Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Panggilan Dari Sang Penculik



Ponsel Ayaneru mulai berdering, dengan cepat Ayaneru segera melihat layar ponselnya. Terlihat nama si pemanggil adalah Leon. Dan dengan cepat Ayaneru segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


"Hallo! Leon!! Kamukah itu, Sayang? Leon ... jawab mama Sayang ..." ucap Ayaneru sangat khawatir dan berharap akan segera mendengar suara Leon.


Namun Ayaneru bukannya mendengar suara Leon, namun dia malah mendengar suara seorang pria dewasa yang memiliki suara yang cukup besar.


"Aku akan melepaskan putramu, tapi jika kamu melakukan perintahku!!" terdengar suara seorang pria dewasa dari seberang line.


"Apapun!! Asal kamu melepaskan putraku!!" ucap Ayaneru tanpa pikir panjang lagi. "Aku ingin melihat dan mendengar suara putraku!!"


Pria itu segera merubah panggilan suara itu menjadi sebuah panggilan video. Kini Ayaneru mulai melihat Leon yang terduduk di sebuah kursi dengan keadaan terikat.


"Kak Leon!" pekik Leona yang juga mulai mengkhawatirkan sang kakak dan juga sudah hampir menangis.


"Leon ... Leon sayang ... apa kamu baik-baik saja, Sayang?" ucap Ayaneru tak bisa lagi menutupi rasa khawatir yang sangat berlebihan itu lagi.


Leon hanya tersenyum samar menatap Ayaneru, berharap kekhawatiran sang mama akan mereda. Karema salah satu hal yang membuatnya sedih adalah ketia ia harus melihat mamanya menangis.


"Leon, bertahanlah sayang. Mama akan segera menyelamatkanmu." ucap Ayaneru yang juga berusaha untuk menenangkan Leon.


SSRRTT ..


Tiba-tiba saja panggilan itu mulai terarah pada seorang pria dengan penutup wajah, namun sepasang mata itu sangat terlihat jika dia bulanlaj orang Asia Timur, melainkan kebulean. Dan hal ini sebenarnya cukup membuat Ayaneru kebingungan.


Siapa sebenarnya pria itu? Aku bahkan tak memiliki kenalan di Paris. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negeri ini. Lalu mengapa ada yang berusaha untuk mencelakai kami? Apakah itu ...


Batin Ayaneru mulai memikirkan sesuatu. Namun belum sempat Ayaneru mendapatkan jawaban dari pertanyaan hatinya, kini pria itu mulai memerintahkan sesuatu untuk Ayaneru.


"Datanglah ke tempat ini, maka aku akan memberitahukan syarat apa yang harus kamu lakukan. Aku juga akan mengembalikan putramu! Datang sendirian dan jangan bawa siapapun! Jika sampai kamu berani melanggarnya, maka aku tak akan segan untuk membuat putramu lenyap! Aku akan mengirimkan titik lokasi padamu, apa kai mengerti?!"


"Baiklah! Aku mengerti!" ucap Ayaneru dengan cepat dan tak berpikir panjang lagi.


Karena Ayaneru sangat mencemaskan Lein tentunya. Dan Ayaneru akan berbuat apapun untuk menyelamatkan Leon.


Tut ...


TRING ...


Panggilan itu kini telah berakhir. Dan beberapa detik setelahnya Ayaneru menerima sebuah pesan dari nomor Leon. Dan pesan itu berisi dengan sebuah alamat.


"Leona, tolong jangan katakan hal ini kepada siappun. Karena jika sampai ada orang lain yang tau, itu akan membahayakan kak Leon. Apa.kamu mengerti, Sayang?" ucap Ayaneru menatap lekat putrinya.


Leona terdiam beberapa saat, namun akhirnya gadis cilik itu mengangguk pelan dengan menahan tangisnya. Karena tentu saja Leona juga tak ingin membuat sang kakak berada dalam bahaya.


Dengan cepat Ayaneru segera mengajak Leona turun dari van mewah itu, lalu wanita cantik itu mulai menemui Kara dan Yuan yang masih berada di sekitar mereka juga.


"Kara, Yuan! Tolong jaga Leona sebentar! Aku akan pergi ke suatu tempat dulu!" ucap.Ayaneru yang rupanya berniat menitipkan Leona.


"Kamu mau pergi kemana, Neru? Sebaiknya tunggu disini saja! Karena tuan Reo dan anak buahnya sudah akan menangani masalah ini! Sebaiknya kamu menunggu dan tetap disini saja!" ucap Yuan menyarankan.


"Yuan benar, Neru. Sebaiknya kamu tetap disini bersama kita semua." imbuh Kara.


"Tapi, Ma ..." sela Leona keberatan dan sudah mulai menangis karena mengkhawatirkan sang mama yang sebenarnya akan pergi untuk menemui para penculik itu.


"Aku hanya akan pergi untuk mengambil sesuatu di hotel." kilah Ayaneru berbohong. "Leona sayang, kamu ikut bersama paman Yuan dan bibi Kara dulu ya. Mama hanya akan pergi sebentar kok." Ayaneru mulai tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Leona.


"Tapi, Ma ..."


"Mama harus pergi sekarang. Jangan nakal ya. Dan jangan pernah berada jauh dari bibi Kara dan paman Yuan." ucap Leona dengaj hangat. "Yuan, Kara ... aku pergi dulu. Tolong jaga Leona ya maaf jika aku merepotkan kalian." ucap Ayaneru langsung saja meninggalkan mereka bertiga dan segera menghadang sebuah taxi.


Leona mulai menangis, hingga Yuan akhirnya mulai menggendongnya dengan membujuknya untuk membelikan beberapa cemilan dan mainan.


Namun setelah beberapa saat, akhirnya Leona tak bisa lagi menutupi semuanya. Gadis kecil itu terus saja menangis. Setelah Yuan dan Kara berhasil membujuknya, akhirnya Leona mulai mengatakan semuanya.


"Mama sedang menyusul kak Leon. Hiks ... mereka mengancam jika mama pergi bersama orang lain, maka mereka akan menyakiti kak Leon. Hiks .. " Leona mulai menceritakan semuanya dalam isak tangisnya.


"Apa?!" ucap Yuan dan Kara bersamaan dan sangat syok.


"Apa kamu tau alamatnya, Leona?" tanya Kara mulai mengkhawatirkan sahabatnya.


Leona menggeleng pelan dan masih beruraian dengan air mata, "Mama hanya bergumam gudang bekas toko berlian."


"Ughh!! Bisa mati kita semua karena kehilangan Neru!! Reo pasti akan membunuh kita!!" gumam Yuan yang menjadi panik dan mengusap kasar waja dan rambutnya ke belakang.


"Biar bagaimanapun kita tetap harus mengatakannya kepada Reo, Yuan. Kalau tidak, Reo akan benar-benar mengirim kita ke neraka." celutuk Kara mulai meraih ponselnya untuk menghubungi Reo.


...🍁🍁🍁...


Reo terlihat sedang mengutak-atik mini computer nya untuk memastikan sesuatu kembali. Ayranya terlihat dingin dan mencekam. Sementara Gavin berada di kursi kemudi sedang fokus mengemudi. Di belakang mereka juga ada 2 mobil yang sedang mengawal mereka berdua.


Sebuah melodi yang begitu familiar, kini mulai terdengar dari ponsel Reo. Reo segera mengangkatnya dan mendengarkannya melakui earpieces yang sudah terpasang beberapa saat yang lalu pada telinganya.


"Ya, halo!"


"Tuan Reo, Neru menghilang." ucap seorang gadis dari seberang dengan nada ketar-ketir.


"Apa?!! Bagaimana kalian menjaganya?!" geram Reo semakin frustasi. "Bagaimana dengan Leona?"


"Leona ada bersama kami, Tuan."


"Jaga Leona baik-baik!!" titah Reo mulai mengakhiri panggilan itu lalu segera menghubungi pengawal lainnya yang masih berada di taman Trocadero.


"Cari tau kemana Ayaneru pergi dan segera temukan dia!! Jangan pernah kembali sebelum kalian menemukannya!!" titah Reo dengan sangat tegas dan segera mengakhiri panggilan itu tanpa memberikan pengawalnya kesempatan untuk menjawabnya.


Reo mengeraskan rahangnya dan wajahnya yang putih sudah menjadi memerah saat ini, menandakan amarahnya sudah mencapai titik tertinggi.


Satupun pengawal tak ada yang becus!! Menjaga seorang wanita saja tidak bisa!!


Geramnya di dalam hati.


...🍁🍁🍁...