
Di dalam sebuah mansion mewah terlihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri memasang wajah kesal dan menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya.
Sedangkan di salah satu sofa terlihat seorang laki-laki paruh baya juga sedang memasang wajah kesal sambil menikmati cerutunya.
"Anak itu benar-benar ingin menguji kesabaran kita! Tidak mau pulang saat kita memanggilnya dengan alasan sedang memiliki banyak pekerjaan! Padahal dia selalu saja menghabiskan waktunya bersama wanita serta dua anak haram itu!"
Geram wanita paruh baya itu setelah menerima beberapa kiriman foto yang memperlihatkan saat Reo sedang bersama dengan Ayaneru, Leon maupun Leona.
"Reo benar-benar sudah keterlaluan! Nami, datang ke Yokohama dan atasi semua ini sebelum aku sendiri yang turun tangan. Aku khawatir tak akan bisa mengendalikan emosiku saat berhadapan langsung dengan anak itu!" ucap papa Reo mulai mengepulkan kepulan asap melalui hidungnya.
"Ya! Lusa aku akan pergi menyusulnya!" Nami menyauti dengan mantap dan sebenarnya sudaj sangat tak sabar untuk segera menemukan putranya yang masih saja betah untuk tinggal di Yokohama.
...🍁🍁🍁...
"Selamat siang, Nona Ayaneru. Saya datang untuk menjemput nona dan juga anak-anak atas perintah dari tuan Reo." ucap Gavin saat datang untuk menjemput Ayaneru dan kedua anak kembarnya.
"Baiklah. Ayo kita berangkat ..." sahut Ayaneru yang juga sudah bersiap bersama Leon dan Leona.
TRING ...
Sebuah notifikasi mulai terdengar saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ayaneru segera membaca pesan yang rupanya dari Reo.
Maaf tidak bisa menjemputmu, karena pekerjaanku baru saja selesai. Jadi aku memerintahkan Gavin untuk menjemputmu. Sampai jumpa di restoran. Reo.
Begitulah isi pesan yang telah dikirimkan oleh Reo untuk Ayaneru.
Dia bahkan juga bekerja di akhir pekan. Rajin sekali ... pasti lelah sekali.
Batin Ayaneru tak sadar sudah mengukir sebuah senyuman indah pada wajah cantiknya.
Tak butuh waktu lama, kini Gavin mulai memarkir mobilnya dan segera turun untuk membukakan pintu untuk Ayaneru dan si kembar.
Sepertinya tuan Reo benar-benar akan segera menikahi nona Ayaneru. Tak biasanya dia memperlakukan wanita seperti ini, bahkan tidak saat dia masih bersama dengan nona Maria. Semoga tuanku bisa bahagia akan pilihannya. Dan semoga nona Ayaneru bisa mengatasi temperamen buruk tuan Reo, agar tak banyak karyawan yang sering dia pecat saat mood-nya kembali memburuk.
Batin Gavin saat membukakan pintu untuk Ayaneru.
"Terima kasih, Gavin." ucap Ayaneru dengan tulus.
"Sama-sama, Nona. Mari saya antarkan, Nona. Tuan Reo sudah menunggu nona saat ini di ruang VIP." sahut Gavin dengan ramah dan segera memandu Ayaneru dan si kembar untuk memasuki restoran berbintang itu.
"Pap ... eh ... maksudku ... paman!!!" seru Leona saat melihat Reo di ruangan VIP yang baru saja mereka masuki bersama.
Reo yang mengetahui kehadiran mereka mulai tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah Leona dan Leon. Dengan begitu bersemangat Leona mulai berlari ke arah Reo.
Namun Leona malah tersandung sesuatu, hingga akhirnya tubuh mungil Leona mulai terhuyung di udara dan hampir saja terjatuh. Ayaneru dan Leon seketika menjadi sangat khawatir, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena berada cukup jauh dari Leona.
"Arghhh ..." pekik Leona yang juga merasa ketakutan.
Dengan pergerakan cepat dan sangat gesit, kini Reo mulai melesat mendekati Leona dan berhasil menangkap tubuh mungil.
GREPP ...
Sementara Ayaneru dan Leon mulai bernafas dengan lega saat ini.
"Leona, buka matamu. Tidak perlu takut, paman sudah menangkapmu." ucap Reo menenangkan gadis kecil yang masih ketakutan itu.
Perlahan Leona mulai membuka sepasang matanya dan mulai melihat sosok Reo sudah berada di hadapannya sedang menggendongnya.
"Pa-paman ... aku takut sekali ..." ucap Leona lirih dan masih saja berpegangan kuat kepada Reo.
"Iya, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Jangan takut ..."
Leona malah langsung memeluk kuat Reo. Entah hanya sekadar akting agar membuat sang mama tersentuh, atau memang benar-benar tulus. Entahlah ... hanya Leona yang tau ...
Akhirnya mereka mulai melanjutkan makan siang karena semua menu rupanya sudah dipesan, dan beberapa waitress juga mulai mengantarkan makanan-makanan itu.
Reo memesan cukup banyak makanan. Dan sebenarnya semua itu cukup banyak jika hanya dinikmati oleh mereka berempat saja. Hingga akhirnya Ayaneru berinisiatif untuk mengajak Gavin juga ikut bergabung makan siang bersama dengan mereka.
Karena sejak dari tadi Gavin hanya berdiri di dekat mereka saja tanpa ikut makan ataupun berbincang bersama. Dan tentu saja hal itu sedikit membuat Ayaneru merasa kurang nyaman dan leluasa, karena aktifitas makan siangnya malah diamati oleh orang lain.
Pada awalnya Gavin menolaknya karena merasa segan, terlebih kepada Reo. Namun Reo segera memberikan isyarat kepada Gavin melalui bahasa matanya agar Gavin menerima ajakan Ayaneru.
Lagi-lagi seseorang yang sedang duduk tak jauh dari mereka dengan penampilan misteriusnya, mulai mengambil beberapa foto mereka dan mulai mengirimkannya untuk seseorang.
Reo yang menyadari semua itu kini mulai memberikan isyarat untuk Gavin. Hingga akhirnya Gavin mulai menghampiri pria bertopi misterius itu.
BRAKK ...
Tanpa basa-basi lagi, Gavin segera menendang meja di hadapan pria bertopi misterius itu. Dan hal itu cukup membuat Ayaneru, Leon dan Leona terkejut bukan main. Karena saat ini di ruangan VIP hanya ada mereka berenam saja.
SRRTT ...
Kali ini Gavin mulai merebut ponsel pria bertopi misterius itu untuk memeriksa sesuatu. Dan benar-benar pria bertopi misterius baru saja mengambil beberapa gambar kebersamaan Reo bersama Ayaneru, Leon dan Leona saat makan siang.
"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?!" tanya Gavin dengan penuh penekanan dan sangat tegas.
"It-itu ... anu ..."
"Jawab dengan jelas sebelum kamu menyesal!" tandas Gavin yang rupanya seketika bisa berubah menjadi seperti seekor singa yang sedang kelaparan. Padahal selama ini Gavin terlihat ramah dan sopan.
"Itu ... itu sebenarnya ..." ucap pria bertopi itu terlihat sangat ketakutan.
Seperti sedang dihadapkan pada kematian saja. Seolah apapu yang akan dia pilih saat ini, akan sama-sama membuatnya mati.
Karena tak sabar lagi, akhirnya Gavin mulai memeriksa sebuah sosial media yang baru saja dibuka oleh sang pria bertopi karena ada pada riwayat dalam ponsel itu, dan baru saja dibuka oleh sang pria bertopi.
Hingga akhirnya Gavin mulai menemukan sebuah nomor yang tak disimpan dengan nama. Dan sang pria bertopi itu baru saja mengirimkan semua foto itu pada nomor tesebut.
Gavin memicingkan sepasang matanya karena seakan merasa tak asing dengan nomor ponsel itu. Gavin berusaha untuk mengingat-ingatnya.
Hingga akhirnya Gavin mulai mengingatnya jika nomor itu ada di salah satu kontak pada ponselnya. Gavin segera mengeluarkan ponselnya untuk memastikan pemilik dari nomor tersebut.