Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Siasat Licik Maria



St. Luke's International hospital, Tokyo.


Seorang pria dewasa terlihat memasuki rumah sakit besar itu. Dia segera melenggang dan mendatangi ruangan labolatorium untuk mengambil sebuah laporan yang sudah sangat dinatikan 3 hari yang lalu.


"Berikut ini adalah hasil pemeriksaan tes DNA dari sample rambut yang tuan inginkan saat itu." seorang pria yang masih terbilang cukup muda dengan jas almamater putih kebanggaanya, mulai menyerahkan sebuah amplop putih kepada pria berjas berwarna biru navy itu yang tak lain adalah Reo.


"Hhm. Terima kasih." sahut pria itu tersenyum samar lalu mulai membuka amplop tersebut di hadapan sang dokter.


"Kalau boleh tau, itu sample rambut siapa, Tuan Reo?" tanya sang dokter sangat ingin tau.


"Hhm. Bukan siapa-siapa kok." jawab Reo dengan senyuman tipis dan membuka lalu membaca hasil tes DNA itu.


Namun tiba-tiba saja senyuman Reo mulai memudar ketika membaca hasil dari tes DNA itu. Hingga akhirnya Reo mulai mengulanginya membaca beberapa kali, namun hasilnya masih saja tetap sama.


"Tidak mungkin! Ini pasti salah kan, Bryant?! Mengapa hasilnya bisa negatif? Pasti ada yang salah!!" ucap Reo seakan masih tidak mempercayai hasil dari tes DNA itu.


"Keakuratan dari tes DNA di rumah sakit ini adalah 99,99 %, Tuan Reo. Rumah sakit ini juga memiliki peralatan yang begitu canggih dan tak diragukan lagi. Jadi hasil ini sudah sangat akurat, Tuan. Dan berdasarkan dari tes DNA ini adalah, kedua orang ini tidak memiliki hubungan darah." ucap sang dokter menjelaskan.


Reo sungguh hampir tidak mempercayai ini semua, rahangnya mulai mengeras dan dia terlihat begitu marah sekaligus kecewa.


Tidak mungkin!! Semua ini pasti tidak benar!! Ini pasti salah!! Leon dan Leona begitu mirip denganku! Kami juga merasa saling menyukai satu sama lain! Bahkan ... aku juga merasa begitu yakin, jika gadis yang bersama denganku 5 tahun yang lalu adalah Neru!! Mana mungkin instingku adalah salah! Mana mungkin ini semua adalah sebuah kebetulan?


Batin Reo sedikit meremas bagian ujung dari kertas itu dan mengeraskan rahangnya. Tanpa berkata-kata lagi Reo segera meninggalkan ruangan itu begitu saja.


Hari ini Reo menjalani sisa harinya dengan mood yang sangat buruk. Wajahnya semakin terlihat dingin dan tak bersahabat. Reo juga selalu terdiam dan hanya berbicara sangat singkat dan seperlunya saja.


Beberapa pekerjanya yang sudah hafal dengan hal ini lebih memilih untuk menghindar agar tidak menjadi salah satu korban dari kemurkaan Reo yang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.


"Tuan. Ini adalah laporan perusahaan kita dalam bulan ini. Kita sedikit mengalami kerugian, karena telah terjadi keterlambatan pengiriman dari beberapa bahan yang dikirim dari Amerika, Tuan. Dan hal itu mengakibatkan keterlambatan proses produksi dan membuat para pelanggan membatalkan pesanan mereka dalam jumlah yang cukup besar, Tuan." seorang pria berpenampilan rapi dan merupakan salah satu kepala divisi di F Group mulai menyodorkan sebuah berkas untuk Reo.


SRAKKK ...


Tanpa membaca laporan itu sama sekali, Reo malah menghempaskan laporan itu begitu saja hingga terjatuh di atas lantai bermotif vinyil itu.


"Tap-tapi, Tuan ... to-tolong jangan pecat saya, Tuan. Ss-saya masih memiliki seorang anak yang baru saja mau masuk sekolah. Is-stri saya juga sedang hamil tua saat ini, Tuan. Kami membutuhkan uang, Tuan. To-tolong jangan pecat saya, Tuan Reo ..." ucap pria itu penuh harap, berharap Reo akan berbaik hati padanya.


"Itu adalah masalahmu!! Bukan masalahku!! Penangananmu yang sangat lambat dan kinerjamu yang buruk dalam menghadapi masalah F Group membuat F Group mengalami cukup banyak kerugian. Sekarang cepat enyah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan memintamu untuk membayar semua ganti rugi itu!" ucap Reo menandaskan kembali dengan sangat tegas.


"Cepat enyah sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu!!" hardik Reo kembali dengan suara yang begitu menggelegar, karena pria itu malah berdiri mematung cukup lama.


"Ba-baik, Tu-tuan ... permisi ..." ucap pria itu begitu ketar-ketir dan pucat lalu segera bergegas untuk meninggalkan ruangan serta perusahaan ini.


Karena merasa khawatir jika harus membayar semua ganti rugi itu, akhirnya pria berjas itu lebih memilih untuk segera meninggalkan tempat itu jika dibanding dengan harus membayar sejumlah uang dengan nominal yang tentunya bukan main-main.


BRAKKK ...


"Sialannn!! Mood-ku sangat buruk hari ini! Sebaiknya aku pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri sebelum seluruh karyawan F Group habis karena aku pecat semua!" gumam Reo terlihat begitu frustasi.


...🍁🍁🍁...


Seorang gadis cantik dan modis dengan rambut blonde indahnya terlihat sedang terduduk di salah satu bangku ruangan rias. Wajahnya terlihat begitu berbinar seakan suasana hatinya sedang begitu baik saat ini.


Sebuah brush besar yang begitu lembut mulai disapukannya mengenai rulang pipi indahnya. Lalu sebuah liptint berwarna pink lembut kembali dia apply-kan pada bibir tipis kemerahannya.


"Aku sungguh sangat tidak menyangka, mengapa Reo bisa memiliki seorang anak ... oh bukan ... Reo tiba-tiba saja memiliki 2 orang anak kembar sekaligus. Bahkan kini usia anak itu sudah cukup besar. Aku sangat mengingatnya dengan baik, jika dia hanya memiliki hubungan denganku saja di masa lalu." gumam gadis cantik itu menatap dirinya sendiri melalui pantulan dari cermin besar di hadapannya dengan kedua alis indahnya yang saling berkerut.


"Hhmm ... lalu ... siapa wanita itu? Apakah dia adalah salah satu wanita panggilan yang pernah Reo panggil saat itu? Aku tidak bisa membiarkan wanita licik itu mencari keuntungan dan menjerat Reo dengan hal kotor seperti ini!! Bahkan wanita licik itu malah menggunakan kedua anaknya untuk mendekati Reo lagi! Dia pasti sudah merencanakan semua ini!! Aku tidak akan tinggal diam saja!! Aku harus mencari tau siapa wanita sialan itu!! Aku harus menyelamatkan Reo dari wanita licik itu!!" gumam gadis cantik itu menatap tajam dirinya sendiri.


"Nona Maria. Klien baru sudah menantikan nona untuk segera menjadikan nona sebagai brand ambasador dari brand itu. Mari segera bergegas, Nona." seorang pria mulai mendatangi wanita bernama Maria itu dan berbicara dengan nada rendah.


"Hhm!! Ayo!!" sahut Maria mulai bangkit dari duduknya dan terlihat begitu percaya diri untuk melakukan semua pekerjaannya.


Mendekati putra tunggal sekaligus dia yang menjabat sebagai presdir dari salah satu fashion terkemuka setelah F Group rupanya tidak terlalu buruk juga. Dengan mudahnya dia menjadikan aku sebagai brand ambasador dari Blink Fashions. Kau cerdas, Maria!!


Bati Maria tersenyum miring.