
Kini Gavin benar-benar berniat untuk membuat sebuah ukiran lukisan pada leher pemuda itu. Perlahan ujung pisau itu mulai menyayat leher pemuda itu hingga darah segar mulai mengucur membasahi bagian lehernya.
"Argghh ... tung-tunggu dulu ..." ucap pemuda itu terlihat begitu ketakutan dan khawatir jika Gavin akan benar-benar memutuskan urat lehernya. "Ak-aku akan mengatakannya kepada kalian! Tapi tolong jangan bunuh aku ..."
Gavin mulai menghentikan serangannya sesuai dengan isyarat yang sudah diberikan oleh Reo untuk mendengarkan pengakuan dari pria itu.
"Se-benarnya ak-ku telah disuruh oleh seseorang ... dia menyuruhku untuk menyebarluaskan berita itu untuk seluruh karyawan yang bekerja di F Group, Tuan." ucap pria itu terbata.
"Katakan dengan jelas siapa yang sudah memberimu perintah itu!" kali ini Reo mulai berkata dengan aura membunuhnya.
Pria itu mulai mengatakannya dengan jujur, siapa yang telah menyuruhnya untuk melakukan semua itu.
"Gavin! Tetap awasi dan jangan sampai orang itu berusaha untuk melarikan diri! Kali ini aku akan membuatnya untuk membayar semuanya, apapun yang telah dilakukannya, dia harus membayarnya!!" geram Reo dengan rahang yang sudah mengeras.
...🍁🍁🍁...
Untuk beberapa saat ini mungkin sang pelaku masih akan bisa bernafas lega. Namun sebenarnya dia masih berada dalam pengawasan Reo untuk segala apapun yang dilakukannya.
Karena saat ini, Reo masih hanya ingin untuk fokus untuk lamarannya saja. Setelah bersiap dengan setelan jasnya yang begitu rapi dan harum, kini pria berkharisma tinggi itu mulai menjemput Ayaneru.
Mereka akan bersama untuk mengunjungi rumah besar keluarga Ryusei malam ini. Sementara kedua orang tua Reo juga sedang dalam perjalanan di mobil lainnya lagi.
Ayaneru terlihat begitu gugup saat berada di dalam mobil mewah Reo. Ayaneru bahkan tak bisa membayangkan seperti tanggapan dari kedua orangtuanya saat melihat kedatangannya bersama dengan Reo dan juga kedua orang tua Reo.
"Neru. Tarik nafas panjang dan keluarkan perlahan ..." ucap Reo yang rupanya menyadari jika Ayaneru sedang merasa gugup luar biasa.
Ayaneru tak menjawabnya, namun gadis itu segera melakukan sesuai dengan saran dari Reo.
"Mengapa mama terlihat begitu gugup saat mau bertemu dengan nenek dan kakek?" celutuk Leona sambil menikmati coklat bar kesukaannya yang dibelikan oleh Reo.
"Eh itu ... itu sebenarnya ..." ucap Ayaneru kebingungan harus menjelaskannya seperti apa kepada gadis kecilnya.
Namun disaat kebingungan seperti ini, rupanya Reo segera menjawab pertanyaan Leona dengan masuk akal.
"Mama kalian terlalu bahagia hingga akhirnya malah membuatnya menjadi gugup." jawab Reo akhirnya dan sesekali melirik Leona melalui kaca gantung dengan senyum tipisnya.
"Ma, coba makan ini. Ini akan membantu mama mengurangi rasa gugup loh." ucap Leona sambil mengulurkan sebuah coklat bar yang masih utuh belum dibuka.
"Oh iya. Terima kasih, Sayang." ucap Ayaneru dengan tulus. "Tapi mama sedang tidak ingin memakan apapun. Uhm ... bagaimana jika coklatnya untuk kak Leon saja?" imbuh Ayaneru yang sudah menoleh ke belakang dan juga melirik Leon yang masih menyibukkan dirinya dengan mini computer kesayangannya.
"Kak Leon tidak akan mau memakan apapun saat ini, Ma. Dia sibuk bermain game. Huft ..." celutuk Leona mengerucutkan bibirnya sambil melirik Leon.
"Jangan berisik, Leona! Kakak sudah hampir mendapatkan kartu SSR. Sedikit lagi kakak akan mengalahkan naga musuh!" celutuk Leon masih saja fokus dengan mini computer miliknya.
"Ckk ... apaan SSR?! Dimakan juga gak bisa bikin kenyang lo, Kak. Masih mending makan coklat!" timpal Leona sambil melanjutkan kembali memakan coklat bar itu.
"Leona berisik! Heroes kakak malah mati terkena semburan api dari naga itu!" sungut Leon seketika menjadi kesal dan menghentikan permainan game online itu.
Leona hanya nyengir lebar ketika melihat Leon kesal. Sesangkan Ayaneru dan Reo terlihat tertawa kecil melihat kelakuan dari kedua anak kembar itu.
"Papa Reo juga menertawakanku?!" celutuk Leon menatap Reo dengan kening berkerut.
Dengan cepat Reo segera menghentikan tawanya, "Tid-tidak, Leon sayang. Papa baru saja mendengarkan sebuah berita lucu melalui earpieces ini saja kok." kilah Reo sambil menuding single earpieces yang masih terpasang pada telinga kirinya.
Melihat Reo si manusia super dingin yang tak pernah terkalahkan dalam segala hal, namun dia akan selalu kalah di depan Leon, membuat Ayaneru merasa gemas sendiri dan mengulum senyumnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Reo mulai menepikan mobil mewahnya lalu memasuki sebuah halaman sebuah rumah yang cukup besar dan luas.
Di saat bersamaan sebuah mobil lain juga mulai memasuki halaman rumah ini dan mulai melakukan parkir tepat di sebelah mobil Reo.
Flash back on ...
Senja itu Reo mengajak Ayaneru, Leon dan Leona untuk pergi ke apartemennya, dimana Nami sudah menunggu kehadiran mereka di apartemen Reo.
"Ma, kenalkan ... ini adalah Ayaneru. Dan mereka adalah Leon dan Leona." ucap Reo memperkenalkan Ayaneru dan kedua anak kembarnya kepada Nami.
"Wah cucu-cucuku manis dan lucu sekali ..." Nami terlihat begitu bahagia dan segera memeluk Leon dan Leona penuh rasa haru.
Ada rasa bahagia karena pada akhirnya bisa bertemu dengan mereka. Namun juga ada rasa sesal dan rasa bersalah karena mengingat jika Ayaneru pernah mengalami masa sulit seorang diri. Dan itu adalah karena kesalahan dari putranya.
"Haloo, Nenek. Nenek apa kabar?" sahut Leona dengan senyum lebar.
"Kabar nenek baik, Sayang. Oiya ... nenek sudah mempersiapkan makanan enak untuk kalian. Kalian mau?" ucap Nami sumringah.
"Hmm. Tentu saja kami mau, Nenek! Iya kan, Kak Leon?" kali ini Leona menyikut Leon, karena Leon masih terlihat waspada kepada Nami. Karena ini adalah pertemuan pertamanya dengan ibu dari papanya.
"Eh ... i-iya ... tentu saja!" jawab Leon.
"Bibi Rin, tolong antarkan dan temanilah cucuku untuk ke ruang makan dulu." titah nami kepada asisten rumah tangga yang selama ini bekerja di apartemen putranya.
"Baik, Nyonya besar." bibi Rin menyauti dengan patuh dan segera mengajak Leon dan Leona untuk pergi ke ruang makan.
Sementara itu Nami terlihat mulai mendekati Ayaneru. Menatap Ayaneru begitu dalam dan penuh dengan rasa bersalah. Bahkan tiba-tiba saja sepasang manik-manik bening itu mulai berkaca-kaca saat menatap Ayaneru.
"Neru ... apa kabar, Sayang?" ucap Nami terdengar bergetar dan penuh rasa haru.
"Kabarku sangat baik, Bibi. Bibi apa kab ..."
"Mama ... panggil mama, Sayang." potong Nami dengan sepasang pupil yang semakin bergetar menatap Ayaneru.
"Ba-baik, Mama ..." ucap Ayaneru begitu lirih.
Tangis haru mulai menghiasi suasana saat ini, Nami juga segera memeluk Ayaneru tanpa berkata-kata sebelumnya. Meluapkan segala emosi yang memenuhi hatinya saat ini, sebuah emosi yang bercampur aduk menjadi satu.
"Maafkan mama, Neru. Maafkan Reo ... karena Reo kamu telah menjalani masa yanf begitu berat selama ini. Maafkan mama yang juga tak bisa bertindak apapun saat itu. Kembalilah bersama kami ... kami akan menebus semuanya ... menikahlah dengan Reo, Neru ..." ucap Nami setelah wanita paruh baya itu melepas pelukannya dan menatap Ayaneru lekat, penuh dengan harap.
Ayaneru mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaan dari Nami.
Flash back off ...
"Nenek!!" Leona berjingkrak dan berlari mendekati Nami yang baru saja turun dari mobilnya.
Sedangkan Leon masih saja berada bersama dan menggandeng tangan Ayaneru.
"Papa, kenalkan ... dia adalah Ayaneru ..." Reo memperkenalkan singkat kepada papanya, karena sang papa juga baru saja tiba di Yokohama, sehingga belum sempat bertemu dan berkenalan sebelumnya dengan Ayaneru, Leon dan Leona.
"Hhm. Semoga Tuhan memberkati kalian ..." ucap papa Reo dengan penuh kharismatik tinggi. "Ayo bergegas! Nyonya dan Tuan Ryusei sedang menunggu kita!"
Papa Reo mulai melenggang bersama Nami yang menggandeng Leona. Sementara Ayaneru dan Leon masih belum beranjak, karena Ayaneru kembali merasa gugup.
GREPP ...
Reo mulai meraih bahu Ayaneru dan mengusapnya lembut.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Ayo ..." ucap Reo dengan hangat dan mulai menggandeng Ayaneru untuk menyusul mereka.