak di balkon.
"Ini hanya lantai 2, namun ini terlalu tinggi sekali untukku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Leon merasa kebingungan.
Derap langkah yang terdengar begitu tenang kini semakin terdengar dan sudah semakin dekat saja, hingga akhirnya Leon mulai memutuskan untuk nekat dan melompat dari balkon itu. Leon mulai memanjat untuk melewati pagar pembatas balkon itu dan bersiap untuk melompat.
"Semoga aku tidak terluka parah. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mama ..." Leon memejamkan sepasang matanya selama beberapa saat.
Lalu Leon mulai membukanya sepasang matanya kembali dan mulai melompat. Tubuh mungil itu kini sudah berada di udara.
Bersambung ...