Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Papa ?



Leon mulai mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Baginya saat ini tak ada pilihan lain kecuali melompati pagar pembatas balkon itu untuk menghindari para penjahat itu.


"Semoga aku tidak terluka parah. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mama ..." Leon memejamkan sepasang matanya selama beberapa saat.


Lalu Leon mulai membukanya sepasang matanya kembali dan mulai melompat meskipun sedikit ragu. Tubuh mungil itu kini sudah melayang terbang dan berada di udara.


Aku tidak akan mati kan? Aku tak mau membuat mama bersedih, tapi aku juga tak mau mereka kembali menangkapku. Aku akan melarikan diri dan segera menyusul mama di taman Trocadero. Tunggu aku, Mama ... aku akan segera kembali.


Batin Leon disaat tubuh mungilnya sudah melayang di udara dengan sepasang matanya yang kembali terpejam.


WUSHHH ...


GREPP ...


Namun dengan cepat seseorang berhasil meraih jemari mungil Leon dan menahannya agar Leon tak terjatuh ke bawah.


Ugh ... anak ini terlalu pemberani! Sama persis seperti dengan diriku saat aku masih kecil!


Batin seorang pria yang masih menahan tangan Leon.


Leon mulai membuka sepasang matanya kembali saat menyadari jika seseorang kini sedang berusaha untuk menolongnya, atau sedang berusaha untuk menangkapnya? Entahlah ...


Karena sangat ingin tau jawaban dari pertanyaannya sendiri, kini Leon mulai mendongak untuk melihat orang itu.


"Pa-paman Reo ..." ucap Leon penuh haru saat melihat pria itu rupanya adalah Reo.


"Berpeganganlah yang kuat, Leon! Papa akan menarikmu perlahan!" ucap Reo tanpa sadar.


Ucapan dari Reo seketika malah membuat Leon terpaku dan sangat terkejut bukan main.


Apa yang baru saja dikatakan oleh papa Reo? Dia menyebut dirinya adalah papa? Apakah papa juga sudah mengetahui semua ini?


Batin Leon masih saja membeku dan mendongak menatap Reo dengan sepasang pupil kebiruan yang sedikit bergetar dan sudah menjadi sedikit berkaca-kaca.


"Leon! Berpeganganlah yang kuat!" ucap Reo lagi mulai mengangkat tangan kanannya hingga akhirnya Reo berhasil menyelamatkan Leon.


"Apa kamu baik-baik saja, Leon?" kini Reo sudah duduk bersimpuh di hadapan Leon dan masih saja terlihat begitu mengkhawatirkan Leon.


"Aku baik-baik saja, Papa ..." ucap Leon sedikit bergetar.


Deg ...


Reo yang mendengarkan Leon yang memanggil dirinya dengan panggilan papa seakan telah mendapatkan sebuah sureprise saja. Reo sungguh tak pernah menyangka jika rupanya Leon sudah mengetahui semua itu.


Namun selama beberapa saat kedua pria yang sama-sama memiliki sikap dingin dan genius itu hanya saling bertatapan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Antara rasa terkejut, haru, bahagia namun juga masih bingung.


"Le-Leon ... kamu sudah mengetahui semuanya?" tanya Reo dengan sangat berhati-hati dan masih menatap pria kecil yang selalu dingin itu.


Leon mengangguk pelan masih dengan ekspresi datar menatap Reo.


"Leona juga sudah tau semua ini. Karena tes DNA yang waktu itu adalah rambut kita. Maaf jika kami sudah sangat lancang melakukan semua itu, Papa. Leona sangat membutuhkan seorang papa, aku ingin melihat mama bahagia ... apakah papa bisa membuatnya mereka bahagia? Apa papa bisa menjaga mereka kelak?" ucapan Leon malah terdengar seperti ucapan seseorang yang sudah dewasa saja.


Selama beberapa saat Reo kembali dibuat terpaku akan ucapan Leon yang terdengar begitu dewasa. Namun akhirnya Reo mulai mengangguk pelan dan tersenyum hangat menatap Reo.


"Papa bukan hanya akan menjaga dan membahagiakan mereka saja. Tapi papa juga akan selalu menjaga dan membahagiakan kamu juga, Leon." ucap Reo dengan hangat. "Papa akan berusaha keras untuk mendapatkan mama kalian lagi!"


"Jangan pernah sekali-kali menyakitinya lagi! Lima tahun dia sudah selalu menderita karena jauh dari keluarganya. Selama ini mama sudah berjuang keras membesarkan kami tanpa papa, jadi jangan pernah menyakitinya lagi! Atau aku sendiri yang akan membalas semuanya padamu, Papa!" ancam Leon menatap Reo dengan tajam dan dingin.


Sepasang mata Reo seketika mulai membulat karena mendengarkam ancama dari putra kecilnya. Sebenarnya terdengar begitu lucu dan sangat menggemaskan.


Reo kembali tersenyum hangat dan mengangguk pelan, "Tenang saja, Leon! Papa akan menjadikan mama kalian sebagai ratu. Kalian tak perlu khawatir lagi."


Leon mulai menarik sudut-sudut bibirnya, hingga sebuah senyuman tipis mulai tersembul pada wajah lucunya.


Maaf, Mama, Leona! Kali ini aku harus maju selangkah! Karena aku tak mau wanita sihir itu kembali membuat rencana licik lagi untuk mendapatkan papa! Bahkan dia sudah berusaha untuk mencelakaiku dan mama. Bahkan wanita licik itu juga berniat untuk menjauhkan mama mama dari papa dengan menyusruh orang-orangnya dan melakukan negosiasi itu. Aku harap mama tidak benar-benar datang ke tempat ini ...


Batin Leon penuh harap.


Beberapa saat mulai terdengat suara derap langkah beberapa orang mulai mendekati kedua pria dingin berbeda generasi itu. Membuat mereka berdua mulai menoleh ke arah asal suara itu.


Terlihat seorang wanita berlari kecil mendekati mereka berdua, sementara di belakangnya ada 3 orang pria berpakaian rapi mengikutinya.


"Leon!!!" wanita itu semakin mempercepat langkah kakinya lalu duduk bersimpuh dan memeluk Leon.


"Mama? Mengapa mama datang ke tempat berbahaya seperti ini?" Leon malah bertanya dan sangat terkejut akan kedatangan Ayaneru.


"Tentu saja mama akan datang untuk menyelamatkanmu, Sayang! Mana mungkin mama berdiam diri saja?" ucap Ayaneru melepas pelukannya dan mulai memeriksa Leon. "Leon, kamu baik-baik saja dan tidak terluka kan?"


"Aku baik-baik saja, Ma."


"Seharusnya kamu tidak datang sendirian, Neru! Dan kenapa kamu malah tak memberitahukan padaku jika kamu akan datang ke tempat ini?! Kamu tau, Neru? Ini sangat berbahaya! Apalagi kita sedang berada di negara orang!" ucap Reo yang terlihat sedikit kesal akan tindakan gegabah dari Ayaneru.


Namun dengan cepat Leon mulai menatap tajam Reo, sehingga Reo mulai sadar akan apa maksud dari tatapan itu.


"Ahh ... mkasudku lain kali jika ada hal semacam ini lagi, tolong katakan padaku dan serahkan saja padaku. Aku tak bisa membiarkanmu dalam bahaya ..." ucap Reo mulai melembutkan suaranya karena tatapan Leon yang penuh ancaman.


Jika aku terus merasa kesal dan menyalahkan Neru, bisa-bisa aku malah akan kehilangan mereka lagi. Huft ... aura anak ini sungguh sangat mirip dengan diriku.


Batin Reo mulai bangkit dan berdiri.


"Baiklah kalian antarkan dan kawal Neru dan Leon kembali ke hotel!" titah Reo kepada ketiga pengawalnya itu.


"Baik, Tuan!" sahut mereka bertiga bersamaan.


Kini mereka segera kembali ke hotel, namun Reo dan Gavin masih tertinggal di gedung tua ini, karena masih ada yang sedang ingin dia lakukan.