Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Dua Keluarga Yang Bertemu



Suasana di ruangan utama ini menjadi sangat canggung selama beberapa saat. Karena kedua orang tua Ayaneru sama sekali belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Bahkan mereka merasa sangat segan karena kehadiran dan kunjungan dari keluarga Fukushi yang sangat tiba-tiba seperti ini. Kedua orang tua Ayaneru masih merasa bersalah terhadap keluarga Fukushi atas apa yang terjadi saat 5 tahun yang lalu.


Namun kini tiba-tiba saja mereka malah berkunjung, bahkan mereka juga datang bersama Ayaneru, Leon, Leona, dan Reo. Dan sebenarnya kedua orang tua Ayaneru juga belum pernah bertemu dengan Mr. Rei sebelumnya.


Dua orang pelayan sengaja diperintahkan oleh ibu Ayaneru untuk menemani Leon dan Leona bermain di sebuah ruangan. Agar perbincangan para orang dewasa itu juga akan lebih leluasa.


"Jadi maksud kedatangan kami malam ini adalah ... kami ingin meluruskan apa yang pernah terjadi selama ini, Tuan besar Ryusei dan nyonya besar Ryusei ..." ucap papa Reo mulai membuka perbincangan.


"Kami ingin meminta maaf yang sebesar-bearnya atas apa yang pernah terjadi selama ini. Kami minta maaf atas semuanya. Karena kesalahan dan kekhilafan dari putra kami, Ayaneru harus menanggung semuanya sendirian, Ayaneru harus mengalami masa yang begitu berat dan sulit saat itu. Namun kami juga berterima kasih, karena Ayaneru masu merawat kedua cucu kami dengan sangat baik. Bahkan mereka tumbuh dengan sangat cerdas." ucap papa Reo beralih menatap Ayaneru dengan hangat.


"Apa maksud dari tuan, Hiroyuki?" tanya ayah Ayaneru dengan kening berkerut.


Helaan nafas panjang mulai dilakukan oleh Hiroyuki, papa Ren. Lalu Hiroyuki kembali menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua Ayaneru. Hiroyuki mulai menatap Reo dan kembali menjelaskan.


"Reo atau Mr. Rei adalah putraku. Dan kecelakaan yang menimpa putri tuan di masa lalu hingga membuatnya hamil, adalah karena kesalahan dari putra kami yang saat itu sedang dijebak oleh seseorang. Dengan kata lain, pria yang menghamili putri tuan dan nyonya Ryusei adalah putraku-Reo. Namun baik Reo maupun Ayaneru, mereka berdua tak begitu mengingat kejadian itu. Bahkan Ayaneru malah meninggalkan Jepang karena merasa tak pantas untuk tetap menikah bersama Mr. Rei. Sekali lagi kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kami akan menebus semuanya. Kami berjanji akan membahagiakan Ayaneru dan akan memperlakukannya dengan baik sebagai seorang menantu di keluarga kami. Kami harap tuan dan nyonya Ryusei bersedia untuk memberikan restu kepada mereka berdua."


Papa Reo kembali menyampaikan niat baiknya untuk mebebus segala kesalahan putranya yang pernah terjadi di masa lalu.


Ibu Ayaneru terlihat begitu terkejut hingga membulatkan sepasang matanya dan segera menutupi mulutnya yang sudah terbuka cukup lebar dengan jemarinya. Namun ayah dari Ayaneru-lah yang merasa cukup terkejut saat ini.


Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas sedikitpun olehnya, kini telah terjadi. Perasaan iba dan merasa bersalah tiba-tiba hadir saat pria baruh baya itu mulai menatap putrinya yang telah ia usir dari rumah ini.


Dia tak pernah mengetahui apa saja yang telah putrinya alami selama ini. Dia tak pernah menyangka jika Ayaneru telah mengalami masa yang cukup berat di masa lalu. Namun dirinya malah dengan egoisnya berbuat kasar dan mengusir Ayaneru begitu saja.


Hatinya menjadi begitu sesak dan sakit jika mengingat semua itu. Bahkan kini ibu Ayaneru segera mendatangi putrinya dan memeluknya demgan penuh merasa bersalah. Karena selama ini sang ibu juga tak pernah berbuat apa-apa untuk Ayaneru.


"Maafkan ibu, Sayang. Ibu tak pernah mengetahui semua itu. Maafkan ibu, Neru ... hiks ..." ibu Ayaneru mulai terisak atas penyesalannya selama ini yang merasa tak bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk Ayaneru.


"Tidak, Ibu. Ibu sama sekali tidak salah ... jangan seperti ini, Ibu ..." hibur Ayaneru lirih.


"Maafkan aku, Tuan besar Ryusei. Aku sudah sangat bersalah dan membuat Ayaneru sangat menderita selama ini. Dan kini aku ingin menebus semuanya dengan menikahinya. Semoga tuan besar Ryusei merestui kami." kali ini Reo juga mulai berkata dan memohon kepada ayah Ayaneru untuk menikahi Ayaneru.


Ayah Ayaneru terlihat mengeraskan rahangnya dengan kedua tangan yang mengepal. Dia masih merasa bersalah atas semua yang telah menimpa putrinya selama ini.


"Aku ... akan serahkan semua ini kepada Neru, karena dia yang akan menjalani semuanya." ucap ayah Ayaneru terdengar begitu bergetar dan mulai menatap Ayaneru yang kini duduk berdekatan dengan ibunya.


"Aku ... menerimanya, Ayah ..." ucap Ayaneru lirih namun terlihat begitu yakin.


"Baiklah. Terima kasih, Tuan Ryusei. Kami akan segera mempersiapkan semuanya untuk pesta pernikahan mereka berdua." ucap Nami yang juga terlihat begitu bahagia, karena impiannya untuk mendapatkan seorang menantu akan segera terwujud.


Ditambah lagi dia juga mendapatkan dua cucu kembar yang sangat lucu, menggemaskan dan juga jenius. Seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan beruntun saja.


"Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kita makan malam bersama dulu. Kebetulan chef keluarga kami juga memasak cukup banyak malam ini." kali ini ibu Ayaneru mulai mengajak para tamunya untuk menyantap makan malam bersama.


Tak ada yang menolaknya, hingga akhirnya mereka mulai berpindah ke ruangan makan bersama untuk melakukan makan malam.


.


.


.


.


.


Ayaneru menyusul ayahnya yang saat ini sedang menikmati sepuntung rokok di balkon samping ruangan makan. Ayaneru juga terlihat membawakan secangkir kopi hitam kesukaan sang ayah.


"Ayah. Aku membuatkan kopi kesukaan ayah ..." ucap Ayaneru mulai meletakkan secangkir kopi hitam itu di atas sebuah meja kecil.


"Neru, maafkan ayah." ucap sang ayah lirih sambil mematikan rokoknya. "Ayah sudah sangat bersalah kepadamu. Ayah tak pernah mengetahui apapun yang kamu alami selama ini. Maaf, Sayang ..."


Ayaneru tersenyum hangat mendengarkan ucapan dari sang ayah. Wanita cantik itu mulai menatap langit gelap itu masih dengan senyumannya.


"Ayah tidak salah kok. Sangat wajar dan manusiawi jika ayah marah dan kecewa padaku saat itu." ucap Ayaneru tanpa menyimpan dendam dan kecewa sedikitpun.


"Kamu tumbuh dengan sangat dewasa, tegar dan bijak. Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu, Sayang. Semoga Reo dan keluarganya juga memperlakukanmu dengan baik." ucap sang ayah tulus.


"Hhm. Iya, Ayah ... bagaimana kesehatan ayah saat ini?"


"Sudah menjadi lebih baik. Neru menginaplah malam ini disini! Ayah masih kangen denganmu dan kedua cucu ayah. Ibumu juga masih ingin lebih lama bersama dengan Leon dan Leona. Karena setelah menikah pasti Reo akan membawamu ke Osaka bukan? Untuk tinggal di rumah besarnya?" ucap sang ayah beralih menatap Ayaneru.


"Hmm. Baiklah, Ayah. Aku akan menginap."